Langsung ke konten utama

Sabtu Malam Bersama Afrizal Malna

Muhajir Arrosyid
http://citizennews.suaramerdeka.com/

Di luar gerimis rintik-rintik. Mungkin karena gerimis itu, atau karena lebih berat menyaksikan tim merah putih berlaga, maka dari awal sampai akhir, acara yang diselanggarakan oleh Hysteria ini tidak tambah satu orangpun peserta.

Di antara peserta itu antara lain Eko Tunas, sastrawan sekaligus pemain drama yang minggu ini sedang melaksanakan Tour keliling Jawa Tengah dengan pementasan monolog berjudul Korsi, hadir pula Harjito, pengamat Sastra media, dan Aulia Muhammad, penulis esai yang sebentar lagi akan menerbitkan buku baru.

Walaupun peserta terbatas, namun tidak mengurangi kegayengan acara. Bahkan acara terasa mewah. Acara berlangsung santai dan cair. Semua khusyuk mengikuti acara, Sembari makan kripik singkong dan teh bergelas plastik yang disediakan oleh panitia, ada pula yang sambil memeluk guling. Santai tapi asyik.

Afrizal yang malam itu dengan kepala tak berambut berbicara serius. Peserta takzim menyimak. Penyair yang sekarang tinggal di Yogyakarta ini bercerita tentang proses ciptanya. “Dari kecil aku suka naik bus. Aku menikmati sekali di dalam bus, mendengar kernet berteriak-teriak”. Bahkan Afrizal mengaku merasakan kehadiran Tuhan saat di dalam bus. “Saat aku naik bus, aku merasakan Tuhan datang di sampingku di luar jendela”.

Afrizal juga bercerita tetang ketidak lulusannya di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Katanya, dia tidak lulus karena tidak pernah mau ikut ujian. “Aku kan sudah bayar, sudah membuang-buang waktu mengikuti kuliah, kenapa masih diuji, apakah mereka tidak percaya aku belajar dengan sungguh-sungguh?” Karena tidak pernah ikut ujian akhirnya Afrizal di-DO. Ia masih terkenang dengan beberapa dosen, salah satunya Frans Magis Suseno. Frans, kata Afrizal kalau mengajar unik, cara mengujinya juga unik. Sering kali dalam otak kita sudah penuh dengan filsafat, ternyata Frans memberi pertanyaan yang sepertinya remeh tapi membuat orang berfikir keras. Pertanyan itu semacam “Apa yang anda ketahui tentang kata umum?”

Afrizal menambahkan, seorang penyair harus berpapasan dengan banyak budaya, karena dengan demikian akan ada dialog di dalam diri penyair.

Eko Tunas menyatakan keingatannya terhadap kiprah Afrizal dalam dunia teater. “Afrizal ketika menulis naskah untuk teater sae mengembalikan teater sebagai teater. Naskah yang hadir sebagai penunjang gerak, sebuah esensi dalam teater.”

Afrizal mengemukakan bahwa puisi-puisinya adalah puisi-puisi fisual, ketika orang membaca akan membayangkan fisualisasinya, maka tidak akan ketemu jika didekati dengan pendekatan semiotik misalnya. Menurut Afrizal puisinya mungkin akan ketemu dengan pendekatan antropologi ruang misalnya. Aulia Muhammad menyangkal pendapat Afrizal ini, menurut Aulia karya Afrizal akan menarik jika pembaca mampu memaknai sendiri dengan pendekatan apapun. Jadi kalau ternyata pembaca mampu mendekati dengan pendekatan semiotic dan berhasil, itu sah-sah saja, “ kenapa tidak ?”

Malam itu juga dibacakan satu puisi karya Afrizal. Sayang saat salah seorang meminta Afrizal membacakan puisinya, Afrizal tidak bisa memenuhi. “Maaf ya, aku tidak bisa kembali pada teks aku” senyumnya menyiratkan harjukan maaf.

29-12-2008

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.