Langsung ke konten utama

Puan Tanjung

Muhammad Amin
http://www.lampungpost.com/

AKAN kurampungkan kisah ini lebih cepat karena memang aku bukan Syahrazad. Dan aku bukan pula seorang pelaut dalam dongeng pengembaraan Simbad. Aku hanya pelaut yang mendadak kehilangan selera hidup setelah apa yang tak pernah kuangan-angankan (pun kuingin-inginkan) datang kemudian berlalu begitu saja.

Sore itu, seusai mengeja kabar yang dibawa sekawanan camar dan kelepak elang laut perut putih yang muncul dari balik cakrawala, dan setelah genap angin barat mereda, kami pun mulai berkemas untuk kemudian bergegas. Berjalan di atas dermaga yang sepanjang waktu termangu, naik ke geladak dan mulai mengembangkan layar.

Jika diriku yang dulu, sebagai pelaut sejati, tak pernah betah berlama-lama menjejakkan kaki di daratan, kini kakiku terasa tertanam di darat. Lekat dan berat. Karena aku telah menyemai rindu yang menanamnya di dada seorang perempuan.

Ia tinggal berdua dengan ibunya yang sudah renta dan kerap sakit-sakitan di sebuah gubuk kecil dekat pantai. Ia dengan tekun mengurus orang tua satu-satunya itu. Kudengar dari cerita tetangganya, ayahnya seorang pelaut, sudah mati dipulun gelombang diterkam badai puluhan tahun lalu ketika ia masih kanak.

Ketika kami merapat, perempuan itu tiba-tiba sudah berdiri di mulut dermaga dengan mata berbinar-bercahaya. Seolah seseorang yang telah lama dinantinya telah tiba. Dan aku terlambat menyadari bahwa perempuan itu sesungguhnya menanti kedatanganku. Aku tak cukup mengerti untuk menjawab segala tanya, baik yang terlontar dari mulut kawan-kawanku maupun yang muncul dari dalam benakku.

Tiba-tiba saja perempuan itu menyambutku dengan penuh sukacita. Aku mulai curiga, apakah aku pernah mengenalnya? Apakah aku seseorang dari masa lalunya dan ia seorang dari masa laluku? Tapi tanya itu tak kunjung menemu jawaban. Perempuan itu seolah hadir begitu saja dalam diriku. Tanpa basa-basi. Tanpa kompromi. Dia sudah ada begitu saja.

Namun, kemudian dengan sendirinya aku larut dalam hidupnya. Seperti ia yang dengan sengaja melarutkan diri dalam hidupku. Tiba-tiba saja kami seolah memiliki ikatan. Tanpa kusadari benar, tanpa terlihat. Lama-lama aku tak lagi memasalahkannya. Barangkali aku memang seseorang dari masa lalunya dan ia seseorang dari masa laluku. Tak perlu kuungkit dan kupertanyakan lagi. Apalagi di hadapannya.

Menyambutku di tubir dermaga ia mengajakku pulang ke rumahnya. Sementara kawan-kawanku mencari penginapan. Tiba di gubuk kecil itu kembali aku merasa gamang, tak menemukan cara harus berbuat apa dan bagaimana. Aku tetaplah merasa sebagai pelaut yang tak sengaja menyinggahi tempat asing ini. Di dalam gubuk kecil itu, sang ibu yang tampak layu karena tubuh rentanya disarangi penyakit mendadak berubah wajahnya menjadi berbinar ketika mendapati kehadiranku.

“Sudah pulang kau rupanya, Nak. Kami di sini selalu menantimu dengan doa dan air mata, mengharapkan keselamatanku.” Aku agak tergeragap. Sebisa mungkin kukuasai diriku. Perempuan yang menyambutku tadi melirikku. Tak tahu harus bagaimana menjawab, aku hanya tersenyum. Mungkin saja terlihat janggal. Tapi mereka tak sedikitpun menangkap kejanggalan pada diriku.

Perempuan itu sangat baik dan perhatian kepadaku. Berhari-hari kami hidup bersama. Aku menjadi bagian darinya dan ia menjadi bagian dariku. Segala yang kubutuhkan selalu ada dan terpenuhi. Bahkan yang kurasakan adalah perhatian yang berlebihan terhadapku. Padahal aku kerap berpikir: Siapakah sebenarnya aku dan apa hubunganku dengannya? Dan semakin hari ia semakin perhatian dan melayaniku dengan amat baik.

Ketika suatu waktu kutanyakan kepada tetangganya kenapa ia berbuat demikian terhadapku. Mereka malah balik bertanya, sembari terheran-heran.

“Kenapa kamu bertanya demikian?” aku semakin tak mengerti.

“Bukankah kamu suaminya? Jadi wajar bila ia perhatian dan melayanimu sebagaimana mestinya.”

Suami? Mereka bilang aku suaminya? Kukira mereka pintar mengada-ada. Padahal menikah pun aku belum pernah. Sejak umur belasan tahun aku sudah ikut berlayar dan hingga kini belum sempat memikirkan untuk menikah. Dan sekarang mereka bilang aku adalah seorang suami dari perempuan yang baru pertama kali kutemukan di tempat asing ini?

Ketika kutanyakan kepada tetangga yang lain, jawaban yang kuperoleh sama saja. Akhirnya aku memutuskan untuk tak bertanya-tanya lagi, baik kepada orang lain maupun diriku sendiri. Aku tak perlu mempermasalahkan lagi, itu keputusanku. Toh apa yang kubutuhkan tak kurang satu apa pun. Bahkan kasih sayang seorang ibu yang sedari kecil tak pernah kudapatkan juga cinta layaknya dari seorang istri kudapatkan di sini.

Aku membayangkan kawan-kawanku sedang sibuk mencari pelacur-pelacur murahan di pelabuhan kecil ini. Atau masih sempat menawar-nawar. Kubayangkan mereka sedang mabuk dan bersenang-senang di pangkuan perempuan belia di rumah bordil yang masih sulit dicari.

***

MALAM itu, seusai bercinta, ia menempelkan telinga di dadaku yang masih berkeringat. Entah apa yang ia dengar di sana. Kukira hanya detak jantung dan desah napas yang masih tak beraturan. Ia tersenyum kepadaku.

“Kenapa?” aku bertanya. Dia menggeleng manja. Tiba-tiba aku yang bertanya.

“Mencintai lelaki pelaut memiliki banyak risiko. Kenapa kamu memilih mencintai lelaki pelaut sepertiku?”

“Lelaki pelaut seperti seekor anak penyu, sejauh mana ia berlayar akan selalu rindu tempatnya bermuasal. Aku mencintai lelaki pelaut karena di dadanya selalu terdengar gemuruh ombak, jerit camar, dan badai. Di dalam dirinya tertanam kepekaan, ketegaran, dan tanggung jawab. Dari keringat dan tubuhnya meruap aroma asin keluasan samudera. Di dalam matanya terpijar gairah rindu yang meluap-luap. Kau tahu, yang melingkupiku kini adalah rasa damai yang menjalar dari dadamu.”

“Tidakkah kamu takut mencintai seorang lelaki pelaut?”

“Takut atas apa?”

“Jika orang yang kau cintai akan hilang selamanya?”

“Aku tidak takut,” jawabnya.

Beberapa malam berikutnya, ia kembali menempelkan telinganya di dadaku yang masih berkeringat. Lalu aku berkata.

“Kami para pelaut terkadang merasa jenuh berbulan-bulan berada di tengah samudra tanpa ada yang menghibur. Tentu saja banyak pelabuhan-pelabuhan yang minta disinggahi dan di sana banyak wanita-wanita cantik yang akan menghibur melepas segala kejemuan. Selama di darat menjadi waktu yang baik buat menyinggahi kedai tuak, warung judi, dan rumah pelacuran.”

“Aku tak memasalahkan itu. Yang penting kamu selalu ingat kepadaku dan masih ingin pulang karena menyimpan rindu.”

Kemudian ia memintaku menceritakan kisah-kisah pelayaran. Dengan senang hati aku menuruti kemauannya. Dan ia selalu menempelkan telinga di dadaku, menagih kisah-kisah pelayaran yang akan mengantarkannya tidur dengan sangat lelap.

***

KAMI harus segera berlayar karena telah terlalu lama kami berada di daratan. Kawan-kawanku sudah naik ke geladak ketika perempuan itu menyusulku ke ujung dermaga. Ia menyerahkan serantang makanan kepadaku. Aku berharap ia akan menangis dan memelukku erat, seolah tak ingin melepaskanku. Tapi dugaanku salah. Ia tak melakukan itu.

“Ini untuk makan di kapal nanti, supaya selalu ada hasrat untuk kembali ke sini.”

Tiba-tiba saja dadaku telah koyak oleh cemas. Kenapa aku yang cemas? Bahkan ia yang akan kutinggalkan terlihat lebih tegar seolah telah terbiasa oleh kepergian seorang yang dicintai. Ah, mungkinkah aku akan singgah kembali ke pelabuhan ini?

“Janganlah lupa pesanku, bila rindu telah tanak di dadamu bersegeralah pulang. Aku akan menyambutmu di sini. Dan kamu harus tahu, akhir-akhir ini aku merasa di dalam perutku telah terisi sesuatu, mungkin umurnya baru satu bulan. Kamu akan jadi ayah sebentar lagi.”

Sungguhkah aku akan menjadi ayah? Kenapa baru sekarang ia sampaikan kabar bahagia ini di saat perpisahan sudah di ambang mata?

Lalu terdengar suara kawanku berteriak dari atas geladak memanggilku. “Sahdan! Cepatlah naik, kita harus segera berangkat!”

Ia tak berusaha merengkuh tanganku untuk menahanku beberapa jenak. Untuk pertama kalinya aku merasa jadi pecundang. Aku kalah oleh diriku sendiri. Setelah itu tak ada kata-kata lagi yang keluar dari mulutnya. Desau angin yang terdengar. Tak ada yang bisa kutinggalkan selain sepotong kalimat yang akan memperteguh keyakinannya. “Aku akan kembali sebelum kamu melahirkan.” Itu saja. Tak lebih.

Setelah itu aku meninggalkannya. Ia masih membisu menatap kepergianku dari tubir dermaga. Aku melambai, ia tetap membeku. Rambutnya yang panjang dan ujung kainnya dikibarkan angin laut yang berembus kencang. Bayangannya semakin menjauh dan ia masih mematung di tubir dermaga memandang ke kapal kami yang segera hilang dari pandangannya.

***

TELAH kami singgahi bandar-bandar dan pelabuhan. Bersama perompak kami melayari badai. Telah kami arungi tujuh samudera. Telah kami telusuri tiap lekuk tanjung, ceruk teluk, semenanjung dan selat di dunia. Sekian purnama kami berlayar, mengembara di segenap penjuru angin. Sekian kali kami membuang sauh, menggulung layar, dan menyinggahi daratan. Sekian waktu kami ingin melihat curam karang dan gugus bebukitan. Atau berhari-hari menatap keluasan laut yang kosong. Namun tetap saja aku merindui pelabuhan di sebuah tanjung yang menyimpan dirimu.

Telah lama kami jadi tualang, seperti yang ditingkahi puyang. Dari tiang-tiang layar yang setiap waktu mengukir angin, lambung kapal yang dibantun ombak dan di tengah geladak senantiasa aku menulisi rindu yang mulai berkarat. Di dalam dadaku menyimpan debur ombak. Dan aroma tubuhmu masih tertinggal di tubuhku, tak hilang sampai berhari-hari berminggu-minggu berbulan-bulan membuatku selalu berhasrat untuk mengunjunginya sewaktu-waktu. Bukankah aku telah berjanji kapadamu bahwa aku akan segera kembali sebelum bayi di rahimmu dilahirkan?

Ah, sebentar lagi aku akan menjadi ayah. Dan seorang pelaut adalah lelaki yang peka, bertanggung jawab, dan tegar seperti karang. Maka kutolak mentah-mentah ajakan kawanku meneruskan kebiasaan lama kami: tenggelam dalam lautan tuak dan perempuan.

Dan tatkala rinduku mulai tanak, entah purnama ke berapa telah kulewati, maka kulunasi janjiku untuk kembali ke pelabuhanmu. Bukankah benih yang telah kubenamkan di perutmu telah matang sekarang? Kita hanya akan menghitung minggu-demi minggu. Lalu segera kita akan menjadi sosok sepasang orang tua.

Bukankah kau akan selalu merindukan gemuruh di dadaku dan suatu malam akan kautempelkan telingamu? Dan di ujung dermaga kau menungguku sembari termangu. Dan ketika ujung layar kapal kami telah terlihat kau sudah akan menyiapkan ritual penyambutan. Dan hatimu mulai tak sabar menyaksikan kapal kami mulai merapat.

Namun, di ujung dermaga itu tak kutemukan dirimu. Memang kami tiba di dermaga saat malam mulai menua, tentu tak mungkin bagimu menantiku sampai larut begini. Segera kutepis segala prasangka. Dan aku tak mungkin menyimpan rasa kecewa lantaran kau tak menyambutku di mulut dermaga. Aku pun mengerti keadaanmu yang tengah hamil tua.

Kapal kami merapat. Kami ke penginapan terlebih dahulu. Setelah itu aku datang ke gubukmu. Sengaja aku ingin memberi kejutan. Tak sabar aku ingin bertemu. Namun di sana tak kutemukan siapa-siapa selain gubuk yang kosong. Tak ada tanda-tanda kau berada di sana. Lalu aku kembali ke penginapan dengan menanggung kecewa.

Tatkala pagi mulai meriap, kutanyakan keberadaanmu kepada para tetangga. Mereka menjawab dengan nada murung. Seperti juga burung-burung di pagi buta itu berkabung. Dan setiap tetangga yang kutanyai menyampaikan jawab yang sama:

“Ia selalu menantimu sepanjang waktu. Ibunya telah meninggal sebulan setelah kepergianmu, setelah itu ia sebatangkara. Ia hanya menghabiskan waktu duduk termangu di ujung dermaga. Lalu pulang berjalan tersuruk di malam buta. Tak pernah ada yang mengira ia terjerembab di sisi dermaga. Pagi itu kami menemukan mayatnya mengambang di laut dengan kedua belah tangan membekap kandungannya.”®

Demi mendengar itu, lututku lunglai. Apa yang dulu tak pernah kuangan-angankan (pun kuingin-inginkan) datang kemudian berlalu begitu saja.

Kotaagung, 20 Oktober 2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.