Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Nurul Hadi Koclok

http://sastra-indonesia.com/
HAMPA

Masih juga hampa
Nyala matamu dusta
Tapi segala gerak peristiwa
Lebih suka memperkosa;
Menelanjang hatiku:
UntukMu

(Jogja,2004)



MAYAT MAYAT TANPA PUSARA

Sunyi senyap tanpa jeda:
Ini cahaya bercahaya
Cahaya sang maha bercahaya
Berkati mata hati pelototi sakit jiwa…

Hai,raja bukan raja
Budak fatamorgana penjarah tahta
Dipuja mayat – mayat tanpa pusara
Berkafan kertas jumlah suara

Tawar menawar ditawar
Tak senilai air tawar

Merasuk sudah racun segala
Lengkaplah lengkap di jiwa raga
Genggaman tangan takut alam murka
Air tergenggam tak menetes juga

(Jogja,Februari 2010)



CAHAYA HITAM

Rumah tanpa arah
Otak retak anyir darah

Birahi berdesah mesin
Nalar kempis amis lendir

Wow….
Burung – burung ababil !!!

Sayup sayup cerai berai
Pecah gerbang istana

Dor !
Anjing – anjing bunting

Dor dor !!
Kebun binatang membentang

Dor dor dor !!!
Sepi ditelan bumi

(Jogja,Januari 2010)



PUTARAN PERADABAN

Gelap merangkak terang
Walau terang makin terang…

Selamat tinggal,cahaya!
Dan kupuja layar kaca;

Menghamba aku pada gemerlap iklan
Kujilati aneka kulit permukaan persoalan
Berkacamata buta pada tokoh – tokoh karbitan
Bahkan diperkuda para pesolek kekuasaan

Kurengkuh kau,generasi perbadutan !
Kerabatku sedarah keyakinan..
Berjuang berdasar nafsu kesetanan
Merdeka dalam fitnah kehidupan
Tercelup iblis manis peradaban

Kami antek – antek berhala dangkal makna
Balsem pelipur lara persembahan pelupa jiwa
Putaran penutup peradaban gila:

Terlindas karma semesta
Tanpa berkaca diri pada sukma

(Jogja,maret 2010)



PERTEMUAN

Berdiri di bibir pantai memandang samudera
Kaki tertancap tiada daya

Pada rayuan kemilau pasir – pasir di malam hari
Di depan mata….
Angin laut mengembalikan sebuah sampan
Dengan seorang nelayan membawa jala tanpa ikan
Dengan tatapan lelah namun damai
Berjalan ia menepi memecah tarian buih – buih keemasan
Yang dilukis oleh cahaya purnama

Malam terus melaju dengan kecepatannya sendiri
Sedang aku tetap terlena bersetubuh dengan angin

Aku terjaga tatkala sang timur mengintip bumi
Dan angin berubah arah
Mengantar nelayan memenuhi panggilan jiwa
Dengan tatapan iba
Kusapa nelayan tanpa ikan tempo hari
“Wahai,sahabat samudera !
Ajaklah aku berkendara sampan
Bersamamu memungut harta lautan !”

Dengan tatapan lembut
Dijawablah pertanyaanku dengan pertanyaan
“Anak muda perkasa,
Jika senja mengantarmu kembali ke daratan tanpa ikan,
Kuasakah engkau untuk tidak menangis ?”

(jogja,20 Mei 1995)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.