Langsung ke konten utama

Dikenang Lewat Seni Sendratari dan Drama

http://www.indopos.co.id/

JADI jangan heran, sering kali kisahnya diangkat dalam sebuah pertunjukan sendratari, dan drama. Maupun dalam buku cerita. Supaya masyarakat bisa meneladani sikap-sikap patriotisme Sie Djin Koei. Seperti yang terlihat pada pertunjukan Legenda Sie Djin Koei yang digelar Mal Ciputra, Jakarta Barat dalam rangka menyambut datangnya Tahun Baru Imlek. Republic of Performing Art menggelar drama Sie Djin Koei dengan sisipan komedi di dalamnya dan dipadukan dengan musikal.

Bagi Amien Kamil, pengarah pemain di drama Sie Djin Koei, sebuah kebanggaan bisa mementaskan tokoh itu. Diakuinya, ini merupakan kali pertama Republic of Performing Art mendapat kepercayaan untuk menampilkan lakon Sie Djin Koei, tokoh panglima perang yang ceritanya cukup populer di masyarakat. ’’Karena cukup populer, kami tidak kesulitan mencari garis besar cerita Sie Djin Koei. Tinggal searching di internet, kami banyak mendapat sumber cerita yang bisa diangkat menjadi naskah drama,’’ kata dia usai mentas perdana di Mal Ciputra. Usai menyusun script, dia pun mengumpulkan pemain dan mulai berlatih. Tapi proses latihan, diakuinya hanya berlangsung sekitar 10 hari saja. ’’Semuanya cukup instan.

Makanya tadi surprise juga, melihat para pemain bisa menjalankan perannya dengan sangat -baik. Banyak improve di sana-sini, tapi menambah hidup lakon,’’ tuturnya bangga melihat anak didiknya bisa mengeksplorasi peran mereka masing-masing di atas panggung. Penampilan di buka dengan tukang cerita yang menjabarkan prolog. Diikuti dengan kemunculan tokoh Sie Djin Koei dengan kostum perangnya yang berwarna putih. Sesuai dengan cerita asli yang menjelaskan bahwa sosok Sie Djin Koei dikenal karena pakaian perangnya yang berwarna putih bersih. Kemudian, diceritakan, bagaimana awalnya Sie Djin Koei mendapat kepercayaan Kaisar Tai Zong, memimpin perang, dan menang.

Namun, suatu ketika, karena pengkhianatan seorang panglima perangnya, Sie Djin Koei mendapat hukuman dari kaisar lantaran kalah perang. Namun, karena kaisar bijaksana, Sie Djin Koei pun dibebaskan. Dia malahan mendapat kepercayaan untuk kembali memimpin peperangan dan mendapat gelar jenderal. ’’Yang cukup sulit adalah melakukan blocking di atas panggung,’’ tandasnya.

Dijumput dari: http://www.indopos.co.id/index.php/arsip-berita-cina-town/69-cina-town/3826-dikenang-lewat-seni-sendratari-dan-drama.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.