Rakyat; Kunci Penyelamat Bangsa

Apa Pandanganmu Tentang Rakyat?
Salman Rusydie Anwar
http://sastra-indonesia.com/

Di suatu malam yang lengang, penulis dan beberapa orang teman lainnya terlibat dalam sebuah obrolan sederhana dengan seorang budayawan kondang asal Madura, D. Zawawi Imron, di salah satu sudut kota Jogja. Malam itu tepat malam Minggu. Sebuah momentum yang bagi kalangan muda-mudi merupakan saat yang tepat memadu sublimitas psikologi dari sesuatu yang disebut cinta dan kasih sayang.

Budayawan yang dikenal dengan julukan “Si Celurit Emas” itu pun memulai pembicaraan dari masalah-masalah krusial yang sedang dihadapi bangsa akhir-akhir ini. Terutama sekali mengenai masalah ekonomi, politik sampai kepada masalah-masalah agama. Kedekatan emosional Pak De, begitu kami memanggilnya, dengan beberapa kalangan rakyat membuat pembicaraan kami sedemikian hangat dan bersahaja.

Namun, di antara sekian pembicaraan itu tanpaknya ada beberapa persoalan yang barangkali patut kita renungkan bersama, baik dalam kapasitas kita sebagai pribadi, bagian dari kehidupan keluarga dan masyarakat maupun dalam konteks yang lebih universal, yaitu sebagai bagian dari bangsa itu sendiri. Semuanya adalah sebuah refleksi yang kira-kira masih berguna di tengah-tengah ketegangan masyarakat menghadapi peliknya masalah bangsa.

Beberapa renungan yang bisa diketengahkan dalam kesempatan ini di antaranya adalah: Pertama, sampai detik ini, rakyat masih memiliki potensi vital sebagai pihak yang memegang kunci penentu dari selamat tidaknya bangsa ini. Tentu saja rakyat yang kita maksudkan adalah mereka yang berdiam di komunitas termarginalkan dalam segala kontestasi dan konstelasi keberadaan bangsa.

Pengingkaran terhadap rakyat dalam bidang politik dan ekonomi tidak lain adalah pengingkaran terhadap kedaulatan itu sendiri. Sebab, teori demokrasi manapun yang belum terkontaminasi secara akut oleh sekian kepentingan yang bersifat sementara dan parsial selalu saja menegaskan bahwa rakyatlah pemegang utuh kedaulatan.

Sebagai pemegang utuh kedaulatan dalam suatu negara, maka sangat tidak rasional ketika pemimpin yang dipilih, ditugasi dan dibayar oleh rakyat justeru melakukan tindakan agitatif yang mencerminkan arogansi dan sifat lupa diri mereka terhadap rakyat yang memberikan kepercayaan kepadanya. Dan inilah yang sedang terjadi di negara kita sekarang ini.

Kita cenderung membiarkan masyarakat terlunta-lunta di atas garis ketidakmenentuan nasib yang sebelumnya mereka pasrahkan kepada wakil-wakil mereka di pemerintahan. Sementara para wakil mereka dengan begitu gagahnya melakukan akrobat kehidupan dengan memikirkan kepentingan sendiri melalui cara-cara licik dan mengatasnamakan rakyat. Rakyat dengan sendirinya menjadi dempul dari membengkaknya ambisi dan kelicikan pemimpin-pemimpin mereka.

Kedua, lalu bagaimana dengan peran agama? Bukankah terlalu sering kita menyatakan diri sebagai bangsa dengan penduduk muslim terbesar di dunia? Apakah yang dimaksud “terbesar” itu hanyalah bagian dari kuantitas dan belum sama sekali menyentuh bagian kualitasnya? Dan apa maksud dari kata-kata muslim di atas? Inilah pertanyaan-pertanyaan reflektif yang dilemparkan Zawawi.

Sekian pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya bisa kita temukan jawabannya di kedalaman kalbu kita sendiri-sendiri. Yang paling urgen; adakah korelasi positif antara kemusliman dan ketaatan kita kepada Tuhan dengan proyeksi sosial terutama menyangkut masalah-masalah kemiskinan dan kebodohan misalnya. Tidak sedikit orang yang mengerti agama, terlebih mereka yang sudah “terlanjur” diangkat menjadi pemimpin. Akan tetapi mengapa pengetahuan mereka terhadap agama tak berimplikasi positif bagi upaya pemberantasan kemiskinan dan malah sebaliknya makin menindas-menyengsarakan.

Inilah yang kita khawatirkan. Agama yang kita aktualisasikan adalah bentuk formalisasi semata. Kita mengaku diri sebagai umat beragama karena secara “politis” negara ini menyatakan sebagai negara theistik dan kita takut untuk disebut sebagai orang yang tak bertuhan (atheis). Jika memang demikian, maka tidak heran kalau perilaku “umat yang mengaku beragama” itu sama sekali tak mencerminkan nilai-nilai agama itu sendiri.

Di lain hal, mungkin saja sedang terjadi tindakan-tindakan yang menjurus kepada pengkhianatan agama. Hubungannya dengan masalah kemiskinan misalnya, agama (dalam hal ini islam) dengan terang-terangan mencirikan siapa saja orang-orang yang disebut sebagai pendusta agama. Dalam surah Al-Maun ayat 1-3 Allah berfirman bahwa orang-orang yang mendustai agama adalah mereka yang menghardik anak yatim, tidak memberi makan orang miskin serta di lain hal adalah mereka yang lalai dalam mengerjakan shalat (ibadah)nya.

Kemiskinan yang hampir menjadi ciri warga negara Indonesia dewasa ini jelas tidak bisa kita baca sebagai sesuatu yang mutlak bahwa itu adalah benar-benar “takdir” dari-Nya. Akan tetapi sangat terbuka kemungkinan bahwa miskinnya rakyat Indonesia tidak lain adalah representasi dari tindakan pendustaan agama itu sendiri.

Kekayaan yang dimiliki bangsa ini hanya menumpuk dan berputar di kalangan orang-orang kaya serta terus dikebiri hasilnya oleh para pemimpin yang kebijakan-kebijakannya terkadang bersifat manipulatif. Belum lagi dengan semakin beraninya sebagian masyarakat melakukan penimbunan-penimbunan, entah beras, kedelai, maupun BBM, di saat saudara sesama rakyat lainnya sedang menderita kekurangan.

Melihat kenyataan ini, tidak heran kalau pemuda terjenius dari Arab, Ali bin Abi Thalib menyatakan bahwa, “Tidak akan terjadi kemiskinan kalau orang kaya tidak rakus.” Dalam terminologi ekonomi, siapa yang kaya dan siapa yang miskin sungguh sangat jelas bentuknya. Sementara dalam terminologi politik, orang yang kaya tidak lain adalah mereka yang berpeluang besar menikmati kekayaan melalui jabatan politisnya, sementara orang miskin adalah lagi-lagi rakyat kecil sebagai pemegang kedaulatan yang sayangnya selalu tertindas.

Maka dari itu, semuanya saat ini berpulang kepada diri kita sendiri. Apakah kita akan terus-menerus mengkhianati agama dengan cara menindas rakyat miskin, baik secara ekonomi-politik dan budaya. Atau sebaliknya kita akan belajar menata hati, pikiran, kesadaran dan tindakan kita dari kecarut-marutan menjadi kecerahan yang benderang? Itulah pertanyaan reflektif D. Zawawi Imron untuk kita semua yang sekaligus menutup obrolan kami malam itu. Pertanyaan itu memerlukan jawaban yang benar-benar dapat memenuhi impian dan harapan bangsa Indonesia di masa depan. Sebagai sebuah impian, tentu saja ini adalah impian yang cukup manis, bukan?

Yogyakarta 20 Agustus 2008

Komentar