Langsung ke konten utama

Dicari: Rektor Bervisi Budaya

Udo Z. Karzi
Lampung Post, 3 Agu 2011

UTOPIA! Ya, begitulah saya memberanikan diri menulis tentang kemustahilan. Tapi, betapa pun sia-sianya melontarkan ide ini—sebagaimana ketika saya coba uji tanya gagasan ini kepada rekan-rekan—artikel ini tetap harus ditulis. Walaupun hasilnya cuma munggak-medoh alias ngalor-ngidul. Hahaa. Setidaknya untuk memberitahu pihak Universitas Lampung (Unila) bahwa ada yang terasa janggal ketika Unila menggagas universitas kelas dunia.

***

Apa boleh buat, Senat Unila telah menetapkan tiga nama calon rektor Unila periode 2011—2015 pada rapat tertutup di Gedung Rektorat, 27 Juli 2011. Tiga calon tersebut adalah Sugeng P. Harianto, Wan Abas Zakaria, dan Paul Benyamin Timotiwu. Ketiganya, apa boleh buat, berasal dari Fakultas Pertinian. Sugeng, rektor Unila saat ini, meskipun sempat menjadi dekan FMIPA, sejatinya ada staf pengajar di Fakultas Pertanian. Wan Abas, dekan Fakultas Pertanian. Lalu, Paul adalah staf pengajar Fakultas Pertanian.

Agaknya, harapan Syarief Makhya (Lampung Post, 26 Juli 2011) akan adanya pertarungan gagasan dalam persaingan di antara calon rektor Unila seperti membentur dinding kosong belaka. Rapat Senat Universitas yang tertutup, calon yang relatif homogen (dari Fakultas Pertanian), dan sulitnya akses sivitas akademika Unila untuk memengaruhi atau minimal mengawasi jalannya pemilihan rektor; membuat “pertarungan gagasan” yang dimaksud sulit berkembang. Kalaupun terjadi, hanya di lingkup kecil Senat Unila. Tidak sampai mewacana di kampus, apalagi ke luar kampus.

Saya melihat (semoga saya salah) tengah terjadi apatisme yang luar biasa dalam diri Unila. Setidaknya, hingga saat ini opini Syarief Makhya tidak mendapat tanggapan berarti dari warga Unila, baik dosen maupun mahasiswa. Boleh dibilang, pemilihan rektor sebagai sebuah rutinitas belaka seperti disinggung Syarief menemui realitasnya. Pemilihan rektor ya lumrah saja, biasa saja, tidak ada istimewanya, dst.

***

Kembali ke judul artikel ini, sebenarnya tulisan ini kelanjutan dari esai saya sebelumnya, Unila sebagai Pusat Kebudayaan Lampung? (Lampung Post, 8 April 2006) yang menggagas perlunya Unila mendirikan Fakultas Ilmu Budaya atau Fakultas Sastra, yang di dalamnya termasuk Jurusan Sastra Lampung. Jadi, inilah artikel daur ulang saja mengenai apa yang seharusnya dimiliki, dilakukan, dan dikembangkan di Unila.

Dengar-dengar Unila telah menetapkan visi menjadi 10 perguruan terbaik di Indonesia dan juga hendak go international dalam skema World Class Research University (WCRU). Saya tidak hendak mempermasalahkan mengapa 10 terbaik dan mengapa harus go internasional. Payulah sangon zamanni. Tapi, saya hanya mengherankan bagaimana mungkin Unila menjadi terbaik dan mengglobal, tetapi melupakan diri sendiri (kehilangan identitas)? Kebudayaan Lampung! Bukankah sebagai pusat kebudayaan, Unila (kependekan dari Universitas Lampung) mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan keilmuan tentang Lampung dan kelampungan?

***

Artikel ini juga terilhami oleh sebuah pertemuan. Suatu kali, tepatnya Jumat malam, 8 Juli 2011, saya dan budayawan yang juga staf pengajar Fakultas Teknik Unila Anshori Djausal diajak dosen FISIP Arizka Warganegara bertemu dengan rombongan Persatuan Sejarah Malaysia (PSM) di sebuah hotel di Bandar Lampung. Yang saya dengar, rombongan PSM ini melakukan napak tilas sejarah Melayu di Sumatera yang terbentang mulai dari Lampung hingga D.I. Aceh setelah mengikuti Kongres Masyarakat Sejarawan Indonesia dan Konferensi Nasional Sejarah IX di Jakarta, 5—8 Juli 2011.

Napak tilas, tentu hal yang serius. Akan halnya Lampung, agaknya hanya negeri numpang liyu (numpang lewat) belaka dalam lintasan sejarah Melayu tersebut. Rombongan toh tiba malam dan istirah sejenak untuk paginya melanjutkan perjalanan ke Palembang, Sumatera Selatan. Untuk sekadar tahu tentang kemungkinan ada jejak Melayu di Lampung, mereka minta bertemu beberapa orang yang “dianggap” tahu, kebetulan yang bisa ketemu malam itu saya, Anshori Djausal, dan Arizka Warganegara.

Maka, berceritalah kami tentang bahasa, sastra, dan budaya Lampung. Tentang hubungan Melayu dengan Lampung. Tentang kekhasan budaya Lampung. Tentang betapa banyaknya seniman, terutama penyair yang telah mengharumkan Lampung. Tentang betapa tingginya peradaban Lampung karena memiliki bahasa dan aksara sendiri. Bagaimanakah bahasa Lampung, saya sodorkan buku puisi Lampung saya, Mak Dawah Mak Dibingi. Seperti apakah aksara Lampung, saya coba tuliskan beberapa huruf Kaganga yang saya ingat.

Sedikit dialog.

“Lampung punya universitas?”

“Ada, nama Universitas Lampung (Unila).”

“Punya Jurusan Sejarah?”

“Oh, tidak ada. Unila tidak punya Jurusan Sejarah. Tidak punya Fakultas Ilmu Budaya atau Fakultas Sastra yang mempunyai Jurusan Sejarah, Jurusan Antropologi, Jurusan Sastra Lampung, dan lain-lain. Adanya Pendidikan Sejarah dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Lampung di FKIP.”

“Di Fakultas Pendidikan?”

“Ya, Pak.”

“Bagaimana Unila bisa mengembangkan kajian sejarah dan kebudayaan?”

“Oh, Unila punya Pusat Studi Budaya Lampung, kok.”

“…???”

“Kajian tentang budaya Lampung, sejarah, manusia Lampung, sangat minim.”

Saya ingat komentar simpatik Abdullah Zakaria Ghazali yang kebetulan duduk di samping kiri saya. “Berat. Perlu kerja keras…,” kata guru besar sejarah Universitas Malaya itu.

Sepulangnya dari pertemuan, di benak saya yang terpikir hanya satu: Kapan ya Unila mulai mengembangkan kebudayaan (Lampung) secara lebih terlembaga dalam wadah yang bernama fakultas. Jawabnya sampai sekarang masih, “Mimpi kali, ye!”

***

Menjelang pemilihan rektor Unila, saya merasa perlu mengapungkan kembali gagasan ini. Maka, saya tulis “Dicari: Rektor Bervisi Budaya!” Suatu kali Rektor Unila Sugeng P. Harianto diwawancarai Lampung Post (28 Juni 2009) tentang kemungkinan mendirikan Fakultas Sastra atau Fakultas Ilmu Budaya, bahkan Fakultas Filsafat untuk membangun dinamika pemikiran di (Universitas) Lampung, dia menjawab singkat, “Belum. Kita tengah melakukan penguatan kelembagaan Unila.”

Bagaimana kalau hal yang sama ditanyakan kembali kepada calon rektor Unila? Entahlah….

Udo Z. Karzi, Tukang tulis, alumnus Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Unila
Dijumput dari: http://ulunlampung.blogspot.com/2011/08/dicari-rektor-bervisi-budaya.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.