Langsung ke konten utama

Melankoli Sebentar Sembari Minum Kopi

Akhiriyati Sundari
http://sastra-indonesia.com/

Entahlah..
Perkenankan saya buka kalimat saya dengan kata bermakna ketidaktahuan itu. Dalam batin saya hanya ingin sekadar menulis.

Jogja mendadak garang saat ini. Lepas beberapa jam di belakang, hujan yang sebentar. Lebih tepatnya gerimis yang merintik-rintik. Nuansa melankolik [melankolis? melankoli?] bermunculan di seputar tempat saya duduk.
Saya juga belum berhasil menyelesaikan pekerjaan terpenting hari ini; menyusun buah pikiran yang masih membelit diantara bejibun file, tumpukan kertas, buku, dan ide-ide yang bertarung berjumpalitan di ruang kepala. Padahal saya sudah menandaskan dua cangkir kopi. Dua gelas besar air mineral. Dan sekarang segelas float coffee tengah menanti saya nikmati. Waktu melaju begitu cepat. Begitu saat.

Ritual Minggu pagi–dulu sekali–biasanya saya nguber-uber koran pagi. Beberapa tahun belakangan ini, tak lagi. Saya terjebak mudahnya fasilitas di sekitar. Di kantor, nyaris lima koran ‘penting’ sudah menyediakan diri untuk saya baca. Meski baru Senin paginya saya dapat menemui, tapi itu lumayan membuat saya membuang secara drastis ritual di tiap Minggu pagi itu. Sebuah perpustakaan kecil di dekat tempat tinggal saya juga menyediakan, ditambah meski hari Minggu, tetap buka. Tapi sesungguhnya tak begitu-begitu amat. Sepekan lebaran kemarin, kebetulan [yang tak indah] waktu saya habiskan nyaris sepekan penuh di rumah sakit sejak H + 2, menunggui ibu saya yang opname. Saya tak bisa ke mana-mana. Saya seolah ‘kelimpungan’ karena tak mendapat ‘suplai’ koran. Pedagang koran di rumah sakit biasanya tak sampai di bangsal tempat ibu saya dirawat. Beberapa buku sengaja saya usung untuk menemani kesendirian saya menjaga dan merawat ibu [saya membacanya saat saya telah kehabisan cerita dan mendapati ibu saya lelah terkantuk mendengarkan suara saya]. Minggu pagi-pagi sekali, saya buru-buru mengirim pesan ke saudara, kerabat, dan teman dekat untuk bisa membelikan saya koran. Yang terdekat dengan saya pun, rupanya tak bisa saya harapkan. Kesibukan lebaran, secara teknis rupanya begitu sulit untuk memenuhi harapan saya. Tak mau kalah akal, saya sengaja meminta sahabat yang tengah berada di Palembang untuk beli koran Minggu di sana. Juga, kakak saya yang tengah berada di Lampung untuk membelikan saya Lampung Post. Rupanya hari itu memang tak ada koran yang bisa didapatkan. Selesailah sudah ingin saya. [tapi saya tetap berterima kasih pada orang-orang tersebut]

Sebegitukah saya menyukai koran? Khususnya koran Minggu? Entahlah…
Saya akhirnya pasrah. Saya toh punya harapan, lusa di kantor saya akan menemukan yang saya ingin itu. Lalu hanya bersama buku-buku yang saya usung ke rumah sakit itulah saya bercengkerama dengan pikiran saya sendiri. Ibu saya sempat jengkel dan tak sabar. Karena begitu saya suntuk di hadapan benda kertas itu, kerap saya tidak mendengar ketika tengah dipanggil. Padahal hanya ada saya di dekat ibu. Juga, sebenarnya buku yang saya bawa sebenarnya “ringan” saja. Buku hiburan; catatan perjalanan, buku sejarah kebudayaan di sebuah pulau eksotik, sejarah pendidikan Ma’had Aly [setingkat pasca-Sarjana] di sebuah pesantren ujung Jawa Timur, novel terbaru karya penulis Utan Kayu, dan dua majalah wanita metropolitan [saya lebih suka menyebutnya demikian, daripada menyebutnya "majalah perempuan"]. Sesuatu yang semestinya tak boleh membuat saya men-suntuk-inya di saat saya tengah menemani ibu. Entahlah….

Lalu, apa yang menyulap nuansa saat menulis ini menjadi sedemikian melankoli?

Entahlah… [tetapi dalam diam-diam ada banyak hal yang saya ketahui, diam-diam pula bisa saya tuduh sebagai biang melankoli itu]

Selarik, seleret peristiwa, yang menyendu akhir-akhir ini banyak saya temui. Kegagapan menyikapinya barangkali, memiliki arti penting bagi seseorang untuk dapat ‘menyelesaikan’ pertanyaan demi pertanyaan itu. Beberapa buku yang saya tamatkan membacanya, tak ada yang dapat saya katakan sebagai penyumbang referensi melankoli. Maka kemudian saya kerap bertanya, di manakah? di yang itu kah? di yang di sana kah?

Barangkali sebuah kebetulan banyak menyinggahi. Tapi kebetulan yang lebih dari sebuah, bisakah disebut sebagai kebetulan? [mengutip kalimat dalam novel yang saya baca]. Kebetulan, beberapa hari lagi tepat tujuh tahun berpulangnya sahabat perempuan kami [Allahu yarham]. Saya seperti tersengat kenangan itu lagi. Barangkali kah karena saya kerap lupa untuk sekadar berkirim Fatihah untuknya? Entahlah…. [semoga Tuhan mengampuni kelemahan saya]

Dari sebuah kedai kopi yang menyediakan fasilitas jaringan nirkabel, saya menuliskan ini [setelah lama sekali, tak berbilang waktu, saya tak pernah menulis, meski sekadar catatan usang]. Seseorang yang baik hati sempat mendekat ke saya [saya tak mengenalnya, tak tahu namanya], menyapa dan berbincang soal IT, terkait notebook yang tengah saya pakai ini. Beberapa waktu lalu, orang ini sempat membantu kebingungan saya terkait jaringan internet di notebook yang saya pakai. Dalam waktu hampir setengah jam orang ini berpanjang lebar soal IT [yang hanya satu persen saya mengerti]. Mendadak hati saya menjadi sendu ketika dia menyebut nama sebuah bandar udara. Meski sejatinya tak ada hubungan langsung dengan kesenduan saya. Dia hanya menginformasikan bahwa seorang kawannya yang aktivis LSM beberapa bulan lalu laptopnya disita di bandar udara itu, terkait microsoft di laptopnya yang tak orisinil. Dia mengutak-atik notebook saya dan mengatakan bahwa alat ketik ini pun microsoftnya tak orisinil. “Saya ndak menakut-nakuti, Mbak. Sekadar info saja. Tahu sendiri kan, kepolisian kita mungkin sedang jahil, iseng cari duit aja”, katanya. Tapi dia telah menyebut nama bandar udara itu…duh?

Dan kini, dengan menulis iseng seperti ini, saya berharap melankoli itu lekas “teratasi”. Saya ingin menuntaskan buku menarik di samping saya ini sebelum saya pergi. Tentang situs kosmopolit dari secangkir kopi. Kalau perlu saya akan menuliskannya nanti dalam bentuk resensi. Seperti resensi yang sudah saya kirim di sebuah majalah, dan saya menanti-nanti janji redaksi untuk menerbitkannya kira-kira sebulan lagi.
Aduh, saya lupa; belum menulis puisi hari ini!

19 September 2010

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com