Langsung ke konten utama

Para Pewaris Ronggeng Gunung

Pandu Radea
http://www.kabar-priangan.com/

Bulan pucat pasi, bergetar di atas riak gelombang. Angin laut menderu-deru mengiris malam. Waktupun terasa berdetak lambat seolah ingin menegaskan harapan yang tersirat pada wajah wanita yang benama Pejoh.

Dialah yang menjadi pemeran utama malam ini. Tokoh kunci yang akan mentasbihkan sekelompok peronggeng muda yang akan menjadi pewaris kesenian khas Ciamis di masa yang akan datang. Calon peronggeng gunung yang merupakan generasi muda dibawah asuhan Neng Peking malam itu didaulat untuk melanjutkan amanat karuhun, menari dan mendendangkan wawangsalan buhun Dewi Siti Samboja.

Peristiwa budaya yang bertempat di Pondok Wisata Disbudpar Pangandaran, pada malam Minggu (1/10) itu digagas oleh Disbudpar Provinsi Jawa Barat dengan tajuk kegiatan “Pagelaran Hasil Pewarisan Kepesindenan Dalam Ronggeng Gunung”. Dan Bi Pejoh sebagai Maestro Ronggeng Gunung didaulat sebagai guru yang mewariskan Seni Ronggeng Gunung. Kesempatan langka itu sekaligus menjadi titik balik bagi Bi Pejoh tampil kembali di muka publik, setelah belasan tahun berhenti dari kiprahnya sebagai seniman ronggeng gunung. Dan Bagi Disbudpar, kegiatan ini diharapkan dapat memicu gairah positip bagi generasi muda untuk lebih mengenal, mendalami dan mengaktifkan seni Ronggeng Gunung di masyarakat luas, sekaligus meningkatkan citra pariwisata di Pangandaran.

Kemasan kegiatan memang mengacu kepada nilai-nilai sakral yang biasa dilakukan jaman dulu. Harum kemenyan, dan sederet sesajen yang disimpan di depan panggung menegaskan bahwa kegiatan itu tidak semata-mata hanya seremonial belaka. Pewarisan itu sendiri dilaksanakan sore hari sebelum pagelaran dimulai. Beberapa remaja putri yang dibina oleh Neng Peking, mengikuti ritual siraman yang dipimpin langsung oleh Bi Pejoh. Setelah acara inti selesai, maka malam harinya adalah pagelaran Ronggeng Gunung. Saat itulah Bi Pejoh tampil kembali sebagai ronggeng Gunung dengan didampingi oleh Neng Peking dan anak didiknya. Kesempatan itu pun menjadi lebih istimewa saat Bi Raspi, Ronggeng Gunung yang namanya sudah populer di Jawa Barat, juga turut ngahaleuang mendampingi Bi Pejoh.

Bi Pejoh sesungguhnya adalah maestro Ronggeng Gunung yang selama ini namanya nyaris tak tercatat dalam literatur media maupun di akademisi seni. Sosoknya hanya ada dalam ingatan orang-orang tertentu saja yang mengenalnya sebagai guru Ronggeng Gunung. Bi Pejoh dianggap ronggeng gunung betul-betul memahami, menghayati dan mendalami makna setiap nyanyian Ronggeng Gunung yang langka itu. Selama ini perhatian publik seni di Jawa Barat hanya mengenal nama Bi Raspi sebagai satu-satunya Ronggeng Gunung yang masih hidup. Hal itu suatu kondisi yang selalu menimbulkan kekhawatiran akan punahnya seni yang diciptakan Dewi Siti Samboja.

Bagi Bi Pejoh, setiap rumpaka lagu, seperti Kudup Turi, Golewang, Canggreng, Raja Pulang, Jangganom, Manangis, Cacar Burung, Ladrang, Tunggul Kawung, Torondol, Sasagaran, Kawungan, Liring, dll, memiliki nilai dan aturan tersendiri, tidak sembarang dihaleungkeun, harus sesuai urutan, dengan kebutuhan dan perhitungan waktu yang tepat. Karena semua lagu dalam ronggeng gunung menggambarkan atau prilaku Dewi Siti Samboja dan pengikutnya dulu. Konon, lalaguan dalam ronggeng gunung sebetulnya lebih dari 30 lagu. Malah ada yang “ngageugeuh” 40 lagu.

Tampilnya kembali Bi Pejoh mengobati kerinduan bagi penggemarnya. Kendati dengan suara yang tidak begitu prima, karena sekian tahun istirahat, namun tetap disambut dengan antusias oleh penonton yang hadir. Wawan Aryaganis, seniman tari dari padepokan Rengganis Ciamis terlihat demikian terharu. Wawan termasuk seniman yang mengenal bagaimana kiprah Bi Pejoh saat masih eksis.

“Dulu Bi Pejoh adalah ronggeng gunung terbaik, saya senang bisa melihatnya tampil kembali” ungkapnya.

Jika peristiwa budaya itu sesuai dengan tajuk kegiatannya maka, analoginya seperti menetasnya kembali telur dinosaurus. Artinya, sebagai sebuah peristiwa, ini adalah momen yang langka dan jarang terjadi. Bi Pejoh malam itu seolah menjadi penunjuk takdir bagi generasi pewarisnya untuk melanjutkan kiprah para ronggeng pendahulunya. Dan jika generasi itu mampu lana midang, moyan manggung tentu akan membawa harapan besar bagi masyarakat untuk merasa plong. Bahwa setidaknya kini, bersama Bi Raspi, ada beberapa peronggeng muda yang akan turut menjaga kelestarian seni buhun Ciamis pakidulan itu.

Sisi Paradox

Kegiatan penting itu, sepertinya luput dari perhatian media massa karena minimnya informasi dan publikasi di awal kegiatan. Padahal jika hal itu dilakukan serius oleh panitia kegiatan yaitu Disbudpar Provinsi Jawa Barat dan Disbudpar Kabupaten Ciamis, mungkin hasilnya akan sangat baik. Jumlah penonton yang relatif sedikit menjadi penanda minimnya publikasi. Padahal saat itu, pangandaran sedang ramai dikunjungi wisatawan yang berlibur akhir pekan. Imank Pasha, salah seorang penggiat sinema yang sengaja datang dari Ciamis untuk mendokumentasikan kegiatan tersebut adalah salah seorang yang menyayangkan hal diatas.

Pagelaranpun tidak begitu nyaman, karena sempitnya panggung pertunjukan. Nyaris setengah dari luas panggung telah dipenuhi kelengkapan gamelan untuk kebutuhan pertunjukan Ronggeng Amen yang akan ditampilkan setelah pentas Ronggeng Gunung. Hasilnya, para penari ronggeng gunung pria yang mengenakan sarung, tidak bisa tampil sebagaimana mestinya. Mereka menari berputar-putar di luar poros sang Ronggeng Gunung. Padahal, dalam kebiasaanya, penari pria ini harus menari mengitari Sang Ronggeng Gunung.

Tampilnya Ronggeng Amen setelah Ronggeng Gunung mendapat apresiasi yang bagus. Penonton pakidulan memang fanatik terhadap Ronggeng Amen yag lebih populer, mereka akan langsung ngengklak dipakalangan manakala para penari Ronggeng Amen mengalungkan selendang ke penonton yang terpilih. Namun suksesnya Ronggeng Amen yang sesunggunya menjadi pendukung kegiatan, justru membiaskan acara utama yang tersirat dalam tajuk kegiatan seperti yang tertulis di atas.

Kemudian, essensi dari pewarisan yang didalamnya disebut-sebut juga sebagai tawajjuh itu sendiri sepertinya harus dipertimbangkan lebih dalam. Tawajjuh berarti konsentrasi dan perhatian penuh terhadap sang Pencipta, mengacu pula sebagai pemusatan spiritual antara mursyid dan murid pada tataran yang lebih tinggi. Makna yang terkandung dalam konteks peristiwa budaya diatas dapat diartikan bahwa generasi yang ditawajjuh atau yang telah mewarisi bagbagan ilmu ronggeng gunung sudah layak untuk ditampilkan di masyarakat. Seperti sarjana yang telah diwisuda, yang mengemban amanat untuk mendedikasikan ilmunya bagi kemajuan masyarakat.

Artinya mereka yang diwarisi, harus bisa nembang dan ngibing sebagai dasar utama seorang ronggeng gunung. Berdasarkan referensi dari buku “Deskripsi Seni Daerah” (disusun oleh H.Djadja Sukardja S), pada bagian deskripsi yang berjudul “Ngala jeung Nanggap Ronggeng Gunung” (Umar, Penilik Kebudayaan Kalipucang) wanita yang ingin menjadi Ronggeng Gunung harus melewati ujian yang berat.

Di antaranya disebutkan: calon ronggeng kudu kuat mental jeung fisik sajero diajar nu lilana bisa nepi ka tilu bulan, diwulang tembang jeung diajar ngibing. kudu kuat daya ingetna sabab guru tara ngajarkeun wawangsalan katut lagu oron ti dua-tilu peuting, cukup sapeuting kudu geus apal. Tahan kurang sare kurang dahar. Malah dina “hataman” mah ukur dibere sangu dua huap, sagede indung suku nu dijerona geus dicampuran ramuan, diantarana tujuh siki pedes. Sangkan sorana lepas, tina liang irung nepi ka tikoro diasupan bari digera ku akar antanan. Mun palakiah panjang nafas, calon ronggeng gunung kudu latihan teuleum di sungapan atawa walungan nu aya curugna. Malah aya katangtuan nu baku, yen salila jadi ronggeng teu meunang boga salaki atawa heureuy jeung lalaki.

Saat ini belajar untuk menjadi Ronggeng Gunung mungkin tidak harus seperti itu. Kemajuan tekhologi dan bergesernya sebagian fungsi seni Ronggeng Gunung memudahkan orang untuk mempelajarinya. Namun gambaran diatas mengisyaratkan bahwa, jaman dulu, ketika seni Ronggeng Gunung begitu berperan di masyarakat sebagai seni yang berfungsi juga sebagai sarana ritual, tampak begitu berat syarat-syarat untuk menjadi seorang Ronggeng Gunung.

Dan seniman Gugum Gumbira, Sang Komposer Sunda serta maestro yang menggubah Ketuk Tilu menjadi Jaipongan, yang juga turut menyaksikan kegiatan tersebut mengungkapkan apresianya, bahwa sajian tersebut harus mengenai jiwa dan ruhnya, dan ritualnya harus kental dengan keasliannya.***

*) Warga Panjalu, pecinta Ronggeng Gunung /12 Oct 2011

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.