Langsung ke konten utama

Cerita Rakyat Tanpa Rakyat?

Bandung Mawardi
Solopos, 11 Des 2oo8

Jawa kerap diungkapkan para ahli sejarah dan ilmu-ilmu sosial dengan perspektif-perspektif ilmiah. Perspektif itu mengacu pada fakta dan penafsiran sesuai dengan prosedur berpikir ilmiah. Pengungkapan sejarah Jawa yang didominasi dengan pendekatan ilmiah yang memperhitungankan validitas sering meminggirkan sumber lain yakni cerita rakyat. Dominasi pemikiran ilmiah membuat cerita rakyat menjadi anak tiri untuk membaca sejarah?

Kuntowijoyo (2003) mengungkapkan bahwa peranan tradisi lisan dalam ilmu sejarah dan antropologi adalah sebagai sumber sejarah yang merekam masa lalu. Kesejarahan tradisi lisan merupakan sebagian dari isi tradisi lisan. Tradisi lisan itu mengungkapkan kejadian atau peristiwa yang mengandung nilai-nilai moral, keagamaan, adat-istiadat, fantasi, peribahasa, nyanyian, dan mantra. Penjelasan dari Kuntowijoyo itu mengisyaratkan bahwa sumber dari folklor itu tak mungkin diabaikan atau ditinggalkan dalam mengungkap sejarah.

Tradisi lisan memiliki kemungkinan menjadi rujukan penting untuk mengetahui dan mendeskripsikan sejarah. Jawa memiliki riwayat panjang yang belum bisa diungkapkan dengan utuh dan komprehensif oleh ahli sejarah dan ilmu sosial. Keberadaan cerita rakyat tentu bisa dinilai dengan kepentingan-kepentingan untuk rekonstruksi sejarah. Cerita-cerita rakyat itu mungkin cenderung dianggap sebagai sumber semi-ilmiah yang belum tergarap dengan analitis dan kritis dalam tradisi studi ilmiah.

Cerita rakyat atau dalam pengertian besar folklor dijelaskan William R. Bascom (Danandjaja, 1984) dalam tiga golongan besar: mite, legenda, dan dongeng. Mite adalah cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi dan dianggap suci oleh empu ceritanya. Legenda alam gaib adalah kisah yang bersifat kolektif dan dianggap benar-benar terjadi dan pernah dialami seseorang. Dongeng adalah cerita prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi yang melukiskan kebenaran, pelajaran moral, atau sindiran.

Posisi cerita rakyat untuk acuan merekonstruksi sejarah jarang dijadikan sebagai sumber primer dengan alasan-alasan rasionalitas sejarah. Cerita rakyat pada dasarnya memiliki suatu kekuatan yang membuat publik pemilik cerita rakyat berada dalam konstruksi dunia dan kehidupan yang unik dan otentik dalam latar sosial-kultural setempat. Tradisi lisan pada saat ini menghadapi tantangan dalam budaya teks dan budaya audio visual yang modern dan canggih. Tantangan itu menjadi peringatan untuk melakukan inovasi dan kreasi terhadap cerita rakyat.

Cerita rakyat yang lahir dan tumbuh di Jawa pada saat ini mungkin belum bernasib baik dengan pelbagai alasan dan kondisi. Cerita-cerita rakyat sekadar eksis dalam kelompok-kelompok kecil yang masih sanggup untuk menuturkan atau mengisahkan dalam bentuk lisan. Eksistensi cerita rakyat pun mulai menemukan peralihan bentuk dalam tulisan (buku) dengan pemakluman ada resepsi dan apresiasi berbeda ketimbang ketika dilisankan. Argumentasi dari perlaihan bentuk itu adalah buku bisa menjadi alat dokumentasi sebelum cerita rakyat kehilangan rakyat penutur-pendengar. Kehadiran buku-buku cerita rakyat mungkin jadi alternatif untuk transformasi pengetahuan historis dan sosial-kultural dalam masyarakat.

Cerita rakyat yang semula tumbuh dalam tradisi lisan memiliki ruang dan kepemilikan kolektif. Perubahan zaman menyebabkan kepemilikan kolektif semakin berkurang dan mengecil karena ekspansi cerita-cerita modern. Anak-anak dalam tataran masyarakat modern justru menunjukkan ketertarikan kuat dan cenderung akrab dengan cerita-cerita modern dalam bentuk komik atau film. Cerita rakyat yang dulu lahir dan tumbuh dalam masyarakat sendiri perlahan hilang atau dilupakan karena tak ada pola pewarisan yang efektif dan kreatif.

Pola kreatif yang terasa kurang adalah perhatian dari orang tua untuk mendongeng atau bercerita pada anak. Kelemahan untuk apresiasi cerita rakyat juga muncul di institusi pendidikan yang memainkan fungsi strategis dalam transformasi ilmu dan pengetahuan. Siswa di sekolah atau mahasiswa kurang apresiatif terhadap cerita rakyat karena pelbagai alasan dan faktor. Perhatian terhadap cerita rakyat seakan jadi urusan untuk peneliti, dosen, sastrawan, seniman, dan budayawan dengan misi penyelamatkan secara dokumentatif.

Masyarakat Jawa yang tidak tahu atau lupa atas cerita rakyatnya sendiri tentu menjadi fenomena yang memprihatinkan. Tragedi kultural itu tidak bisa dipisahkan dari arus modernitas dan kecenderungan kosmopolitanisme. Masyarakat berhak memiliki pelbagai kiblat dan orientasi kultural melalui cerita rakyat. Menikmati pola hidup kosmopolitan atau menjalankan nilai-nilai kemodernan adalah bentuk pilihan-pilihan yang cenderung dipercayai banyak orang. Cerita rakyat barangkali sekadar dianggap sebagai mitos lama, khayalan klise, fantasi, atau dongeng yang ketinggalan zaman.

Keberadaan cerita rakyat adalah bukti dinamisasi peradaban manusia dalam rekonstruksi masa lalu dan pembayangan masa depan. Apresiasi terhadap cerita rakyat menjadi bekal untuk transformasi sosial-kultural yang berasal dari sisi internal masyarakat. Cerita rakyat pun berhak mengalami transformasi bentuk dan tafsiran nilai sesuai dengan perubahan zaman dan kebutuhan masyarakat. Begitu.

Dijumput dari: http://kabutinstitut.blogspot.com/2009/01/cerita-rakyat-tanpa-rakyat.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.