Langsung ke konten utama

Etos dan Sastra, mengenang Andries Teeuw (1921-2012)


Bandung Mawardi *
_Radar Surabaya, 29 Juli 2012

SASTRA modern di Indonesia turut disemaikan oleh seorang sarjana mumpuni asal Belanda: Andries Teeuw (21 Agustus 1921-18 Mei 2012). Tokoh ini mengamalkan ilmu untuk menggerakkan studi sastra Indonesia. Buku-buku dihadirkan sebagai rujukan mempelajari sastra: Pokok dan Tokoh dalam Kesusastraan Indonesia Baru (1952), Tergantung Pada Kata (1980), Sastra Baru Indonesia (1980), Khazanah Sastra Indonesia (1982), Sastra dan Ilmu Sastra (1984). Kita mendapati buku-buku itu sebagai pemicu kajian sastra di kalangan akademik dan umum.A Teeuw telah memberi diri demi selebrasi literasi di Indonesia
Perkenalan A Teeuw dengan bahasa dan sastra di Indonesia terjadi saat menempuh studi di Universitas Leiden dan Universitas Ultrecht. Tahun 1938 menjadi titik pijak pengembaraan ke jagat sastra Indonesia. Takjub atas bahasa dan sastra di Indonesia membawa A Teeuw datang ke Jakarta dan Jogjakarta. Kehadiran ke Indonesia sebagai “pegawai kolonial” justru memberi akses pengetahuan ke pelbagai ranah pengetahuan tentang bahasa dan sastra etnik. A Teeuw memang cenderung identik dengan sastra Indonesia modern. Sosok ini lekas merambah ke sekian tema dengan pertaruhan intelektualitas.

Suguhan awal dalam agenda literasi di Indonesia adalah Indonesisch-Nederlands Woordenboek (1950). Kamus bahasa Indonesia-Belanda ini digarap bersama WJS Poerwadarminta. Pengakraban peluruhan diri ke sastra Indonesia dibuktikan dengan publikasi Pokok dan Tokoh (1952). Buku ini menjadi rujukan penting di tahun 1950-an dan 1960-an oleh mahasiswa dan publik sastra. A Teeuw memperkenalkan tokoh-tokoh dalam sastra Indonesia modern dan memberi tanggapan atas publikasi teks sastra mereka. Sarjana Belanda itu sanggup merangkum dan menarasikan sastra modern di Indonesia secara terang dan impresif. Barangkali kita bisa menganggap buku itu pijakan awal kajian sastra di ranah akademik.

Kehadiran A Teeuw memberi mozaik atas semaian kajian sastra Indonesia. Peran A Teeuw memang besar sebagai sarjana asing. Keterlibatan diri secara bergairah di jagat sastra Indonesia turut menggenapi studi sastra oleh HB Jassin, Sutan Takdir Alisjahbana, dan Ajip Rosidi. Publikasi buku sejarah dan kajian sastra Indonesia modern di masa 1950-an dan 1960-an memang masih terhitung sedikit. Kompetensi dan ketelatenan A Teeuw membuktikan etos kesarjanaan. Peran sebagai pengajar di Universitas Indonesia, Universitas Michigan, dan Universitas Leiden mengukuhkan sosok A Teeuw sebagai “resi sastra Indonesia”.

Warisan besar di ranah perkuliahan sastra adalah buku Sastra dan Ilmu Sastra (1984). Buku pengantar teori sastra Indonesia ini terus menjadi rujukan bagi dosen dan mahasiswa. A Teeuw melalui buku itu seolah membuat landasan kajian sastra di Indonesia. Penggunaan di pelbagai kampus mem buktikan makna kesarjanaan A Teeuw. Sekian ahli sastra dan kritikus sastra di Indonesia merupakan murid-murid dan penerus pemikiran-pemikiran A Teeuw selama tiga puluhan tahun. Gairah mengurusi dan mengasuh sastra Indonesia memang memerlukan pengabdian tanpa pamrih.

Karel Steenbrink (2006) menganggap studi A Teeuw adalah tonggak. A Teeuw adalah tokoh pertama sebagai penilai sastra Indonesia adalah ekspresi bangsa: independen dan merdeka. A Teeuw juga memiliki kontribusi dalam perbincangan puisi modern untuk “menentukan” dan “memetakan” identitas-estetika di jagat sastra Indonesia. Perhatian kritis atas puisi dan penyair seolah mengabarkan ada arus besar kesusastraan modern. Puisi adalah penggerak signifikan dan memacarkan eksperimen-eksperimen menakjubkan dalam pengisahan Indonesia.

Gairah mengurusi puisi disajikan dalam buku moncer: Tergantung Pada Kata (1980). A Teeuw mengibaratkan: “Membaca puisi berarti bergulat terus-menerus untuk merebut makna sajak yang disajikan oleh sang penyair.” Penjelasan ini terjelmakan melalui kritik atas sepuluh puisi fenomenal dalam kesusastraan Indonesia modern. A Teeuw memilih puisi-puisi garapan penyair kondang dan merepresentasikan mozaik kiblat estetika: Chairil Anwar, Sitor Situmorang, Ajip Rosidi, Subagio Sastrowardojo, Toeti Heraty, Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad, Abdul Hadi WM, Sutardji Calzoum Bachri.

Buku itu merupakan pergulatan intimA Teeuw dengan puisi selama tinggal di Jogjakarta (1977-1978). A Teeuw mengakui bahwa kepuasan-kenikmatan membaca puisi-puisi modern di Indonesia mesti dilaporkan ke publik. Pembacaan kritik atas puisi-puisi memerlukan teritorial kondusif dan impresif. A Teeuw merasa Jogjakarta adalah ruang produktif untuk menikmati puisi. Buku itu secara khusus mencantumkan ucapan persembahan dan terima kasih A Teeuw pada Jogjakarta.

Penggerak studi sastra Indonesia itu telah berpulang dengan meninggalkan warisan etos literasi dan buku-buku fenomenal. A Teeuw telah memberi arti untuk sastra Indonesia. Kita mengenang sebagai ikhtiar merawat memori kesusastraan secara historis dan empiris. Nukilan puisi Sindhunata untuk A Teeuw bertajuk Penjala Kata (2006) pantas jadi renungan: “Di akhir hidupnya, tak lagi ia mempunyai kata. Meski seumur hidupnya ia adalah pencari kata-kata.” Kita mengenang A Teeuw berarti mengenang jejak-jejak sastra Indonesia.

* Pengelola Jagat Abjad Solo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.