Sastrawan NTT, Siapakah Engkau?

(Membahas Buku Mengenal Sastra dan Sastrawan NTT)
Theo Uheng Koban Uer *
Flores Pos (Ende) 7 Juli 2012

Seorang seniman, dalam hal ini, seorang sastrawan, berkreasi untuk memperlihatkan hidup dalam artinya yang semesta dan kekal. Mereka membukakan nilai-nilai dalam keragamannya yang tidak terhitung. Mereka menimbulkan ngeri dengan yang mengerikan dan membikin orang bersorak dengan yang menggirangkan. Mereka membanjiri perasaan-perasaan yang mendesak dari kenyataan-kenyataan, mengayakan pandangan hidup orang, mempengaruhi dalam keyakinan dan sikap susila seseorang.


Nilai-nilai kehidupan yang disajikannya bertujuan untuk dinikmati, bermanfaat untuk perkembangan hidup, mengkritik kekuasaan dan penguasa yang otoriter, mendorong keseimbangan batin dan kemandirian, menata etika dan etis pergaulan, menegakkan persatuan dan keadilan serta persaudaraan, dan sebagainya dalam koridor Ketuhanan yang Maha Esa sebagai kebenaran yang mutlak.

Seorang pengarang adalah anggota masyarakat yang berpijak pada buminya yang nyata, namun melalui kreativitas dan imajinasinya, dia menciptakan suatu kenyataan baru sebagai hasil imajinasinya. Dan dari aspek sosiologis, seorang sastrawan sebagai anggota masyarakat perlu membangun suatu dunia sosial yang bermanfaat bagi anggota kolektivitasnya.

Sebagai anggota komunitas dia harus berupaya untuk secara tetap mendialogkan kehidupan dengan anggota komunitasnya. Dengan demikian, seorang sastrawan, sebagai subjek kreator harus berada pada kondisi transendental sehingga muatan intelektualitas dan emosionalitasnya mempresentasikan kondisi lingkungan kolektivitasnya.

Melacak Sastrawan NTT

Upaya melacak sastra dan sastrawan NTT (Nusa Tenggara Timur) yang dilakukan Yohanes Sehandi dalam buku Mengenal Sastra dan Sastrawan NTT (yang diterbitkan Penerbit Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, 2012, 130 halaman) ini memang belum berbuah banyak, apalagi ada banyak hambatan yang tidak disebutkan dalam buku ini. Namun demikian, si pelacak sastra dan sastrawan NTT ini sudah mempunyai disposisi batin untuk menerima segala kemungkinan yang bakal terjadi. Hanya ada satu tekad penulis buku ini: “Kalau bukan sekarang, kapan lagi!”

Apabila kita menelusuri sejarah kesusastraan, baik kesusastraan di dunia Barat maupun kesusastraan nasional Indonesia, telah terbukti bahwa suatu masyarakat itu akan berkembang maju apabila masyarakat tersebut mempunyai minat, penghayatan, dan pengamalan nilai-nilai yang terkandung dalam bahasa dan kesusastraannya.

Kekhasan sastra Indonesia modern berkembang bersamaan dengan perkembangan bahasa dan sastra Indonesia. Nasionalisme bertumbuh dan berkembang sejalan dengan berkembangnya sastra Indonesia mulai dengan Angkatan Pujangga Baru dan ditingkatkan melalui Angkatan 45 dengan tokoh kunci Chairil Anwar yang memperkenalkan bahasa Indonesia ke dunia Barat, kemudian dilanjutkan oleh angkatan-angkatan sesudahnya.

Menurut hemat saya, mungkin penulis buku ini, Yohanes Sehandi, dosen pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Universitas Flores, memiliki intuisi seperti itu. Kondisi wilayah NTT mungkin akan berubah dan berkembang dari “Nasib Tidak Tentu” (NTT) akan munuju ke kondisi yang lebih pasti atau lebih baik, apabila para peminat bahasa dan sastra lebih meningkatkan penghayatan dan pengamalan nilai-nilai yang disajikan dalam setiap karya sastra oleh para pengarangnya atau sastrawannya sendiri, dalam hal ini sastrawan NTT.

Jika demikan, maka akan muncul beberapa masalah, antara lain, bagaimanakah masyarakat NTT memanfaatkan nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra NTT tersebut. Apakah para pembaca dan peminat karya sastra NTT sungguh merespon nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra NTT tersebut. Wadah manakah yang bisa digunakan untuk memanfaatkan hasil karya sastra NTT tersebut. Dan mungkin masih banyak lagi masalah yang perlu didiskusikan bersama melalui buku Mengenal Sastra dan Sastrawan NTT karya Yohanes Sehandi ini.

Inilah Sastrawan-Sastrawan NTT

Penulis buku ini menyodorkan 22 nama sastrawan NTT dengan hasil karya sastranya. Diurutkan berdasarkan umur atau usia setiap sastrawan. Sesungguhnya ada 64 yang telah didata pada ahkir Januari 2012. Masih ada 42 orang lagi yang belum bisa diperkenalkan secara lengkap, tetapi nama-nama mereka sudah tercantum dalam buku ini (halaman 71).

H. B. Jassin seorang visioner kesusasteraan Indonesia, mungkin sebelum menulis berbagai buku kritik sastra dan esai sastra Indonesia, bekerja seperti penulis buku ini lakukan. Dalam bukunya Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei (Jilid 1), mengawali tulisannya dengan topik “Bahasa Indonesia dalam Perkembangannya” mengamanatkan bahwa bahasa Indonesia bertambah kaya, baik di bidang kebahasaan maupun kesusasteraan dengan masuknya bahasa dan sastra daerah. Dan sekarang sedang digalakkan upaya meliterasikan sastra lisan ke dalam bahasa Indonesia di seluruh wilayah Nusantara.

Memang, selama berkarya H.B. Jassin banyak dikritik, bahkan diejek atau dicemoohkan. Tetapi tokoh yang satu ini tahan bantingan. Malah sebaliknya, beliau mendapat julukan terhormat, Paus Sastra Indonesia. Banyak pihak mendukung perilakunya termasuk karya-karya tulisnya. Buku-bukunya Kesusasteraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei (bahkan sampai 4 Jilid), Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45, Angkatan 66, dan masih banyak lagi yang lain, sungguh diminati oleh para pembaca dan peminat sastra Indonesia, baik dalam negeri maupun di luar negeri, khususnya di Belanda.

Sekali lagi saya mengatakan bahwa mungkin Yohanes Sehandi, penulis buku ini, terinspirasi oleh perilaku H.B. Jassin atau secara intuitif terdorong oleh semangat H.B. Jassin tersebut, lalu dengan berani dan gamblang menyodorkan “Inilah Sastrawan-Sastrawan NTT.” Meskipun pribadi-pribadi tersebut tidak atau belum bersedia menyandang predikat sastrawan. Tujuann utamanya adalah agar para sastrawan NTT dan karya-karyanya dikenal dan dicintai oleh masyarakat NTT sendiri. Masalah yang muncul adalah apakah gagasan ini dapat menggugah para pembaca dan peminat sastra kita di NTT?

Gerson Poyk dan Dami N. Toda

Penulis buku ini ingin menunjukkan kepada para pembaca dan peminat sastra bahwa sastrawan NTT itu bisa disejajarkan dengan sastrawan serta budayawan Nasional Indonesia. Untuk itu ada dua tokoh besar dalam sastra yang diperkenalkan dalam buku ini, yakni Gerson Poyk sebagai perintis sastra NTT dan Dami N. Toda sebagai kritikus sastra.

Dengan mencermati biografi (riwayat hidup) dan data karya-karya sastranya, sudah sepantasnya kalau Gerson Poyk menyandang predikat “Perintis Sastra NTT.” Karena dialah seorang sastrawan yang secara intelektual dan emosional mempresentasikan kondisi lingkungan NTT kepada dunia luar bahwa inilah kondisi lingkungan anggota kolektivitasnya, mewakili kolektivitas NTT.

Beliau memperkenalkan NTT melalui novel-novel dan cerpen-cerpennya, seperti Cumbuan Sabana (1979), Puber Kedua di Sebuah Teluk (1985), Tarian Ombak (2009), Enu Molas di Lembah Lingko (2009), Keliling Indonesia dari Era Bung Karno sampai SBY (2011), dan sebagainya. Menurut penulis buku ini, beberapa karya Gerson Poyk sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jerman, Rusia, Belanda, Jepang, dan Turki. Ini berarti karya beliau bisa dijadikan promosi pariwisata NTT. Menjadi pertanyaan berikutnya adalah dapatkah generasi penerus berikutnya bisa berbuat lebih dari Gerson Poyk?

Berikut tentang Dami N. Toda sebagai kritikus sastra. Dari berbagai opini, beliau layak disebut sebagai kritikus sastra. Hanya sayangnya predikat ini belum tercantum dalam jajaran kritikus sastra nasional, seperti H. B. Jassin, W.S. Rendra, Ajip Rosidi, dan sebagainya. Sesungguhnya sebagai budayawan yang diakui dunia internasional, Dami N. Toda adalah seorang kritikus yang mendasarkan pandangannya pada psikoanalisis Jung karena mengulas novel-novel Iwan Simatupang, seperti Merahnya Merah (1968), Ziarah (1969), Kering (1972), dan Koong (1975).

Novel-novel Iwan Simatupang ini agak sulit dicerna oleh pembaca yang tidak memahami psikoanalisis. Demikian pula beliau dapat menganalisis puisi-puisi nyentrik dari Sutardji Calzoum Bachri yang aneh-aneh bentuknya, namun bernas isinya, sebab mendialogkan kehidupan yang nyata hidup dan universal. Dengan membaca hasil telaahannya dapatlah dikatakan bahwa beliau seorang kritikus sastra. Pertanyaan berikutnya lagi adalah apakah akan muncul Dami N. Toda yang baru lagi di daerah ini?

Catatan Refleksi

Yohanes Sehandi, penulis buku ini, sudah membuka cakrawala bagi para pembaca dan peminat sastra dalam wilayah Provinsi NTT. Inilah suatu tantangan yang perlu dihadapi, baik oleh para sastrawan maupun oleh para pembaca, peminat sastra, dan masyarakat luas di NTT sebagai penikmat sastra. Untuk itu baiklah kita menyimak pesan atau himbauan sekaligus catatan refleksi kritikus sastra Indonesia, H.B. Jassin dalam bukunya Tifa Penyair dan Daerahnya (1977 : 4-5).

Pertama, menjadi sastrawan itu tidak mudah, sebab sebagai pemikir, penyair, dan pengarang itu, bertindak “memaksa” orang meninjau lebih mendalam hakikat segala. Mereka memiliki bakat dan karakter yang memungkinkan mereka melihat dengan kepolosan seorang anak kecil yang masih hidup dalam dunia yang serba ajaib. Di belakang alam yang nampak dan penjelmaan-penjelmaannya, di belakang hidup dan kejadian sehari-sehari, mereka melihat kerajaan Tuhan, yakni Kerjaaan Kasih yang terbentang teratur.

Inilah sebabnya maka hasil seni yang baik, tahan hidup di segala zaman, karena kecakapan seniman merasakan, memilih, dan membentuk inti atau saripati yang berlaku bagi segala zaman. Kekuasaan penyair ialah bahwa ia bisa menangkap dalam perkataan dan memberi bentuk apa yang cuma dirasakan samar-samar dan tidak jelas bentuk serta rupanya bagi orang biasa.

Kedua, sebaliknya peminat sastra yang juga adalah seniman walaupun seniman pasif, sudah sepantasnyalah dengan usaha yang sungguh untuk mengerti apa yang disajikan oleh seniman atau sastrawan. Mereka harus memiliki kesediaan untuk melatih diri. Untuk menikmati karya sastra perlu ada kasih sayang dan cinta serta studi yang mendalam terhadap hasil karya. Sebab untuk mengerti sastra, orang harus mengerti bahasa dan kemungkinan-kemungkinan pengungkapannya.

*) Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,
FKIP, Universitas Flores

Komentar