Langsung ke konten utama

Sekadar Pengantar Suara-suara Kecil yang Memanggil dalam ’’Ribuan Gelas Berisi Teh’’


Ali Ibnu Anwar
Riau Pos, 22 Juli 2012

TELAH sampai sajak sembilu tentang ‘’Ribuan Gelas Berisi Teh’’di tangan saya. Perlu duduk manis untuk memahami organ-organ kata di dalamnya. Mengapa harus ‘’teh’’? Padahal air putih lebih menyehatkan. Atau ‘’Kopi Ribuan Gelas’’ yang banyak disukai penyair untuk menyanding rokok, yang dinilai lebih memudahkan penyair dalam menemukan inspirasi. Tapi penulis justru memilih ‘teh’ yang justru tak pernah tumbuh di tempat penulis. Jelas, itu adalah sebuah pilihan.
Ternyata benar, makin dalam saya baca, kian bermunculan suara-suara kecil memanggil batin dan raga agar menuntaskan bacaan saya. Akhirnya tuntas juga. Berikut catatan-catatan kecil tentang suara-suara kecil itu.
***

Suara pertama hadir dari ruh kepenyairan Asqalani. Penyair paham betul dengan suara batin yang jadi bendera untuk mengibarkan kata-katanya. Ia berhasil memberi makna hidup yang dianugerahkan Sang Khaliq, dimana kesadaran semacam ini hanya didapat dari proses perenungan panjang yang biasa dilakukan para sufi dalam menemukan identitas dirinya.

Penyair tak pernah menemukan kepuasan akan segala batas-batas yang tak tersentuh. Misalnya, dalam ‘makna kehadiran’ ia tak sekadar melihat dirinya dari dalam, tapi juga membangun konsep diri dari luar dirinya. Sehingga, ia menyulut api kegelisahannya dengan bait: suatu hari kau terlahir bukan karena sihir//tapi, karena takdir. Puisi itu menjadi luar biasa, ketika pembaca juga memberi makna pada dirinya sendiri.

Serpihan-serpihan makna yang menggema juga menyinggahi orang-orang terdekat yang ia cintai. Tak heran, jika puisi-puisi Asqalani memantulkan bias-bias kasih sayang yang luar biasa. Tapi, pada saat yang bersamaan, ia merasa kehilangan sosok yang disebut-sebut sebagai ‘ayah’. Penyair dengan membuat tanda dalam puisi tanpa ayah, ibu tetap memberikan ASI: sekasih//sesekali memandikan anaknya dengan seciduk//kuyu kuyup: ‘’Nak, Ayahmu telah tiada, akankah kelak Kau mengirim doa padanya?’’.

Pada dasarnya puisi di atas menyadarkan bahwa manusia akan mengalami banyak kehilangan. Kehilangan sosok, waktu, kesempatan, kasih sayang, bahkan kehilangan dirinya sendiri. Tapi pada kalanya ia akan kembali menemukan sosok, waktu, kesempatan, kasih sayang dan dirinya sendiri. Konsep semacam ini jarang disadari. Sehingga manusia mudah melewatkan impian dan tujuan dari hidup yang sebenarnya.

Kembali pada persoalan kepenyairan Asqalani, ia membangun puisi-puisinya dengan kultur bahasa yang santun. Faktor religi juga menyelip di bait-bait puisi penyair. Penyair seringkali menggunakan diksi doa, subuh, ruh, ukhty, iftitah, nuthfah, marwah, yang mengarah pada bahasa tempat pertama kali agamanya lahir. Secara tegas, ia juga menulis tentang rutinitas keagamaan yang ia anut dalam ‘’Sembahyang’’: tegakku,/ /berderak/ /rukukku,/ /terpuruk/ /itidalku,/ /terjungkal/ /sujudku,/ /tersangkut/ /salamku,/ /tenggelam/ /Rabb, ajari aku sembahyang seluruh tubuh/ /sedari awal. Musabab ia menulis tentang puisi ini, lagi-lagi menyadarkan pembaca, bahwa bila manusia asal sembahyang, ia hanya akan memperoleh tegak yang berderak, rukuknya terpuruk, iktidalnya hanya jungkir balik, sujudnya tersangkut dan salamnya tenggelam dalam sesuatu yang sia-sia. Sehingga ia meminta agar Sang Rabb yang ia sembah tak sekadar penerima gerakan tubuh, tapi dari niat yang paling dalam, ‘sedari awal’.
***

Suara kedua adalah suara cinta, muara awal manusia tercipta. Kata-kata genit secara deras meremuk-redamkan puisi-puisi Asqalani, pertanda ia mulai tumbuh dewasa. Persoalan cinta, tak habis-habis ditulis oleh banyak penyair. Hal tersulit adalah menulis puisi cinta dengan kualitas baik. Tapi Asqalani dapat menyelesaikan persoalan ini.

Dalam musim cinta penyair mengolah cinta semacam cuaca yang memiliki musim. Ia bisa diterima atau ditolak oleh manusia, karena bisa mendatangkan manfaat dan mudarat. jangan kau menjulur giur/ /pada aroma cinta di musim gugur/ /lihatlah gelimpangan perih tak pernah terkubur atau jangan kau bahas pelas/ /pada gemas cinta di musim panas/ /lihatlah bias cemas meranggas kandas. Bait ini ingin menyampaikan bahwa cinta layak diagungkan, tapi tak pantas dipertuhankan. Musim kemarau yang terlampau dapat mengakibatkan kekeringan. Musim hujan yang terlalu, juga akan mengakibatkan banjir. Jadi dalam bercinta pun tak dianjurkan berlebih-lebihan. Karenanya, Asqalani mengakhiri puisi ini dengan: tapi cobalah menabur syukur/ /pada luhur cinta dimusim umur/ /lihatlah tadabbur masyhur sampai ke baitul makmur.

Tingkatan ‘cinta’ Asqalani tak hanya sampai di sini. Ia berusaha memahami tingkatan cinta terhadap hal lain. Tingkatan tertinggi, yaitu cinta kepada Sang Maha Pemilik Cinta. Suasana cinta semacam ini terlihat pada dua puisinya yang berjudul ‘’Ciuman untukMu’’ dan ‘’Pelukan untukMu’’. Bait dalam ‘’Ciuman CintaMu adalah: /1/ kita berciuman sebelum wudhu kekeringan /2/ kukecup keningMu di dada sejadah /3/ keriangan airmataMu kuteguk rindu /4/ kupinjam bibirMu untuk mengecup do’a. Secara mendalam, penyair memberi makna pada cinta yang ia rasa dapat memberi kedamaian batin daripada cinta lainnya, yang suatu saat akan hilang dan ia tinggalkan. Aduhai, cinta telah membawanya pada puncak istirah di atas rahmah dan sajadah.
***

Suara ketiga adalah suara yang bukan suara. Tapi itu adalah suara. Karena suara itu membisik pada hati. Suara itu bermula dari struktur tulisan yang mengingatkan saya pada Sutardji Calzoum Bachri (SCB), sang Presiden Penyair yang meniupkan napas kontemporer pada bait-bait puisinya. Beberapa puisi Asqalani mengamini SCB, yang perlu pembacaan berulang-ulang untuk memahami puisi itu secara komprehensif.

Dalam ‘’Lukisan Ibu’’ ia memusatkan pada permainan kata ‘bu’ dan ‘nuh’ yang secara berulang-ulang dibolak-balik atau dibalik-bolak. Permainan kata semacam ini juga terjadi pada genre kepenyairan ‘puisi mBeling’ yang diprakarsai Jeihan dan Remy Sylado. Tingkat keseriusannya juga masih dipertanyakan, apakah itu puisi main-main atau puisi yang membatasi kata, karena sebenarnya itu puisi sungguh-sungguh?


bu
nuh

nuh
bu

bunuh

nuhbu


Ada baiknya saya akan menjelaskan letak main-main dan sungguh-sungguh dalam puisi tersebut. Pokok permainan kata dalam puisi ini sangat jelas, yaitu kata ‘bu’ dan ‘nuh’. Secara semantik, bu adalah salah satu tanda dialek yang mengarah pada kata ibu. Jelas bahwa bu di sini merupakan kata-kata yang mengandung maksud. Sedangkan nuh mengacu pada salah satu nama Nabi. Hal ini diperjelas dengan bait: ibu kaulah kapal terbesar semesta dunia/ /melayarkan aku laksana nuh suatu kala.

Kemudian kedua kata itu dijadikan satu kata, yaitu bunuh dan nuhbu. Di sini kedudukan bu dan nuh bukan lagi sebagai kata. Melainkan sebagai morfem yang membentuk kata bunuh dan nuhbu. Karena bila kata bunuh yang berarti membuat seseorang menjadi tidak bernyawa, dipisah menjadi bu-nuh akan mengalami kehilangan makna. Sebab tak diperjelas dengan bait-bait sebagaimana di atas. Namun pertanyaanya, nuhbu apa maksudnya? Anggap saja hanya penyair yang tahu, karena belum saya temukan di referensi manapun. Yang jelas itu bermakna, karena penulis mengakhiri puisinya dengan bait: manakala kuhidupkan ibu dengan gemintang/ /terbanglah sayap cahayaku menuju kedamaian / /di telapak kaki ibu. Sementara ini saya menerka maknanya adalah tujuan yang harus tercapai sebagai seorang anak yang taat pada ibunya. Karena surga di bawah telapak kaki ibu.
***

Suara-suara lainnya makin mengecil, mengecil, mengecil dan habis. Tapi masih menyisakan kesan di telinga saya. Karena saya membaca puisi-puisi Asqalani dengan bersuara keras atau landai. Saatnya saya mengambi segelas teh dari ribuan gelas itu untuk saya tenggak melenyapkan dahaga. Dan luar biasa segarnya.***

Jakarta, 2 Juni 2012

*) Ali Ibnu Anwar, Karyanya terbit di berbagai media, di antaranya Horison dan Jawa Pos. Juga terkumpul dalam antologi bersama cerpen At-he-is, antologi puisi O.De, Yaasin, Kepada Mereka yang Katanya Dekat dengan Tuhan, Reuni dan Sepasang Mata yang Cemburu. Bermastautin di Jakarta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.