Langsung ke konten utama

Ekapisme Dalam Politik Sastra

Happy Ied Mubarak
Radar Banjarmasin, 26 Agu 201

Banjarbaru semakin digadang-gadang menjadi kota kebudayaan dan kesustraan. Saya percaya benar bahwa meski publik sastra Banjarbaru mungkin tidak lebih baik daripada di kota dan kabupaten lain di Kalimantan selatan tetapi setidaknya kota ini punya inisiatif dan dukungan infrastruktur yang relatif lebih siap dibanding kota dan kabupaten lainnya, meski harus saya akui saya tidak banyak mengetahui dinamika kesusastraan di kota-kota yang dimaksud.
Ada berbagai konsep yang telah, sedang, dan akan siap-siap untuk digagas untuk ditampilkan di panggung bundar Mingguraya setiap bulannya. Dari yang konvensional, sekadar baca puisi, duet, bermonolog dll hingga ekspresi sastra kontemporer sampai ke beyond innovation seperti tarung puisi. Yang terakhir ini konon murni kreasi dari maestro kita, Ali Syamsudin Arsy (ASA). Kalau di TPI ada tarung dangdut, kenapa di Mingguraya tidak boleh ada tarung puisi? Di luar dari pro kontra tentang hukum-hukum estetikanya, tarung puisi mungkin akan menjadi salah satu master piece ASA, selain gumam tentu saja.

Alhamdulillah, saya yang tidak memiliki wawasan tentang puisi kecuali keterlenaan tak putus-putus akan keindahan universalnya yang bernama sastra, sempat satu kali membacakan puisi milik pak Hamami Adaby. Waktu itu, Hudan Nur – si Pipit kecil itu – menembak dari belakang pentas. Sebelumnya ia juga membidik sahabat saya yang terkasih –Sandi Firly – untuk “membacakan sesuatu, apa saja.” Redaktur sastra Media Kalimantan dan novelis pilihan ubud writers itu menyesal kemudian, “Seandainya tahu, saya bacakan kepada mereka bab awal dari novel The Kite runner-nya Hosseini.” Kini Sandi tumun. Dia katanya bersiap untuk membacakan puisi pada pentas panggung bundar ke depannya. Dengan semangat Ied Mubarak ini, dia jelas mulai berniat merintis karir menjadi penyair. Amin ya Robbal Alamien…

Yang terbaru, tanggal 24 nanti panggung Mingguraya akan meminjam tema dari isu yang actual tentang Rohingya. Dalam dunia yang multipolar hal ini menarik karena persilangan garisnya terlalu bias. Tetapi bukankah justru karena itu dia menarik? Sesuatu yang sedang terjadi jauh melintasi batas geografi, suku, ras, budaya, sedang dilawan oleh sesuaatu lainnya (yang romantis) di sebuah tempat yang terpisah ribuan kilometer. Oleh puisi pula. Ilmu rekayasa sejarah dan politik internasional jelas mengalami kegagapan intelektual membaca fenomena ini.

Saya percaya apapun bentuknya pembacaan puisi itu nantinya menjadi semacam doa atas tregadi kemanusiaan. Nurani para seniman, penyair, sastrawan, yang sangat peka, tidak akan membiarkan kekejaman terjadi kepada sesama manusia. Mungkin akan ada tarung puisi untuk mengartikulasikan perjuangan imanen di hati masing-masing. Betapa kita semua ini jika diijinkan sangat gatal untuk bertarung melawan pemerintahan otoriter di Myanmar untuk membela saudara-saudara kita.

Di saat Banjarbaru telah melangkah jauh dengan ide-idenya tentang tarung dangdut dan -mungkin saja- sastra perlawanan lewat panggung-panggungnya yang dinamis, riuh dan revolusioner, nun jauh di ibu kota sastra sedang bergelut dengan permasalahan yang sungguh serius. ASKS Banjarmasin tahun ini berlangsung dengan kabar tak mengenakan. Saya membaca beberapa artikel dan juga maklumat. Dan menanyakan hal ini kepada beberapa teman. Rata-rata mereka mengatakan lebih baik tidak berkomentar apapun. Saya tidak tahu kenapa harus begitu. Salah seorang Begawan sastra yang saya temui juga menghindar untuk menuliskan isu ini karena flaming dan “terlalu rawan.”

Saya tidak tahu kenapa bisa rawan. Karena informasi yang saya baca sangat gamblang. Dan dituliskan dengan sangat sadar. Ada pihak yang mengundurkan diri karena sesuatu dan lain hal. Itu bukanlah hal baru. Dan “ sangat wajar” terjadi bagi dunia kesustraan kita yang belum bisa mendapatkan identitas dari miskinnya modal kultural pemerintah untuk menjadikan sastra sebagai misalnya, satu aspek penting dari pembangunan daerah. Apa yang berlangsung selama ini hanyalah edisi dari ketidakberdayaan dan lemahnya bargaining sastra dan sastrawan untuk mengambil tempat di tribun lapangan rekayasa sejarah yang disana dimainkan politik, kekuasaan, kepentingan dan uang. Para sastrawan hanyalah supporter haram yang sewaktu-waktu bisa dikeluarkan dan dipentungi kapan saja oleh kebijakan-kebijakan atas nama birokrasi dan keamanan resmi pertandingan.

Ironisnya, kubu-kubu antar supporter tak hanya membuat sastra semakin tidak diuntungkan posisinya, tetapi juga membuat segalanya makin kabur dan tidak terjelaskan. Tidak jelas yang mana lapangannya yang sedang main siapa, supporter mana duduk di tribun apa, yang mana stadion untuk para pemain cadangannya yang tidak mengerti apa-apa dan sebagainya.

Mungkin itu hanya semacam dialektika. Sekadar kompromi. Bahwa romantisitas sastra tidak selalu harus dihidupi dengan idealisme serupa. Di sisi lain, kelemahan tidak bisa dicanggih-canggihkan dengan gagasan patriotis tentang “penyelamatan sastra atau ASKS.” Bahwa “lebih baik sedikit daripada kada ada.” Mereka yang telah telanjur mengirim naskah untuk lomba dan naskahnya telah ketlingsut tanpa tahu kemana mereka bisa menuntut hanya bisa merutuk. Sementara kepanitian transisi pemungutak karcis tak menyisakan seusap tenggang rasa sedikitpun kepada mereka untuk masuk dalam stadion. Di saat kita sedang menerapkan sejenis belas kasihan kultural kepada saudara-saudara kita yang jauh di negeri Rohingya, kenapa kita tidak mengimplementasikannya melalui perlawanan yang jelas dan lebih berharga diri di tanah kita sendiri?

Ketika menyadari jawabannya, saya makin sedih : Justru karena kita tidak bisa mengambil peran sentral untuk membebaskan sastra kita sendiri dari ketergantungan modal lalu akhirnya lebih baik menolehkan wajah ke negeri-negeri yang jauh dengan tema-tema yang abstrak?

Dijumput dari: http://www.radarbanjarmasin.co.id/index.php/berita/detail/Budaya%20dan%20Sastra/34023

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.