Tertikam Pena

Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/

Juli selalu datang tepat waktu. Tak sedetik pun ia terlambat. Entah apa daya talentanya, yang jelas kedatangannya selalu diarak angin. Meski tak pasti bahwa angin adalah kekasih sejatinya, setidaknya angin mempunyai rencana sendiri! Yang benar-benar tau rahasia angin adalah Agus. Ya, Agus. Lelaki berambut ikal dan menyukai warna hijau daun. Beberapa hari ini Agus sibuk menyiapkan megaparty: memasang lampion, penjor, baleho, umbul-umbul, serta aksesoris perias ruangan. Agus sosok perjaka desa yang rutin merayakan ulang tahun kelahiranya.


Sejak bertemu pejuang bersimbah darah di tepi sungai sore itu, Angin merasa ada amanat diembankan ke pundaknya. Sekitar lima jam lalu pertempuran di balik bukit, usai. Peluru Belanda berondong semburat. Dada dan sarung pejuang robek. Darah mengucur, luka pun menganga. Angin mendapati sesobek surat wasiat untuk anak-istri yang terselip di saku celana. Kertas bercak darah itu tertulis // Aku membela negara. Putih kertas ini adalah perjuanganku. Jika aku mati, merah adalah darahku. Untuk mengingatku, pasanglah merah putih di halaman rumah tiap ulang tahunku. Jika aku kembali, dan negara damai, kita besarkan anak-anak dan menikahkannya //. Kedatangan angin sesungguhnya hendak menyampaikan surat tak beralamat itu.

Juli berjalan menunduk. Orang yang mengenalnya selalu mengahiri kata’gadis baik nan sopan’ di ujung prasangka. Juli terkesan murah senyum. Apalagi saat ia melangkah dengan sepatu kebanggaannya. Hanya sepatu butut. Bukan sepatu kaca Cinderella, atau hadiah kekasih tercinta.

Akhirnya terwujut juga keinginan Juli, yakni memakai sepatu yang diidamkan sejak kecil. Saat di bangku sekolah dasar, Juli kerap dilempar Bu Guru kapur tulis. Manakala guru menangkap basah tatapan mata Juli tak tertuju ke papan. Juli kecil itu membayangkan suatu saat menjadi guru dan memakai sepatu

Pulang-pergi ke kampus, Juli melewati ruas jalanan yang sama. Namun ketika di bulan Juli, rindang jalanan berbalik fakta. Dedaunan lebat memayung yang senantiasa menghalau garang matahari, kini pongah. Klorofilnya tak tampak. Tinggallah jelagar ranting meruncing di pepohonan gundul.

Ilalang melambaikan tegur sapa. Andai bersuara, pasti berteriak memanggil dengan pucuknya. ”Juli, di sepanjang jalanan ini, dulu kau gadis belia, kini sudah perawan, hingga sekarang nona, walau belum dipanggil nyonya, tetap saja engkau wanita yang memiliki perempuan.” Canda ilalang sedari mengamati Juli tiap hari. Dedaunan pun senada ilalang. Ungkapkan perasaan serupa. ”Sejak berupa saripati tanah, aku sudah mencintaimu. Aku memasuki cela pembulu akar dan protoplasma hingga membentuk hijau daun, namun tak jua engkau kunjung menjamah. Maka aku menguning pada kesempatan yang hanya sekali ini, rontok di musim gugur. Tak lebih yang aku inginkan, dapat jatuh melayang menerpa rambutmu. Kalau pun tak menyentuh, esok aku berharap tersandung sepatumu atau kau injak. Cukup puas bagiku.” Ujaran daun yang gerguguran.

***

Samber bersandar di kursi putar. Sejak 20 tahun lalu ia menjadi lelaki dingin. Bermata dingin. Tubuhnya kerap menggigil hingga usia pertengahan abad. Cairan darah Samber tak sepenuhnya merah. Sepertiga endapan terdapat homoglobin menghitam pekat.

Dahi lelaki itu bergurat parit kecil. Dimana aliran kekecewaan mengalir gemercik dari hulu kegagalannya meraih sarjana. Malam-malam kesendirian Samber seringkali menggumpal. Terbang menjelma awan, mendung, dan deras hujan. Lengkaplah kedinginan Samber. Apalagi saat memori masa mudanya terputar ulang. Masa tatkala gairah menulisnya gencar menyerbu alamat editor koran harian. Tulisan tulisan yang ia kirim sukses masuk keranjang recyikle sampah editor. Sejak itu ia membenci kata’editor’. Tubuh dinginnya seketika panas. Kepalanya menjadi kuwali di atas tungku perapian. Otaknya umup, gejolak, munclak-munclak. Sesibuk apa pun Samber menyempatkan tangannya mencoret sebaris kata itu. Redamlah dendamnya.

Tak selamanya mendung terus merundung. Bibir tebal Samber sesekali tersenyum. Meskipun lelaki setegah abad itu tak tau persis jenis senyumnya, cengir, sinis, ramah atau kecut. Yang ia tau bahawa kursi putar dan rumah seharga 1 milyar murni hasil kerja kerasnya.

Tiga puluh tahun silam Samber nyelinap dalam kamar bapaknya. Tak sulit bagi orang serumah menggeledah barang sembunyian. Pthok D, tanah. Berbekal sebidang sawah di timur desa, ia jual. Kini samber menjabat direktur utama sebuah percetakannya sendiri.

Hari-hari dingin Samber tak terlalu menggigil. Manakala kesibukan menangani percetakan terbukti mencuri kekosongan waktunya. Saat mengenaskan baginya adalah ketika Desember tiba. Hujan tak hanya mengguyur mobil mewahnya. Kasur dan seisi ruangan pun turut basah. Tidurnya tak tetap. Perjalanan launching keberbagai wilayah tepaksa memboking kamar hotel.

Laptop baru dinyalakan. Kursor bergeser ke satu file. Dimana data para penulis wanita sudah dicawang. Deretan foto-foto dikomentari berbagai macam: keunikan, kelebihan, berapa lama saat dengan mereka dan berapa banyak alokasi biaya untuk masing-masing wajah.

***

Juli lunglai di kamar. Tugas kuliah kembali menimbun. Apalagi beberapa dosen binal kadang minta dibelikan buku yang mereka cari. Kantong saku Juli pasti terogoh. Tugas dan sekaligus nambahi koleksi perpustakaan sang dosen. Maklum, Mahasiswi kadang tak banyak membantah.

Mata lelah Juli berselancar menatap pantat buku-buku koleksinya yang hampir seribu biji. Lima puluh diantaranya ia beli dari koceknya sendiri. Dari pantat buku-buku itu, memori Juli terurai. Apa judulnya? Warna sampulnya? Siapa pangarangnya? Tentang apa tulisanya? Dan berapa tebal halamannya? Buku sebanyak itu bagaikan hamburger ketika Juli mengeledahnya.

Tiap helai lampiran buku baginya sebilah pedang yang tak henti menyayat dan mencerca. Ia mengejar para penulis di pantat buku itu, dengan gamang. Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia ternyata tidak menjadi jaminan. Belum satu pun pantat buku itu tertulis namanya. Dihadapan buku memang serasa terpendam gunung ilmu beratus-ratus-abad.

Sejak percetakan konvensional merasa bunuh diri jika menerbitkan buku satra, Juli kehilangan harapan. Beberapa karya yang usai ditulisnya, tak bermasa depan, suram dan muram. Percetakan gurem memang merajak. Tetapi baru mencetak sesuai uang pribadi penulis. Tak mungkin percetakan gurem dia tempuh. Sedang Tunggakan bayar kuliah saja ia harus membuka laundry di samping rumahnya.

Kelelahan Juli tersentak nada sms. Nada polyponik yang tak pernah dirubah. Nada itu terasa menggema. Sebab, nada itulah saat-saat Juli menunggu kata cinta mantan kekasihnya. Meski tak mungkin bersama, ingin rasanya waktu berputar kembali. Ada galau, rindu, benci, penasaran, harapan, dan takut kehilangan berbaur menjadi irama pembusukan. Irama yang sering ia rasakan. Lima lelaki sudah hengkang dari cintanya. Demi ambisi perlahan mereka didepak minggir.”Maaf, lelaki bagiku nomer sekian. Aku ingin jadi orang ternama dulu.” Sumbar prinsipnya. Demi prinsip kadang seseorang rela terhempas gundah gulana nan kering kerontang. Jenis cinta yang mengalir dalam tubuh moleknya bukanlah cinta sepenuh hati. Cinta sepatah yang tak memiliki militansi. Cinta hanya sekedar, dan lalu bubar.

Wanita cukup usia itu menghela nafas. Sms dibaca ulang tiga kali. Seraya tangan mengepal da..n ”yess.” Expresi wajah khas kegirangan. Handphon berlayar kuning Juli memuat sebaris kata, ” Saya direktur sebuah percetakan. Merekomendasikan tulisan anda untuk kami cetak. ttd: Samber.” Belum usai keriangan, sms berikutnya nyeruduk.” Untuk memfollouw up percetakan buku anda, dua hari lagi kita bertemu di Café Pringgodani pojok kota.” Sms itu bagai kerlip bintang jatuh ke tengah mesyia. Bagaimana pun harapan adalah hal yang menjenuhkan. Apalagi jika tak pasti.

Dua hari terasa lamban bagi Juli. Ingin rasanya ia menjaring matahari lalu menenggelamkan ke dasar senja.

Juli tersanjung di Café itu. Ia ditemui direktur percetakan bermobil mewah. Setelah 20 menit bercakap,” ini uang saku cuma-cuma, soal tanda tangan kontrak kita selesaikan hari berikutnya,” tukas direktur sembari menyodorkan 3 gebok uang satu jutaan.

Wanita lembab itu tak percaya. Kepakan sayap jurnalis yang tertancapkan di dadanya, patah. Tenyata karya tak harus bermutu, cukup gethol gaet relasi, koncoisme, dan cukup uang, gampang terkenal.

Sebentar lagi foto Juli dipastikan memenuhi cover halaman beberapa surat kabar. Dia akan duduk sederet dalam undangan seminar, workshop, pelatihan bersama Ayu Utami, Lang Fang, Abidah El Khaleiqy, Habiburrahman. AA.Navis dll. Ia juga akan sibuk mondar-mandir ke airphot membeli tiket, take of dan boarding keluar pulau.

Selamat tinggal masa lalu. Januar, Febri, Martin, Junaid dan rekan sejawat yang mendukung cita-citanya benar-benar lanyap. Bagi Juli adalah Samber. Dialah yang segera menerbitkan bukunya. Juli tetaplah Juli. Wanita. Ia berparas Hawa, berbedak Shinta. Ia melompati pagar Lesmana demi mengejar kijang emas kancana. Tangannya memegang Jemparing Jentik Gumala Netra.

Deras hujan menghapus siang awal Desember. Kemarau yang lambat membuat petir beringas. Cambuk kilat menyala dari celah rongga langit, dan menggores tepian mendung. Orang orang sering bergurau tentang Geledek yang menabrak apa saja. Maklum geledek / petir cuma ada sopir, tak ada kernek / pengawalnya.

Di depan laptop Samber mengocok kartu. Gambling tiga juta baginya sudah biasa. Tinggal menunggu waktu antara menang atau kalah. Data penulis wanita sudah dicentang semua. Sejumlah helai jenggotnya. Sisah data terbaru hanya dikomentari tanda tanya.

***

Juli dan motor bututnya melaju kencang membelah rintik hujan. Bagi dia urusan kepenulisan adalah panggilan jiwa. Apalagi mencetak sebuah buku, dibutuhkan militansi tersendiri. Hingga petir hanyalah petasan meletus di bulan ramadhon.

Sejam lalu sms direktur Samber menyusup ke handphon Juli. Meminta ia segera menemui di hotel pojok kota. Pasti perihal percetakan buku. Sesampai di Hall Balai Room Lobby Hotel, direktur Samber telah menunggu. Meja di hadapannya tertuang segelas kopi, dan di sandingnya sebuah buku. Cover depan tertulis jelas nama’ Penulis Juli’. Tangan Juli segera menyabet impian yang didamba bertahun-tahun. “Ahh, ahirnya tertulis juga namaku di pantat buku,” ujarnya girang.

Samber mengajak Juli mengambil satu kardus buku lainnya. Direktur Samber hanya membawa beberapa saja buat contoh. Juli berfikir wajar. Tak mungkin direktur membopong kardus ke Balai Room. Mereka menuju kardus di kamar yang dicek-in sejam lalu. Canda keakraban mewarnai keduanya. Layaknya patner kerja yang baru saja mengegolkan popularitas. Keakraban penulis dan penerbit. Ini suatu kehormatan bagi Juli. Rasa sungkannya menebal. Bahkan ketika bos penerbitan menyodorkan softdrink kalengan. Juli serasa diperlakukan seperti anak sendiri. Di kamar itu mereka memperbincangkan banyak hal. Tentu tentang poin marketing bukunya di beberapa komunitas sastra. Mengenai apa dan bagaimananya.

Tertangkap basah hujan, Juli masuk angin. Keringat dingin mengucur, mual, kepala pening, ribuan kunang tiba-tiba beterbangan penuhi ruangan. Tumben, masuk angin begitu mendadak. Yang janggal dari rasa mualnya disertai rangsangan. Kesadaran Juli melayang, dan tubuh wanita itu tergeletak. Antara sadar dan tidak, Juli merasakan rangsangan hebat. Ia seperti kembali saat menulis di meja kamarnya. Kala senggang menunggu ide, ujung pena digoreskan ke bibirnya. Terasa geli memang, tapi ia menyukainya. Ujung lancip pena dimasukkan ke mulut dan dengan lincahnya lidah Juli segera mengulum lumat batang keras bolpoin yang ia genggam.

Ia pernah berfikir sejenak. Apa kelebihan tulisannya? Hingga direktur Samber membidik mencetak. Padahal diantara penulis lain, jauh lebih layak untuk dicetak. Mungkin faktor keberuntungan saja. Pada suatu acara temu jurnalis, Juli pernah dikritik penulis senior. Perihal tulisan dia kurang greget, suspans yang ia bangun, tidak menggetarkan buhul persendian pembaca. Sejak itu Juli kerap menyisipkan paragraf aroma wangi selakangan yang didalami saat di bilik kecil warnet. Bahkan ketika marak kasus heboh Aril-Luna, Aril-Cut Tari, tak disia-siakannya. Agaknya direktur Samber memang sepesial penyadap tulisan berbau hot. Penulis tak mungkin jauh dari tulisannya.

***

Selaku aktor utama yang sekaligus sutradara cerita ini, Samber segera melakonkan perannya. Tubuh lunglai Juli dibopong ke atas ranjang. Jari-jemarinya cekatan menguliti tabir, da..n! Baju mereka berserakan di lantai. Samber gemetar juga. Meskipun hal yang sama pernah dilakukan pada mangsa yang lain. Ia terpukau pada eksotik pemandangan luas terbentang dari sabang sampai merauke. Samber segera menjadi pejalan jauh. Dilintasinya bukit, gunung, lembah dan goa. Dalam dinginya, bibir tabal Samber berdesir, ”penulis, tak selamanya harus menulis. Ada saatnya penulis juga harus ditulisi, hobi editor adalah menyetubuhi tulisan,” ujar kekurangajaran Samber.

***

Dua belas tahun sudah berlalu. Sejak kejadian itu nomor handphon Samber tak bisa dihubungi. Tinggallah Juli sendiri dalam luka yang ia rawat hingga mengangah. Ilalang dan dedaunan tetap menyapa. ” Dulu kau gadis belia, kini sudah perawan, dan sekarang nona, meski kau belum dipanggil nyonya, tetap saja engkau wanita yang memiliki perempuan.”

(Jombang, Juli-Agustus, Jombang 2010)

Komentar