Langsung ke konten utama

Perempuan, Sepatu, dan Gender

Sartika Dian Nuraini
Suara Merdeka, 2 Feb 2011

PRIA dan wanita memang berbeda, terutama secara biologis. Saat berurusan dengan sepatu, misalnya, jurang pun terbuka lebar. Mungkin bagi perempuan, sepatu adalah obsesi atau bahkan kanibalisasi.
Ongkos sepatu mahal sekali, tetapi saat uang tak membawa kebahagiaan, sepasang sepatu baru bisa meninggikan derajat keperempuanan.

Sepatu berbeda dari pakaian. Siapa pun Anda, gemuk atau kurus, pendek atau tinggi, cantik atau jelek, sepatu bagus dapat memperindah kaki Anda. Sebagian perempuan berpikir, sepatu mampu membuat mereka merasa seksi, elegan, sporty, kasual, dan sebagainya.

Saya ingat kutipan yang cukup mencengangkan. Saat diwawancarai New York Times perihal sepatu, Maryl Streep, bintang Hollywood yang sangat tenar itu, berkata, “Saya memiliki sepasang sepatu Prada. Dan suatu kali sepatu itu membuat kaki saya terluka. Bagi saya, itu bukan kesalahan sepatu; itu karena mereka telah sedemikian rapi dibuat. Saya menyalahkan kaki saya, karena mereka besar seperti kaki mama saya.” Jelas komentar Maryl Streep mengejutkan saya. Adakah para perempuan di sini menyadari dan merasa senasib dengan Maryl Streep? Saya harap tidak.

Saya juga ingat teman saya yang pernah mengalami hal serupa; menyalahkan kaki hanya karena sepatu. Masalahnya, kakinya panjang sekali. Ukuran 41 jelas bukan ukuran kaki ideal bagi perempuan usia 20 tahun. Pada beberapa kesempatan, dulu, dia gagal memiliki sepatu indah. Dan, hanya karena ukuran, dia menyalahkan diri, menghina diri, dan merasa sangat kecewa. Siapa yang jadi subjek dan objek? Sepatu dan ideologi yang dibawanya adalah subjek yang otoriter yang mengontrol pikiran teman saya. Dia terhegemoni oleh sepatu cantik itu.

Obsesi Sepatu

Untuk waktu lama, obsesi akan sepatu mewah telah menjadi hak prerogatif kalangan sosialita atas. Para perempuan akan membeda-bedakan diri (atau lebih tepatnya dibedakan) dalam bergaul dengan dan oleh label (merek) seperti Hermes, Gucci, Caovilla, Ferragamo, Blahnik, Laboutin, yang dibeli dengan menempatkan nama mereka di atas daftar tunggu khusus butik internasional. Dan, para elite pun mengubah tren sepatu menjadi tren untuk konsumsi massa.

Dalam sejarah tercatat Marie Antoinette, Ratu Prancis yang dipancung dengan guilotin 1793, punya beberapa pelayan untuk mengurusi sepatunya yang berjumlah lebih dari 500 pasang. Zaman dulu, tren sepatu hanya bisa dimiliki kaum borjuis, sedangkan rakyat jelata merasa sudah sangat beruntung memiliki sepatu yang kuat untuk bekerja. Imelda Marcos malah mengoleksi 3.000 pasang sepatu. Sepatunya yang berbahan satin kini ada di Museum Bata, Kanada.

Sejarawan June Swann asal Northampton, Inggris, pun berceloteh, sepatu adalah indikator terbaik dalam menunjukkan perasaan seseorang. Dari sepatu, kita juga bisa belajar soal budaya dan sejarah. Sepatu pertama yang diciptakan berasal dari model yang lebih cocok disebut sandal. Pada awal peradaban manusia, sekitar tahun 1600-1200 sebelum Masehi (SM) di Mesopotamia, sandal yang digunakan penduduk yang tinggal di pegunungan di perbatasan Iran berbentuk sederhana, serupa alas kaki yang dipakai suku Indian.

Luciana Boccardi dalam buku Party Shoes (1993) menulis, perempuan memakai sepatu dari kulit yang lembut sejak 1.000 tahun SM. Nefertiti dan Cleopatra sudah memakai sandal yang diukir dan diberi perhiasan. Boccardi juga bercerita, perang (tahun 1940-1945) telah menyebabkan sepatu tak hanya terbuat dari kulit, tetapi juga kain sutra, kertas kaca, tali rafia, tali rami, dan sebagainya.

Mozaik

Hubungan intim dengan sepatu dimulai segera setelah kita belajar berjalan. Begitu ingin merasa “dewasa”, kita tergelincir pada sepasang sepatu ibu kita; sepatu yang baik itu sebaiknya sepatu hak tinggi, sehingga langsung menumbuhkan rasa arogansi kita tentang apa artinya menjadi perempuan.

Lalu, apa yang terjadi? Kita tumbuh dewasa dan bisa memiliki ukuran kaki yang sama seperti ibu kita dan kepribadian kita mulai nyata dengan membeli sepatu pertama dari uang belanja kita. Seiring perjalanan waktu, sepatu-sepatu itulah yang menjadi wakil kita ke mana-mana. Pada saat tertentu, sepatu itu menjadi indikator usia, kelas, dan strata ekonomi  di masyarakat.

Lebih dari segalanya, sepatu wanita berbicara bahasa seks. Tidak harus jadi moralis atau antropolog untuk memahami pesan yang terperoleh ketika kita melihat seorang gadis yang memakai sepasang sepatu bersol karet atau yang memakai stiletto berisik. Dalam beberapa hal kita juga diperkenalkan pada stereotipe sepatu: sepatu bertumit menandakan dewi seks, sedangkan sepatu tak bertumit menandakan biarawati atau gadis manis dan lugu yang identik dengan mitos virgin marry.

*) Sartika Dian Nuraini, mahasiswa Sastra Inggris UNS, bergiat di Pengajian Senin Solo
Dijumput dari: http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/02/02/135926/Perempuan-Sepatu-dan-Gender

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.