Langsung ke konten utama

Pemikiran Keagamaan Irshad Mandji

Sartika Dian Nuraini *
http://jejerwadonsolo.wordpress.com

Saya membuka lembaran-lembaran dua buku Irshad Manji, Beriman Tanpa Rasa Takut (The Trouble with Islam Today: A Wake-Up Call for Honesty and Change) dan buku Allah, Liberty and Love: Sebuah Keberanian Mendamaikan Iman dan Kebebasan (Allah, Liberty and Love: the Courage to Reconcile Faith and Freedom). Saya mencoba membuat sketsa pemikiran Irshad Manji, meski kehadiran tubuhnya (yang konon lesbian tapi tak seorang Indonesia pun yang sampai saat ini bisa membuktikan) ditolak berdiskusi dan berdialog dengan umat Islam Indonesia.

Tentu saja saya tidak sepenuhnya setuju dengan pemikiran keagamaan Irshad Manji, tapi setidaknya saya mencoba untuk memahami dia, tidak seperti mereka yang menolak tanpa membaca buku, juga tanpa harus menolak kehadiran tubuhnya. Saya melihat adalah ganjil jika umat Islam menolak kehadirannya sedangkan buku-bukunya masih tetap beredar bahkan barangkali akan terbaca keturunan mereka yang menolak Irshad Manji. Maka adalah perlu untuk memahami pemikiran dan refleksinya tentang Islam.

Pencerahan Eropa

Pemikiran keagamaan Irshad Manji berangkat dari keingintahuan masa kecilnya yang mendalam tapi malah membuat dia mengalami trauma atau, dalam kata-katanya, mengalami “benturan peradaban”. Pada waktu kecil, setelah dia dan keluarganya pindah ke Kanada, Irshad Manji harus memasuki dua sekolah yang berlainan, sekolah sekuler dan sekolah madrasah. Pada sekolah sekuler, keingintahuan Irshad Manji yang terpantul dalam pertanyaan yang dalam umat Islam Indonesia barangkali sudah dianggap final, bisa terpenuhi. Para guru Irshad Manji tetap menjawab atau menyuruhnya mencari sendiri di perpustakaan jika tak mampu. Tak ada doktrin keagamaan yang diyakini tanpa memberinya kesempatan untuk memikirkan.

Tapi, di sekolah madrasah keingintahuan Irshad Manji dibungkam dan dihabisi. “Di kelas-kelas hari Sabtuku, aku didoktrin: Kalau kau orang beriman, kau jangan berpikir. Kalau kau berpikir, maka kau bukan orang yang beriman,” kata Irshad Manji (2008:39). Tak berlebihan jika Irshad Manji (2008: 34) mengatakan, “Aku harus jujur pada kalian semua. Hubunganku dengan Islam kurang begitu menyenangkan. Hidupku bergantung pada fatwa yang dikeluarkan oleh orang-orang yang mengklaim diri sebagai wakil Allah.”

Dalam dua buku Irshad Manji saya melihat bagaimana pengaruh pemikiran pencerahan yang ajukan Immanuel Kant pada 1784. Pemikiran Kantian Irshad Manji tampak sekali dalam proyek intelektualitasnya. Immanuel Kant dalam jawabannya kepada raja Prusia pada 30 September 1784 mengatakan, “Pencerahan adalah kebangkitan manusia dari ketidakdewasaan yang menjatuhkannya. Ketidakdewasaan adalah ketidakmampuan manusia untuk menggunakan pemahaman-pemikirannya tanpa bimbingan dari orang lain.”

Immanuel Kant mengkritisi tradisi (yang merasuki) agama yang membuat manusia berada dalam ketidakdewasaan selamanya, tak berani untuk mengkritisi, menolak, atau membantah nilai-nilai yang diajarkan oleh tradisi yang merasuki agama. Bukan karena manusia tak punya akal, yang membuat manusia terkungkung dogmatisme tradisi-agama, tapi hilangnya keberanian untuk menggunakan akal pikirannya.

Maka, sebagai motto Pencerahan, Kant mengatakan dan menggunakan syair Homer, “Sapere Aude! Beranilah menggunakan akal pikiran sendiri. Dengan semboyan itu, keberanian manusia tak boleh lagi dikeberi dan dikerdilkan oleh dogmatisme tradisi dan agama. Manusia bisa melangkah lebih maju dengan rasionya, tanpa ada bimbingan dari satu otoritas tradisional atau agama.

Tak ada yang mengejutkan tentang hal ini. Dalam tradisi intelektual Islam hal ini sebenarnya tidak ada yang baru. Bahkan kita juga pernah mendengarkan suara yang sama dari Ahmad Wahib dalam buku Pergolakan Pemikiran Islam. Yang perlu diperhatikan, Irshad Manji tampaknya tak begitu mendalami tradisi (pencerahan) pemikiran intelektual Islam dan dari beberapa intelektual mengkritik Irshad Manji.

Budaya tak sakral

Dengan titik berangkat seperti itu, maka bisa diduga apa yang hendak Irshad Manji serang dengan dua bukunya itu terutama Beriman Tanpa Rasa Takut. Irshad Manji melihat bahwa umat Islam, khususnya perempuan, masih terkungkung di bawah bimbingan dogmatisme tradisi dan otoritas keagamaan yang merasuki agama terutama yang berakar dalam kebudayaan Arab.

Menurut Irshad Manji, salah satu kemerosotan dan kemalangan yang diamali umat Islam bersumber dari semua ini. Bahkan Irshad Manji juga menyerang bahasa Arab yang terlalu dipaksakan meski tak memberikan pemahaman keislaman atau keimanan. Maka, terlihat bahwa proyek intelektualitas Irshad Manji adalah membedakan antara budaya dan agama. Di sini tampak sekali sebenarnya pemikiran Irshad Manji masih dalam jalur modernisasi Islam yang baginya belum selesai.
Di sini, suara advokatif Irshad Manji yang sedikit banyak bersifat emosional tampak sekali dalam bukunya yang kedua yang penuh dengan contoh dan bersifat tanya-jawab, Allah, Liberty and Love: Sebuah Keberanian Mendamaikan Iman dan Kebebasan. Yang hendak dilawan oleh Irshad Manji adalah tradisi, bukan agama Islam sendiri. Maka, tradisi itu tidak sacral bahkan harus dilawan jika tak masuk akal rasio manusia.

Sebagai akibatnya, proyek intelektualitas Irshad Manji adalah menganjurkan umat Islam khususnya perempuan untuk berani bersuara, berani merebut hak-haknya, berani untuk menyuarakan kepentingan-kepentingannya yang selama ini dihilangkan, diabaikan, atau dihabisi oleh tradisi. Dengan berani berpikir, maka mereka akan berani menentang dogmatisme tradisi Arab dan sebagainya, dan dengan berani menentang maka mereka akan dewasa dan mereka akan memiliki kebebasan.

Tuhan yang membebaskan

Dalam proyek pembebasan ini, saya melihat bagaimana basis teologis Irshad Manji mengasumsikan atau mengidealkan Allah. Irshad Manji melihat bahwa Allah tidak mengkungkung umat Islam, Allah itu membebaskan. Dalam tafsir ini memang tampak sekali kalau Irshad Manji dimasukkan dalam golongan liberal klasik, bukan sebagai seorang skriptualis yang kritis dengan ilmu keagamaan yang kuat dan mapan. Bahkan sebagian pengecamnya mengatakan dengan sinis bahwa apapun yang mau dilakukan oleh Irshad Manji adalah boleh dan bebas.

Barangkali memang proyek intelektual Irshad Manji bukan pada pengembangan atau pengajuan gagasan baru dalam diskursus Islam. Irshad Manji lebih tergerak untuk menghadapi realitas umat Islam dengan segala persoalan praktisnya. Maka, Irshad Manji lebih tepat untuk dikatakan sebagai seorang aktivis daripada seorang pemikir keagamaan.

Maka, sudah bisa diperkirakan apa yang hendak dia lakukan. Irshad Manji lebih banyak berbicara tentang kebebasan sebagai fondasi kerja aktivisme, dan mengangankan masyarakat multikultural karena realitas umat Islam sendiri adalah sebuah mozaik bukan hanya budaya Arab. Di sini cinta-kasih dan empati menjadi tak terelakkan untuk menghindari perbenturan baik antara umat Islam dengan umat Islam atau dengan golongan lain. Sebagai penutup sketsa kecil ini, saya ingin mengutip Irshad Manji untuk diri saya sendiri dan Anda yang membaca esai ini: “Kita tahu apa yang menimpa masyarakat yang menjalankan keyakinan buta.”

*) Sartika Dian Nuraini, aktivis Jejer Wadon Solo, Mahasiswa American Studies Universitas Sebelas Maret.
Dijumput dari:  http://jejerwadonsolo.wordpress.com/2012/07/14/pemikiran-keagamaan-irshad-mandji/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.