Langsung ke konten utama

Sastrawan Batubara yang Terlupakan

Damiri Mahmud
Harian Analisa, 4 Nov 2012

Para seniman dan budayawan Kabupaten Batubara sangat terkesan mengingat kembali bahwa di daerah mereka Kabupaten Batubara yang dimekarkan dari Kabupaten Asahan pernah eksis seniman dan sastrawan besar yang selama ini seperti terlupakan. Seperti yang saya kemukakan dalam “Dialog Kebudayaan” yang digelar oleh Kadis Kebudayaan dan Pariwisata bertempat di Balai Resto baru-baru ini, para seniman dan sastrawan dari sini telah mengukir pena mereka dalam mengisi khazanah sastra Indonesia Modern. Tambahan pula, ditilik dari sisi kebudayaan, Batubara memiliki rasa memiliki yang kuat. Sejak dari mulanya lagi, ketika wilayah ini mula dihuni awal abad ke-delapan-belas oleh lima klan: Lima Laras, Tanah Datar, Lima Puluh, Pesisir dan Suku Boga, memang sudah terpisah dari Asahan. Pada zaman penjajahan ketika dibentuk residensi Sumatera Timur, 1889, terdiri dari 5 Afdeling: Deli, Batubara, Asahan, Labuhan Batu, Bengkalis.

Daripada mencari perbedaan yang tak kunjung selesai, lebih baik bersatu menapaki jejak yang dirintis oleh para pendahulu. Tersebutlah misalnya, Syarif Anwar, bertempat tinggal di Tanjung Tiram, Batubara. Dia banyak menulis puisi tentang laut. Puisi-puisinya dimuat di Ruang Kebudayaan, Mimbar Umum, ketika itu diasuh oleh Aoh K. Hadimaja. Salah satu puisinya tentang laut berjudul Aku Raja Laut diikutkan Aoh dalam bukunya Beberapa Faham Angkatan 45. Buku itu ditulis Aoh menguatkan pendapatnya bahwa Angkatan 45 masih terus subur berkembang mengikuti tradisi penulisan Chairil Anwar. Dimasukkannya puisi S. Anwar dalam buku itu di antara sekian banyak puisi penyair Indonesia, karena puisi ini dan punya kualitas dan arti yang bernas untuk direnungkan.

Ada lagi HA Dharsono, seorang penyair yang banyak menulis di tahun 1950-an itu. Begitu juga Usman Al-Hudawi begitu banyak pula menulis cerita pendek di ruang-ruang kebudayaan Medan.

Dt. A. Azmansyah lahir di Lima Laras, Tanjung Tiram, Batubara, 29 Juni 1940. Menulis mulai tahun 1954. Karya-karyanya terutama berupa puisi dimuat di harian dan majalah, seperti “Analisa” dan “Waktu” terbitan Medan, “Panji Masyarakat”, “Mimbar Indonesia” (Jakarta), majalah “Basis” (Jogjakarta) dan majalah “Sastrawan” (Singapura). Puisi-puisinya terkumpul dalam beberapa antoloji seperti:

Bunga Laut, Tangkahan, Antologi Puisi Asean (Bali), Muara (Indonesia/Malaysia). Meraih juara lomba Cipta Puisi Hari Pahlawan Sumut (1959). Juara II Lomba Cipta Puisi se Sumut (TBM, 1981). Meraih Hadiah Kreatifitas Sastra DKM (1982).

Datuk Azmansyah, salah seorang ahli waris Istana Lima Laras. Selalu mengikuti berbagai kegiatan dan seminar sastra dan budaya di Indonesia dan Malaysia.

BY Tand, lahir di Indrapura, Batu Bara, 10 Agustus 1942. Kumpulan Sajaknya Sketsa memenangkan hadiah utama Puisi Putra II Malaysia, 1983, bersama dengan Sapardi Djoko Damono dari Indonesia dan Zurinah Hasan dari Malaysia. Kemenangan BY Tand ini cukup mengejutkan dan menggembirakan. Dia adalah penyair yang cukup menonjol di Indonesia. Puisi, esai dan cerpennya banyak dimuat di harian Waspada, Analisa, Mimbar Umum, Berita Buana, Republika dan terutama di Majalah Sastra Horison. Dia banyak menghadiri seminar di Medan, Jakarta dan di berbagai kota di Malaysia. Tahun 1984 dia membacakan puisinya secara tunggal di TIM Jakarta. Kepenyairan BY Tand menjadikan blantika kesusastraan di Sumatera Utara lebih diperhatikan. Beberapa karyanya diterjemahkan kedalam bahasa Inggris dan Belanda. Puisi-puisinya masuk dalam antoloji puisi para penyair terkemuka Indonesia: Tonggak, Horison Sastra Indonesia. Kumpulan sajaknya: Ketika Matahari Tertidur (1979), Sajak-sajak Diam (1983). Kumpulan cerpen Si Hitam terbit di Malaysia. Tahun 1982-1992 Lazuardi Anwar bersama BY Tand dan kawan-kawan mendirikan “Dialog Utara” suatu perhimpunan kerjasama dengan Gapena (Gabungan Persatuan Penulis Nasional Malaysia) yang menggelar pertemuan dwitahunan di Sumatera Utara dan Utara Malaysia. Pertemuan ini mendapat perhatian pemerintah kedua Negara serumpun.

Kumpulan Puisi Sketsa yang memenangkan hadiah utama di Malaysia itu belum pernah diterbitkan. Pnyairnya, BY Tand, telah meninggal dunia tahun 2001. Kita tak mengetahui lagi keberadaan naskah itu. Kita perlu menyiasatinya karena merupakan harta dan aset kebudayaan kita. Saya kira ada beberapa lagi karya BY Tand belum kita ketahui bagaimana nasibnya. Setelah dia meninggal dunia BY Tand seperti penyair yang terlupakan. Padahal semasa hidupnya dia telah berbuat untuk kesusastraan dan kebudayaan kita.

Begitu pula karya-karya Dt. A. Azmansyah belum terkumpul secara baik. Padahal beliau penyair yang produktip di masanya, sehingga puisi-puisinya cukup banyak juga. Bagaimana pula dengan karya-karya Usman Al-Hudawi. Beliau pun banyak menulis terutama cerita pendek. Begitu pula dengan karya-karya HA Dharsono, Syarif Anwar, A. Anwar dan Ananta Pinola serta Akhas Taufiq Rokan. Lebih disayangkan pula dengan karya-karya Haity Ibrahim. Dia adalah seorang pengarang perempuan, mungkin satu-satunya, pada masanya. Haity, penulis cerita pendek yang produktip dan bermutu. Jangankan karya-karyanya, bahkan keberadaannya pun sudah tidak lagi diketahui. Terakhir, sekitar tahun enam-puluhan, dia dikatakan pindah ke Jakarta. Pada masanya itu, karya-karyanya banyak dimuat di lembaran budaya “Mimbar Umum” sebuah media yang sangat memperhitungkan kualitas karya.

Sudah saatnya kita bekerja keras mencari jejak akan keberadaan karya-karya mereka yang tenggelam dan terlupakan, karena bagaimana pun di dalamnya tersimpan berbagai hal dan peristiwa yang perlu kita baca dan ketahui.

Ketika hari pertama “Dialog Kebudayaan” itu saya menyebut-nyebut nama Haity Ibrahim, seorang peserta dari Lima Laras, Yohanan, pensiunan Penilik Kebudayaan, menyebutkan Haity Ibrahim masih hidup dan menjadi tetangganya! Saya terkejut besar dan mohon kepada beliau supaya dapat mengajaknya. Saya memang banyak membaca cerpen beliau ketika masih remaja.

Besoknya muncullah seorang perempuan berkulit kuning langsat dengan gurat-gurat kecantikan masih tersisa di wajahnya, Haity Ibrahim. Segera saja pemandu acara mendaulatnya untuk membacakan karya-karyanya. Ada dua puisi yang kita sediakan dan kedua-duanya dibacakannya dengan vocal yang masih baik.

Haity merangkum kisahnya. Tahun 60-an dia diutus oleh Lembaga Kebudayaa Nasional (LKN) ke Jakarta kemudian bermukim di sana. Di sana katanya dia pernah belajar di IKJ dan latihan drama di bawah asuhan Teguh Karya. Setelah lebih tiga puluh tahun di Jakarta, atas permintaan keluarga, tahun 2000 Haity pulang ke Batubara.

“Saya sangat merindukan pertemuan seperti ini…” kesannya mengharukan. Dua belas tahun sudah pulang kampung, namun tak ada yang mengusiknya. Padahal, katanya, dia bersedia melatih para remaja dari ilmu yang didapatnya dari Teguh Karya. Luar biasa!

“Kami sering teriak berdua-dua di pinggir pantai membaca puisi.” Kata Yohanan tertawa ketika ngobrol.

Asro Kamal Rokan lahir di Simpang Dolok, Batubara, 24 Desember 1960. Menulis puisi dan cerpen. Asro membacakan cerpen-cerpennya secara tunggal di Taman Budaya, Medan. Tahun 1984 dia mewawancarai Damiri Mahmud tentang eksistensi sastra di Sumatera Utara, dimuat di “Merdeka”, Jakarta. Wawancara itu memancing polemik besar dan berkepanjangan dan disudahi dengan menggelar Seminar Sehari di Taman Budaya, Medan. Dia hijrah ke Jakarta, 1986, bekerja di Harian Merdeka. Kemudian di Harian Republika, menjadi Pemimpin Redaksi (2003-2005). Pada Juli 2005 Asro menerima Keppres dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Pemimpin Umum LKBN Antara (2005-2007). Kini, Asro bertugas sebagai Dewan Pengawas LKBN Antara dan Special Envoy for General Affair Organization of Asia Pacific News Agencies (OANA). Untuk tugas-tugasnya itu, Asro harus selalu melawat ke luar negeri. Ketika saya menghubunginya supaya dapat hadir dalam dialog ini, Asro mengatakan, bertepatan sekali dia akan berangkat ke Amerika (Sabtu, 20 Okt.) dan baru kembali tanggal 30 Okt.

Melihat potensi besar para seniman dan budayawan yang nyaris tak dikenal dan terlupakan oleh masyarakat Batubara sendiri, para budayawan yang berdialog di Balai Resto itu sepakat akan membuat berbagai kegiatan. Bersama pihak pemerintah (diwakili Asisten II Bupati Batubara, H. Helman Herdady, SH, MAP) para budayawan itu akan menggelar kegiatan masuk sekolah, lomba baca puisi, dan yang tak kurang pentingnya akan memberikan reward atau penghargaan seni kepada para sastrawan yang ikut mengukir dan mengharumkan nama Batubara. Semoga.

Dijumput dari: http://www.analisadaily.com/news/read/2012/11/04/85376/sastrawan_batubara_yang_terlupakan/#.UNDVfKx2Na8

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com