Langsung ke konten utama

Sastra Cuma Sebuah Dunia Kata-kata

Shafwan Hadi Umry
Harian Analisa, 25 Nov 2012

Tantangan bagi seorang penyair menemukan kata-kata untuk suatu imajinasi yang sudah menyembul tapi belum tertangkap dalam kata, belum mengendap dalam bentuk. Dengan kata ia menjangkau ruang dan penggunaan bahasa secara kreatif. Kenyataan bahwa karya sastra mempunyai tradisinya sendiri sehingga suatu karya sastra selalu menolak meski tak secara total unsur yang ada pada karya sebelumnya.
Penggunaan bahasa dalam sastra sering ditandai oleh prinsip ketaksinambungan. Berbeda halnya dalam tata bahasa yang lebih menekankan aspek kesinambungan sehingga setiap orang berusaha untuk tidak melanggarnya. Pendapat yang terakhir ini pernah dibicarakan Umar Yunus dan “Mitos dan Komunikasi”. Tidaklah mengherankan mengapa para penyair sering bergulat dengan kata-kata untuk menaklukkan sekaligus menjinakan kata dalam sajak-sajaknya.

Pergulatan penyair untuk menaklukkan kata-kata dimaksudkan untuk menciptakan kembali makna baru yang terkadang lepas dari sarana semantik dalam artinya yang konvensional. Penaklukan kata-kata itu merupakan serangkaian kerja penyair untuk mempersembahkan karyanya ke hadapan pembaca. Di sini unsur perasaan sangat mempengaruhi nasib kata-kata.

Secara memikat dan menarik diturunkan sebuah sajak yang menggambarkan secara tepat perjuangan penyair untuk menjinakkan kata-kata dalam sajak Sapardi Djoko Damono di bawah ini: “Telaga dan sungai itu kulipat dan kusimpan kembali dalam urat nadiku. Hutan pun gundul. Demikianlah maka kawanan kijang itu tak mau lagi tinggal dalam sajak-sajakku sebab kata-kata di dalamnya berwujud anak panah yang dilepaskan oleh Rama” (Sajak, 2).

MENAKLUKKAN KATA-KATA

Sekedar untuk menjelaskan rasa “penasaran” penyair untuk berusaha menaklukkan kata-kata dalam menjangkau imajinasi yang bakal dilayarkan dalam peraian kata-kata. Intensitas perasaan penyair itu diproyeksikan secara kuantitatif, dengan melukiskan kijang-kijang yang merupakan dunia imajinasi dan inspirasi dan belum tertangkap dalam makna sang Rama sebagai si aku lirik penyairnya.

Dunia yang diciptakan para pengarang dan penyair bukanlah suatu dunia serba baru meskipun dalam pemakaian bahasa ia menolak kesinambungan. Andaikata dunia itu serba baru, ini berarti teks yang berujud kata-kata itu tak dapat dimengerti oleh pembaca.

Dengan demikian dunia yang diciptakan penyair oleh pembaca selalu dialami berdasarkan pengetahuannya tentang dunia nyata, termasuk pengetahuannya tentang tradisi sastra.

Di sinilah teori mimesis (peniruan terhadap realitas) dan teori creatio selalu diperbincangkan. Andaikata seorang penyair hanya meniru dan menjiplak masih adakah tempat bagi kreatifitasnya. Teori mimesis yang dipersembahkan Aristoteles bukanlah tiruan seperti halnya sebuah alat potret yang merekam gambar atau obyeknya. Baginya, mimesis tidak pertama-tama berarti merekam apa yang ada, atau apa yang pernah terjadi, melainkan apa yang dapat ada atau yang dapat terjadi. Penyair, dalam melukiskan hal-hal yang mungkin, terjadi ia harus memperhatikan hukum keniscayaan.

Tidak penting apakah suatu peristiwa sungguh pernah terjadi, tetapi apakah masuk akal bahwa peristiwa itu mungkin pernah terjadi” (Dick Hartoko, 1984: 33). Sekalipun demikian teori mimesis dan creatio saling melengkapi, namun kebanyakan dalam dunia sastra dilukiskan dalam banyak hal yang dalam kenyataan tak pernah ada.

TAK HARUS TAKUT

Penyair dalam mempersembahkan karya melalui kata-kata tidak harus takut untuk tidak dimengerti orang lain asal sang penyair sendiri mengerti apa yang ditulisnya. Yang penting apabila seorang penyair yakin akan kebenaran dengan sendirinya ia dapat, meyakinkan orang lain akan kebenaran tersebut. “Sebuah sajak”, demikan menurut Wiratmo Sukito, “sekalipun dalam sikapnya mengandung kata sebagai lebih merupakan barang daripada tanda tidak akan memberikan kegentaran gairah kepada penyair yang menciptakannya bila tidak memberikan kenikmatan kepada pembacanya” (Horison, 1982: 242).

Menurut seorang penyair, “seorang yang dapat melihat, maka penglihatannya itu lebih merupakan semacam intuisi dan bukannya suatu penalaran” Intuisi itu dilahirkan karena kontak dengan hakekat barang-barang. Batin sang penyair terbenam dalam gambar puitik lalu dilahirkan keluar. Emosi yang keluar itu bukan dengan, sendirinya indah. Emosi yang indah itu masih harus disalurkan, diarahkan, seperti sebuah sungai di pengunungan yang harus dijinakkan dulu sebelum airnya dapat dipakai untuk pembangkit tenaga, listrik.

“Sebuah sajak” demikian menurut Chairil Anwar, “menjadi penting dan berarti bukanlah karena panjangnya atau pendeknya, tetapi adalah karena tingkatnya, derajatnya, kadarnya”Atau dia menambahkan “sebuah sajak yang menjadi adalah suatu dunia. Dunia yang dijadikan, diciptakan kembali oleh sipenyair” (H.B.Yassin, 1962 : 84).

Berdasarkan pendapat di atas dapatlah dikatakan bahwa kata-kata sebagai medium ekspresi penyair membuka pandangan terhadap dunia yang nyata. Seni tidak dengan meniru kenyataan, melainkan menampilkannya dengan suatu cara lain dan kita memandangnya dengan mata yang lain.***

Dijumput dari: http://www.analisadaily.com/news/read/2012/11/25/89722/sastra_cuma_sebuah_dunia_katakata/#.UNDRDax2Na8

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.