Langsung ke konten utama

Ketika Sastrawan Hamsad Rangkuti Menderita Sakit

Parulian Scott L. Tobing
Harian Analisa, 6 Des 2012

Sebagai mahasiswa baru dan orang baru di kota Medan ini, banyak tempat dan istilah yang baru bagi saya. Saya lahir di Surabaya, gede di Tangerang dan menemukan hal-hal unik di Medan ini. Satu hal yaitu istilah “titi”, yang tidak ditemukan di Jabodetabek. Sebulan lalu saya diajak teman menikmati mie aceh di Titi Bobrok. Kemudian ada teman mengajak ke Titipapan dekat Sikambing dan Titirantai yang tidak begitu jauh dari kampusku. Ini mengingatkanku dengan pengarang cerpen senior yang terkenal, Hamsad Rangkuti yang lahir di Titikuning.
Resensi Buku

Ketika kelas 2 SMA, ada tugas dari guru bahasa Indonesiaku untuk membuat resensi buku dari cerpenis. Ayahku merekomendasikan agar memilih karangan Hamsad Rangkuti. Maka pertama saya pun membaca kumpulan cerita pendek “Lukisan Perkawinan”, kemudian menyusul buku lainnya “Bibir dalam Pispot”. Yang paling terkesan bagiku dari kumpulan cerpen itu adalah cerpen “Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu”. Tidak henti-hentinya saya tertawa sambil membaca cerpen tersebut. Enak dibaca dan perlu.

Hamsad kelahiran Medan, Sumatera Utara, 7 Mei 1943 itu telah menulis cerita pendek sejak 1962 dan pernah menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Horison. Dia telah menerbitkan kumpulan cerpen Lukisan Perkawinan (1982), Cemara (1982), Sampah Bulan Desember (2000), dan Bibir dalam Pispot (2003), yang mendapat penghargaan Khatulistiwa Literary Award. Novel pertamanya, Ketika Lampu Berwarna Merah, mendapat hadiah harapan pada Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 1981. Cerpen Hamsad dikenal memiliki kekhasan: realistis, deskriptif, kaya detil sehingga pembaca dapat terbawa masuk ke dalam kisah yang diceritakannya. Hamsad sangat beruntung pula, beberapa tahun lalu, Hamsad bersama isterinya pernah diundang oleh BBC London untuk jalan-jalan ke London selama beberapa minggu.

Satu elemen yang kerap menjadi proses kreatif Hamsad Rangkuti adalah imajinasi liar. Darimana imajinasi liar itu tumbuh, sepertinya justru berasal dari kisah hidup Hamsad sendiri sewaktu kecil. Dibesarkan bersama enam saudaranya, putra seorang penjaga malam yang merangkap sebagai guru mengaji di pasar Kisaran, Asahan, Sumatera Utara-kota perkebunan itu, membuat Hamsad menjalani hidup sederhana. Untuk membantu orang tua, Hamsad bekerja sebagai buruh lepas di perkebunan tembakau. Tugasnya membalik-balik daun tembakau, lalu mengambil ulat dan dikumpulkan di tabung. Uang ia dapat berdasar seberapa banyak ulat berhasil dikumpulkannya. Ayahnya pun suka bercerita padanya. Karena susahnya kehidupan, Hamsad kecilpun sering menghabiskan hari-harinya dengan melamun dan berimajinasi bagaimana memiliki dan menjadi sesuatu. Maka dalam pikirannya berkembanglah berbagai imajinasi liar, dituangkan dalam cerpennya. Kata pakar, inilah rahasia proses kreatif Hamsad.

Tidak Serius dengan Dunianya

Dalam suatu tulisannya pada majalah Prisma 8 1988, LP3ES (hal 61), Hamsad Rangkuti mengatakan bahwa sasterawan kita hanya menjadikan dunia sastera sebagai suatu batu loncatan. “Sebelum berhasil mengarang bekerja di media massa dia mengarang dan rajin. Tapi kalau sudah berkerja sebagai wartawan, mereka tak hirau lagi dengan dunia sastera. Bagaimana bisa mengharapkan sebuah karya besar dari orang-orang seperti itu?” Hamsad mengajak kita melihat pengarang seperti Ernest Hemingway, yang memusatkan diri pada dunia sastera. Rela bertualang untuk kepengarangan. Untuk kita, mengarang adalah untuk menunjang periuk nasi. Kemudian kita lupakan akan cita-cita yang dulu untuk menjadi pengarang besar. Atau nyawa kepengarangannya sudah lain, sehingga susah. Tidak ada pengarang yang serius dengan dunianya. Cita-cita boleh saja, tetapi untuk menjadi besar perlu usaha dan kerja keras. Kemudian kata Hamsad : Menambah pengetahuan dengan banyak membaca. Soalnya berkarya itu sama saja dengan maaf “be-a-be” – buang air besar. Kalau tidak makan, bagaimana kita bisa buang air besar? Menyelami kehidupan masyarakat, membaca berbagai karya dan tulisan orang lain, mengetahui hal-hal lain, merupakan jalan ke arah itu. Begitu hal itu masuk, yah ada yang dikeluarkan. Dalam masa 1966-1988 hanya pengarang letupan yang muncul, seperti balon pecah, dan kemudian menghilang. mengarang bagi mereka adalah batu loncatan. Selanjutnya Hamsad berkata : Tekanan dan kesulitan hidup akan melahirkan karya besar.

Penyakit Prostat

Diberitakan bahwa, Hamsad Rangkuti sempat dirawat di rumah sakit pada Januari 2012. Saat itu, ia harus buang air kecil melalui perut dan makan memakai selang melalui hidung. Dia lalu menjalani operasi pemasangan cincin untuk menormalkan buang airnya.

Untuk membantu meringankan beban keluarga Hamsad, para seniman dan penggemarnya saat itu menggalang dana melalui berbagai jalur, termasuk Twitter dan Facebook. Penulis cerpen terkenal “Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu” ini adalah salah satu seniman penanda tangan Manifes Kebudayaan pada 1964–pernyataan para seniman yang menolak politik sebagai panglima. Presiden Soekarno melarang kelompok itu karena dinilai menyeleweng dan ingin menyaingi Manifesto Politik yang ia tetapkan.

Menurut Nurwindasari, kondisi Hamsad waktu itu sangat lemah, terutama setelah tangannya patah karena terjatuh di kamar mandi. Hamsad seharusnya dioperasi segera, tapi tak bisa dilakukan karena biayanya tidak cukup. Orang-orang yang ingin membantu Hamsad diharapkan mengirimkan bantuan ke rekening BNI cabang Margonda, Depok, nomor 0106423653 atas nama Hamsad Rangkuti. Terkait penyakit prostat yang telah dideritanya sejak dua tahun lalu. Tapi, “Karena tak ada biaya, akhirnya kami pulang dari rumah sakit seraya mengharapkan mukjizat dari Allah SWT,” kata Nurwindasari, istri Hamsad, pada Minggu dinihari, 30 September 2012, seperti diberitakan Tempo.co, Jakarta. Siapa gerangan yang berkenan membantu Hamsad?

Dikunjungi Menteri BUMN

Menteri BUMN Dahlan Iskan menjenguk seniman/sastrawan Putu Wijaya dan Hamsad Rangkuti di RS Siloam Karawaci Tangerang bangsal Bethsaida lantai 8 kamar 864. Dahlan bersimpati kepada dua sastrawan senior tersebut. “Kita sangat bersyukur keduanya memperoleh kemajuan yang sangat besar,” kata Dahlan, seperti diberitakan Kompas (Jumat (20/10).

Menurut Dahlan Iskan, Hamsad Rangkuti sudah melewati masa kritisnya setelah menjalani operasi bypass jantung. Meski masih sambil berbaring telentang tapi matanya sudah langsung mengenali siapa yang datang dan wajahnya penuh semangat. “Hamsad juga sudah bisa saya ajak bercakap-cakap dan tekanan suaranya juga jelas. Seseorang yang sukses operasi jantung itu fisiknya bisa seperti 10 tahun lebih muda, Hamsad tersenyum lebar. Saya juga melihat tanda-tanda menuju kesembuhan,” tambahnya. Siang ini penulis mengecek ricek ke RS Siloam Tangerang. Humas menjawab, Hamsad sudah pulang ke rumah sejak 25 Oktober 2012.

Masihkah kita rindu agar terus lahir imajinasi liar yang akan melahirkan cerpen-cerpen Hamsad yang menarik dan apik? Semua itu berpulang kepada kesehatannya. Semoga Hamsad lekas pulih dari sakitnya. ***

Dijumput dari: http://www.analisadaily.com/news/read/2012/12/06/92177/ketika_sastrawan_hamsad_rangkuti_menderita_sakit/#.UNDQ96x2Na8

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.