NTT dalam Sastra Indonesia Modern

Mezra E. Pellondou *
Flores Pos (Ende), 13-15 Feb 2012

Pada suatu seminar saya diminta menjadi narasumber. Panitia menyodorkan tema yang harus saya bahas, yakni “NTT adalah Objek Karya Sastra.” Saya merasa kurang setuju karena tema seperti itu menempatkan NTT dan sastra pada dua posisi saling berseberangan, antara subjek (pegiat sastra) di satu sisi dan NTT di sisi lainnya. Yang satu agresif mengeksploitasi, sementara yang lainnya pasrah, bahkan tanpa sadar dieksploitasi.
Posisi berseberangan seperti ini merupakan godaan bagi pegiat sastra menjadi tidak membumi dalam karya-karyanya. Tidak membumi yang saya maksudkan adalah tidak berakar dengan realitas kelahiran karya sastra itu. Jadi, karya sastra juga harus bisa bicara soal lokal dengan ide global. Karena itu, bagi saya pegiat sastra haruslah senantiasa mengakar, tidak tercerabut dari realitasnya kehidupan, dari lingkungannya serta membawa manfaat secara langsung maupun tidak langsung bagi lingkungannya, bagi apa yang mengkayakan karya-karya sastranya.

Dengan dasar pikiran itulah saya akhirnya mengangkat tema “NTT dalam Sastra Indonesia Modrern.” Tulisan dengan tema itu akhirnya berhasil saya sampaikan pada seminar tersebut dan artikel opini ini adalah intisarinya. Semoga artikel ini bisa menjadi tambahan diskusi yang menarik di harian Flores Pos, sebuah harian regional NTT yang belakangan ini tampil sebagai salah satu pilar media yang membuka diri dalam membangun sastra NTT khususnya dan sastra Indonesia umumnya.

NTT dalam Sastra: Sulit Dilacak?

Setiap ada Temu Sastra Indonesia (TSI) yang melibatkan banyak sastrawan Indonesia di seluruh Indonesia, di manapun diselenggarakan, pertanyaan tentang NTT tidak pernah berhenti. Misalnya, kenapa ya, pengarang-pengarang NTT sulit dilacak? Setelah menyebut beberapa nama, mulai dari sesepuh kita Gerson Poyk, Umbu Landu Paranggi, pemikir sastra Ignas Kleden, kritikus sastra Dami N. Toda, sampai pada Maria Matildis Banda, dan Mezra E. Pellondou, orang berhenti, kemudian mengubah pertanyaannya menjadi sebuah pernyataan: Sastra NTT Memang Sulit Dilacak!

Pada kesempatan lain, terjadi pula diskusi-diskusi serius antara sastrawan, baik dalam forum-forum terbuka yang resmi maupun pada forum “duduk-duduk kelas warung,” bahwa sastra Indonesia cenderung didominasi sastrawan Sumatera, Yogyakarta, dan Jakarta. Lantas di mana “Indonesia” yang lain? Apakah juga sulit dilacak dalam bingkai sastra Indonesia modern?

Maman S. Mahayana dari Universitas Indonesia, dalam sebuah orientasi kritik sastra mengatakan, kelahiran sastra Indonesia modern, pada hakikatnya dilatarbelakangi oleh tiga hal berikut.

Pertama, sastra Indonesia modern lahir sebagai hasil pertemuan dengan budaya Arab dan Barat yang berwujud dalam bentuk sastra tulis. Daerah-daerah di Indonesia yang mewarisi tradisi tulis, Jawa misalnya, perhubungan dengan agama Islam yang melahirkan tulisan Jawi merupakan awal di mana tradisi lisan (oral tradition) mulai tersisih oleh berbagai ragam sastra tulis, baik dalam bentuk naskah-naskah tulisan tangan, maupun dalam bentuk cetak batu dalam huruf Arab-Melayu atau cetakan dengan menggunakan huruf Latin. Oleh karena itu, ketika masyarakat Nusantara mengenal alat cetak, menurut sastrawan Melayu Klasik, Abdullah bin Abdulkadir Munsyi membawa empat manfaat (1) betul perkataannya dengan tiada bersalah, (2) lekas pekerjaannya, (3) terang hurufnya lagi senang membacanya, dan (4) murah harganya. Ragam sastra tulis dalam bentuk cetakan dipandang sebagai salah satu ciri sastra modern.

Kedua, sastra Indonesia dilahirkan dari rahim sastrawan yang tidak dapat melepaskan dirinya dari kultur etnik yang membesarkan dan membentuknya. Mengingat sastrawan Indonesia berasal dari pluralitas dan keanekaragaman etnik, maka sastra Indonesia mencerminkan juga keanekaragaman itu. Bahkan, boleh dikatakan, pluralitas etnik itu merupakan roh yang mendiamai sastra Indonesia.

Ketiga, sastra Indonesia pada awalnya ditulis dalam bahasa Melayu yang kemudian lewat “Sumpah Pemuda” diangkat menjadi bahasa Indonesia: sebuah bahasa etnis yang penyebarannya di wilayah Nusantara telah punya sejarah yang panjang. Bahasa Indonesia juga sudah lama menjadi lingua franca, bahasa perhubungan antarsuku-suku bangsa yang berbeda dan antarpribumi dan orang asing, baik dalam hubungan pemerintahan maupun perdagangan. Oleh karena itulah, awal kelahiran sastra Indonesia modern pada hakikatnya adalah sastra etnik yang ditulis dalam bahasa Indonesia.

Dengan latar belakang itulah, awal pertumbuhan dan perkembangan sastra Indonesia modern, cenderung didominasi oleh sastrawan yang menguasai bahasa Melayu. Maka tampilnya intelektual (sastrawan) Sumatera menjadi sesuatu yang wajar mengingat bahasa Melayu bagi mereka adalah bahasa ibunya, bukan bahasa asing.

Kongres Pemuda 28 Oktober 1928 makin memberi peluang yang lebih luas bagi sastrawan Sumatera untuk menyalurkan ekspresi gagasannya. Bagaimanapun bahasa Melayu bagi masyarakat Sumatera, apalagi masyrakat di kawasan Semenanjung, merupakan bahasa ibu. Dengan demikian, dibandingkan etnis-etnis lain di Indonesia, orang Sumatera sudah menguasai bahasa Melayu jauh sebelum bahasa itu diangkat menjadi bahasa Nasional Indonesia.

Berdirinya Balai Pustaka tahun 1920 yang secara ketat memberlakukan pemakaian bahasa Melayu versi Ejaan van Ophuijsen, tentu makin memantapkan posisi sastrawan Sumatera dalam kedudukannya sebagai agen bahasa dan sastra Balai Pustaka. Maka tidaklah berlebihan jika kemudian sastrawan Sumatera mendominasi peta kesusastraan Indonesia sebelum perang, karena memang mereka lebih menguasai bahasa Melayu dibandingkan sastrawan-sastrawan dari etnis lain di Indonesia.

Munculnya berbagai majalah dan surat kabar berbahasa Melayu, semisal Panji Poestaka (1922) dan Poedjangga Baroe (1933), yang sekalipun terbit di Jakarta, tidak hanya ikut mendukung penyebaran bahasa Melayu ragam baku (bahasa Melayu tinggi), yang umumnya dikuasai orang Sumatera, juga ikut melahirkan wartawan dan sastrawan Sumatera dalam peta perjalanan sastra Indonesia. Hadirnya majalah Pedoman Masyarakat (1934) yang terbit di Medan adalah contoh majalah yang menggunakan bahasa Melayu ragam tinggi yang dikelola para penulis Sumatera. Lewat majalah inilah, para penulis Sumatera banyak memulai karier kesastrawannya, sebagaimana misalnya yang dilakukan Adinegoro dan Hamka.

Sumatera tidak hanya diberkahi oleh kekayaan alam dan keanekaragaman kultur etnik yang berlimpah, juga oleh tradisi sastra yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakatnya. Kondisi ini didukung oleh keakraban pada tradisi baca-tulis. Ketika masyarakat Sumatera berhadapan dengan kebudayaan Barat, mereka menerimanya sejauh memberi nilai-nilai positif. Berdirinya sejumlah sekolah di Padang dan beberapa daerah lain di Sumatera, merupakan contoh bentuk penerimaan itu. Jika mereka hijrah ke Jakarta dan berkiprah di sana, hal itu dimaknai sebagai bentuk kesadaran mereka untuk mengejar karier pribadi dan mengangkat martabat puak-nya. Di mana pun mereka berada, keakraban pada tradisi asalnya dijunjung tinggi.

Selepas Perang Kemerdekaan tahun 1945, terjadi pergeseran yang cukup signifikan dalam peta perjalanan sastra Indonesia. Perubahan itu sangat dipengaruhi oleh perubahan sosial-politik yang terjadi pada zaman itu. Beberapa faktor yang membawa perubahan itu sebagai berikut. Pertama, Balai Pustaka selepas perang tidak lagi memberlakukan sensor yang ketat bagi naskah-naskah terbitannya sehingga memperlihatkan tema yang cenderung beragam. Kedua, munculnya novel Keluarga Gerilya karya Pramoedya Ananta Toer yang banyak memasukkan unsur bahasa Jawa dan novel Atheis karya Achdiat K. Mihardja yang sarat dengan unsur bahasa Sunda, lolos diterbitkan Balai Pustaka. Ketiga, munculnya para pengarang dari luar Sumatera, di satu pihak pelan-pelan memudarkan dominasi sastrawan Sumatera, di pihak lain memperlihatkan keberagaman tema, gaya pengucapan, dan warna lokal yang berasal dari berbagai daerah lain di Indonesia. Keempat, munculnya penerbit-penerbit lain selain Balai Pustaka baik di Jakarta maupun di luar Jakarta yang juga menerbitkan karya-karya sastra dari berbagai daerah, makin menegaskan peta kesusastraan Indonesia. Di sini mau menunjukkan, betapa besarnya peran media massa cetak dan penerbit buku dalam mendorong lahirnya sastrawan-sastrawan dari berbagai pelosok Nusantara.

Akhirnya selain Sumatera, menyusul Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan pusat heterogenitas etnik bangkit dan turut menorehkan keberagaman sastrawan dan karyanya. Disusul Yogyakarta yang memiliki kelebihan yang pantas ditiru, yakni setiap sastrawan (pengarang) Yogyakarta mampu menerbitkan karya-karyanya sendiri tanpa bergantung pada penerbit Jakarta atau di luar Yogyakarta.

Lantas, bagaimana dengan peta keberadaan NTT dalam sastra Indonesia? Beberapa catatan bisa kita renungkan jika ingin melacak jejak NTT dalam sastra Indonesia. Kita mulai dengan mengingat seorang siswa Sekolah Guru Atas (SGA) di Surabaya yang memasuki sejarah sastra Indonesia dengan puisinya. Siswa SGA kelahiran Ba’a, Namodale, Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini, puisi-puisinya mengalir ke tangan kritikus sastra Indonesia, Hans Bague Jassin (H.B. Jassin) dan dimuat di majalah Mimbar Indonesia. Dialah Gerson Poyk, yang tidak hanya menulis puisi juga menulis novel, cerpen, kisah perjalanan, dan artikel.

Antara tahun 1970-1971 Gerson Poyk memperoleh beasiswa untuk mengikuti Internasional Writing Program di Universitas Iowa, Amerika Serikat. Mengikuti Seminar Sastra di India (1982) dan karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing, antara lain Belanda, Jepang, Jerman, Turki, dan Inggris serta dimuat di sejumlah antologi dan majalah asing, bahkan telah dikerubuti sejumlah peneliti asing dalam dan luar negeri agar mereka memperoleh gelar Sarjana (S1), Magister (S2), dan Doktor/Ph.D (S3). Sebagai pengarang (sastrawan) yang mengangkat unsur etnis Nusa Tengara Timur (NTT), Gerson Poyk mencacat sejarah sastra Indonesia dengan “tinta emas” sebagai sastrawan angkatan pertama penerima International Writing Program dari University of Iowa, Amerika Serikat (1985) menerima hadiah Adinegoro (1986), juga penerima hadiah Sastra Asean (1989).

Seperti halnya perjalanan sastrawan-sastrawan Indonesia yang lain, jejak Gerson Poyk memperlihatkan pada kita bahwa peranan media massa cetak dan penerbit buku berpengaruh besar pada keberadaan seorang sastrawan. Walaupun Gerson Poyk memulainya dari Surabaya, namun hal ini harus dimaklumi lantaran akses media massa yang memuat berbagai tulisan dan karya sastra NTT baru dikenal secara luas di NTT sekitar 1970-an (munculnya Majalah Dian dan SKM Dian) dan Penerbit Nusa Indah di Ende, serta Kupang Pos (1992) di Kupang yang dalam perjalanannnya berubah nama menjadi Pos Kupang, menyusul berbagai koran, majalah dan penerbitan-penerbitan khusus dan terbitan lainnya yang turut memberi peluang bagi penulis-penulis NTT untuk berkarya.

Namun harus diakui bahwa pada perjalanan awal kepenulisan dan kepengarangan karya sastra di NTT, Majalah Dian, SKM Dian, dan Kupang Pos mencatat andil yang besar dan bisa dikatakan sebagai pelopor membuka jejak perjalanan kepengarangan di NTT. Khusus untuk Penerbit Nusa Indah di Ende juga mencatat tinta emas tersendiri karena walaupun belum banyak pengarang NTT yang melahirkan buku-buku sastra waktu itu (kecuali Gerson Poyk), namun beberapa sastrawan Indonesia lebih memilih menerbitkan karya-karyanya ke Penerbit Nusa Indah, di antaranya yang paling banyak adalah Korry Layun Rampan, pengarang dengan ciri warna lokal Kalimantan yang kental. Maaf jika saya tidak bisa menyebutkan pengarang lainnya satu per satu.

Namun, akses media massa yang sangat kuat terjadi di Yogyakarta membuat Korrie Layun Rampan yang kelahiran Kalimantan justru menjadi sastrawan dan dikenal secara nasional ketika kuliah dan menetap di Yogyakarta. Yogyakarta telah membesarkannya menjadi sastrawan, dan menjadi lengkaplah keterkenalannya ketika ia bekerja di Jakarta meskipun tidak sedikit buku-buku sastra Korrie diterbitkan di Penerbit Nusa Indah Ende, Nusa Tenggara Timur.

Korrie telah menulis sekitar 200 judul buku sastra, meliputi novel, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, esai dan kritik sastra, serta cerita anak-anak. Ia juga menerjemahkan sejumlah karya klasik pengarang dunia seperti karya Leo Tolstoy, Luigi Pirandelo, Anton Chekov, Knut Hamsun, Guy de Maupassant, O’ Henry, dan lain-lain. Menerjemahkan sekitar 100 judul cerita anak-anak, dan beberapa kali memenangkan hadiah penulisan sastra tingkat Nasional dan tingkat Daerah. Masih segar dalam ingatan saya ketika di tahun 2006 Korrie mendapat Hadiah Seni dari pemerintah RI. Kini Korrie menetap di Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Kondisi yang saya jelaskan di atas sangat berpengaruh positif pada budaya baca-tulis masyarakat NTT serta keberminatan pada sastra. Pemahaman terhadap kesusastraan Indonesia tidaklah dapat direduksi sebatas pada karya-karya yang diterbitkan di Jakarta atau di luar NTT. Hilangnya sekat-sekat geografi dalam dunia telekomunikasi, makin meramaikan keberagaman dan kesemarakan budaya NTT dalam berbagai karya sastra. Bangkitnya pengarang perempuan NTT, kita mencatat Maria Matildis Banda, telah memungkinkan munculnya berbagai semangat dan kegelisahan budaya NTT dalam beberapa karya novelnya (novel Rabies, Surat-Surat Dari Dili, dsb). Saya sendiri (Mezra E. Pellondou), mencoba mengangkat persoalan dalam beragam bentuk representasi yang jika dilihat dari perspektif kultural justru memperlihatkan pengagungan pada keanekaragaman dan pluralitas NTT. “Manusia tidak boleh tidak punya mimpi,” semangat itulah yang selalu saya bangun dalam setiap karya-karya saya karena bagiku itulah esensi pendidikan yang sesungguhnya (baca Manusia-Manusia Jendela, Prayawang, Ata Djama, Surga Retak, Loge, Nama Saya Tawe Kabota, dsb).

Pertanyaannya, apakah dalam sastra Indonesia modern, masih perlukah dipikirkan kebudayaan etnik atau kultur etnik? Saya mengatakan sangat penting!

Kultur Etnik dalam Sastra Indonesia

Kesusastraan, meski bermain dalam tataran imajinasi, sesungguhnya merefleksikan roh kultural sebuah komunitas. Ia merupakan refleksi evaluatif atas kehidupan yang melingkari diri seorang sastrawan. Ia hadir dan dilahirkan dari sebuah proses panjang berbagai macam kegelisahan yang terus-menerus menggerayangi sikap, pemikiran, ideologi, kepercayaan, dan kepedulian sastrawan atas nasib orang per orang dalam konteks sosial yang terikat pada kebudayaan masyarakat. Hal-hal itulah yang dilakukan Gerson Poyk dengan setting dan mengangkat karya-karyanya dengan bersumber pada “kultur etnik NTT” (baca novel Enu Molas di Lembah Lingko, dsb).

Kultur etnik NTT muncul dalam novel pertama F. Rahardi berjudul Lembata (2010) misalnya serta beberapa karya Maria Matildis Banda dan penulis sendiri (sudah disebutkan di atas). Juga puisi-puisi karya penyair NTT semisal Jefta Attapeni, Bara Pattyradja atau karya-karya Joko Bayu, Deki Seo dalam berbagai pertunjukkan teaternya, Frans Pieter Kembo dengan keberanian menyentuh audio visual berupa film yang semakin mempertegas bahwa setiap karya sastra pada dasarnya unik. Dan keunikan dalam sastra Indonesia sangat dipengaruhi oleh kultur dan masyarakat tempat sastrawan itu lahir dan dibesarkan, atau pengalaman yang kuat dan terus-menerus dengan lingkungan yang digarapnya dalam karya-karyanya. NTT telah melakukan semua hal positif tersebut, tidak hanya sastrawan-sastrawan lain di luar NTT.

Pada peta sastra Indonesia, kita bisa melihat beberapa contoh di luar NTT semisal A.A. Navis menghadirkan tokoh kakek atau Ajo Sidi dalam novel Robohnya Surau Kami, Chairul Harun (Warisan), Darman Munir (Bako atau Dendang), Wisran Hadi (Orang-Orang Blanti), Gus tf Sakai (Tambo: Sebuah Pertemuan) secara serempak di belakang tokoh-tokoh dalam karya para pengarang tersebut melekat “kultur Minangkabau” yang kental. Begitu juga ketika Arswendo Atmowiloto (Canting), Ahmad Tohari (Rongeng Dukuh Paruk), Umar Kayam (Para Priyayi), Kuntowijaya (Pasar) atau Danarto (Setangkai Melati di Sayap Jibril) semuanya mengangkat karya yang sumbernya berasal dari “kultur etnik Jawa.” Ediruslan Pe Amanriza, Taufik Ikram Jamil yang kuat dengan kultur Melayu. D. Zawawi Imron dan Jamal D. Rahman dengan kultur Maduranya. Upacara karya Korrie Layun Rampan yang kuat kultur Dayaknya. Aning Sekarningsih (Namaku Teweraut) yang mengangkat kultur Asmat, Papua. Putu Wijaya dan Oka Rusmini dengan kultur Balinya.

Karya-karya yang bersumber dari “kultur etnik” sangat pantas menjadi bahan awal memperkenalkan serba sedikit mengenai berbagai kultur etnik yang tersebar di Nusantara ini, memperkaya khazanah sastra Indonesia dengan ciri yang pluralistik, serta dengan sendirinya terjadi keterbukaan menerima dan mencoba melakukan apresiasi terhadap berbagai kultur etnik Indonesia yang kaya ini sehingga secara perlahan mengikis sikap menganggap rendah kebudayaan orang lain.

Dengan demikian, kesadaran terhadap kebudayaan sendiri tidak dalam kerangka menutup diri, menolak, dan menafikan kebudayaan lain, tetapi justru dalam hubungan membuka ruang yang seluas-luasnya untuk saling menerima, melengkapi, sekaligus memperkaya lewat unsur lain yang dianggap penting. Dan Sastra hadir untuk tujuan tersebut.
Dalam pendidikan dan pengajaran pun perlu dipertimbangkan pelajaran dan pengetahuan mengenai berbagai kebudayaan etnis dengan memanfaatkan kesusastraan Indonesia yang pluralistik sebagai jembatannya.

Secara umum telah saya katakan bahwa Tradisi Sastra Tulis di NTT bertumbuh dan dimulai tidak terlepas dari bertumbuh dan berkembangnyanya media massa cetak atau jurnalisme di NTT. Media massa cetak (pers) punya andil sangat besar pada kepengarangan seseorang. Sekalipun demikian, keberadaan NTT dalam Sastra Indonesia modern masih tetap sulit dilacak!

Pada Kongres Cerpen Indonesia ke-5 di Banjarmasin tahun 2008, Agus Noor sastrawan Indonesia dari Yogyakarta mengatakan, persoalan yang dihadapi penulis-penulis daerah bukan karena belum dikenal secara nasional, namun karena minimnya akses tentang mereka dan karya mereka sendiri. Sedangkan budayawan dan seniman Kalimantan Selatan, Anang Ardiansyah, mengatakan selain minimnya akses, kelemahan elemen-elemen daerah adalah ketiadaan semangat untuk mengangkat sastrawan-sastrawan daerah ke permukaan dan tidak menghidupkan kritikus sastra di daerah lewat media-media yang ada termasuk media massa.

Menanggapi dan menguatkan hal itu, tampil Syamsiar (71 tahun) penulis paling produktif di Kalimantan Selatan yang mengaku tidak pernah disebut dalam sastra Indonesia sebagai penulis padahal sejak tahun 1952 telah menulis cerpen dan sekarang telah terfokus pada penulisan Budaya Banjar. “Saya tidak peduli dipersoalkan ada tidaknya nama saya dalam sastra Indonesia. Saya juga tidak peduli orang mempersoalkan ada tidaknya sastra Banjar, tetapi saya terus dan terus menulis” kata kakek Syamsiar yang meminta agar pendaftaran hak cipta di kehakiman untuk ISBN sebuah buku tidak memberatkan penulis dan penerbit.

Novelis Ahmat Tohari mengungkapkan bahwa persoalan poros Jakarta dan daerah hanyalah sebuah mitos karena sebagai penulis besar pun naskah-naskahnya masih sering ditolak koran-koran nasional semisal Kompas. Sejak tahun 1971 Ahmad Tohari telah menulis di koran daerah di Purwokerto, namun di tahun 1978-lah ia dikenal secara nasional ketika Kompas memuat karya-karyanya. Bahkan dikisahkannya, pengalamannya menulis novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk setebal 600 halaman merupakan sejarah tersendiri baginya, karena Kompas yang sering menolak karya-karyanya justru Kompas-lah yang memuat secara bersambung novelnya, membuat namanya meroket sastra Indonesia.

Nasib NTT masih lebih baik dari Kalimantan. Sejak tahun 1930-an hingga memasuki dasawarsa pertama di awal tahun tersebut, Kalimantan Selatan sebetulnya telah terkenal sebagai salah satu lumbung penyair terbesar atau bahkan dikatakan sebagai daerah surplus puisi dan penyair di tanah air, namun bersamaan dengan itu sejarah mencatat bahwa Kalimantan Selatan termasuk daerah yang minus karya dan penulis prosa (cerpenis, apalagi novelis). Dan Kalimantan sendiri tidak tercatat namanya sebagai kantong-kantong sastra Indonesia, karena yang terkenal sebagai kantong Sastra Indonesia adalah Padang, Jakarta, dan Yogyakarta.

Sejak dimulainya tradisi penulisan sastra Indonesia modern di Kalimantan Selatan pada sekitar awal 1930-an, sejauh yang saya ketahui, hingga sekarang kini tak ada satu nama pengarang pun dari daerah tersebut yang pernah disebut-sebut, apalagi sampai dibahas secara mendalam dan panjang lebar dalam karya-karya kritik dan sejarah sastra, sebagai tokoh cerpenis nasional semacam A.A Navis, Yusach Ananda, Hamzad Rangkuti, Ahmad Tohari, Gerson Poyk, Umar Kayam, Iwan Simatupang, Putu Wijaya, Danarto, Kuntowijoyo, Budi Darma, Korrie Layun Rampan, Seno Gumira Ajidarma, atau Gus tf Sakai, untuk menyebut beberapa nama saja.

Berdasarkan data historis prestasi pun, penulisan prosa (roman/novel) di Kalimantan sebenarnya sudah cukup menggembirakan dilihat dari prestasi pengarang-pengarang masa lampau seperti Masrin Mastur (1950-an), yang cerpen-cerpennya dimuat di Mimbar Indonesia. Ramtha Marta (1953-1974), Syamsiar Seman (1955-1959), Darmansyah Zauhidie (1976-1984) dan sejak 1980-an sampai dengan saat ini. Banjarmasin mempunyai cerpenis-cerpenis seperti Ajamuddin Tifani, Ahmad Fahrawi, M. Rifani Djamhari, Y.S. Agus Suseno, Jamal T. Suryanat, Sandy Firly, Joni Wijaya dan Zulfaisal Putera, serta masih sejumlah nama yang turut menumbuhkan tradisi bercerpen di Kalimantan Selatan.

Sekalipun demikian, tradisi kepengarangan di Kalsel pada hingga tahun 2007 belum dianggap “ada” oleh para kritikus dan sejarawan sastra Indonesia. Sehingga ada segelintir pemikiran bahwa orientasi pemetaan sastra Indonesia pada masa lampau yang jejaknya masih tampak hingga sekarang adalah kecenderungan untuk terfokus pada titik-titik tertentu yang sejak lama telah dianggap sebagai kantong-kantong sastra utama di tanah air, yakni Sumatera, Jakarta, dan Yogyakarta.

Pernyataan ini pernah diangkat oleh seorang sastrawan Banjaramasin, Jamal pada Kongres Cerpen Indonesia tahun 2007 dan mengundang banyak tanggapan dari peserta kongres yang umumnya sepakat bahwa mutu suatu karya sastra “tidak ditentukan” apakah dari Jakarta atau non-Jakarta, apakah dari Yogyakarta atau non-Yogyakarta apakah dari Sumatera atau bukan, namun ditentukan oleh mutu karya itu sendiri. Sebuah karya sastra akan bermutu jika di dalamnya mengandung “nilai-nilai” membangun manusia dan kemanusiaan itu sendiri, menumbuhkan religiusitas dan keimanan serta kearifan hidup untuk meningkatkan derajat manusia dan kemanusiaan.

NTT dalam Sastra Indonesia Modern

Dari ilustrasi panjang-lebar di atas, saya mencoba mencatat beberapa hal yang berkaitan dengan daerah kita Nusa Tenggara Timur (NTT) ini. Catatan ini dalam kaitan dengan tema tulisan: “NTT dalam Sastra Indonesia Modern.” Beberapa catatan itu sebagai berikut.
Pertama, pengarang dan karya-karya sastra dari para sastrawan NTT sulit dilacak sampai dengan saat ini lantaran minimnya akses media massa cetak serta masih adanya pemahaman yang keliru tentang dominasi kantong-kantong sastra Indonesia pada daerah-daerah tertentu. Pada titik ini, kita mengucapkan terima kasih kepada Bapak Yohanes Sehandi (saya sering menyapanya Pak Yan) yang memicu dan mengangkat citra sastra dan sastrawan NTT lewat berbagai tulisannya di Flores Pos dan Pos Kupang yang kemudian disebarluaskan lewatnya weblog-nya di internet. Terima kasih banyak terutama kepada harian Flores Pos yang telah membuka akses media ini dengan penuh kebanggaan, sebuah langkah maju telah dilakukan, membuat Flores Pos dicari-cari di Kota Kupang.

Kedua, minimnya akses media membuat jejak kepengarangan sastra di NTT menjadi asing bagi sastra Indonesia, pemahaman yang keliru tentang kantong-kantong sastra Indonesia meniadakan semangat berkarya pengarang sastra NTT, atau pun berkarya akan berusaha menjadi “orang lain” dan merasa malu mengangkat kebudayaan etnik NTT sendiri yang kaya raya materi sastra.

Ketiga, kelemahan elemen daerah atau ketiadaan semangat daerah untuk mengangkat sastra dan sasrawan daerah NTT. Apakah lantaran sastra dan sastrawan NTT tidak dikenal di daerahnya sendiri, atau memang tidak ada kepedulian terhadap sastra dan sastrawan NTT yang memang keberadaannya masih bisa dihitung dengan jari?

Demikian yang bisa saya bagikan kepada para pembaca harian Flores Pos, semoga bermanfaat bagi kita semua. Sengaja saya tidak menjelaskan secara rinci tiga point penting di atas karena saya berharap akan ada diskusi yang sangat menggairahkan di Flores Pos sehingga sangat berguna bagi sastrawan NTT dan kepenulisan sastra di NTT serta bagi masyarakat NTT pada umumnya. Tuhan memberkati. *

Aku mencium wangi cendana seperti mimpi seorang pencuri
Aku menantikan kemewahan wangi hujan seperti menunggu kiamat
dalam debu yang dibawa tanah
Aku meneguk arak, menyantap se’i dan bose seperti menggauli puisi
aku berlari mengarak pungung-punggung bukit dan mencatat
setiap terjalnya dalam karakter cerpen dan novelku
Mencubiti mimpi, memacul mata penaku dengan keringat agar tumbuh
bogenvil dan sepe yang bunganya merasuk sebelum Natal
dan akan kujadikan sampul buku terbaruku
Sayangnya saat hujan benar-benar tidak lagi jadi barang mewah
dan panas telah tergusur untuk sementara
aku telah kehilangan judul yang menggigit
karena telah tertelan lolongan anjing malam
aku tak boleh menyerah!

(Suara Malam: Mezra E. Pellondou)

*) Sastrawan NTT, Alumnus Magister Linguistik Humaniora,
Universitas Nusa Cendana, Kupang. Selengkapnya berikut ini:

Mezra E. Pellondou. Lahir pada 21 Oktober 1969 di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). “Guru yang penulis, penulis yang guru…” begitulah yang sering diungkapkan orang tentang Mezra. Mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia pada SMA Negeri 1 Kupang serta pada sore harinya mengajar sebagai dosen tidak tetap pada Universitas PGRI NTT di Kupang.

Di dunia tulis-menulis Mezra memperoleh sejumlah penghargaan karya sastra, karya jurnalistik, dan karya tulis, antara lain (1) Penghargaan dari Pusat Bahasa Depdiknas RI atasa karya naskah drama berjudul Sasando Keseratus (2011) sebagai naskah terbaik empat se-Indonesia dalam Sayembara Nasional Penulisan Naskah Drama 2011; (2) Penghargaan sebagai penulis naskah drama terbaik atas karya drama berjudul Laposin pada Lomba Krida NTT 2011 diselenggerakan Deppen (Infokom) NTT (2011); (3) Penghargaan karya sastra dari Depdiknas RI Bagian Peningkatkan Perpustakaan Sekolah atas karya cerpen Manusia-Manusia Jendela (2006) sebagai cerpen terbaik pertama se-Indonesia 2006 dalam Sayembara Nasional Penulisan Cerpen 2006; (4) Cerpennya masuk dalam Manusia-Manusia Jendela bersama 22 naskah terbaik lainnya dibukukan dan diterbitkan oleh Depdiknas RI untuk didistribusikan pada sepuluh ribu perpustakaan terbaik se-Indonesia; (5) Penghargaan karya tulis sastra terbaik dari Depdiknas RI Bagian Peningkatan Perpustakaan Sekolah, atas karya ulasan (telaah) berjudul Naturalisme Anafora dan Epifora, Suatu Pencaharian Peta Tuhan (Ulasan atas Seratus Puisi Taifiq Ismail: ‘Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia’ (2005), sebagai 17 karya terbaik dalam Lomba Mengulas Karya Sastra (LMKS) 2005 kategori reguler tingkat nasional; (6) Penghargaan dari Pusat Perbukuan (dari 2006-2011) atas partisipasi aktif dalam Sayembara Penulisan Buku Pengayaan; (7) Novelet Pulang (2000) dan Klise Hitam Putih (2002) memenangkan penghargaan karya novelet yang diselenggarakan oleh Majalah Femina Jakarta; (8) Karya jurnalistik dari Gubernur Bali berkaitan dengan penulisan Pesta Kesenian Bali (1995); (8) Cerpen “Maria” (1994) meraih juara pertama Sayembara Menulis Cerpen oleh Majalah Bahana Yogyakarta bekerja sama dengan Universitas Dr. Soetomo Surabaya.

Karya-karya yang sudah terbit menjadi buku: (1) Karya puisi: terhimpun dalam Nyanyian Pulau-Pulau: Antologi Puisi Wanita Penulis Indonesia (2010) Antologi Puisi Guru SMA Kota Kupang (2006); Aku Telah Menjadi Beo, Bahasa Langit, Janji, Menghitung Setia, Sebuah, Ziarah Pukuafu, Jangan Atas Nama Cinta. (2) Karya Cerpen: Dua Puluh Tiga Naskah Cerpen Terbaik 2006; Prayawang diterbitkan Jurnal Cerpen Indonesia 09 (2009), Ata Djama’mah masuk dalam buku Jalan Menikung Ke Bukit Timah: Antologi Cerpen Temu Sastrawan Indonesia 2009, Cerpen “Maramba” masuk dalam Perayaan Kematian Liu Sie: Sekumpulan Cerita Lokal (2011).Selain itu berbagai cerpen lepas diterbitkan dan dipublikasikan oleh berbagai media, yakni Jurnal Cerpen Indonesia Yogyakarta, harian Pos Kupang, harian Nusa Tenggara Denpasar, Majalah Bahana Yogyakarta, Majalah Femina Jakarta. (3) Karya Novel: Surga Retak (2006), Loge (2007), Nama Say Tawwe Kabotta (2008).

Mezra juga membimbing beberapa kelas penulisan kreatif, dan menjadi penanggung jawab beberapa bengkel teater yakni Teater Akar, Teater Amsal Putih, dan Teater Engkel Universitas PGRI. Dua karya film telah dihasilkan Mezra, yakni Manusia Cuma Debu (2009), dan Mimpi Natan (2012) yang telah diluncurkan pada 11 Januari 2012. Menjadi konsultan dan editor Jurnal Beta, terbitan Yayasan Anak Friendly NTT. Setiap hari Minggu Mezra masih meluangkan waktu menyiar di Cave Rohani 97,6 Fm dan dipercayakan mengasuh sebuah acara bertitel Insipirasi dan Motivasi.

Bagi Mezra, dari semua hal terbaik dalam hidupnya adalah menjadi ibu dari dua orang anak lelaki dan seorang puteri cantik, karena kenikmatan yang paling berharga adalah nikmatnya melahirkan tiga orang anak dan menyaksikan mereka bertumbuh setiap harinya. Ketiga anaknya adalah Mujizat Messakh (11 tahun), Amzal Xavier Messakh (7 tahun), Kyrieleison Putri Mezra (1 tahun).

Dijumput dari: http://yohanessehandi.blogspot.com/2012/03/ntt-dalam-sastra-indonesia-modern.html

Komentar