Langsung ke konten utama

Agar Pram Tak Jadi Berhala

Damhuri Muhammad
Media Indonesia, 20 Nov 2006

Sudah jamak diketahui, sebagian besar pengagum karya-karya Pramoedya Ananta Toer adalah kalangan anak-anak muda penggila sastra. Tapi kekaguman itu belum disertai kajian kritis dan berimbang terhadap sosok kepengarangannya yang masih tampak bermuka dua itu. Belakangan ini, para pembaca setia itu nyaris tergelincir pada kekaguman yang berlebihan. Kecenderungan ini telah mendedahkan terminologi baru yang disebut Pramisme. Ini cukup berbahaya. Pram bisa saja berubah jadi ‘berhala’ yang selalu dipuja, tanpa cela.
Di sinilah pentingnya kajian komprehensif yang dilakukan sastrawan muda, Eka Kurniawan, lewat bukunya Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis. Buku ini dapat dianggap sebagai yang pertama membincang Pram dari sudut pandang anak muda. Eka hendak meluruskan kesimpangsiuran pemahaman terhadap realisme sosialis sebagai pijakan estetik kepengarangan Pram.

Penelusuran Eka tidak sekadar mempertegas realisme sosialis sebagai ‘mazhab’ kesenian para seniman Lekra di bawah patronasi Partai Komunis Indonesia (1950 sd pertengahan 1960). Lebih jauh ia menggali akar kefilsafatannya sejak perkembangan paling awal di Rusia–Maxim Gorky, yang dikenal sebagai pendiri realisme sosialis–sampai munculnya teoretikus-teoretikus seni realisme sosialis.

Sebelum mengungkap realisme sosialis dalam ruh kepengarangan Pram, pelacakan Eka menelikung jauh ke fase awal abad 20, khususnya pada kiprah kepengarangan Hadji Moekti lewat Hikajat Siti Mariah (Harian Medan Priaji, 7, Oktober 1910 sampai dengan 6 Januari 1912), Tirto Adhi Soerjo, 1875-1918, lewat Nyai Permana dan yang paling penting adalah Hikajat Kadiroen (1920), karya Semaoen, tokoh sayap kiri Sarekat Islam yang kelak menjadi ketua pertama PKI.

Hasil riset kepustakaan Eka menunjukkan bahwa benih-benih realisme sosialis sudah mulai tertanam pada roman-roman tersebut, meskipun Hikajat Siti Mariah dan Nyai Permana, belum tampak mengontradiksikan dua kelas yang bertentangan (borjuis dan proletar). Tapi, (sebagaimana dikuatkan Pram) itu karena belum adanya pendidikan ideologi pada masa itu. Kadar sosialis lebih kental pada Student Hidjo (1919), karya Marco Kartodikromo dan tentu makin matang lagi pada 1950-an lewat Lekra yang secara nyata mengusung realisme sosialis sebagai pedoman proses kreatif para anggotanya. Dan, Pram salah seorang sastrawan yang berpengaruh di sana.

Di bagian ini, Eka menyingkap ‘sisi lain’ Pram yang barangkali belum banyak diketahui para pramis. Manuver-manuver ‘politik kesenian’ Pram dan kawan-kawan di Lekra dalam kasus tuduhan plagiat terhadap HAMKA diurai dalam buku ini. Lepas dari soal apakah Tenggelamnya Kapal van der Wijck itu roman plagiat atau tidak, harus dikatakan bahwa objektivitas sama sekali hilang dari serangan terus-menerus terhadap tokoh kawakan itu.

Persoalan ini sengaja dipolitisasi berlarut-larut untuk hancurkan kepengarangan HAMKA (A Teeuw, 1997). Begitu pula, artikel yang dimuat Pujangga Baru (1953), “HB Jassin Sudah Lama Mati Sebelum Gantung Diri”, serangan terhadap Jassin, penggiat humanisme universal. Tiap minggu, Lentera (halaman budaya harian Bintang Timoer) yang dipimpin Pram melancarkan serangan tak hanya pada ideologi ‘kontrarevolusioner’ para manikebuis, tapi juga aspek pribadi kehidupan mereka.

Pram bersikukuh bahwa karya sastra harus menggambarkan penderitaan rakyat dan perjuangan menentang penindasan kolonial. Ia membabat habis musuh-musuh yang tak mau menyerah, sesuai slogan Maxim Gorky yang dikaguminya: if the enemy does not surrender, he must be destroyed.

Meski Eka sudah melakukan kajian berimbang perihal sisi terang dan sisi kelam Pram, masih terasa ada yang ditutup-tutupi. Misalnya soal pertentangan antara realisme sosialis (berkiblat pada humanisme proletar) versus manifes kebudayaan (Lekra menyebutnya Manikebu) yang menurut Pram dan kawan-kawan bermuara pada humanisme borjuis. Padahal, baik realisme sosialis maupun Manikebu sama-sama membangun konstruksi perlawanan terhadap kecenderungan seni modern yang asyik-masyuk dengan ambiguitas, ketidakpastian, lebih mengutamakan bentuk ketimbang isi.

Kehadiran buku ini telah melengkapi dan memperpanjang daftar kajian tentang Pram yang berhamburan sejak beberapa tahun belakangan ini. Pram memang sebuah fenomena, sekaligus sebuah problema. Barangkali, memang lebih baik Pram dilihat sebagai problema, ketimbang dianggap sebagai berhala.

Dijumput dari: http://ekakurniawan.net/blog/agar-pram-tak-jadi-berhala-2925.php

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.