Ideologi Koran Sastra dan Pramoedya

Mulyadi J. Amalik
Sriwijaya Post, 13 Feb 2000

Perdebatan ideologi antara kubu Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) dengan kubu Manifes Kebudayaan (Manikebu) tidak bisa dilepaskan dari peran koran atau majalah sastra. Dalam konteks ini, tentu saja koran/majalah pada masa itu (1960-an) yang bersifat partisan terhadap ideologi atau partai tertentu secara tegas.
Pramoedya Ananta Toer adalah pengelola halaman sastra koran Bintang Timur – rubrik Lentera – yang merupakan ujung panah kubu Lekra, di mana koran tersebut merupakan koran partisan PKI. Di rubrik Lekra itulah, Pram dan kawan-kawannya mempromosikan kredo sastra realisme sosialis. Kelompok Manifes yang diporoskan pada HB Jassin dan Wiratmo Soekito, mengelola majalah Sastra, menganut humanisme universal dan bersikap non-partisan terhadap partai-partai yang ada. Soal pratisan dan non-partisan inilah yang kemudian menjadi titik debat berikutnya berkaitan dengan pers dan sastra perlawanan. Intinya, kubu Lekra menuntut kejelasan ideologi yang memihak rakyat, sedangkan kubu Manifes menganggap, “Setiap sektor kebudayaan tidak lebih penting dari sektor yang lain, dan karenanya harus berjuang bersama-sama untuk kebudayaan itu sesuai dengan kodratnya.”

Titik pandang berikutnya terletak pada tujuan kesenian. Realisme sosialis, menurut kubu Lekra, meletakkan “kenyataan dan kebenaran” yang lahir dari “pertentangan-pertentangan yang berlaku di dalam masyarakat maupun di dalam hati manusia” sebagai dasar material kesenian. Dari situ, akan terlihat sejumlah gerak maju dan “hari depan” manusia. Dengan demikian, berlaku kesimpulan bahwa “seni untuk rakyat”. Kubu Manifes sendiri memaparkan humanisme universal sebagai “perjuangan kebudayaan untuk menyempurnakan kondisi hidup manusia”.

Dengan demikian, berkesenian berarti melaksanakan Kebudayaan Nasional dan “berusaha mencipta dengan kesungguhan yang sejujur-jujurnya sebagai perjuangan untuk mempertahankan dan mengembangkan martabat diri … sebagai bangsa Indonesia di tengah-tengah masyarakat bangsa-bangsa”. Inilah dasar material kesenian kubu Manifes. Dengan demikian, berlaku kesimpulan bahwa “seni untuk (nilai) kemanusiaan”.

Perdebatan dua kubu di atas meruncing saat-saat mendekati peristiwa G30S/PKI tahun 1965. Sisi gelap dari perseteruan dua kubu ini, di sini terletak dalam “caci maki atas privacy” oleh masing-masing pihak. Kiranya bagian ini yang tidak boleh terulang bila perdebatan itu mau dihidupkan kembali.

BUKU ini menyajikan secara ringan bagaimana perjalanan Pram bersama gerakan kesenian realisme sosialisnya. Sudut analisis penulis 90% dititikberatkan pada perspekif Lekra, termasuk dalam menilai kubu Manifes. Buku ini cocok disandingkan dengan buku Prahara Budaya: Kilas Balik Ofensi Lekra/PKI Dkk susunan DS Moeljanto dan Taufiq Ismail, terbitan Mizan dan HU Republika tahun 1995.

Dalam buku ini, Pram tidak dilihat dari metode kritik sastra, tetapi metode filsafat sejarah berkaitan dengan perjalanan karya sastranya. Secara biografis, Eka Kurniawan, penulis muda yang baru berumur 24 tahun (lahir 1975) ini, memaparkan bahwa masuknya realisme sosialis ke Indonesia berkait erat dengan keberadaan Lekra dan PKI. Sekitar tahun 1950-an, beberapa seniman kiri menemui Nyoto (tokoh senior PKI) untuk menyatakan peranan seni dalam perjuangan kelas. Nyoto menganjurkan pemaduan antara tradisi-tradisi bessar dari realisme kritis dengan romantisme. Realisme akan menggelar realitas alam dan masyarakat, dan romantisme akan menunukkan bahwa ada perubahan-perubahan yang terjadi secara revolusioner (h.21). Di Indonesia, realisme sosialis dikembangkan oleh Lekra atas dasar keberpihakan kepada rakyat daripada atas logika marxisme. Kedekatan realisme sosialis dengan marxisme terletak pada semangat, kesamaan perjuangan, dan pilihan hidup. Tidak terbukti bahwa hubungan keduanya merupakan hubungan organisatoris meskipun banyak anggota Lekra juga anggota PKI (h.20).

Dalam tradisi seni, kapan realisme sosialis muncul? Tidak pasti. Menurut Pram, muncul sekitar tahun tahun 1905. Maxim Gorki, sastrawan Rusia, sering dianggap sebagai “bapak pendiri realisme sosialis” yang ditandai oleh novel-novelnya: My Childhood, My Appreticheship, dan My Universities. Novel-novel ini bersandar kuat pada realitas yang semi-otobiografi, pemaknaan realitas sebagai proses dialektika, dan tujuan kepada proses kebenaran. Jadi, realitas bukan tujuan.

Istilah realisme sosialis sendiri baru muncul 30 tahun kemudian melalui pernyataan Andrei Zdanov di hadapan Kongres I Sastrawan Sovyet di Moskow tahun 1934 (.10-11). Maxim Gorki inilah yang menjadi inspirator karya-karya Pram, selain Zode Zielen, John Steinbeck, dan William Sorayan (h.17). Pram sendiri mengaku tidak pernah membaca atau mempelajari karya-karya Marx, namun filsafat marxis – secara garis besar – dapat dikatakan sebagai dasar-dasar material metode realisme sosialis sehingga menjadi sebuah aliran seni marxis. Walaupun Karl Marx pernah giat menulis puisi, tidak ada karya-karya Marx dan Engels yang menyinggung soal estetika kesenian.

Akhirnya, dalam buku ini penulisnya mencoba menguraikan bagaimana Pram mencoba membagi periodisasi sastra Indonesia sehingga menjadi 9 tahap. Tahap-tahap itu ialah, tahap sastra asimilatif (sastra berbahasa Melayu-kerja), sastra gatra (sastra sosialistik, dan mulai muncul pers berbahasa Melayu), sastra formalis (Balai Pustaka), sastra nasionalis dalam periode sastra formalis (berciri nasionalis-individual), sastra Pujangga Baru (periode maraknya bahasa Melayu-sekolah, dan lalu menjadi cikal-bakal bahasa Indonesia), sastra periode jarak dan kapas (periode pendudukan Jepang), sastra borjuis patriotik (masa revolusi kemerdekaan RI), sastra borjuis dekaden (periode yang ditandai oleh Konferensi Meja Bundar), dan sastra realisme sosialis (masa pergerakan Lekra).

Terlepas dari setuju atau tidak, pastinya bahwa Pram adalah juga anak sejarah sastra Indonesia. Meminjam Maxim Gorki, maka kesadaran atas sejarahnya itulah yang membuat Pram selalu ingin berubah.

Dijumput dari: http://ekakurniawan.net/blog/ideologi-koran-sastra-dan-pramoedya-1764.php

Komentar