Pulau Asap

Jefri al Malay
http://www.riaupos.com/

Setelah merasa tidak memiliki apa-apa selain kata-kata, akhirnya kuputuskan saja menulis surat ini padamu, Alifya. Hanya ini yang kubisa. Sedikit banyak, ianya mampu mengobati kerinduan yang tertancap di hati. Serupa pancang yang terpacak menjulang bertahun-tahun di tepian jambat, hanya berteman gelombang pasang surut, arus, terpaan angin, juga kebat tali sampan atau pompong yang melingkarinya. Sesekali singgah juga burung raja udang sekedar menjengah mangsanya kemudian terbang lagi, senyap lagi. Aku risau Alifya, takut kalau-kalau kerinduan itu menjadi usang, lapuk dan rapuh disebabkan terlalu lama meniti waktu yang tak pasti.
Tapi kau tahu, kenangan yang tak bisa kuungkai dalam pikiran ini kadangkala menjelma impian, seringkali membuat aku menginginkan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski kutahu itu bisa saja hanya menjadi sesuatu yang disebut mustahil.

Begitulah, akhirnya yang lebih berharga di sini, di keterasingan ini, kesepian ini, hanya kata-kata. Barangkali juga ianya tidak mampu merubah apa-apa, selain hanya serak dan remah yang kian lama tertimbun membusuk. Tapi sudah mutlak benarkah bahwa kata-kata tidak ada gunanya dan hanya sia-sia disebabkan terlalu banyak orang yang cuma bisa berkata-kata? Kemudian siapakah yang sudi mendengarkan dan mempercayainya? Siapakah yang peduli?

Entahlah. Setahuku, di dunia yang pernah kita ciptakan berdua dari untaian sajak-sajak cinta, dari kejujuran yang bersemayam di ceruk jiwa terdalam, roh kasih mencuat ke permukaan menjelma bahasa-bahasa kalbu, aku masih yakin, setidak-tidaknya engkau masih setia mendengarkan kata-kata serta mampu mengucapkannya sekaligus memahami maknanya. Bukankah itu lebih penting ketimbang terlalu banyak yang berkata-kata tanpa peduli dengan apa yang diucapkannya. Dan kau juga pernah berkata terlalu banyak kepedulian yang hanya sebatas ucapan ketimbang dilakukan. Aku setuju itu, mungkin ini jugalah alasan salah satunya kenapa kutuliskan surat ini untukmu, Alifya. Karena hanya engkau yang mungkin bisa percaya.

Akan kulanjutkan isi surat ini dengan menyebutkan kepadamu bahwa aku telah pun menemukan tujuan dari perjalananku selama ini. Perjalanan yang mengakibatkan cinta kita harus kandas sebatas cerita-cerita asmara di bawah batang getah, di dalam kebun ubi, atau di celah-celah kayu bakau di pantai. Tapi seperti yang telah kukatakan padamu perpisahan hanya butuh waktu untuk mengobatinya, percayalah.

Tetapi kalau sekiranya diperkenankan aku kembali bisa mengulang waktu, maka aku memilih menanti daripada pergi dengan memikul beban cinta dan setia. Apalagi kepergian yang tidak ada kepastian kapan bisa pulang membangun keping-keping rindu untuk utuh kembali menjadi cinta yang berujung kepada dermaga kebahagiaan. Dalam perjalan inilah kusadari satu hal. Dengan janji yang terlanjur terucap, aku telah mempertaruhkan “kebebasanku” sebagai seorang lelaki lajang untuk menutup rapat-rapat bilik asmara yang sejatinya pasti dimiliki oleh setiap manusia. Adakalanya hal tersebut mengganggu keseimbanganku, Alifya.

Tapi kau harus percaya. Itu tidak lagi menjadi persoalan. Lagi-lagi kukatakan hanya butuh waktu untuk membiasakannya. Jika kita ikhlas dan sabar menjalani hidup dan persoalan yang ada, tanpa disadari sebenarnya waktulah yang mampu mengobati segalanya.

Baiklah, akan kuceritakan bagaimana akhirnya aku mampu memutuskan untuk pergi ke suatu tempat, suatu tujuan yang jelas meskipun kedengarannya mustahil tapi tekadku telah bulat. Barangkali saja inilah tujuan terakhirku hingga sesudahnya bisa kutemui dirimu, dengan kesiapan yang mantap untuk bisa menerima apapun yang berlaku atas dirimu dan cinta yang sekian lama kutitipkan. Setidaknya kita bisa bertemu, bukan?

Sore itu aku duduk santai di sebuah jambat reot yang terdapat tidak jauh dari tempatku bekerja. Jambat yang senantiasa setia menerima keberadaanku untuk menumpahkan segala kisah dalam kesendirian ini. Di situlah aku mengungkai segala kenangan sambil menggoreskan bahasa kerinduan. Di jambat yang batang sungainya bermuara entah sampai di mana, yang airnya keruh, kuning kecoklatan, budak-budak yang menceburkan tubuh ke dalamnya, membasuh hari-hari mereka menjadi gelak dan tawa. Kadang aku larut bersamanya, seolah-olah ikut dalam ritual alam tersebut. Tentu saja aku juga menyaksikan orang-orang mendayung sampan, menumpangi harapan dari wajah-wajah mereka yang lelah. Tetapi air sungai itu, meski keruh dan berlinyang tetap saja sejuk sekaligus memberiku harapan ketika kususupkan kaki ke dalamnya.

Kemudian tiba-tiba saja aku melihat seseorang. Lelaki paruh baya yang setiap hari menghalakan sampannya ke arah timur, ke arah matahari terbit. Ya, setiap hari pula ia melambaikan tangannya kepadaku seraya menunjukan satu arah dengan memberikan isyarat dari telunjuknya itu. Selama ini memang tidak pernah kugubris tetapi hari itu saat dimana gerimis jatuh dari langit aku membalas lambaianya. Entah kenapa itu kulakukan, yang jelas lelaki itu kemudian mendayungkan sampannya ke arahku. Air sungai ketika itu naik pasang, sehingga dengan mudah ia merapatkan sampannya. Setelah bersalaman ia langsung mengambil tempat duduk disebelahku.

“Setiap hari aku melihat engkau duduk di sini, Nak?” ia memulai bicara.

“Mhhm…” anggukku singkat.

“Kerja di mana, Nak?” ia bertanya dengan ramah.

“Di pelabuhan itu, Pak…” sambil mengarahkan telunjukku ke pelabuhan satu-satunya yang memunggah penumpang di kota ini. “Sebagai cleaning service,” tambahku pula.

Ia hanya mengangguk beberapa kali. Kemudian dengan nada yang agak berat ia melanjutkan. “Di kota mencari kerja tidak mudah, apalagi bagi orang-orang yang tidak memiliki saudara atau kenalan yang mempunyai pengaruh atau jabatan. Skill dan ijazah saja tidak menjamin untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Tetapi pasti engkau juga mengetahuinya Nak, setiap hari selalu saja ramai orang datang ke kota walau hanya dengan modal nekat, mereka datang untuk memburu sesuatu, entah itu impian, cita-cita atau apa sajalah yang ada dalam pikiran mereka. Dan kita tentu memakluminya itu sebagai perjuangan.” Lalu ia tertawa kecil. “Itulah hidup, harus diperjuangkan Nak…”

Gerimis masih berjatuhan menciptakan riak kecil di air sungai serupa jarum-jarum halus yang turun dari langit. Alifya kekasihku, akhirnya seperti yang telah kuduga sebelumnya, ia menceritakan banyak hal kepadaku. Meski menurutku tidak ada satupun yang menarik, tetap saja aku menjadi pendengar yang setia. Ia terus sibuk bercerita dan tak menghiraukan sekeliling, hingga sampailah akhirnya ia menceritakan sebuah pulau yang terbungkus kabut asap. Pulau itu sudah ada sejak dahulu kala, katanya. Meski tak terdeteksi abad ke berapa ianya mulai dihuni namun tak pernah terjamah oleh manusia kebanyakan kecuali orang-orang pilihan.
“Pulau yang terbungkus kabut asap?” aku memotong ceritanya. “Bagaimana bisa?”

“Apa yang tidak bisa di alam yang luas terbentang ini, Nak? Khayalan yang ada dalam pikiranmu bisa saja menjadi kenyataan di lain tempat atau di lain waktu, siapa yang tahu? Pernahkah suatu saat kau ingin melarikan diri dari berbagai persoalan yang dihadapi. Lari ke suatu tempat, di dalamnya terdapat kehidupan serupa taman. Dengan bunga yang dipinang cinta dan kejujuran, bangku-bangku, meja dan pot bunga serta pohon-pohon rindang yang ditata dalam kesetaraan. Orang-orang saling berbincang dalam kesopanan, berkata sambil menghayati kata-katanya, peduli dan segera melakukan apa yang diucapkan, kemudian ada banyak waktu untuk meresapi wajah mentari dan rembulan di balik tahta kerajaan alam, pernahkah Nak?”

Aku hanya melongo sambil melihat wajah lelaki itu. Ada energi aneh yang menarikku sehingga seolah-olah aku masuk ke dalam tatapannya. Tatapan kebahagian yang mengatasi keduniawian. Samar-samar aku seperti dapat melihat sebuah pulau yang terbungkus kabut asap. Dari jauh ia berbentuk seperti gumpalan-gumpalan awan sementara disekelilingnya adalah samudera maha luas. Benarkah itu sebuah pulau?

Sayangnya aku tidak dapat melihat lebih banyak lagi Alifya. Lelaki itu buru-buru berkata dan tiba-tiba saja penglihatanku itu lenyap dalam sekejap. “Itulah pulau yang disebut sebagai Pulau Asap.”

Tapi kau jangan berpikiran asap yang mengelilingi pulau itu seperti kabut asap yang ada di tempat kita, Alifya. Ianya bukan asap yang ditimbulkan dari pembakaran hutan. Bukan kabut asap yang dapat menyebabkan kita terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), bukan pula kabut asap yang datang selayaknya musim panas atau musim hujan yang menjadi ritual tahunan di negeri kita ini, tidak Alifya.

Menurut lelaki itu, asap yang menyelubungi pulau tersebut hanya serupa gumpalan asap namun tidak memiliki resiko apa-apa bagi yang menghirup udara di sana. Bahkan konon asap tersebut menjadi perisai agar sesuatu yang buruk, baik itu manusia dan niatnya maupun hal-hal yang tidak baik tidak bisa dan tak akan pernah sampai ke sana.

“Ini aneh, jika pulau itu memang ada, bagaimana mungkin tidak banyak orang tahu tentang pulau asap itu?” tanyaku penuh curiga, jangan-jangan lelaki paruh baya ini hanya bersenda-gurau atau malah mau mempermainkanku.

Ia diam sejenak, menatapku dan sepertinya ingin meluruskan keraguanku. “Hanya orang-orang pilihan yang bakal tahu sebab aku tahu dengan siapa saja boleh kuberitakan hal itu, dan aku adalah juru kunci menuju pulau asap, akulah yang mengangkut para penumpang yang benar-benar siap berangkat menuju ke sana, tentunya dengan beberapa syarat, bijak dan jujur, ingat itu!” ia segera turun ke sampan dan meraih dayung, memutar haluan lalu berkayuh.

Aku ditinggalkannya dengan sejuta tanya di kepala, tapi kemudian kudengar ia berseru, “Kalau Anak hendak ke sana, siap-siaplah jam dua belas malam ini, aku jemput engkau di jambatmu itu,” lalu ia menolehku sambil tersenyum penuh misteri. Kemudian ia melaju dalam kayuhnya, menghilang ditelan rintik gerimis yang belum jua berhenti.

Alifya, seperti kataku tadi, tekadku telah bulat. Aku akan berkemas dan segera berangkat menuju ke Pulau Asap. Sebuah pulau di mana kata-kata tidak hanya jadi slogan, tidak hanya sebatas semboyan dan janji-janji belaka. Di mana kata-kata diucapkan untuk segera dilakukan, tidak terbiar begitu saja menjadi baliho-baliho usang, spanduk-spanduk lapuk dan undang-undang yang berkarat seperti di negeri kita ini.

Selamat tinggal Alifya. Ingat selalu padaku. Berilah doa restu. Jika kelak aku kembali, pasti kuceritakan perihal negeri asap itu dan jika ada kesempatan mungkin saja aku akan membawamu ke sana. Ke pulau impian seperti yang pernah kita bayangkan, sebuah negeri yang tidak hanya dimabukkan dengan sebatas kata-kata belaka.

Pekanbaru, 9 April 2009
Tuan Junjunganmu, Wahidin
***

Komentar