Langsung ke konten utama

Memahami Sastra Dengan Pendekatan Sosiologis

Judul: Paradigma Sosiologi Sastra
Penulis: Dr. Nyoman Kutha Ratna
Penerbit: Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Tebal: 320 + xii halaman
Cet.I: Mei 2003
Peresensi: RF. Dhonna
Komunikasi edisi tahun 26/231/2004

Sejak dulu, buku-buku sastra dianggap langka karena merupakan ilmu yang kering dan dengan sendirinya memiliki konsumen yang terbatas. Konsekuensi langsung yang ditimbulkan adalah langkanya bahan-bahan bacaan untuk mempermudah memahami karya sastra, baik bai mahasiswa maupun para peminat sastra pada umumnya.

Buku ini merupakan langkah awal mengenai konsep-konsep Sosiologi Sastra sekaligus dapat direkomendasikan sebagai salah satu sumbangan dalam rangka menopang perkembangan Sosiologi Sastra Indonesia. Tujuan yang hendak dicapai adalah mencoba memberikan sudut pandang yang berbeda (meskipun tidak secara keseluruhan baru) terhadap aspek-aspek kemasyarakatan sastra.

Seperti diketahui sejak tahun 1970-an sampai saat ini, Sosiologi Sastra pada dasarnya tidak berbeda dengan analisis struktural sebagai kritik ekstrinsik dalam pengertian tradisional. Konsep-konsep yang dikemukakan dalam buku ini bermaksud untuk mempertimbangkan hakikat Sosiologi Sastra sebagai kualitas yang seimbang antara sastra dengan masyarakat. Sosiologi Sastra harus keluar dari paradigma strukturalisme murni, meskipun bukan di luarnya. Sosiologi Sastra harus membangun komunitas baru, sebab hanya melalui kenyataan tersebut, energi karya sastra dapat ditampilkan.

Di satu pihak, Sosiologi Sastra dianggap sebagai disiplin yang baru. Di pihak lain sebagai antardisiplin, Sosiologi Sastra pada dasarnya melibatkan berbagai konsep yang diadopsi melalui ilmu-ilmu sosial seperti Sosiologi, Psikologi, serta konsep-konsep mengenai kebudayaan pada umumnya.

Meskipun belum menemukan pola-pola analisis yang dianggap memuaskan sebagai akibat usianya yang relatif muda, Sosiologi Sastra mulai memperhatikan karya seni sebagai bagian integral masyarakat. Tujuannya jelas untuk memberikan kualitas yang proporsional trhadap dua gejala, yaitu sastra dan masyarakat. Proporsional dalam hal ini dimaksudkan bahwa dominasi karya seni sebagai imajinasi dan kreativitas mulai dipertimbangkan sebagai imajinasi dan kreativitas milik bersama. Dengan kata lain, Sosiologi Sastra lebih banyak memberikan perhatian pada peranan masyarakat, karya sastra lebih banyak dipengaruhi daripada mempengaruhi.

Sosiologi Sastra memiliki tujuan positif untuk mengembalikan karya seni yang sejak berabad-abad dipinggirkan dan disubordinasikan, ke dalam kerangka pemahaman yang lebih bermakna, sebagai pusat yang baru. Dengan demikian, Sosiologi Sastra juga menyadarkan agar subjek memberikan makna kepada seluruh aspek kehidupan, sehingga benda-benda selalu terlihat baru, seakan-akan untuk pertama kali.

Sebagai pendekatan antardisiplin, Sosiologi Sastra tidak harus berfungsi untuk memahami lebih jauh sebuah cerpen/novel. Sosiologi Sastra dengan sendirinya juga bermanfaat bagi ilmuwan sosial (sejarawan, antropolog, psikolog, dsb). Kemudian sebagai disiplin yang berdiri sendiri, Sosiologi Sastra harus menawarkan metode dan teori yang baru, yaitu cara-cara yang khusus dikemas sesuai dengan hakikat karya sastra.

Buku ini tidak bermaksud untuk menyajikan metode dan teori yang siap pakai, melainkan semata-mata mengajak para pembaca untuk berdiskusi mengenai kemungkinan dalam mendekati sastra. Fokus utama diskusi adalah adalah antarhubungan karya sastra dengan masyarakat. Tujuan yang bersifat agak pragmatis yang hendak dicapai yaitu mengembalikan karya pada kompetensi masyarakat. Karya seni diciptakan dengan tujuan tertentu, termasuk suprakarya. Dengan demikian, setiap karya sastra memiliki fungsi dalam menopang interaksi stuktur sosial, mekanisme sosiokultural, termasuk dalam mengantisipasi degradasi mental.

Masalah lain yang juga hendak dikemukakan dalam buku ini, di satu pihak, masih banyaknya anggapan bahwa kualitas estetis karya sastra tidak bisa dianalisis  dengan memanfaatkan metode dan teori. Di pihak lain, sebagai aktivitas kultural, karya sastra hanya berfungsi sebagai gejala sekunder. Kemudian sebagai bagian integral struktur sosial, karya sastra adalah energi itu sendri, yang melaluinya dimungkinkan untuk mengevokasi mobilitas struktur sosial, sekaligus dengan menampilkan kualitas objektif.

Akhirnya sebagai gejala yang didominasi oleh imajinasi, bukan berarti karya seni tidak bisa dipahami secara ilmiah melalui disiplin yang lain, karena Sosiologi Sastra adalah pemahaman terhadap karya sastra dengan mempertimbangkan aspek-aspek kemasyarakatannya.
***

http://rochimafirmadhonna.blogspot.co.id/2015/06/resensi-memahami-sastra-dengan.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.