Langsung ke konten utama

SANG PENAGIH

Nurel Javissyarqi

Aku datang terlambat
mengukur waktumu sekian masa lewat.
Atau inikah kedahuluanku?

Kulihat nampak sepi
terlambat atau mendahului sama saja
bisu serupa batu-batu kubawa berlari.

Di mana bayang dedaun
tertimpa sorot cahya mentari
mulai tampak di kaki-kaki berdiri.

Rerumputan senjakala
mendendangkan lagunya
bersemburat jingga cakrawala
yang memawarkan sembah rinduku
kepada kelam jiwamu meronta leluka.

Kehendakku menyampaikan ini
menagih catatan hari-harimu
yang kian melompong.
Bersegala kuseret dari jurang lalu terdalam
sampai ke puncak kepalamu gunung Lawu.

Kelabu saat-saatmu tergesah
mengangkut batu-batu cadas
kerikil ketertindasan
dengan gerobak kepongahan.

Sementara malam datang
kau terlelap kelelahan
fajar pun turun
kau masih pulas mendengkur
seperti anak-anak perawan.

Dalam kesunyian dinding
waktu penuh kepemudaan baru
dari guratan relief gua penalaran.

Melewati kabut sesak nafasmu
menukik segala gelisa
merampati terpegang
bukan kepalan dendam.

Olehnya
datang terlambat membawa berkah
bagi mau memunguti setapak laluan kembara
yang memerdekakan jiwa-jiwa terpenjara.

Berat rasanya menagih
namun ini harus dilakukan
agar tak terlena
terbumbung pesona keagkuhan.

Kiranya melampaui realita
mencecap pahit lidah
keluh kinang tertelan dalam mulut kecewa.
Jikalau muncrat menjelma samudra kalimah
yang dibisikkan burung-burung camar kelana.

Membuat tambak tidaklah sekali
demi butiran garam terperoleh
tiada habis dimakan curiga.
Sebab waktu membusuk
jikalau tak keluar arena.

Meski sekali memanen
lebih dari terduga;
pendapat ini
jelas dari orang-orang pelupa yang mengada.

Kau seperti penyair
meminta jatah dipertanyakan
padahal yang bergerak maju
tidak butuhkan elusan.

Ini penggerukan dalam
penarikan jauh.
Darimu tak dapati apa
selain firasat cemburu buta.

Aku menagih
berwaktu padat menghampiri persoalan
atas diri tak sempat termangu
terus menggoyang perut tambun
yang keroncongan ocehan pecundang.

Daripada berbisik
toh tiada telinga dipasang.
Keris melesak dikumandangkan berlantang
tidak hanya separuh badan niatan enggan.

Kau penuh gugup
ketika penagihan ini serampangan
apalagi membiasakan permainan meletihkan.

Aku terus menggelinjak
sementara kau berpesta
serupa kawanan serigala berebut tulang.
Entah harus berapakali
nyawa-nyawa percobaan.

Aku di perkampungan
namun anggapanmu diriku tertelan
padahal waktu tidaklah serupa itu.
Semua berlalu ke samudera kekalan
gelora tiada habis diceritakan
terus tersiar berkembang.

Saat aku menagih
kau tak dalam keadaan mapan
serupa layang-layang benangnya kekecilan
dengan sekali kecupan bayu
sebentar-sebentar hawatir.

Lalu apakah terbangun selain rayuan?
Genit persoalanmu
yang cepat tergoda perubahan.
Seekor burung terbang berkelepak sayapnya
nilai ketakseimbangan yang sempurnakan.

Bagi terus melintas
tiada lagi pengadaan bayangan.
Jikalau jauh melampaui realita
menembusi kabut bersegala perjuangan.

Yang kau perbuat
menempel tembul kepincangan.
Tidakkah ruhmu
hanya dari segugus persoalan?
Tak pernah selesai
belum cukup menghajar kemungkinan.

Penagihan ini
gairah mengambili kesambillalumu
yang terbuai bujuk pancaroba semu.
Sedang diriku cukup menerimanya
bagi sampiran di sisi waktu paling dulu.

Olehnya,
pengadaanku menjanjikan juntrung
kaki-kaki menggeliat maju
bersama keterbatasan nafasku.
Yang kian kencang menggemuruh
dalam dada pelita penentu.

Ini arak-arakan waktu pekat
awan melintasi kepalamu was-was.
Kuburan lamunan perhatianmu
faham makna perubahan sungguh.

Ketergesahanku memanggilmu
sebagai teman atau musuh bebuyutan.
Kala warna masih kau persoalkan
padahal itu menarik unsur nyawa
menjelma nilai-nilai tak habis dilupa.

Aku merasa bukan batu atau air terjun
namun semuanya melewati tubuhku.
Perjalanan tak melerai warna juga wujud
ialah mengambil hakku itu kewajaran
ketika makna kepemilikan dibutuhkan
atau kuhadir bertepat waktumu melempar dadu.

Ada cidera melebar tak perlu disebutkan
melihat wajah-wajah tegar di bilik kemurahan.
Inilah kesungguhan datang menagih muka sayu
dari balik kegembiraan.

Kelakar itu gemericik merebak di kaki pilu
sebab pesta tak didatangi sang tuan waktu.
Mimpi bukan impian apalagi harapan
saat seluruhnya disedot lautan perimbangan.

Ikan-ikan menari terlepas dari jemari
mendatangkan gemuruh guruh
menelan sisik-sisik yang rapuh.
Juga daging yang gurih
terkoyak usia sungguh.

Penagihan ini membawa sekalian terperi
pula pelena menjumput guguran uban terlupa.

Aku masih membagi-bagikan cahaya rasa
waktu-waktu penangguhan
bagi sudi berbaca
di hadapan cermin kepiluan
yang cemerlangkan masa depan.

---------
2008 Lamongan
*)Pengelana, lahir di desa Kendal-Kemlagi, Karanggeneng, Lamongan, Jawa Timur 8 Maret 1976.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com