Balada-Balada, Suryanto Sastroatmodjo

BALADA NILAKANDI

I
Dan pagi pun resik. Menala bakti rumesik
dalam tayung-tayungan kelana
Kuhamparkan tembang anclum. Tembang alum
lamun warna bumiku tambah ungu

Kemudian satu pahala menyeru ujung-ujung
cenungan istirah sangsi
sampai sebuah sangkakala menderu

II
Bukankah biduk tak berpelita
menguasai pagi sekali, dan sekali lagi
Mengusah serapah simbah
dan akhirnya membilang syukur pada mataharu

Entah pabila suntingan saksi
seta pabila pengharapan dini
menggeliar kowar dan jentar
-penyap di ribaan Mak Tujah!
Lantas berakhir di beledru tawang-

III
Nilakandi, o bayang-baurku sendiri
tatkala alam menyatukan puuspita maya
dan di awal tepungan-keruh dan rengkuh
senantiasa kasih hadir. Mengungkai gelisah

Biar aku jadi gembala, o, dingin
dan menyembah kabut di pulungan lilih

IV
Sampai matra ke selikur lindur. Sampai daya luruh
dan alangkah jauh gapaian senandung

Seru dan sentak si bocah lurung
ditundung, diharung dan dilarung
cakrawala yang tanpa tudung

V
Begini terombang di ujung muara kita, o, Nilakandi
serta ada yang menerpa laku Mak Tijah-dusun rimba
dan mengantar pematang-pematang di pusar asa-cita
Bila perjalanan larut menggulirlaratnya luka

Aku bakal lama lagi jadi penjajah asing
sekali tanpa diam. Tanpa unggun dan tudung
Cuma bukit ungu dan dedaunan rontok
menggusah belantara di jadat tak bermusim!



BALADA KUCING

1
Seakan dingin benalu adalah dingin kudukku
jika tentangnya aku berceloteh
memborong dingin yang ingin. Dingin merasuk
dan membual dalam hampar-hampar sebal

2
Benarlah kucing yang mengupas kembara larat
tatkala malang dan untung ke-nasib-an kita
masih lebih kuning sari gunung selatan
atau hutan pelipis luhung. Hingga pun aku terbebas
dari ayunan angan

3
Demikian kubilang kucing melompat,mendepak angka-angka
dan lantas pada pagi ini, ada longsoran tanah
di atas pekuburanku kelabu. Senyap hari terjadwal
seolah esok bakal menggumuli senduku

4
Bukan sekadar tawar-menawar. Hanya acunganku
yang geleng dan angguknya kentara
Kemudian asa dan reka sentara. Lolos menuku petang
meremas layang-layang sendi
Kemudian memercikkan salamtulusnya.

5
Kembali kucing kudedah di rimba sejarah
di kala tulisan amsal yang kubukukan senjakala
Dan adik-adik paling wuragil mencium tumitku
Sudahlah singgah para penarik pajak
bila nanti kuberjanji menapak:
mengganti pedang jadi matabajak

6
Gelegap sejenak pun kita enggan terlunta-lunta
di tengah kecongkakan kota yang pesing dan sesak
Aduhai, kesakitan yang paling perih
kini jadi keperihanmanusia sepanjang benua

7
Demi segendongan kucing manis belang-telon
kisahku menjelma terwujud lakon-lakon
Tapi mohon kau tikamkan belatimu, wahai Pak Tua
di perut bumi taffakurku, sebelum salamkasih tertunda.

Komentar