Langsung ke konten utama

K o m a

S. Jai
http://ahmad-sujai.blogspot.com/

AKHIRNYA zombie hipertensi itu benar-benar memperdayainya. Bertahun tahun lelaki itu bergelut sebelum tekuk lutut, toh penyakit yang bersarang di tubuhnya itu gila kuasa.
Dia takluk tanpa ampun. Dia dijatuhkan di muka umum, tanpa peduli lelaki bernama Kesturi itu orang baik, harum. Kesturi roboh tanpa ragam belas kasih atas nama keluarga, cinta, kemiskinan, anak-anak, apalagi utang-piutang dan seabrek. Segalanya menghilang.

Ya, dia dirontokkan, seperti runtuh begitu saja. Tak kembali. Kejam. Bengis. Menyedot aura duka orang banyak seolah tidak atas kehendak raja penguasa segala alam. Seakan sonder tangan-tangan lembut malaikat pencabut nyawa. Siapa sangka.

Kesturi roboh saat kenduri. Saat penuh sesaji, doa-doa, pujian, kitab-kitab suci saat diapit warga mendekatkan diri, minta selamat, mengirim doa, menolak bala agar kelak saling memanen berkah halal sebagai imbalan dari Tuhan.

Seperti kemarau ini, panen melimpah, petani meruahkan hasil tebu atau padi dan palawija. Buruh bangunan, buruh pabrik, buruh tani kecipratan rezeki. Itu tak datang di musim hujan. Seret. Susah. Dimana-mana banjir air dan airmata. Demi semua warga, selamatan dan doa-doa digelar agar lancar sepanjang masa.

Tapi apa lacur Tuhan maunya lain. Setidaknya itu yang menimpa keluarga Kesturi. Kemarau tahun ini justru dibuka dengan malapetaka.

Di tengah kerumunan pria bersarung dan berpeci, Kesturi mendadak tak bisa berdiri. Ia rasa ribuan semut menyerbu dan lalu berumah di batang kakinya. Tubuhnya serasa memberat, membesar, kakinya berujung tak sanggup menjadi tumpuannya. Beruntung, bibirnya nganga bisa buka suara, dia minta digiring keluar dari kerumunan para pendoa.

Selepas beberapa menit, semut-semut cepat mobal menyerbu isi kepalanya, matanya dan merajai tubuhnya. Kesturi ambruk tanpa sedikit ingatan pun. Orang-orang memapah pulang ke rumah. Itu terjadi sore hari menjelang malam. Semenjak itu, selebihnya gelap baginya. Kesturi mengalami koma.
***

SUDAH pasti tempat berikutnya rumah sakit. Beruntung, dari pintu rumah cuma beberapa ratus meter saja. Malam itu Kesturi semobil diikuti istrinya, Rabiah. Menyusul anaknya serta menantu. Udin anak nomor satu yang keranjingan, Ria pengantin baru, Fatah yang kelas tiga SMP. Sementara Suci tiga tahun tidur ditunggui Mbah Puterinya.

Detik waktu merambat lambat. Mobil pengantar berpacu deru, membawa tubuh Kesturi yang menyisakan desah-desah nafasnya. Malam berontak menghentikan bicara, langkahnya sambung-menyambung, namun waktu tak bisa terkalahkan. Apalagi dibunuh.

Dokter dan petugas rumah sakit pun sigap serba darurat, bahkan terburu terkesan buru-buru, karena mereka digaji induk perusahaannya, yang tak lain juga tempat Kesturi bekerja. Yang menakjubkan, dokter dan perawat itu dingin dan tenang. Ah mereka ternyata juga bukan tipe pembunuh waktu sekalipun tak dijuluki sang penyelamat.

Jam berdentang pukul sembilan. Tak ada sinyal Kesturi siuman. Catatan dokter menyebut angka 250 pada alat pengukur detak jantung dan tekanan darah. Berpacu cepat melintasi 90 denyut permenit. Alat Bantu oksigen telah dipasang, selang infus mulai meneteskan butir-butir cairannya perlahan. Jarum suntik pun dibenamkan. Entahlah, barangkali dimasukkan semacam obat penenang. Selebihnya dokter bisa tegaskan, yang bisa dikerjakan hanya menunggu. Pesannya, bila selambatnya 24 jam Kesturi tak siuman, alamat jiwanya sulit diselamatkan. Dokter tak lupa menyematkan kata penting ‘biasanya’ sebab beda jika Kesturi mengalami peristiwa ‘luar biasa.’

Memang dokter itu tak mengungkap, kondisi ‘luar biasa’ itu bisa jadi berkat doa-doa, perbuatan baik pasien semasa sebelum koma yang dimaksudkan. Dokter tak perlu menyingkap perihal jampi-jampi, mantra, juga pertolongan Tuhan. Barangkali tak ada ruang. Terlebih ia tercatat lulusan terbaik dari perguruan tinggi termasyhur di negeri ini.

Roh dalam jasad pasien ibarat sego jangan baginya. Meski ia tahu pahit, asin, asam, manisnya. Karena itu dia akrab dan mengerti persis bila dalam waktu 24 jam tak bangun kesadarannya, berarti dia telah pergi. Ini bukti pergaulannya, kepercayaannya, tangannya, pikirannya dan tentunya keilmuannya. Tak butuh waktu lama untuk itu.

Baginya, yang belum juga kunjung ditemukan meski meremukkan waktu lama hanyalah memastikan siapa dia, dimana tempat tidurnya.

Jam belum jauh beranjak. Dokter telah menjauhi desah nafas, denyut jantung Kesturi. Tapi ia pergi bukan untuk mencari keberadaan roh pasiennya, karena ilmu kedokteran tercanggih pun belum sanggup memastikan. Hanya leluconnya yang kerap tergarap. Pernah dengan nada satir minta tolong dokter lain yang tekun beribadah agar Tuhannya menunjukkan letak roh itu, agar setiap dokter bisa berbincang gampang tanpa diagnosa pasiennya dan jitu.

Kesturi orang baik. Senyumnya ramah kepada banyak orang. Berkat senyum dan tangan dinginnya, dia disegani. Di pabrik dia pun berhasil jadi mandor, posisi tertinggi untuk karyawan musiman di pabrik itu, tentu saja berkat kepintarannya.

Diantara sepuluh saudaranya,dialah yang fasih baca-baca Al-Quran. Karena itu dialah pendoa yang rajin terutama pada almarhum bapaknya. Bila ziarah lama sekali di sana. Tak cuma itu jurang pemisahnya. Kesturilah satu-satunya anak tiri dari ibu kedua setelah bapaknya kawin lagi.

Cerita punya cerita, bapaknya terpaksa memungut Kesturi karena tak mau terus dimintai ‘upeti’ mantan istrinya, ibu kandung Kesturi. Bagi sang bapak, jatah hidup anak hanyalah alibi. Merasa ada udang di balik batu, Kesturi dirayuk ibu tirinya. “Syukurlah, bibit anak baik tak menolak diboyong,” ungkap sang bapak ketika itu.

Waktu itu kurang lebih dia berumur tiga tahun. Kini Kesturi bisa jadi anak sulung dari adik-adiknya yang bertahun tahun kemudian membengkak.

Semasa muda Kesturi menjalani hari-hari sebagai anak orang miskin (ayah ibunya pedagang barang kelontong yang keluar masuk pasar). Hingga terbit kasihan padanya.

Bahkan belas kasih itu terbawa hingga beranjak dewasa, dan berkeluarga. Kehidupannya terbilang jauh dari cukup. Berapakah gaji karyawan musiman di pabrik untuk memelihara empat anaknya. Si Udin, malah makan duit. Ia masuk pergaulan anak zaman dengan kesukaan kebut-kebutan di jalan. Beberapa kali celaka, operasi dan pada tulangnya ditanam logam—tentu saja pakai duit.

Adiknya, si Ria keluar masuk kerja tapi tak juga meraup rupiah yang layak. Untuk makan saja perlu didulang duit bapaknya. Lalu jalan pintas diambil, Ria dikawinkan demi meringankan beban. Cinta tak peduli bersuamikan karyawan bengkel merangkap buruh bangunan. Beruntung, bila musim giling pabrik, Kesturi bisa mempercantik rumah dari hak waris istrinya yang masih berantakan. Dari uang kerja di pabrik belakangan rumahnya sudah mendingan. Rencananya musiman ini, setelah diangkat jadi mandor, rumahnya pasti lebih indah lagi. Maklum semua ini demi kenyamanan hidup istri dan anak-anaknya.

Sayang harapanya angslup. Berbalik rasa kasihan paling mendalam. Baru dua hari jadi mandor, Kesturi dan belum sempat memimpin anak buahnya, ia keburu masuk rumah sakit.
***

KENDATI batal punya anak buah, bangsal Kesturi tak pernah sepi pembezoek. Kawan kerja, tetangga, kerabat, terus mengalir berdatangan. Banyak yang tertambat, tak mau beranjak meski berjam-jam di sisi Kesturi.

Kian malam, serangan makin hebat. Main banyak simpati, makin kuat harus saling menekan suaranya, menyumbat mulutnya. Ramai tapi senyap. Para pembezoek diminta berperang dengan perasaannya sendiri, takut, was-was, kasihan. Tak jarang mereka dimohon menjadi manusia yang kuat merasakan sakit. Mereka dipaksa menyerahkan dirinya yang sakit. Mereka harus jadi orang lain yang turut merasakan kepedihan, keperihan, sakit ini. Mereka musti memperlihatkan siksa mendalam hingga paling sukses bila jatuh dalam kesunyian. Ketakutannya sendiri. Yang tak sanggup itu mereka sibuk menghalau kesenyapan. Ngobrol. Merokok. Lalu lalang melukis ruangan. Cuci mata di taman. Ngemil. Tertawa. Melamun. Sesekali perlu menghibur diri jika tak sudi terhanyut arus waktu.

Ya, jam makin lambat merayap. Tiada tempat paling damai kecuali emplasemen dengan taman separoh basah. Karena di situ tersedia janji. Wajar bila pembezoek berakhir menambatkan mata, tubuh dan jiwanya ke sana. Taman dengan air yang jernih, bola lampu besar yang bening benderang, rumput hijau yang berembun, lembayung warna kembang yang tak bergoyang, lalu bunga arumdalu yang ditata apik oleh seorang arsitek yang paham ilmu jiwa dan mengerti gairah hidup manusia. Yang tahu keagungan makhluk lebih dari yang tergambar ilmu hayat. Bunga-bunga, lumut, rumput berbisik bahkan mendesahkan nafasnya sendiri.

Tampaknya di sini keindahan, kebebasan, janji, hanya berbatas tempat tidur dan sprei di rumah sakit—sebuah kata yang sesungguhnya mengalami contraditio in terminis. Tapi, tak apalah barangkali seorang arsitek memaksudkannya ini adalah sebuah jalan, sebuah usaha, kerja atau pengertian semacam itu sebagai hakekat manusia. Bahwa sedekat apapun kebebasan itu ada jarak di dalamnya, kendati ia harus menggambarkannya dalam ruang yang berbeda dan juga waktu. Kendati kebebasan itu seperti taman dengan janji-janjinya, tak kenal ruang dan waktu, tapi sang arsitek masih perlu menempatkan bola lampu yang bening agar taman juga memberi janji bila malam tiba.

Jadi taman ini jelas juga dipersembahkan kepada orang yang kurang mengerti ilmu jiwa. Bukankah bagi yang tahu, tanpa atau dengan bola lampu, taman tetap melunasi janji dengan keindahan dan kebebasannya sendiri?

Ah, bukankah suatu petaka bila di RS iseng dan serius tak ada bedanya?

Giman, adik tiri Kesturi mengusir rasa takutnya dengan cara lain. Cepat ia cari orang pintar. Seperti biasa bila terjadi musibah pada kerabatnya yang lain, kesanalah tujuannya. Jadi lelakunya lebih didorong kebiasaan. Belum tentu lantaran kepercayaan.

Biasanya Giman datang tidak pada seorang pintar saja atau kiai saja. Tiga atau empat orang dia mintai petuah, nasehati, atau doa-doa. Biasanya jampi-jampinya pun beda, kadangkala pakai garam, lainnya lagi pakai air atau cukup doa saja.

Biasanya pula Giman lah yang ngramesi, menjatuhkan pilihan mana yang terbaik. Ada yang tokcer atau mungkin ada yang tidak. Yang itu sudah biasa. Yang luar biasa adalah justru semangat Giman tanpa capai pagi siang malam cari orang pintar. Mencari, meresapi, merahasiakan, bukan kerja enteng sembarang orang. Giman tahu hal-hal sensitif seperti ini tak pernah ia ungkap bagaimana prosesnya, apa hasilnya, apalagi berapa ongkosnya. Tak semua kepala paham, tak setiap hidung mengerti, tak saban perut bisa menerima sekalipun penjelasannya panjang lebar.

Terhadap takdir Kesturi juga demikian. Malam itu juga Giman sowan tiga orang pintar. Usai basa-basi dengan bibir menari-nari, tiga petah berhasil dikantongi. Giman tercengang acapkali dengar nada yang sama—sesuatu yang mustahil bocor ke kuping orang lain. Ketiga orang pintar itu angkat tangan kendati bahasanya tak sama. Bukan petuah.

Bukan jampi-jampi. Bukan pula nasehat. Belum pernah telinga Giman mendengar seperti ini: “Saya nggak bisa. pasrahkan saja. Relakan dan minta keluarga supaya ikhlas.” Lalu: “Sudah ditangani rumah sakit, berarti kita cuma bisa berdoa.” Berikutnya: ”Bacakan surat Yasin di rumah. Undang pengurus masjid.”

Sekembalinya, Giman bergegas ke rumah sakit. Dirasanya tak ada yang bisa dikerjakan kecuali untuk dirinya sendiri. Dia perlu semacam hiburan untuk kepenatan pikiran.

Sekalian, dia hanya perlu simpanan perangai Kesturi. Senyumnya, sekalipun dalam keadaan yang tak seorang bisa selami, apalagi untuk dikisahkan. Dia perlu untuk tabungan ingatannya, bila kelak tiada. Ah, ia ragu siapa yang menyelinap masuk tubuhnya dan lancing berpikir demikian.

Lalu ia sempatkan mencari raut Rabiah. Matanya, sembab, layu karena kurang tidur. Bukan menangis,murung. Bibirnya tak sanggup melepas kepedihannya yang mendalam, memendam perjalanan hidup yang kelam oleh kemiskinan, derita panjang yang membelit hari-hari bersama sang suami. Betapa untuk brucap kasihan saja pada suaminya, dia tahu tidak bisa dan itu terlampau kurang ajar.

Rabiah pilih memasang matahati di jemari tangannya. Menggerakkannya. Diusapnya pipi dan sudat mata suaminya yang terkadang melelehkan airmata. Barangkali suaminya tengah mengajak bicara, dengan kata apa saja yang ia bisa sekalipun itu airmata. Sementara tak ada rasa Rabiah yang dialirkan kecuali dengan matahati jemari. Kendati sang suami kini meregang di pncak keprihatinan, bagi Rabiah entah segalanya mengental laiknya suatu kebiasaan. Entahlah pasrah atau apa namanya. Di sini Meminta diberi arti, memaksa dinilai. Bukankah telah bertahun lamanya hidup bersama suami dan anak-anak juga tak lebih baik dari hari ke hari? Ah, mengapa tiba-tiba dirinya demikian kejam? Ataukah cara ini malah membuatnya lebih realistis, yakni berpikir bagaimana kehidupan anak-anaknya kelak? Bukan mengudal suaminya yang belum sanggup melayarkan perahunya dengan tenang di tengah samudera. Ah, lalu bukankah ketenangan samudera yang bagaimana pun tentu menyimpan bahtera?

Makin banyak kecamuk tanya di benak Rabiah, makin dia melarung di dunia yang terapung-apung. Di lautan dalam kesadarannya, sendiri tanpa teman. Kini suaminya juga asing sendiri mendayung. Perahunya mungil dan kehabisan tenaga. Satu-satunya harapannya adalah desah nafasnya, sisa cinta Kesturi yang harum semerbak seperti pada bunga layu di taman. Siapa punya tekad menduga kedalaman maknanya kecuali dia sendiri? Bahkan rona mukanya pun terhalang kabut misteri. Bibirnya menebar senyum tapi matanya berurai genangan air. “Dalam keadaan begini menderita, kamu masih tunjukkan kesabaranmu, suamiku,” gumam Rabiah.

Kesabaran. Ya sebagai seonggok manusia, sepotong suami, kesabaranlah tampaknya yang bisa dibaca dan dimaknai. Hidupnya yang tergelincir, dengan beban berat, serangan bertubi-tub dan tekanan dahsyat datang padanya. Siapa sangka di balik itu Kesturi menyimpan kekuatan yang sanggup diledakkan jiwanya. Hanya orang-orang yang mengerti yang bisa menangkap gairah hidup Kesturi. Seorang diantaranya, tentu saja istrinya.

Betapa dalam keadaan begini luluh lantak, dia masih ngotot memamerkan gairahnya maha besar itu. “Andaikata mampu buka suara, pasti dia akan bicara banyak banyak agar orang lain, juga anak-anak lebih mengerti tentang hidup,” pikir Rabiah.

Ya, barangkali Kesturi bakal menyingkap tabir keikhlasan dalam hidup, peristirahatan, persinggahan, Tujuan lalu taman yang maha luas tempat kedamaian melunasi janjinya.

Sebuah lukisan perjalanan di dunia yang panjang, sekaligus pasar buah kekayaan batin yang tidak akan tiba pada suatu titik. Tubuh dan detak jantung serta dengus nafasnya hanyalah jaminan dirinya yang terikat dengan alam dunia. Tapi alam kesadarannya, ruhnya bisa mengembara jauh mengikuti kehendak batinnya. Seperti entah yang dialami Kesturi saat ini. Naasnya, dalam ilmu kedokteran mutakhir cuma dikenal dengan kata kunci yang sederhana: Koma. Tapi dalam pengertian kejiwaan sangatlah luar biasa dalam artinya. Luar biasa sulit diterjemahkan dengan kalimat, kata, apalagi hanya dengan tanda. Dipastikan butuh berlembar-lembar halaman buku, kalimat-kalimat teramat panjang. Bukankah dalam ilmu kalimat ‘koma’ hanyalah sebuah tanda baca untuk pengertian yang belum akan berhenti dan apalagi untuk menuju keutuhan maknanya? Kini Kesturi mengibarkan suatu tanda, serupa panji-panji kemenangan perang. Bahwa betapa sulit dia berhenti, mengakhiri atau menamatkan perjalanan, juga makna—bukti kekayaan batinnya.

Sesukar menuntaskan suatu kalimat menuju titik…
***

IBU tiri mimpi buang hajat di ranjang—begitu dalam menyelami hati Kesturi pada batinnya. Sang ibu tiri sadar masih butuh kata-kata untuk itu.

Lalu bisa diduga ucapan sang dokter itu terbukti. Lebih 24 jam Kesturi tak juga siuman dari komanya, akhirnya ia pergi dan tak pernah kembali lagi—suatu ungkapan yang sesungguhnya kurang tepat karena Kesturi sesungguhnya memang telah pergi sejak lama. Dia pun dikabarkan ‘tiada’ meski bagi Kesturi ketiadaan dirinya itu telah hadir melekat semenjak mrucut ke dunia. Bahkan sedari mula ruhnya ditiupkan padanya setidaknya enam puluh tahun lalu. Barangkali yang paling tepat adalah Kesturi telah dilepaskan kuasanya atas tubuhnya, detak jantungnya dan desah nafasnya dan ia tak berhak sebagai jaminannya lagi. Apapun itu, untuk keperluan catatan dokter, Kesturi dinyatakan meninggal pada hari Sabtu, pukul 21.15 wib setelah dirawat di rumah sakit selama lebih dari 24 jam.

Seperti telah disiapkan sebelumnya, jasad Kesturi cepat dibereskan untuk dipulangkan ke pihak keluarga. Tak ada yang luar biasa terjadi malam itu. Tiada tangis istrinya, Rabiah. Hanya peristiwa kecil, seperti biasa dokter rumah sakit meminta maaf dengan hati serendah-rendahnya atas nama ilmu kedokteran, tak bisa menyelamatkan Kesturi.
“Saya telah berusaha sekuat tenaga,” katanya.

“Tak mengapa. suami saya telah menyelamatkan dirinya sendiri,” batin Rabiah.
Singkatnya, jasad Kesturi kembali bergoyang. Tapi kali ini dalam mobil jenazah tanpa sirine dan lampu merah—atas permintaan Rabiah yang ingin melepas simbol-simbol dunia yang entah bagaimana itu meresahkannya. Lima belas menit kemudian, jasad Kesturi tiba. Sejumlah orang yang menggotong jasad itu merasa masih hangat, kian mengurangi kepercayaan bahwa Kesturi telah benar meninggal.

Karena ia orang baik, di rumah pentakziah melaut. Belum pernah itu terjadi sebelumnya apalagi justru pada waktu malam hari. Orang-orang terus berdatangan dari banyak penjuru, sekalipun orang hanya kenal nama baik Kesturi saa. Atau orang lain yang malam itu beru dengar nama baiknya dan takjub pada palayat bergelombang. Lalu mereka memutuskan ikut ambil bagian. Hasrat serupa meski cara berbeda, hendak berbela sungkawa turut mengiring jenazah Kesturi ke peristirahatan terakhir.

Mendadak pecah tangis histeris sosok perempuan yang menghantam jenazah. Tangis itu milik Ria, pengantin baru yang mengaum. Kegaduhan melahirkan keributan karena orang berebut menyadarkannya. Tubuh-tubuh tak terurus bertubrukan. Geliat meronta badan menciptakan kepanikan gelombang tangan-tangan mereka. “Tidak. Tidak. Biarkan saya.

Saya mau tidur dengan bapak malam ini, di sini, di samping bapak.” Wanita yang hamil muda itu menggeram, terkadang menghiba, sebelum puncaknya tubuhnya melemah. Tahu perempuan itu berbadan dua, malah memperkeruh suasanas. Setiap orang jadi berniat turut mengamankan orok di rahimnya.

Insiden itu berakhir setelah suami Ria dipaksa membopong perempuan itu ke kamar belakang. Tapi Ria gembrot, suaminya tak sanggup sendirian. Terpaksa membiarkan istrinya digotong rame-rame, diangkat dan jadi tontonan. Pemandangan yang sungguh tak terbayang di benak sepasang pengantin baru. Eh, siapa tahu soal ini bakal jadi biang pertengkaran keduanya. Maklum suaminya masih kekanak-kanakan tak bisa menyembunyikan rasa malu akibat ulah istrinya. Terang saja Ria tak peduli itu semua karena betul-betul terpukul kepergian bapaknya. Dia dikejar dosa akibat tak kuasa membaca tanda tanda.

Ia dinikahkan segera dengan pesta yang tak terbayang gemerlap. Justru saat Kestu;ri tak mampu melakukan itu. Bila dia tahu petaka ini bakal terjadi, tentu Ria menolak pernikahan dengan pesat. Terlebih, bila ia tahu meriahnya pesta berkat dana dari hak waris Kesturi dari ibu tiri yang dibagikan lebih cepat—justru saat ibu tiri masih bugar. Terang ini melanggar kepatutan. Tetapi Kesturi terdesak kemauan orangtua.

Mungkin bagi Kesturi, tak mengapa mumpung demi kebaikan anak-anaknya, pernikahan Ria. Kini pernikahan itu ibarat suatu pukulan benda keras. Tangis anak itu baru terhenti setelah dia di dekapan ibu dan neneknya.

“Saya tak menduga berakhir seperti ini, Mbah,” dia terus menghiba.
“Jangan berpikir terlalu mendalam. Yang penting ikhlaskan karena dia lapang di sisi almarhum bapaknya,” tutur mbahnya—ibu tiri Kesturi di saksikan Rabiah. “Kalau kalian larut dalam kesedihan, kasihan pelayat di luar. Kamu adalah tuan rumahnya.”
Malam tenang berkat ucapan ibu tiri.

Di luar rumah, serumpun lelaki terlibat perbincangan. Salah seorang bos pabrik tempat Kesturi bekerja, sejumlah calon anak buah almarhum dan rekan-rekannya bergerombol di ujung jalan karena kesulitan mendekati pintu rumah duka. Begitu tahu kehadiran orang penting, pelayat lain menyibak memberi jalan dan bergelombanglah lautan manusia itu dalam kegelapan.

“Coba bapak pikir, keluarga ini. Empat orang anak, seorang istri, harus hidup tanpa Kesturi. Hati mana yang tak tergerak, Pak,” nurani sang bos coba diusik.
“Anak-anak harus tetap tumbuh. Harus bisa sekolah,” seorang menimpali.

Sontak seorang kerabat almarhum, menyerbu sang bos. Dia bawa suatu Rencana. Sayang belum terungkap cepat dicegat kawanan buruh. Pembicaraan digembok, sekaligus nombok isi hati sang bos pabrik. “Sudah, sudah. Saat ini kurang patut membahas soal pekerjaan. Kasihan keluarga masih berduka, begitu kan pak?”
“Mana? Sekarang tunjukkan anak itu,” tiba-tiba sang bos berburu putra almarhum sampa dapat.

“Ini pak. Namanya Udin. Umur 20 tahun, sekolah tamat STM, pengalaman kerja belum ada,” seloroh seorang kerabat.
“Ah, itu semua nggak penting. Pokoknya mulai besok kamu masuk kerja di pabrik,” sang bos berkata kepada anak itu penuh wibawa. “Kamu menggantikan bapakmu cari nafkah ya Adik-adikmu juga harus sekolah.”

Sikap sang bos justru berbantal kabut. Kabur berbaur. Di depan khalayak, anak itu tak jelas berona muka, sedih atau bangga. Sepanjang ini sulit cari kerja. Tapi kini peluang datang di waktu yang tak diinginkan. Berbenturan beban yang ditimpakan di pundaknya. Dipikirkannya meski cuma nylempit saja, terjepit, dihimpit kabut yang membungkus otaknya. Apa arit ini semua? Kekuasaan? Pamrih? Tuntutan? Kasihan? Atau karena alasan lain yang bukan itu semua? Sang bos inign menumpuk derma, misalnya.

Sekalipun tak menyentuk benak Udin, sang bos berlalu dari ranah suasana sehabis kata bela sungkawa segebok amplop coklat yang mustahil tiada makna meski tanpa ucapan terimakasih. Ya, kata itu demikian berat meloncat dari bibir Rabiah, karena mungkin ia tahu terbungkus kuat dan mampat. Bergelut dengan kabut. Mencari tempat meski seringkali tak di dapat, tak punya kuasa.

Malam melarut pekat. Pentakziah kian melaut oleh tanya akankah jenazah langsung dikebumikan ataukah disemayamkan hingga menunggu esok pagi? Lama pertanyaan itu tersimpan semenjak jenazah yang masih hangat itu dimandikan, disholatkan tapi belum ada keputusan pihak keluarga. Saling menunggu. Jawaban ditemukan menyusul oleh sebuah kericuhan. Seorang kerabat almarhum ngotot agar jenazah dikebumikan esok pagi menunggu matahari terbit karena gelap tak dikehendaki setiap keberangkatan menuju kebaikan.

“Besok pagi. Kasihan almarhum. Pokoknya besok. Biar ditunggui keluarganya malam ini,” katanya nyaris emosi.

Sontak setiap pelayat saling pandang keheranan. Ratusan pelayat itu merasa dipermainkan, mereka datang untuk mengantar almarhum ke peristirahatan terakhir.

Bukan yang lain, apalagi untuk menunggui jenazah. Pada saat semua diliputi kekecewaan dan hawa duka berubah kabut kegundahan, lagi-lagi ibu tiri menunjukkan kebesaran jiwanya. Ia membujuk kerabat duka untuk meluluhkan baja itu.

“Kamu jangan begitu, Nak. Justru kasihanlah pada almarhum kalau masih harus menginap. Dia akan memberatkan keluarga yang ditinggalkan. Kamu tahu bagaimana anak-anak, istrinya larut dalam kesedihan. Ini yang memberatkan. Apakah kamu bisa menjamin keadaan mereka bisa lebih baik nanti malam? Tidak. Justru kasihanilah mereka, kita tak ingin mereka terus larut. Juga kita sama-sama tak ingin seperti itu,” tutur ibu tiri.

“Saya tak sampai hati. Saya belum ingin ia pergi. Saya takut kegelapan.”
“Ikhlaskan. Sekarang ini almarhum bukanlah milik keluarga saja. Apalagi hanya milikmu. Kamu tahu tentu kita, aku dan kamu, tidak bisa mengurus upacara ini sendiri.

Ikhlaskan karena pelayat menghendaki almarhum dikebumikan malam ini juga,” ibu tiri terus menembakkan kata-kata lebih tajam. Bila tetap bersikukuh, ibu tiri akan mengancam dengan kata, “Bagaimana kalau jenazah itu busuk di ruangan ini? Apakah kamu mau menunggui bangkai dengan airmatamu yang tidak habis-habisnya itu? Lalu kalau semua pelayat itu meninggalkannya dan mereka pulang ke rumah, apakah kamu mau tidur sendiri di sisi bangkai itu?”

Beruntung sebelum kata-kata kasar itu nyasar, ia sudah takluk. Karena memang sedang tak punya tawaran. Saat jenazah hendak berangkat, ratusan orang giras untuk bangkit. Gairah mereka sangat menakjubkan seakan-akan malam itu sengaja dipilih Tuhan untuk menyingkap sisi gelap batin manusia. Sebuah pemandangan yang menggugah setiap orang berhati, lalu merinding dingin bahkan bisa jadi menggigil.

Malam itu diciptakan tidak seperti malam-malam sebelumnya. Heran, takjub, keganjilan, keagungan, khidmat membulat satu kenyataan. Meski puncaknya cuma sejenak, sependek jarak pemakaman dengan halaman rumah keluarga duka. Sekitar sepuluh menit perjalanan saja.

Seorang warga pemilik disel listrik merelakan mesinnya menyala mengiringi perjalanan pemakaman. Malam itu padang njingglang. Bahkan sampai di tengah kuburan, bertabur lampu berbinar terang. Cahayanya tak pernah sirnah. Tertinggal dan terus tertinggal meski selepas para pelayat menjauhi jenazah itu berdiam sendirian di kuburan.[]

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com