Langsung ke konten utama

Puisi-Puisi Aa Maulana

http://www.kompas.com/
Sungai Teluknaga

air tersendat bergelimpangan bangkai
yang berlayar diatasnya adalah plastik-plastik
kertas-kertas yang menumpuk seperti perahu
lalu mendayung perlahan melawan arus pintu air

kau takan tahan berwudhu disana
apalagi mandi atau berenang untuk bermain riang

bagaimana masyarakat penghuni sungai itu?
hidung mereka sudah kebal
imunitas menjadi dinding rapat penghalang
bau sungai dan nasi hidangan sarapan siang

bagaimana pemerintah?
pernah hidung bupati menciumnya
hasil laporan sms masyarakat diradio
diperintahkanlah Dinas Pengairan
satu-satu mengairi sungai itu dari hulunya

anak-anak berenang bermain perahu pisang
bonggolnya sampai ke pintu rumah
masuk kepintu tanpa mengetuk
itu terjadi tadi malam
air terlalu banyak keluar dari hulunya
banjir terjadi tiba-tiba
tapi sungai jernih sekali
tak ada bangkai babi apalagi plastik atau kertas
yang menjelma jadi perahu

Pak RT dan kroninya menggalang suara
demonstrasi ke balai kota
agar segera menutup pintu air…
………….
air tersendat bergelimpangan bangkai
yang berlayar diatasnya adalah plastik-plastik
kertas-kertas yang menumpuk seperti perahu
lalu mendayung perlahan ke pintu air

air surut
tersendat dipintu air

Tangerang,September 2007



Pagi

di bawah kedamaian ku bernaung
menanti pagi
disambut mentari
hangatnya dinantikan bumi
di ufuk timur
awan-awan berlarian ke utara
di mana merapi meraja
di ufuk barat
gelap masih menyisakan dingin
tepat untuk anak manusia
terbalut selimut
di depanku untaian rel memanjang
bersama kerikil-kerikil
buah pelu pembatu.
keramaian pasar telah merangkak
melupakan gempa yang pernah melanda
di pagi itu
ketika manusia masih terlelap
saat ufuk-ufuk masih gelap

Jogja september 2007



Sahur

melawan malam ku terbuai akan
di tepian satu pantai terlupakan
Sebuah cinta berkisah
tentang suatu kedamaian
di alam kerinduan syahdunya kaki 'arasy
selalu mendendangkan lagu puisi
di setiap jam tiga pagi
bersujud syahdu menguraikan
gumpalan keras air mata
"bal asaddu Qoswah"
kerasnya batu terkalahkan
segumpal daging manusia tak bertaqwa
di sebuah piring nasi dan teh hangat
wujudan syari'at kontemporer
meniatkan diri esok maghrib
baru kita berbuka
dari sejuknya pagi
dan teriknya siang
dapatkah orang berpuasa punya asa
akan sebuah rutinitas kaum fakir
menghiasi perutnya dengan kekosongan
ataukah hanya malu yang diperlu.

September 2007



menanti malam

sang bintang menyibak kelambu lebam
menanam tabir dingin udara
mengigilkan aroma kerinduan
sang pelangi
dengan warna-warni cinta
menidurkan lambung-lambung lapar
ungu sibuk dengan diri sendiri
dalam irama lagu
kesendirian.

Jogja 2007



Tengah Teluknaga

di semilir debu tengah teluknaga
ada seriuh gendering kasih
dari setiap mata
yang tak henti melirik
dari setiap jemari
yang tak henti melambai
bukan segan
tapi enggan
"aku lewat bang
tak ada buat mengepulkan nasi didapur,
aku tau utang ikut kekubur
tiap detik tak henti melebur"

Tangerang 2007



Pilu

kita terbawa pada badai
kesedihan dan kemarahan
Pilu.
krisis finansial
akibat bukti keserakahan kapitalis
di negeri orang
dan tentu negeri kita
susu warnanya jernih
sejernih air mineral
bensin baunya harum
seharum kayu putih
nasi bentuknya tak lagi berbulir
menjelma lonjoran singkong.
Tak terbeli lagi

Jogja 2008



Kering embun di terik siang

di bawah keriuhan pohon jambu
air menyisakan jejak didahan
kering embun diterik siang
setelah lelah ku menyusuri debu
jalanan ditepi tanjung pasir
tak sudi menyapa
senyum manis anak bayi
yang bergoyang bernyanyi riang
bersama kayuhan peluh ayah
perantauan demi setetes susu anaknya
menunggu dikampung halaman
kamu hanya menonton
drama kehidupan di teater-teater
kampung besar
dan berlalu untuk
beringsut kegedung
interplasi tak berfungsi

Tanjung Pasir 2007

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com