Langsung ke konten utama

9 Pertanyaan untuk Ayu Utami: Memberikan Pilihan bagi Perempuan

Grathia Pitaloka
http://jurnalnasional.com/

MENARIK, kata yang cukup singkat untuk menggambarkan seorang Yustina Ayu Utami. Dari tangan dinginnya, lahir novel Saman, Larung serta Kumpulan Esai Parasit Lajang. Lewat guratan penanya, Ayu mengubah tabu yang membelit kaumnya menjadi muntahan magma yang sarat dengan konvensi-konvensi budaya. Melalui perlawanan terhadap tabu ini, mereka meretas fenomena kekerasan tersamar terhadap perempuan, terutama dalam hal seks

Kehadiran tulisan-tulisan Ayu menjadi semacam oase bagi masyarakat yang "kepanasan" oleh etika Timur yang mencengkeram tetapi tak berani melawannya secara frontal. Ayu berhasil merepresentasikan seks sebagai eksistensi keperempuanannya, bukan sebagai komoditas masyarakat kapitalis semata. Berikut petikan obrolan santai Ayu dengan Jurnal Nasional di Goethe Haus, Jakarta, pertengahan April lalu.

1. Bagaimana cara Anda membuat tulisan yang menarik untuk dibaca?

Tergantung tujuan untuk apa tulisan itu nantinya. Ketika hendak menulis untuk masyarakat umum seperti di media massa, tulislah sesuatu hal yang penting sekali sehingga orang perlu tahu atau tulislah sesuatu yang kurang penting tapi itu menghibur dan membuat orang senang.

Dalam sebuah pelatihan saya pernah mengatakan, menulis itu tidak mudah. Terkadang orang terjebak dalam menentukan apa yang dianggap penting bagi orang lain. Kita sering merasa memiliki pengalaman menarik, tetapi kita juga harus bayangkan apakah orang lain juga tertarik untuk mengetahui hal itu. Jangan-jangan kita narsis.

Anggaplah menulis untuk media massa seperti berbicara, harus ada hubungan dua arah. Akan menyebalkan apabila kita berbicara dengan orang dan dia terus-menerus menuturkan tentang dirinya sendiri, tanpa mau mendengar apa yang ingin kamu sampaikan.

2. Apa prinsip itu juga Anda terapkan ketika menulis novel?

Tidak. Saat saya menulis novel saya tidak peduli pendapat orang atau pendapat pasar, karena memang bukan itu tujuannya. Menulis novel bagi saya bukan hanya sekadar pemaparan cerita, tetapi juga persoalan pergulatan bahasa dan pemikiran.

Novel bagi saya merupakan wadah eksperimen dari berbagai eksplorasi penulisan dan bahasa. Meski tidak mudah diterima oleh banyak orang, sastra memiliki peran penting dalam perkembangan kosa kata maupun bahasa.

3. Apakah Anda mewajibkan diri melakukan observasi sebelum menulis?

Pasti, seorang penulis tidak bisa hanya memperhatikan dirinya sendiri tapi dia juga harus tertarik memerhatikan dunia. Setiap hari saya memerhatikan tingkah laku orang lain. Setiap hari saya juga membaca koran untuk mencari ide.

Saya membuat kliping pemberitaan koran, sehingga jika sewaktu-waktu butuh untuk bahan tulisan saya sudah punya. Di perpustakaan rumah, selain buku saya juga terdapat file kabinet untuk kliping berita.

Selain itu, saya mewajibkan diri saya untuk membaca. Menurut saya 50 persen dari pekerjaan menulis adalah membaca. Malu kalau ada pengarang yang bilang kalau dia nggak suka baca.

Saya pernah menulis untuk rubrik bahasa di sebuah majalah ibu kota dan cukup diminati. Judul tulisannya Khasiat Peju Harimau, bercerita tentang singkatan-singkatan aneh di media massa. Ketika menulis essai tersebut saya cukup memerhatikan hal yang terpecah-pecah, kemudian merangkumnya secara jeli.

4. Apa seorang Ayu Utami pernah mati ide?

Pernah, terkadang seseorang butuh istirahat. Saat mati ide, biasanya saya suka naik gunung dan melakukan pengendapan di sana. Saya bisa naik gunung tiga kali dalam sebulan, bahkan jika cuaca cerah saya bisa naik hingga puncak. Ketika naik gunung itulah saya bermeditasi mencari ide. Saya bermeditasi di saat bekerja keras, saya nggak bisa yoga.

Untuk perempuan seusia saya, kondisi badan saya cukup baik. Untuk menjaganya saya menerapkan pola hidup sehat dengan makan dan tidur teratur serta tidak merokok. Dulu sewaktu Senayan belum kotor, saya suka jogging di sana. Tetapi, sejak Senayan terpolusi kendaraan bermotor saya lebih memilih naik gunung.

5. Tanggapan Anda tentang komentar-komentar miring tentang Anda?

Saya nggak pernah memikirkan pendapat orang. Karena hal yang bisa saya lakukan hanya tidak menghiraukannya, saya tidak dapat berbuat apa-apa lagi selain itu. Orang selalu punya pendapat tentang apa yang dia mau dan kita tidak bisa memaksakan itu.

Menurut saya ketika menulis jangan pernah takut dengan pendapat orang lain, karena ketika merasa takut berarti kamu kalah. Ketika kamu menulis untuk publik yang terpenting tulisan kamu dapat dimengerti. Namun, ketika kamu menulis untuk eksplorasi kesenian, persetan dengan pendapat orang.

6. Tulisan Anda sering dianggap vulgar?

Setiap penulis mempunyai agenda masing-masing. Agenda saya pribadi adalah membebaskan perempuan dari represi seksual. Perempuan dilarang memakai pakaian terbuka supaya tidak diperkosa, seolah laki-laki memiliki legalitas untuk memerkosa perempuan yang memakai pakaian terbuka. Padahal, jika dilihat dari angka statistik hampir tidak ada hubungan antara pakaian dan pemerkosaan. Banyak perempuan berpakaian sopan bahkan berjilbab menjadi korban pemerkosaan. Dari situ saya ingin menegaskan pada perempuan jika tubuh mereka adalah milik mereka sendiri, bukan milik laki-laki.

Belum lagi, permasalahan bahasa Indonesia yang tidak bebas dari represi. Ketika berobat ke dokter Anda akan ditanya, apakah sudah menikah atau belum. Padahal maksud pertanyaan tersebut apakah Anda sudah berhubungan seksual atau belum. Gawat ketika permasalahan bahasa sudah masuk ke dunia kedokteran, ditambah lagi akibatnya menyesatkan. Saya ingin bahasa Indonesia dapat digunakan untuk hal yang paling agung sampai ke yang paling kasar.

Saya tidak pernah takut disensor karena saya bisa mempertanggung jawabkan apa yang saya tulis. Saya malah takut hukum moralis mengenai orang-orang yang lemah seperti penari dangdut jalanan atau buruh perempuan. Menurut saya keberadaan peraturan seperti RUU Pornografi atau Perda Tangerang malah semakin melanggengkan pandangan patriarkal bahwa tubuh perempuan bukan miliknya sendiri, tapi milik laki-laki.

7. Mengenai penulis perempuan lain yang meniru gaya penulisan Anda?

Saya melihatnya sebagai sesuatu hal yang positif, semakin banyak perempuan yang menulis maka suaranya akan semakin didengar. Meniru merupakan sesuatu hal yang wajar dalam proses awal penulisan. Pengalaman akan memberikan warna berbeda pada setiap tulisan. Dalam hidup kita juga sering meniru ketika remaja, namun saat kita sudah matang kita akan menemukan diri sendiri. Meniru adalah proses yang sangat normal.

8. Apa makna penghargaan bagi Anda?

Setiap mendapat penghargaan pasti saya gunakan untuk mengatakan sesuatu yang saya anggap penting seperti masalah perempuan dan kajian jender. Seringkali suara perempuan tidak terdengar, nah di sanalah peran saya menyuarakan aspirasinya.

Ketika saya menulis buku, Parasit Lajang banyak yang mengucapkan terima kasih karena selama ini mereka single tapi nggak bisa menjawab pertanyaan kenapa?

Jika saat ini saya tidak menikah, karena saya ingin para perempuan melihat mereka punya pilihan. Pernikahan itu bagus, tetapi ketika menjadi nilai dominan jadi tidak bagus. Sikap saya kritis bukan anti. Menikah atau tidak saya rasa itu sebuah pilihan. Sayangnya masyarakat Indonesia kerapkali memandang rendah orang yang tidak menikah dan itu harus diubah.

9. Di satu sisi perempuan Indonesia menuntut kesetaraan di sisi lain meminta diutamakan, pendapat Anda?

Bagaimanapun perempuan itu nggak satu, perempuan banyak dan satu sama lain memiliki pandangan yang berbeda. Ada yang ingin jadi perkasa, tapi ada juga yang ingin dimanja. Menurut saya yang harus diperjuangkan adalah bagaimana memberikan pilihan sebanyak mungkin bagi perempuan, sehingga mereka tidak terikat.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com