Langsung ke konten utama

Budaya dan Mental Jawara

N. Syamsuddin CH. Haesy
http://jurnalnasional.com/

BUDAYA dan mental jawara adalah salah satu kunci sukses tim dalam memenangkan pertandingan. Pernyataan ini disampaikan pelatih, Mr. Qiwonkurusekali, saat memberikan briefing kepada seluruh pemain, usai latihan yang sangat melelahkan kemarin sore.

Mengutip pandangan Mondy (1993) dan Matsumoto (1996), Mr. Qiwonk mengatakan, budaya dan mental jawara, meliputi seperangkat sikap, nilai-nilai, keyakinan, dan perilaku yang dipegang oleh seluruh pemain, pelatih, dan manajemen klub. Mulai dari sikap percaya diri berbasis baik sangka, sportivitas, dan fairplay, nilai-nilai soliditas dan solidaritas (termasuk kemauan dan kemampuan berkontribusi terhadap tujuan dan sasaran tim dan klub), keyakinan untuk menang secara terhormat, sampai perilaku egaliter yang menunjukkan kesetaraan seluruh unsur dalam mencetak gol sebagai bukti kemenangan.

Manajer tim harus sungguh memainkan perannya sebagai manajer, tak hanya mengatur tim, melainkan juga melayani setiap unsur di dalam tim, agar seluruh proses latihan dan pertandingan berjalan lancar. Pelatih, bersungguh-sungguh memusatkan perhatiannya pada peningkatan skill pemain, dengan mengembangkan berbagai metode terbaik yang memungkin tercapainya kemenangan sebagai prestasi yang prestisius.

Pemain bersungguh-sungguh berlatih dan tanpa henti meningkatkan kualitas diri. Menguatkan komunikasi yang lebih karib dan terbuka. Dan seluruh unsur penunjang, memberikan support. Semua berkonsentrasi pada fungsinya masing-masing, dan kemudian mengembangkan kolaborasi dan sinergi yang saling menguatkan satu dengan lainnya.

“Bagaimana sikap kita menghadapi mereka yang masih terlena dengan jalan pikirannya sendiri yang tak berkembang?”, tanya Maing.

“Abaikan saja. Kita tidak boleh terhalang oleh urusan orang lain. Urusan kita adalah menjadi yang terbaik di dalam klub ini,” jawab Qiwonk.

“Ya, tapi sikap-sikap itu kan juga mengganggu…,” sambut Maing.

Mr. Qiwonk tersenyum. Lantas bilang, “Jawara tak pernah dipusingkan oleh hal-hal semacam itu. Hidupkan energi positif di dalam diri. Buktikan, bahwa kita pantas menjadi jawara, dan memang jawara.”

Seluruh pemain tertawa. Lalu mereka serempak berdiri, berteriak, mengekspresikan semangat baru. Semangat jawara. “Kita tak boleh besar di kandang sendiri. Kita harus besar di gelanggang, ketika mampu mencetak gol di gawang lawan,” lanjut Qiwonk, yang belakangan nampak letih.

Tonboringajasih, yang masih sakit dengkulnya, tak bisa berteriak. Karena sekali berteriak, rasa nyeri segera terasa di persendian dengkulnya. Ton suka dengan semangat yang terus membara di dalam diri teman-temannya, para pemain yang berada di garis depan untuk mengibarkan kejayaan klub.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com