Tong

Ramadhan Pohan
http://jurnalnasional.com/

INDONESIA sangat kaya peribahasa, kiasan. Kata-kata dan kalimat bijak daerah-daerah, sebagaimana produk-produk budaya yang juga tersebar, semua memperluas khasanah kebudayaan Nusantara. Semua daerah pasti punya kiasan dan peribahasa. Kita memahaminya setelah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Sebagian lain memang sudah ada dalam bahasa Melayu.

Dari peribahasa kita bisa mempelajari makna hidup. Karena, ia juga saripati pengalaman, perjalanan waktu dan kehidupan dari nenek moyang dulu yang diwariskan ke anak cucu cicit, dari generasi ke generasi. Peribahasa merupakan peringatan dini, sekaligus penanda dan aba-aba supaya kita awas. Tak terjebak dalam perangkap kepentingan sehingga hanya menjayakan diri sendiri sembari menistakan orang-orang lain. Mengabaikan orang lain sembari memuja-muji diri sendiri. Narsis.

Dalam kehidupan politik, lebih-lebih menjelang Pilegs dan Pilpres 2009, pelajaran dan peringatan peribahasa atau kiasan akhirnya makin relevan. Tong kosong nyaring bunyinya. Para politikus sering terjebak di situ. Ada politikus yang tahunya sedikit, tapi koar-koarnya mau menjangkau langit. Cuap-cuap. Seolah-olah dirinya yang paling pintar. Paling idealis. Paling merakyat. Tetapi ketika dikejar dan didalami dengan pertanyaan-pertanyaan, sang politikus pun gugup. Realitas kesehariannya bertabrakan dengan segala yang didengung-dengungkannya di mana-mana.

Senada dengan peribahasa di atas, ada juga kalimat bijak begini: Actions talk louder than words. Segudang teori dan omongan tak akan ada artinya jika hanya sebatas wacana dan pernyataan. Sedikit aksi dan tindakan jauh lebih bermakna dibandingkan sejuta kata-kata. Banyak politisi sesumbar dan tampak gagah ketika menegaskan loyalitasnya pada produk dalam negeri. Mengimbau ke mana-mana untuk penggunaan produk-produk dalam negeri. Mencintai produk anak bangsa sendiri.

Tetapi, apa artinya semua imbauan dan koar-koar itu jika jam, kemeja, celana, sepatu dan semua aksesoris tubuh, yang dikenakan made in asing melulu? Mobil-mobilnya lux dan serba luar biasa mahal semua. Rajin berlibur ke luar negeri sekadar belanja dan senang-senang, sedangkan daerah wisata negeri sendiri nyaris tak tersentuh dan tak pernah masuk dalam perencanaan liburan tahunannya.

Nah, ketika realitas dan perkataan bersenjang jauh ibarat bumi dan langit, ketahuanlah para politikus tadi hanya jago bersilat lidah, tetapi gagap dalam perilaku. Gembar-gembornya hanya kegagahan sebatas konsumsi media. Sehingga, bukan pujian dan simpati publik yang kemudian muncul, melainkan sinisme dan bahan lelucon. Coba buka milis-milis Tanah Air atau perbincangan orang Indonesia saat ini, seorang politikus nasional yang gembar-gembor tentang produk dalam negeri malah dikritik balik. Yang diungkapkannya bahkan ironis dengan realitas sekitarnya.

SBY dan Ibu Negara Ani SBY memberikan contoh terbaik. Mereka tak sekadar mengimbau penggunaan produk dalam negeri, tetapi langsung mempraktikkannya. Dalam setiap kunjungan ke daerah-daerah di sela-sela kunjungan kerja ke penjuru mana pun Nusantara, mereka tak jarang membeli kerajinan dan produk lokal. Keduanya memberikan teladan cara mengapresiasi produk-produk dan kekayaaan Nusantara. Barangkali yang dibelanjakan SBY dan Ibu Negara hanya puluhan ribu atau ratusan ribu rupiah, tetapi semua konkret.

Ada contoh lain yang lebih ekstrem. Seorang politikus yang berambisi menjadi Presiden, kendati modal dan integritasnya minus dan cekak, suka beriklan tentang kemiskinan. Orang miskin di ujung lautan ia ketahui dan seolah dipedulikan, tetapi yang hanya ratusan meter dari kediamannya malah dicuekin. Itu namanya polikus yang suka basa-basi. Mencla-mencle. Kemiskinan diiklankan, kok bukan malah membantu pemecahannya. Kuman di ujung samudera kelihatan, gajah di pelupuk mata malah tak tampak. Upppss!

Komentar