Izinkanlah Aku Membunuhmu

Handoko Adinugroho*
http://www.lampungpost.com/

"IZINKAN aku membunuhmu".

Tak ada yang tahu mengapa kalimat itu dilontarkan Olga. Perempuan jelita yang giginya berkawat. Hanya tiba-tiba saja kalimat itu terlontar. Kepada siapa pun lawan bicaranya.

Awalnya Olga hanya menyampaikannya kepada teman-teman dekatnya. Namun kian lama, hampir kepada setiap orang yang ditemuinya di jalan, ia melontarkan perkataan yang sama. Dan tanggapan mereka nyaris seragam: mengacuhkannya.

Mereka memang tak pernah yakin. Rasanya tak mungkin Olga mampu melakukannya. Perawakannya yang sangat ramping membuatnya bisa dengan mudah dirobohkan. Wajahnya yang jelita sangat jauh dari kesan sangar. Dari mana Olga mendapatkan kalimat itu, tak seorang pun tahu. Yang pasti, Olga seperti kecanduan mengucapkan kalimat itu. Bahkan kini tak hanya secara lisan ia lontarkan. Ponselnya telah menerbangkan kalimat itu lewat pesan pendek ke semua orang yang terekam di kartunya.

"Mengapa kamu ingin membunuh?" seseorang bertanya ketika Olga menemuinya di sebuah kantin.
"Karena aku memang ingin melakukannya."
"Jika mereka tak mau kau bunuh?"
"Aku akan memaksanya jika memang aku harus memaksanya. Meski sesungguhnya aku tak suka memaksa."
"Tidak ada orang yang rela begitu saja untuk kau bunuh."
"Ada. Orang-orang yang ingin mati tapi menghindari bunuh diri."
"Kamu sudah pernah melakukannya?"
"Belum. Tapi suatu saat nanti, aku pasti akan melakukannya. Nanti, jika saatnya sudah tiba."

Saat yang ditunggu-tunggu itu pun seperti berlalu begitu saja. Hingga ratusan hari sejak Olga pertama kali mengucapkannya, belum pernah ada orang yang mati di tangannya. Orang-orang masih lebih memilih cara lama untuk mati: Bunuh diri.

Hari kelimaratus, Olga mencopot kawat giginya. Ada yang aneh pada penampilannya. Mulut Olga tak lagi seperti mengunyah makanan saat bicara. Liurnya tidak lagi seperti terhalang untuk keluar. Ia pun makin lancar mengucapkan, "Izinkan aku membunuhmu."

Tanpa kawat gigi, Olga makin jelita. Hanya yang membedakan: kini ia jadi getol berkacamata. Rambutnya yang sebahu lebih sering ia kepang dua.

Orang boleh merasa aneh pada penampilannya. Namun Olga merasa tak ada yang berbeda pada dirinya.

"Kalau aku bilang kamu makin cantik, apakah kamu tetap ingin membunuhku?" seorang lelaki mencoba menggodanya.
"Kamu boleh bilang apa saja. Tapi jika aku ingin membunuhmu, aku akan melakukannya dengan suka cita."
"Bukankah aku sudah berbaik-baik padamu dengan memuji kecantikanmu?"
"Pujian bukan sesuatu yang bisa menghapus niatku. Pujian tidak selalu harus dibalas dengan pujian."
"Kamu memang sudah gila!"
"Seperti kubilang, kamu boleh ngomong apa saja. Tapi jika aku memang harus membunuhmu, aku akan dengan senang hati melakukannya."

Laki-laki yang mencoba menggodanya itu memilih menyingkir daripada perdebatan harus jadi berkepanjangan. Perdebatan yang tak akan pernah bertemu pada satu muara lantaran kedua sisinya saling bertolak belakang.

Olga tak pernah merasa bersalah atas sikapnya. Baginya, apa yang ia lakukan masih wajar. Membunuh juga bukan sesuatu yang tabu jika memang korbannya adalah orang yang benar-benar lebih suka dibunuh.

Olga sedang makan siang ketika seekor kupu-kupu menghampirinya. Hanya dengan sekali rengkuh, sayap kupu-kupu itu telah lumat. Olga memandangnya dengan puas.

Itu adalah hari kelimaratus enampuluh sejak ia kecanduan mengajukan keinginan membunuh. Dan kupu-kupu itu adalah korban pertamanya.

"Kamu telah berhasil melewati ujian pertama, Olga!" kata hatinya. "Kamu berhasil membunuh korban pertamamu."
"Tapi ini cuma seekor kupu-kupu?"

"Kupu-kupu atau bukan hanya masalah objek belaka. Tidak penting. Yang jauh lebih penting adalah kamu sudah berhasil membunuh. Tak ada langkah yang langsung lebar. Semua berawal dari sejengkal."

"Dan ini anak tangga pertama yang telah aku lalui?"
"Benar. Dan anak tangga-anak tangga di atasnya sudah menanti untuk kau langkahi."

Olga tersenyum. Puas. Penuh kemenangan. Ia semakin tak sabar menanti korban selanjutnya. Namun ia tak pernah mengangankan, makhluk apa lagi yang akan menjadi korbannya. Pernah ia berencana membunuh anak kucing di rumahnya. Namun semakin ia rencanakan, semakin gagal ia melakukannya. Kucing itu semakin jauh dari jangkauannya. Karenanya, ia urungkan saja niat itu. Sejak saat itu, ia menganggap rencana hanya akan membebani langkahnya. Rencana hanya akan membelenggu jalannya. Ia lebih suka berguru pada kata hatinya. Manakala hati kecilnya tergerak saat itulah ia melakukannya. Seperti saat ia melumat kupu-kupu dalam genggamannya, meski sesungguhnya ia pun agak kecewa lantaran tak sempat mengucapkan kalimat saktinya: "Izinkan aku membunuhmu."

Olga berjanji, kealpaan itu hanya patut terjadi sekali. Tak layak kesalahan yang serupa terjadi dua kali. Maka, ketika lagi-lagi hati kecilnya tergerak untuk segera menginjak kecoa yang tiba-tiba nyelonong di kakinya, ia pun buru-buru berucap, "Izinkan aku membunuhmu." Dan dengan sekali injak kecoa itu telah berubah bentuk.

Olga lega. Ia telah sempurna menuntaskan hajatnya hanya pada latihan kedua. Dan kepada korban-korban selanjutnya, bahkan Olga menyebut nama calon korbannya saat hendak menghabisi nyawanya. Seperti pembunuh berdarah dingin, Olga berlatih keterampilannya dengan membunuh beragam serangga.

Sudah sembilanratus sembilanpuluh sembilan korban tandas dalam keperkasaan tangan Olga. Kini ia menunggu korban keseribu. Ia menunggu hati kecilnya memberi perintah. Tak seperti biasanya ia merasa gelisah. Tak seperti biasanya hati kecilnya mengulur-ulur waktu. Padahal lazimnya, seperti tanpa rencana, tiba-tiba saja ia tergerak untuk melakukan pembunuhan. Dan bisikan itu muncul dari balik hatinya yang paling dalam. Bisikan yang dalam sehari kadang bisa muncul lebih dari lima kali.

Tapi entah mengapa kali ini tidak. Berhari-hari ia menunggu, bisikan dan perintah itu tak kunjung muncul. Semakin mencoba mendengar kata hatinya, Olga semakin mendapatkan kesenyapan. Hati kecilnya seperti benar-benar telah mati. Ia jadi seonggok daging yang menggantung di bawah rongga dadanya dan sewaktu-waktu bisa saja membusuk. Tak ubahnya hati sapi yang digantung pedagang daging di pasar-pasar tradisional yang selalu kumuh.

Olga sangat menyesalinya. Mengapa hati kecilnya yang semula perkasa tiba-tiba saja runtuh dalam kelumpuhan yang nyaris sempurna? Haruskah ia berhenti memuja hati kecilnya sendiri?

Tidak. Olga merasa ia masih harus bersabar. Korban keseribu tentu korban yang sangat istimewa. Korban terakhir yang harus ia tuntaskan sebelum mencapai anak tangga paling tinggi. Dan kesebaran tak pernah berbatas. Olga sangat meyakininya.

Kesabarannya berbuah ketika menjelang tengah hari Olga merasa hati kecilnya kembali berdenyut. Olga tersenyum. Sangat bahagia. Ia merasa hatinya bergerak-gerak seperti janin di dalam rahim. Kadang bergerak kencang, kadang pelan. Penantian Olga tinggal berbilang detik lagi. Tepat tengah hari, hati kecilnya mulai bersuara.

"Kamu sudah menunggu lama, Olga."
"Tentu saja. Mengapa kamu tak kunjung datang?"
"Tidak mudah untuk menentukan korban istimewa, Olga. Korban keseribu bukan korban sembarangan. Ia harus bermakna."
"Tidak jadi soal. Aku sudah kebelet menuntaskan latihan ini."
"Kamu sudah siap?"
"Sudah berhari-hari yang lalu aku siap. Katakan saja siapa yang harus aku bunuh sekarang?"
"Bunuhlah bayanganmu."
"Bayanganku? Bagaimana mungkin? Caranya? Ini mustahil. Kamu mengada-ada. Kamu tidak seperti biasanya."
"Tidak ada yang mustahil. Bukankah sudah kubilang, korban keseribu haruslah istimewa dan bermakna?"
"Benar. Tapi caranya?"

Tak ada lagi suara. Hati kecilnya kembali membisu. Olga meruntukinya. Bagaimana mungkin orang bisa membunuh bayangannya sendiri? Ini bukan dunia absurd. Ini realitas. Ia tidak sedang berada di alam surealis yang memungkinkan segalanya terjadi meski bertolak belakang dengan logika.

Tapi perintah tetaplah perintah. Olga tak ingin perjalanan panjangnya harus berhenti justru pada anak tangga terakhir. Ia ingin sempurna. Memalukan dan naif jika kandas pada detik-detik yang sangat menentukan. Apalagi kandas lantaran kebebalannya sendiri. Olga tak mau mengalaminya. Maka dengan berbagai cara ia berusaha menjalankan perintah terakhir hati kecilnya.

"Izinkanlah aku membunuhmu, bayanganku!"

Lantas Olga mencoba menginjak bayangannya dengan kaki keras-keras, namun bayangan itu masih bertengger perkasa. Ia coba hantam dengan batu, tetap tak goyah. Ia coba pukul dengan tangan kosong berkali-kali, justru tangannya yang lantas melebam. Ketika menemukan sebilah bambu, Olga merasa itulah piranti paling tepat untuk menghabisi bayangannya. Pelan tapi pasti Olga menghujamkan bilahan bambu itu tepat ke ulu hati. Benar saja. Seketika bayangan itu tak lagi bergerak. Bayangan itu sekarat. Mulutnya menganga.

Olga tersenyum puas. Tugas terakhirnya tuntas sudah.

Selang satu jam kemudian, lalat berkerumun, berdengung, dan berpesta di taman kota. Mereka merubung sesosok mayat perempuan yang tergeletak dengan sebilah bambu tertancap tepat di ulu hatinya. ***

-------------
*) Cerpenis lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, 20 Desember 1967

Komentar