Langsung ke konten utama

MENULIS NOVEL, MENCIPTAKAN DUNIA*

Maman S. Mahayana**
http://mahayana-mahadewa.com/

Bagaimanakah caranya menjadi seorang pengarang atau lebih khusus lagi, menjadi cerpenis, novelis? Dapatkah seseorang menjadi cerpenis, novelis atau sastrawan besar? Syarat apa saja yang harus dipenuhi agar dapat mencapai cita-cita tersebut? Siapa pun sesungguhnya dapat menjadi penulis atau pengarang –termasuk di dalamnya cerpenis atau novelis. Cara mencapai tujuan itu, juga bergantung kita sendiri. Tidak perlu modal atau biaya yang besar. Tak perlu juga berpikir tentang bakat. Seseorang yang menjadi pengarang sama sekali tak ditentukan oleh bakat.

Anggapan masyarakat bahwa seseorang hanya bisa menjadi pengarang jika ia mempunyai bakat atau talenta besar sebagai pengarang, sama sekali tidaklah benar. Pandangan itu, harus ditolak dan dijebloskan ke kuburan, karena selain salah, juga berbahaya. Salah, karena memang mengarang adalah kegiatan keterampilan. Sebagai kegiatan keterampilan, berhasil tidaknya seseorang menjadi pengarang sepenuhnya sangat bergantung pada proses latihan mengarang yang terus-menerus berkelanjutan.

Problemnya adalah bahwa keterampilan itu, tidak bersifat fisikal. Ia berkaitan erat dengan penalaran, logika, dan cara berpikir tekstual. Di sana masih diperlukan juga bahan lain: imajinasi dan wawasan pengetahuan. Karena mengarang tak bersifat fisikal itu, maka masyarakat kebanyakan tidak memahami fungsi, peranan, dan profesi pengarang. Tak memahami dunia kepengarangan. Profesi pengarang diperlakukan sebagai pekerjaan yang tidak jelas, tak punya kantor, tidak punya penghasilan tetap dengan masa depan mencemaskan. Itulah pandangan masyarakat awam yang tidak terpelajar dan kurang berbudaya. Mereka melihat sosok pengarang dari segi luarnya, dan bukan dari peranannya dalam berkebudayaan. Dari sudut profesi, mengarang adalah pekerjaan mandiri yang dapat dijalankan seumur hidup. Seorang pengarang baru berhenti menulis dan pensiun dari profesinya itu ketika ia tak dapat berpikir lagi.

Pandangan bahwa mengarang harus didukung oleh bakat, juga berbahaya, karena menyesatkan dan dapat berdampak buruk. Bayangkan, jika seorang guru menyampaikan pandangan yang keliru ini kepada murid-muridnya, maka sekian banyak murid yang bercita-cita atau ingin menjadi pengarang, akan segera mengurungkan cita-cita dan keinginannya itu, hanya karena ia merasa tak mempunyai bakat sebagai pengarang. Apalagi jika dikaitkan dengan soal asal-usul dan keturunan darah. Lantaran ayah-ibu dan terus sampai kakek-buyut, tak ada yang jadi pengarang, muncullah anggapan, bahwa generasi berikutnya pastilah tak ada yang bakal menjadi pengarang karena dari sononya tidak ada yang menjadi pengarang. Dengan demikian, pandangan itu secara langsung telah membunuh cita-cita dan harapan seseorang untuk menjadi pengarang. Sebuah pandangan yang kejam dan berbahaya.

Keterampilan dan Semangat
Mengarang atau menulis esei, cerpen, novel atau apa pun adalah kegiatan keterampilan. Sebagai kegiatan keterampilan, mengarang dapatlah dianalogikan dengan berenang. Seseorang hanya mungkin dapat berenang, jika ia berlatih berenang di dalam kolam, di tengah arus deras sungai, dalam dinginnya danau atau dalam hempasan gelombang laut. Ia harus menceburkan diri ke dalam air kolam, berkelak-kelok mengikuti aliran sungai, menyelam ke kedalaman danau atau menentang deras gelombang laut, jika memang ia ingin mahir berenang. Tanpa itu, mustahillah ia akan dapat berenang. Jadi, belajar mengarang tidak seperti belajar berenang di dalam kelas. Siapa pun yang belajar berenang di dalam kelas, hanya akan pandai dan mungkin juga menguasai teori berenang. Tetapi, sampai kapan pun mustahil ia bisa berenang, meski mungkin saja teori-teori tentang itu sudah dikuasai di luar kepala.

Belajar mengarang pada hakikatnya tidak berbeda dengan belajar naik sepeda atau menyetir. Pada awalnya, mungkin saja ia jatuh-bangun dan menyerempet atau bahkan menabrak sana-sini. Tak apa-apa. Tetapi, lama-kelamaan, jika setiap hari ia terus berlatih, maka niscaya ia akan mahir dengan sendirinya. Ia akan terampil.

Lalu, apa syaratnya agar seseorang dapat mengarang, dapat piawai menulis cerpen dan di kemudian hari menjadi sastrawan terkenal?

Menjadi seorang pengarang, penulis, cerpenis atau sastrawan, tidaklah sepenuhnya berkaitannya dengan bakat. Modal seseorang jika ingin mengarang dan menjadi pengarang terkenal hanya satu: latihan yang tiada henti. Berlatih, berlatih, dan berlatih! Jika itu terus dilakukan, niscaya ia akan mahir mempermainkan kata-kata, piawai merangkaikannya dalam deretan-deretan kalimat, cerdas dalam menyuguhkan pesan yang terkandung dalam karangan yang bersangkutan, dan yang lebih penting lagi, mengetahui, memahami, dan menguasai logika dan penalaran teks (berpikir dengan logika tulisan). Dengan begitu, belajar mengarang sangat bergantung pada kemauan, tekad, kesungguhan, dan kesabaran. Tanpa itu, meski ia berguru pada sastrawan terkenal dan telah membayarnya dengan sangat mahal, ia tetap saja akan menyimpan cita-citanya itu di dalam laci meja atau dalam lemari besi atau sekadar tercatat dalam buku-buku teori. Jadi, tekad, kemauan, kesungguhan, dan kesabaran, merupakan modal yang lebih penting dari apa pun. Semangat itu haruslah tumbuh dari diri sendiri. Pihak lain sekadar stimulan atau pemicu semangat belaka.

Membaca sebagai Saudara Kembar Mengarang
Selain modal semangat, belajar mengarang menuntut seseorang untuk membaca karya-karya orang lain. Artinya, mengarang itu sesungguhnya bersaudara kembar dengan membaca. Hanya melalui bacaan itulah, seseorang dapat mempelajari gaya, ungkapan, style, atau nada yang ditampilkan penulis lain dalam karangannya itu. Dalam proses belajar, kita bolehlah meniru atau mengambil model yang pernah ditulis orang. Cara ini lama-kelamaan akan membentuk gaya kepengarangan sendiri. Dalam proses belajar mengarang, seseorang dituntut pula terus-menerus membaca.

Perhatikan beberapa kutipan berikut ini:

Dalam sebuah perang besar-besaran yang tidak sempat dicatat oleh sejarah seorang prajurit berpangkat paling rendah dengan tidak diduga tiba-tiba mendapat panggilan dari jenderal peperangan yang tertinggi. Tergopoh-gopoh prajurit itu menemui jenderal yang selama hidupnya belum pernah dilihat tapi sudah sering didengar nama dan keistimewaannya melalui cerita dari mulut ke mulut dan kuping ke kuping. Dan sebagaimana layaknya seorang bawahan yang paling rendah bertemu dengan seorang atasan yang paling tinggi dan sangat dihormati dan dikagumi maka prajurit itupun memberi hormat yang berlebih-lebihan sehingga untuk sekilas jenderal tertinggi yang terlalu sering menerima sanjungan itu merasa kurang senang.
(Budi Darma, “Secarik Surat” dalam Ajip Rosidi (Ed.), Laut Biru Langit Biru, Jakarta: Pustaka Jaya, 1977, hlm. 388)

Seorang wanita yang tak bisa diduga umurnya, terbangun waktu subuh untuk menulis sebuah surat kepada suaminya. Dengan pakaian tidur yang kusut ia duduk di depan meja tulis suaminya yang telah setahun pergi ke luar negeri. Mukanya lonjong seperti kuaci dan berwarna pucat. Ia sangat cantik dan merangsang. Tetapi duka yang menggoresi wajahnya telah merampoknya menjadi seorang pemurung yang membosankan. Ia tampak malang dan berkesal diri. Memendam nafsu, kekecewaan dan sepi yang telah tersulap menjadi benci. (Putu Wijaya, “Ini Sebuah Surat” dalam Ajip Rosidi (Ed.), Laut Biru Langit Biru, Jakarta: Pustaka Jaya, 1977, hlm. 595)

Pada gerimis menjelang subuh; mayat seorang perempuan terlempar dari dalam kereta. Depan gardu, Kamin penjaga palang menyeretnya, meletakkan di tepi. Wajah perempuan itu cantik. Gelombang rambut memburai, remang di atas bahu menggelincir licin dan terbuka. Putih. Bibir pahatan—garis hidung, mata. Utuh. Kesuburan padang-padang mimpi di atas sabana pada lekuk yang jauh. Kamin mematung. Jelita pucat sepasang tangan terkulai, amat lembut. Betapa indah. Lamat kehalusan neon menyingkapkan rekah basah kesahduan gadis amat matang: “Ia sudah mati…” Kamin memanggil Husni. Inilah kisahnya: (Joni Ariadinata, “Kali Mati” dalam Kali Mati, Yogyakarta: Bentang Budaya, 1999, hlm. 38).

Dua pasang kaki menyusuri jalan berkerikil yang sepi. Sesepi hati yang luka. Langkah-langkah pun resah. Di langit, di balik pohon-pohon akasia, bulan ikut temaram. Kabut tipis menutupi. (Maroeli Simbolon, “Embun di atas Batu” dalam Cinta? Tai Kucing! Yogyakarta: Jalasutra, 2003, hlm. 53)

Dari kutipan-kutipan di atas, kita dapat mencermati bahwa masing-masing pengarang mempunyai gaya (style) sendiri. Dengan banyak membaca karya orang lain, kita akan memperoleh, tidak hanya keberagaman tema, tetapi juga keunikan gaya penulisan. Pada tahap awal kita belajar mengarang, menulis novel atau cerpen, gaya itu boleh kita tiru sedikit-sedikit. Lama-kelamaan, sejalan dengan proses belajar yang terus-menerus, kita akan menghasilkan gaya sendiri yang akan berbeda dengan gaya para pengarang yang sebelumnya kita tiru itu.

Dari dua kutipan yang ditempatkan di awal, kita juga dapat melihat bahwa masalah yang sama (surat) dapat menghasilkan tema dan peristiwa yang berbeda, jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Artinya, kita dapat mengangkat tema atau peristiwa apa saja yang ada di sekitar kita. Pengarang tidak harus selalu terpaku pada tema besar. Tema biasa dengan penggarapan yang matang niscaya akan menghasilkan peristiwa luar biasa. Sebaliknya, tema besar yang digarap secara tidak matang, justru akan menghasilkan peristiwa yang sebaliknya. Maka, menulis apa pun hendaknya tak terlalu menggantungkan diri pada persoalan tema. Sebuah cerpen karya John Steinbeck yang bercerita tentang seekor kura-kura, misalnya, boleh dikatakan menawarkan sebuah tema yang sederhana, bukan tema besar yang menyangkut nasib sebuah bangsa. Sebuah tema yang tentu saja tidak penting. Tetapi, mengingat penggarapannya yang memikat, ia menjadi sebuah karya yang begitu khas dan menawarkan estetika tersendiri.

Perhatikan kutipan berikut ini:
Matahari menyirami rumput dan memanaskannya, dan dalam bayang-bayang di bawah rumput, serangga-serangga bergerak, semut serta kinjeng-kinjeng pemakan semut memasang jerat untuk mereka, belalang-belalang melompat-lompat ke udara dan mengebas sayap mereka yang kuning sekejap, lipas-lipas seperti armadillos kecil menyusup-nyusup dengan kakinya yang lembut banyak sekali. Dan di atas rumput di pinggir jalan, seekor kura-kura darat merangkak-rangkak, membalik ke sebelah tanpa tujuan, menggeret rumahnya yang tinggi seperti kubah melalui rumput. Kaki-kakinya yang keras dan telapak-telapaknya berkuku kuning dengan perlahan-lahan menapak di atas rumput, tidak sesungguhnya berjalan, tapi mengangkat dan menghela rumahnya. (John Steinbeck, “Sang Kura-Kura” terj. A. Widyamartaya, hlm. 56—57. Fragmen cerpen ini dimuat dalam Korrie Layun Rampan, Tokoh-Tokoh Cerita Pendek Dunia, Jakarta: Grasindo, 2005, 183—188).

Demikian, di dalam proses belajar mengarang, kegiatan membaca dan membaca, penting artinya untuk meluaskan wawasan kita tentang keberagaman tema dan gaya bercerita. Membaca harus ditempatkan sebagai kegiatan rutin yang akan memperkaya rohani dan pandangan kita tentang dunia, tentang manusia.

Mengarang vs Berbicara
Mengarang tidak sama dengan berbicara. Dalam berbicara, yang dihadapi pembicara adalah pendengar, dan pendengar akan mencermati serangkaian ujaran langsung. Jika pendengar kurang jelas memahami apa yang disampaikan pembicara, ia dapat langsung bertanya. Dengan demikian, pembicara bisa langsung menjelaskan lebih lanjut apa yang dimaksud oleh ujarannya tadi. Maka, kesalahpahaman dalam hubungan antara pembicara dan pembaca, relatif dapat dihindarkan. Sebagai contoh, perhatikanlah kalimat ini:
Menurut cerita sekretaris dokter pribadi direktur perusahaan itu pergi ke Solo.

Pertanyaannya: siapakah yang pergi ke Solo; sekretaris, dokter pribadi, atau direktur perusahaan itu? Dalam bahasa lisan, kalimat ini tentulah ditandai dengan intonasi atau tekanan tinggi rendah suara dan perhentian pada kata tertentu agar pesan yang disampaikan kalimat itu dapat ditangkap dan dipahami pendengar. Begitulah, banyak kasus sejenis yang dapat dengan mudah kita jumpai dalam teks-teks tertulis. Masalah seperti itu sesungguhnya tidak perlu terjadi, jika si penulis menyadari bahwa ia berhubungan dengan pembaca melalui teks. Ia tidak bersemuka secara langsung dan penulis tidak mengetahui, pembacanya itu entah berada di mana, dalam suasana apa, dan dalam keadaan yang bagaimana. Perhatikan contoh berikut ini.
“Jadi, barang ini milikmu?” tanya pedagang sayur itu sambil menatap tajam wajah tukang beca langganannya, “Dari mana kau dapatkan barang mahal ini?” tanyanya lagi.

Jika kalimat di atas merupakan bahasa lisan, maka kata barang ini dan barang mahal ini, tentulah tidak akan menjadi persoalan karena si pendengar atau si lawan bicara itu melihat acuan yang dimaksud dengan barang ini dan barang mahal ini. Tetapi ketika ia menjadi bahasa tulis, kata barang ini dan barang mahal ini, harus dinyatakan pula acuannya. Tanpa itu, pembaca tetap tak akan dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan barang ini dan barang mahal ini. Dengan begitu, ketika kalimat itu menjadi bahasa tulis, kalimatnya mesti berbunyi sebagai berikut:
“Jadi, barang ini milikmu?” tanya pedagang sayur itu sambil menatap tajam wajah tukang beca langganannya, “Dari mana kau dapatkan barang mahal ini?” tanyanya lagi. Ia tak percaya, kalung emas seberat 20 gram dengan bandulnya yang berhiaskan berlian sebesar biji jagung itu, kepunyaan si tukang beca.

Sesungguhnya begitu banyak contoh kasus yang dapat kita kemukakan di sini, betapa kelalaian yang tak perlu yang terjadi dalam bahasa tulis, bisa menciptakan kesalahpahaman yang pada akhirnya bisa pula menghancurkan bangunan teks secara keseluruhan. Demikianlah, ketika bahasa lisan memasuki wilayah bahasa tulis, dan tak ada usaha untuk mengubahsuai berdasarkan konvensi bahasa tulis, di sanalah kita akan menjumpai sejumlah kesalahan yang tak perlu, kesalahan elementer yang bisa berakibat fatal bagi keseluruhan bangunan teks itu.

Belajar Mengarang, Belajar Berpikir Tertib
Apa manfaat seseorang belajar mengarang? Sesungguhnya, belajar mengarang akan mendatangkan manfaat yang luar biasa. Yang secara langsung akan dirasakan seseorang jika ia belajar mengarang adalah membiasakan berpikir –dan berbicara— secara teratur, runtut, dan sistematik. Belajar mengarang pada hakikatnya adalah belajar berpikir teratur.

Coba saja kita membuat sebuah kalimat. Maka, urutan kata-kata yang membangun kalimat yang bersangkutan haruslah tertata secara teratur. Tanpa keteraturan, kalimat itu akan berantakan. Itulah bedanya mengarang dengan berbicara. Jika berbicara kita langsung berhadapan dengan pendengar, maka mengarang, kita tidak berhadapan langsung dengan pembaca. Komunikasi antara pengarang dan pembaca dihubungkan melalui teks. Oleh sebab itu, belajar mengarang melatih seseorang melakukan berbagai pertimbangan ketika sebuah kata, kalimat, atau serangkaian kalimat hendak disampaikan dalam wacana tertulis.

Bagaimanapun, setiap kata mengandung lebih dari satu makna ketika ia disandingkan dengan kata lain dalam konteks kalimat. Di situlah logika dan penalaran kemudian bermain untuk menyampaikan pesan tertentu. Ketika penempatan kata dalam sebuah kalimat melanggar logika dan penalaran, ketika itulah bangunan kalimat bisa seketika berantakan. Yang muncul kemudian adalah kesalahpahaman, multitafsir, bahkan juga tulalit.

Kata sebagai Bahan Dasar, Kalimat sebagai Fondasi
Setiap karangan apa pun sesungguhnya bermula dari kata. Bahan dasarnya adalah kata. Ketika kata dirangkaikan dan diperlakukan sebagai kalimat, maka ia sudah memulai membuat atau menyusun sebuha fondasi. Seperti juga membuat rumah, jika bahannya bagus dan fondasinya kuat, maka rumah itu pun akan tampak kokoh—kuat. Mengarang –dalam hal ini menulis novel atau cerpen, akan terasa begitu hidup ketika kata-kata itu jadi fondasi yang kokoh—kuat itu. Contoh berikut sebagai ajang melatih pengembangan kalimat sederhana menjadi kalimat kompleks: (1) Lelaki itu selalu mengingat anaknya.

Kalimat ini dapat diperluas menjadi (2) Lelaki itu selalu saja mengingat anaknya yang gugur dalam aksi demonstrasi, atau lebih panjang lagi: (3) Lelaki itu selalu saja mengingat anaknya yang gugur dalam aksi demonstrasi menentang pemerintahan otoriter. Jika hendak diperpanjang lagi, kalimatnya bisa saja seperti ini: (4) Lelaki itu selalu saja mengingat anaknya yang gugur dalam aksi demonstrasi menentang pemerintahan otoriter ketika gerakan reformasi melanda negeri ini. Urutan atau posisi kalimat ini dapat diubah sedemikian rupa, tanpa mengubah maknanya, seperti misalnya menjadi kalimat ini: (5) Kepada anaknya yang gugur dalam aksi demonstrasi menentang pemerintahan otoriter, lelaki itu selalu saja mengingatnya. Atau dapat juga dengan menggunakan kata yang bersinonim, sehingga kalimatnya seperti ini: (5a) Lelaki itu tidak dapat melupakan anaknya yang gugur dalam aksi demonstrasi menentang pemerintahan otoriter. Atau dapat juga dijadikan dua kalimat: (5b) Lelaki itu selalu saja mengingat anaknya. Buah hatinya itu gugur dalam aksi demonstrasi menentang pemerintahan otoriter. (5c) Anaknya gugur dalam aksi demonstrasi menentang pemerintahan otoriter. Itulah peristiwa yang tak dapat dilupakan lelaki itu.

Beberapa kalimat itu sekadar contoh, betapa seseorang yang terbiasa menulis atau mengarang, akan dengan mudah mengutak-atik kata-kata dalam sebuah rangkaian kalimat. Jika ingin menampilkan suasana yang terjadi dalam peristiwa itu, tentu saja kita tinggal menambahkan bagaimana peristiwa itu terjadi. Perhatikan contoh di bawah ini.
Aksi demonstrasi tak dapat dibendung. Iring-iringan massa dan gerakan mahasiswa terus menggelorakan perlawanan terhadap tindakan otoriter penguasa. Di bawah Jembatan Semanggi, lautan manusia yang bergerak menuju gedung DPR/MPR, seperti menghadapi tembok besi. Aparat keamanan, berjejer membentuk barikade. Dan untuk sementara, menghentikan gerak maju para demonstran. Di belakang pasukan yang bersenjata lengkap itu, sejumlah tank seperti siap menggilas siapa pun yang mencoba mendekati gedung wakil rakyat itu. Sementara mobil-mobil pemadam kebakaran, masih menyisakan raungan sirenenya dan sewaktu-waktu siap pula memuntahkan air dari moncong slang berukuran raksasa.
Dalam suasana tegang itulah, tiba-tiba, entah dari mana asalnya, terdengar suara mendesing. Tembakan peluru karet seperti hujan. Berseliweran, ditingkahi jerit kesakitan dan teriakan-teriakan kemarahan. Beberapa orang tampak tersungkur. Serempak terjadi kekacauan. Hingar-bingar. Blingsatan. Berantakan.
“Tolong… tolong… anakku tertembak!” seseorang tampak menyeret sosok tubuh yang berlumuran darah. Tampaknya korban seperti sedang sekarat. Tubuh yang berlumuran darah itu, mengejang, meregang kesakitan, dan mendadak diam. Mati!
Itulah peristiwa tragis yang tak dapat dilupakan lelaki itu. Ia melihat sendiri, bagaimana anaknya dihantam peluru, bersimbah darah, dan akhirnya meregang nyawa di pangkuannya sendiri.
Gerimis tiba-tiba meringis. Alam seperti ikut menangis.

Mengarang Cerpen dan Novel
Prosa atau yang disebut sebagai cerita rekaan, hakikatnya adalah cerita (narasi). Meskipun demikian, tidak tertutup kemungkinan adanya cerita rekaan yang mungkin saja tidak memerlukan narasi, tetapi disampaikan dalam bentuk dialog tokoh-tokohnya. Cerpen “Seribu Kunang-Kunang di Manhattan” karya Umar Kayam, misalnya, nyaris sama sekali tidak ada narasi. Cerpen itu hampir seluruhnya dibangun melalui dialog. Tetapi, dari dialog antartokohnya, kita dapat menarik sebuah narasi mengenai semua unsur cerpen tersebut. Jadi, dialog itu tidak sekadar obrolan tanya-jawab yang tak bermakna. Ia harus mengungkapkan kegelisahan si tokoh, latar yang terjadi ketika itu, dan berbagai hal yang ikut mendukung unsur-unsur dalam keseluruhan karya itu.

Hakikat narasi itu diberlakukan pada prosa semata-mata lebih disebabkan ciri umum yang dimiliki oleh hampir semua karya sastra yang berbentuk prosa. Dalam hal tersebut, ciri-ciri umum itu lalu dianggap sebagai hal yang mendasari keberadaan prosa bersangkutan. Jadi, dengan tetap membuka berbagai kemungkinan adanya pembaruan, pada saat ini, kita terpaksa menempatkan narasi sebagai hakikat prosa.

Mengingat hakikat prosa adalah narasi (cerita), maka di dalamnya ada pelaku cerita (tokoh), rangkaian cerita (alur), pokok masalah yang diceritakan (tema), siapa yang menyampaikan cerita (pencerita), dan tempat, kapan dan dalam suasana bagaimana cerita berlangsung (latar). Itulah yang kemudian kita sebut sebagai unsur-unsur intrinsik prosa atau yang secara umum disebut cerita rekaan.

Berdasarkan panjang-pendeknya, cerita rekaan dapat pula dibagi ke dalam tiga jenis, yaitu cerita panjang (cerpan), cerita menengah (cermen), dan cerita pendek (cerpen). Cerpan yang biasa kita sebut novel, lazimnya mengungkapkan unsur-unsurnya secara mendalam. Oleh karena itu, perkembangan tokoh, pengungkapan tema, dan uraian mengenai keadaan latar ceritanya, berjalan bertahap, bahkan tak jarang amat rinci dan jelas. Cermen atau disebut juga novelet, betapapun ada usaha mengungkapkan unsur-unsurnya secara mendalam, penyelesaiannya acap kali lebih langsung. Akibatnya, pengembangan ceritanya tidak lebih panjang daripada novel. Adapun cerpen karena pendek, pengungkapan unsur-unsurnya lebih padat, ringkas, dan langsung. Konflik langsung dihadirkan pada tokohnya, dan memaksanya segera berhadapan dengan penyelesaian. Itulah sebabnya,cerpen lebih ringkas dan padat.

Cerita Pendek (Cerpen) –sebagaimana tersurat pada makna kata itu— adalah cerita yang disajikan dalam kisahan yang pendek dan ringkas, meskipun panjang-pendeknya sangat relatif. Kata pendek di situ, tidaklah berarti semua yang disajikan dalam bentuk yang pendek, ringkas dan padat itu dapat disebut cerpen. Anekdot, esai atau artikel yang menggunakan bentuk narasi, tuntunan atau petunjuk mengenai sesuatu, sketsa, lelucon, dan fragmen, misalnya, juga disajikan dalam bentuk pendek, ringkas, dan padat. Namun, tentu saja kita tidak dapat menyebutnya sebagai cerpen. Ada syarat tertentu yang secara konvensional menjadi ciri sebuah narasi disebut cerpen. Dengan demikian, menulis cerpen hendaknya tidak semata-mata didasarkan pada persoalan panjang-pendek narasi dan besar-kecil lingkup masalah, tetapi juga atas pertimbangan kepadatan, kelugasan, kehematan, dan kedalaman yang tersimpan dalam kisahan yang pendek itu. Peristiwa yang tampak sepele, misalnya, mungkin saja menjadi cerpen yang baik jika dikemas secara menawan. Untuk sampai pada kisah yang menawan itu, pertimbangan kepadatan, kelugasan, kehematan, dan kedalaman itulah yang menjadi syarat yang mutlak dipenuhi.

Mengapa harus padat? Kepadatan memaksa penulis cerpen membuang peristiwa yang tak penting dan menyingkirkan narasi yang tak berhubungan langsung dengan tema yang hendak diangkat. Dialog-dialog remeh-temeh yang tak mendukung unsur intrinsik, sebaiknya dihindarkan. Bagaimana kita dapat mengukur kepadatan sebuah cerpen? Sesungguhnya itu soal yang mudah dan tak memerlukan pengetahuan teoretis asalkan kita membacanya dengan mata elang. Baca saja sebuah cerpen dan cermati isinya. Jika masih ada bagian-bagian yang dapat dihilangkan dalam rangkaian narasi itu, maka cerpen itu masih belum padat. Sebaliknya, jika kita coba menghilangkan satu alinea, kalimat, atau bahkan satu kata, lalu mendadak ada bagian yang tak nyambung dan kita sulit memahami rangkaian peristiwa dalam cerpen itu secara keseluruhan, maka boleh dikatakan, cerpen itu telah sangat padat.

Selain kepadatan, kelugasan (to the point) juga harus diperhatikan. Kelugasan menuntut narasi bergerak hanya pada titik tertentu, baik menyangkut tokoh, maupun tema yang hendak diangkat. Jadi, penulis cerpen sejak awal mesti menggiring pembaca pada satu titik persoalan tertentu. Ia seyogianya tak tergoda mengungkapkan hal lain yang tidak berhubungan dengan tema cerita. Jadi, hendaknya kita tidak mengungkapkan hal lain, meski menurut kita penting. Apalagi jika itu sekadar pamer pengetahuan. Dalam hal ini, penulis cerpen sebaiknya tidak memasukkan lanturan atau peristiwa yang kurang berfungsi membangun tema. Sejumlah pertimbangan itu, tentu saja dimaksudkan agar cerita tetap terpusat pada satu titik persoalan. Pemusatan narasi penting artinya bagi cerpen untuk memaku konsentrasi pembaca pada satu titik tertentu. Pemusatan perhatian itu bisa saja jatuh pada diri tokoh, latar, atau temanya. Kegagalan cerpen sering kali terjadi karena konsentrasi pembaca tidak fokus, dibawa ke sana ke mari. Akibatnya, perhatian pembaca jadi buyar dan nggelambyar.

Berbeda dengan cerpen yang mensyaratkan kepadatan, kelugasan, dan langsung memasuki pokok persoalan, novel –lantaran jumlah halamannya yang lebih panjang—lebih punya kesempatan dan peluang untuk mengeksploitasi apa pun yang menjadi tuntutan cerita. Deskripsi fisik tentang tokoh-tokoh tertentu, latar yang menggambarkan kondisi dan suasana kehidupan masyarakat tertentu atau apa pun, jika tuntutan cerita memerlukan itu, maka bisa saja pengarang mengungkapkannya panjang lebar dengan detailnya yang sangat terinci dan khas.

Yang juga perlu mendapat perhatian dalam menulis novel adalah kehadiran segenap unsur intrinsik karya bersangkutan secara fungsional. Dalam hal ini, pengarang bisa saja menampilkan begitu banyak tokoh. Pertanyaannya: apakah keseluruhan tokoh yang dihadirkan itu fungsional dalam mendukung karakter tokoh utama atau dalam mendukung latar atau tema cerita. Jika tidak, buang saja tokoh-tokoh yang tidak berfungsi itu dan fokuskan pada peranan tokoh yang memang ikut mempengaruhi perkembangan karakter tokoh utama atau ikut mendukung tema cerita.

Beberapa contoh kasus berikut menunjukkan, betapa menulis novel memerlukan tuntutan banyak hal yang berkaitan erat dengan pemahaman tentang (1) karakter atau watak manusia, (2) tradisi, adat istiadat, etika, dan sikap budaya suatu masyarakat, (3) sejarah dan mitologi, (4) latar tempat, waktu, dan sosial, (5) pengetahuan lain yang diperlukan untuk membangun cerita. Tentu saja semua itu tidak harus dikuasai secara mendalam, tetapi cukup sekadar alat bantu ketika pengarang hendak menggambarkan sesuatu yang memerlukan pengetahuan-pengetahuan itu.

Perhatikan kutipan berikut ini yang menggambarkan dialog seorang pengusaha asal Inggris bernama Charles dengan Bupati Jepara.
“Masalahnya bukan apa-apa. Aku hanya ingin membantumu agar kamu bisa dikenang bila suatu kali kamu tidak lagi menjabat sebagai bupati. Lagi pula dengan mencanangkan projek ini, keuntungan kita bisa sangat luar biasa. Aku orang Inggris, bangsa pedagang. Di mana menguntungkan, di situ orang Inggris datang. Dan kamu adalah sebagai bangsa yang memiliki tanah ini. Kamu boleh saja menolak tawaran ini sejauh kamu pikir merugikan masyarakat umum, tapi bila itu menguntungkan, apa salahnya dilakukan.”
“…. Setidaknya pihak provinsi akan menekan kamu. Ha ha ha, mental mereka masih seperti orang inlander, masih tidak beranjak dari dua ratus tahun yang lalu. Payah memang.” Kawin Kontrak, hlm. 46—47.

Perhatikan kata sapaan yang menggunakan kata ganti orang kedua (kamu) antara pengusaha asal Inggris itu dan bupati, penguasa nomor satu di kabupaten di Jawa. Penggunaan kata sapaan kamu tentu saja janggal dan tak lazim dalam etika budaya orang Jawa –apalagi ia seorang bupati. Rasanya tidak mungkin kata sapaan itu digunakan meskipun keduanya bersahabat sejak lama. Inilah kesalahan kecil yang fatal yang menunjukkan pengarangnya tak memahami kultur Jawa.

Demikian juga pernyataan bangsa Inggris sebagai bangsa pedagang yang dikatakan oleh tokoh Charles, yang konon asli Inggris itu, rasanya tidak pernah terjadi dalam sejarah bangsa Inggris. Pernyataan itu –jika dibaca oleh orang Inggris sendiri—akan melukai dirinya sebagai bangsa yang merasa berkebudayaan dan berperadaban tinggi. Bangsa pedagang adalah sebutan lain dari bangsa yang rendah.

Kesalahan kecil yang fatal juga terjadi ketika tokoh Charles menyebut para pejabat provinsi itu sebagai inlander. Bagi orang awam pun yang tahu sedikit tentang sejarah, kata itu (inlander) adalah bentuk pelecehan. Maka, jika ada orang asing yang menyebut bangsa Indonesia sebagai bangsa inlander, ia akan berhadapan dengan rasa nasionalisme sebagai sebuah bangsa yang mereka. Dan kata itu, dikatakan di depan pejabat pemerintah yang menjadi penguasa sebuah kabupaten (bapati). Pastilah bupati itu serta-merta akan mengusir orang asing itu dengan suara lantang. Dan orang asing pun, apalagi bangsa Inggris yang terkenal sebagai bangsa yang beretika tinggi, sopan, penuh tenggang rasa, dan berusaha selalu menghormati tuan rumah, tidak mungkin, bahkan mustahil mengeluarkan kata kotor yang sangat menghina seperti itu.

Kutipan di atas sekadar untuk menunjukkan, bahwa menulis novel tidaklah sekadar mengandalkan imajinasi atau mengungkapkan sesuatu yang dibayangkan, tetapi juga memerlukan pengetahuan dan pemahaman budaya atau pengetahuan lain. Contoh lain tentu dapat dengan mudah kita jumpai dalam banyak novel Indonesia.

Kehematan Berbahasa
Novel, seperti juga cerpen, sebaiknya tak mengabaikan kehematan bahasa. Perhatikan, misalnya, kalimat berikut yang saya kutip dari salah satu cerpen peserta lomba: “Segelas air dingin yang kuminum membuat tenggorokanku terasa segar.” Kalimat ini tidak salah. Tetapi, bagi cerpen atau novel, kalimat itu tidak efektif, tidak memperlihatkan kehematan berbahasa. Kalimat itu akan terasa lebih padat dan langsung jika kita melakukan penghematan. Jadi, sebaiknya kalimat itu berbunyi: Kuminum segelas air dingin. Segar! Atau, Segelas air dingin membuatku segar. Contoh lain tentu dengan mudah dapat kita deretkan. Dalam hal ini, kelemahan yang tampak menonjol dari novel-novel remaja ini adalah munculnya keroyalan untuk menjelaskan sesuatu yang sebenarnya sudah jelas. Kupegang dengan tanganku atau sempoyongan langkah kakiku, misalnya, merupakan contoh terjadinya pemborosan kata. Kata kupegang dan langkahku, di dalamnya, tersirat kata tangan dan kaki. Dengan begitu, frase dengan tanganku dan kata kaki, tidak diperlukan. Jadi, cukup kalimat itu berbunyi: Kupegang … atau sempoyongan langkahku.

Satu hal lagi yang kurang mendapat perhatian menyangkut aspek kedalaman. Ia tidak bersangkut paut dengan besar-kecilnya tema yang diangkat, tetapi pada kejelian dan kecermatan melihat hakikat di balik sebuah peristiwa. Mungkin saja peristiwa yang diangkat itu tampak sepele atau peristiwa keseharian yang sering kita jumpai. Bagi novelis yang baik, peristiwa apapun, sangat mungkin akan menjadi peristiwa besar yang menyangkut problem kemanusiaan, jika ia mengungkap hakikat yang ada di sebaliknya. Jika kita hendak menggambarkan seseorang yang suka mabuk-mabukan, misalnya, yang perlu dicermati bukan minuman kerasnya, melainkan apa yang melatarbelakanginya hingga ia suka mabuk-mabukan. Mungkin ia frustasi karena keluarganya berantakan, mungkin juga karena putus cinta, atau mungkin juga lantaran sekadar mencari perhatian atau hal lain yang tak perlu.

Begitulah, kelemahan yang paling menonjol dari sejumlah besar novel remaja adalah kurangnya memberi tekanan pada aspek kepadatan, kelugasan, kehematan, dan kedalaman. Jika saja persoalan itu cukup mendapat perhatian, niscaya mereka akan menghasilkan novel remaja yang baik dan bertahan lama. Tinggal bagaimana mereka melakukan latihan yang terus-menerus.

Deskripsi Latar
Hal lain yang agaknya perlu mendapat perhatian menyangkut deskripsi latar. Membiasakan diri membuat deskripsi latar akan sangat membantu memudahkan menciptakan peristiwa. Sesungguhnya, fondasi prosa –novel dan cerpen— atau karya naratif lainnya, terletak pada kuatnya deskripsi latar. Bagaimanapun, pengamatan tempat penting untuk melatih kecermatan melakukan deskripsi. Dengan cara itu, seseorang akan terbiasa melihat detail, melihat sesuatu yang khas, dan tidak yang bersifat umum. Mengingat novel menghadirkan sebuah dunia –rekaan, imajinatif—maka kehidupan yang digambarkan dalam novel hanya berlaku untuk novel itu saja..

Kekhasan dan detail tempat sesungguhnya penting untuk menempatkan novel itu berbeda dengan novel lain. Latar tempat yang digambarkan dalam novel itu tidak dapat dipersamakan atau digantikan dengan tempat lain. Ia punya kekuatan yang khas. Tanpa itu, latar dalam novel itu akan jatuh pada sesuatu yang umum. Itulah yang disebut juga sebagai warna lokal, yaitu latar tempat tertentu yang hanya ada dan terjadi di tempat itu. Periksa misalnya novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, Para Priyayi karya Umar Kayam atau Namaku Teweraut karya Ani Sekarningsih.

Perhatikan juga kutipan berikut:
Stasiun Bojonggede. Pagi. Sudah beberapa menit menunggu. Ada gerayang kegelisahan. Para calon penumpang berjejer di sepanjang stasiun. Mereka bergerombol. Suara musik yang datang dari lapak penjual vcd bajakan, meraung. Bersahutan dengan suara kaset yang berada tak jauh dari situ. Beberapa calon penumpang asyik memandangi rel kereta yang beku. Sementara para pedagang asongan hilir-mudik, menawarkan dagangannya atau menghindar dari tabrakan pengemis buta yang menghentak-hentakkan tongkatnya ke tembok pinggiran rel.

“Awas. Jalur dua! Dari selatan, kereta tujuan Jakarta di jalur dua!” berulang-ulang petugas stasiun mengumumkan kedatangan kereta dari arah Bogor. Serempak, para calon penumpang merangsek mendekati rel kereta jalur dua. Seperti dikomando, pandangan mata mereka tertuju ke arah selatan. Ada semacam naluri yang sama, kepentingan dan nasib yang juga sama. Kereta menjadi semacam alat perekat nasib yang sama dan melahirkan solidaritas sosial yang datang secara naluriah.
Gemuruh dan gesekan logam menyengatkan telinga. Dengingnya tidak beraturan. Kereta mulai melambatkan jalannya. Pelahan dan kemudian berhenti sama sekali.

Seketika gerombolan manusia menyerbu pintu-pintu kereta. Saling dorong di antara jerit perempuan dan umpatan mereka yang kakinya terinjak. Seorang ibu setengah baya menggerutu sendiri entah kepada siapa. Badannya yang lebih mirip bongkahan daging, dengan bentuk buah dada yang seperti hendak tumpah, berusaha menyeruak di antara ketiak dan badan penumpang lain. Dan, dalam beberapa saat nanti, harum minyak wangi, gerai rambut halus yang pagi tadi keramas dengan sampo terkenal, segera akan berubah. Berganti bau sengit ketiak dan peluh yang mengguyur badan. Rambut acak-acakan. Harumnya terbang berganti basah dan gatal.

Di dalam keadaannya tak kalah sengsaranya. Deretan kursi tak ada yang kosong. Beberapa di antara penumpang berhimpitan. Seorang gadis berseragam sekolah, seperti tak terganggu dengan suasana itu. Matanya tetap terpaku pada buku pelajaran yang lembarannya terbuka lesu. Di sebelahnya, seorang ibu mendekap erat tas tangannya. Ia seperti takut kecopetan. Seorang lelaki berpakaian satpam, dengan kumis beruban tak beraturan dan bentuk janggut yang buruk, asyik sendiri menikmati kantuk. Matanya berkedap-kedip antara tidur dan terjaga. Para penumpang kereta telah menjadi pepes ikan. Mereka berdesakan. Berjejalan. Wajah lelah memancar di sana-sini. Sebuah dunia yang absurd .…

Perhatikan juga kutipan berikut.

Lelaki itu menerobos lalu-lalang manusia. Orang-orang tak ambil peduli. Penjual barang kelontong berteriak-teriak dengan logat Minangnya. Juga tukang obat. Ular sanca besar melilit badannya. Ia menyodorkan obat kepada beberapa penonton. Derit mesin parutan kelapa kadangkala ditimpali dengan pertanyaan dan tawar-menawar. Beberapa tukang beca berebut penumpang dengan tukang ojek. Pedagang kali lima menyodor-nyodorkan barang-barangnya kepada penumpang angkot yang diturunkan seenaknya di sana. Ada kemacetan yang mengundang rangkaian bunyi klakson sopir angkot dan pengendara motor. Dan lelaki itu terus bergegas melewati tukang parkir.

Deskripsi di atas sesungguhnya sekadar hendak menunjukkan pentingnya sebuah latar tempat dan latar suasana untuk mendukung sebuah cerita dalam novel. Dengan kekuatan deskripsi, kita dapat memasukkan tokoh atau masalah tertentu yang akan kita jadikan sebagai alat untuk membangun peristiwa. Atau paling tidak, deskripsi latar dapat digunakan untuk menghidupi suasana cerita menjadi lebih kaya.
***

Dibandingkan novel, cerpen tidak mempunyai banyak peluang mengungkapkan gambaran fisik dan psikis tokoh-tokohnya. Meskipun demikian, jika tuntutan cerita memaksa perlu untuk mengeksploitasi fisik dan karakter tokoh, maka hendaknya ia tidak mengembangkan karakter semua tokoh, tetapi cukup memusatkannya pada satu tokoh, agar cerita tetap fokus pada satu persoalan.

Sesungguhnya, banyak hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan novel. Dan kepiawaian itu akan muncul dengan sendirinya jika kita terus-menerus berlatih, berlatih, dan berlatih. Tanpa latihan, kita akan terjebak pada kegagapan. Menulis novel, cerpen atau menulis apa pun, hanya mungkin dapat berhasil dengan baik, jika proses latihan itu tidak dihentikan. Ibarat seseorang yang belajar berenang di dalam kelas, sampai kapan pun mustahil dapat berenang jika ia tak pernah merasakan bagaimana menceburkan diri dan mempraktikkannya di dalam kolam atau sungai. Menulis novel sebagai usaha menciptakan sebuah dunia –imajinatif—juga menuntut banyak hal. Proses berlatih merupakan kata kunci untuk mencapai hasil yang baik!
***

msm/mkl/nvl/28/01/06
-------------------------
*) Makalah Workshop Peserta Lomba Menulis Novel Remaja, diselenggarakan di Bandung, 28 Januari 2006, oleh penerbit Grasindo, Jakarta.

**) Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com