Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Mardi Luhung

http://kompas-cetak/
Pendalungan

Di genting aku tertidur dan bersiap menantimu.
Tertidur seperti mayat yang matanya terbuka.
Terpulas warna samar sampai gelap pekat.
Di udara yang tipis, benang itu terentang.
Lurus dan lenyap di ketinggian. Lewat benang itulah
kau akan tiba padaku. Mungkin memelukku.
Dan menciumku. Seperti kisah perawan yang
tersihir di peti yang cokelat. Dengan tujuh lelaki
cebol yang selalu menangis dan tertawa.
Tujuh lelaki cebol yang kemarin memasuki kamarku.
Dan membangun sebuah keraton mini. Yang penuh
dengan kuburan dan kenduri.
Juga para badut yang selalu ribut dengan
gelang-gelang, obor dan sepatu raksasa. Serta
senapan yang berpeluru bunga-bunga dan hujan.
Katamu dulu: "Bidiklah aku dengan senapan itu!"
Tapi kataku kini: "Aku hanya ingin menantimu. Bukan
membidik!" Tujuh lelaki cebol pun terperangah.
Lalu, di udara yang tipis dan semakin tipis itu,
benang yang terentang bergoyang. Ada gelembung
besar menggelinding turun. Gelembung yang menyala.
Gelembung yang setiap bergerak selalu menyerakkan irama
saluang. Irama yang membuat ribuan tikus takjub.
Dan bersedekuh di seputar aku yang tertidur.
"Kemarilah, kemarilah, gelembung," pinta ribuan tikus itu.
Tapi, sebelum tiba, gelembung yang menyala itu pecah.
Sinar pun bersilangan. Membentuk dirimu yang aku nanti.
Dirimu yang begitu mirip diriku sendiri. Yang pernah
aku benci. Sebab telah merayu kekasihku yang lain.
Yang wujudnya telah aku torehkan di lantai-lantai!

(Gresik, 2007)



Pacinan

Hanya ada lanskap: sebuah warung rujak. Pesanggrahan yang disangga pilar kokoh. Pintu-pintunya terkunci. Gudang beras apak. Jajaran beringin. Dan kengerian yang kerap timbul ketika bulan purnama melintas. Selebihnya: tak ada jisim. Tak ada kuncir dipotong. Dan tak ada sepasang kupu-kupu yang selalu terbang di atas bong. Kupu- kupu yang bertelur di kitab yang dilisankan di pinggir kelenteng.

Sebab pagi itu: laut di belakang menggeram. Jukung ditiris. Seseorang memukul kentongan. Ikan-ikan pun menyembul: "Hai, hai, boleh dilihat, tak boleh dipukat!" Dan di punggung ikan-ikan itu ada garis. Putih menyala. Katanya: "Dulu, si naga sipit telah menitipkan jalur kapalnya di situ. Tapi, sayang, malah tersesat. Menabrak karang. Menangis. Jadi pulau!" Ya, ya, Pulau Menangis dengan mata semakin sipit.

Dan saat pulang: langit pun tertutup perada. Geraknya dihitung simpoa. Dan sebuah kecapi dipetik persik. Persik yang seliat giok. Tapi sekejap. Kemudian tersedot ke atap surau. Dari seribu surau yang bertaburan: "Bunda yang manislah yang telah mengajar si kanak mengaji di surau. Sebab, si bapak merantau ke negeri ringgit. Negeri para pantun dan datuk!"

Lalu malamnya: sambil minum air mineral. Seorang lelaki tua berwajah lokal. Tanpa senyum. Berjalan di bukit. Di belakangnya biji-biji lembayung berbaris. Mengekor panjang. Meliuk seperti liukan ular. Dan dari kejauhan, siapa saja pasti bertanya: "Itu pagebluk atau seluk-beluk pulung?" Memang, ada yang selalu tak terlihat di porselin Ming. Yang remukannya terpungut diam-diam. Dari pesanggrahan tadi pagi.

(Gresik, 2007)



Kelotok

Dengan sepeda. Dengan keranjang di depan sepeda yang penuh
bekal: "Aku memanggilmu." Rambutmu yang panjang jatuh di pusar
ranjang. Dan matamu yang tajam. Setajam ujung jukung. Yang
semalam aku gotong. Telah aku tempelkan di surat bersama
lumut dan ganggang. Surat yang saat ini aku lipat di kantong.
Surat segi empat. Surat dengan warna ungu.
"Aku membencimu Orang Gunung!" sergahmu. Dan tanganmu
meremasi selimut. Ranjang sedikit berderit. Dan aku tahu, kau
cemburu padaku. Juga pada gadis yang telah mengirimi aku
gandul. Gadis yang telah membuat si rabun jadi pecinta lagi.
Dan si pemabuk tertawa sambil berbisik: "Cinta adalah
lekuk-ceruk-teluk kekasih. Kekasih yang diburu!"
Lalu, lewat kibasan tanganmu, aku teringat pada sebuah gapura.
Gapura merah yang pernah aku gambar. Dengan dua singa batu
yang selalu mengunyah bulatan. Singa batu yang pernah mengaum.
Saat seluruh yang meluncur di laut ditumpas. Padahal, cuaca
bersih. Angin tenang. Dan di pantai, orang-orang asik bermain
gundu. Tanpa darah. Tanpa muslihat dan hasutan.
"Maka menjauhlah kau dariku Orang Gunung!" sergahmu lagi.
Seketika surat yang aku lipat di kantong terbakar. Membakar
tubuhku. Juga sepeda, keranjang dan bekalnya. Dan jika begini,
apa aku masih bisa memanggilmu? Kau melengos. Waktu itu
aku merasa, ada ketidakberesan yang lain. Yang akan menjadi
hikayat. Yang membungkus setiap yang kau pijak.
"Tapi, mana mungkin aku menjauh darimu?" selaku. Dan kau
kembali melengos. Dan lewat setiap kayuhan sepedaku, semua yang
terlewati jadi terbakar. Menjalar. Dan yang jika dilihat dari ketinggian,
akan tampak seperti garis yang menyala. Garis yang jika disambung
akan seperti sekepal jantung. Yang ditusuk trisula yang melengkung.
Dengan percik-percik yang bertaburan. Bertaburan di gunung-gunung!

(Gresik, 2007)



Kubur Panjang

Dalam usianya yang ke-700, dia kembali bangkit dari kuburnya. Berjalan ke pantai dan pergi mencari sore. Sambil sesekali mengingati tubuhnya yang limbung. Lewat perseteruan ujung parang. Dan kesetiaan untuk tetap menyimpan rahasia. Yang telah dititipkan guru. Saat seluruh bandar yang dipijak masih seperti lembaran lontar yang kosong. Yang bolong.

Dan ususnya terburai. Limpa dan hatinya yang keluar diseretnya. Lima ekor kera cuma menatap. Rimbun pohon setigi merunduk sesaat dia lewat. Meski langkahnya lebam seperti diarah ketam. Lalu seekor belibis melintas. Di sebelahnya, ada yang menunggang sapu terbang. Perawakannya kabur. Tapi, rasanya, selalu menyebut nama istri sunan yang tak mau dimadu: "Dinda, Dinda!"

Di karang yang licin dia pun bersedekuh. Matanya terpicing. Tapi langit keruh. Apa perseteruan ujung parang yang melimbungkan tubuhnya dulu telah mengusir sore? Ya, dia pun telentang. Seluruh tubuhnya penat. Dan rahasia guru masih disimpannya. Disimpan di jantung sebelah dalam. Bersebelahan dengan denyut yang tak bisa berhenti: "Tak-tak-tak…."

"Guru, bagaimana rahasia ini dapat aku lepas." Akh, racaunya pelan. Dan dari sela bakau yang subur, dia pun melihat istri sunan yang tak mau dimadu itu menangis. Menderas tafsir. Yang isinya: "Ketahuilah, ada yang memang tampak telanjang. Ada pula yang membayang. Di antara keduanya, ada yang terus mengapung. Ada yang terus mengepung. Dan memanjang…."

(Gresik, 2007)



Orang Gili

Aku menyapa dia. Tanpa salam. Tanpa kenal. Tanpa kedip. Dan
dia mengajakku ke pulaunya. Pulau yang terpencil. Pulau yang
penuh jalan sempit. Melingkar-melingkar. Naik-turun. Berdebu.
Yang kerjanya melahap setiap yang masuk. Dan yang keluar
dibekap mabuk. Mabuk laut yang licik.
"Aku punya tunangan. Tapi menampik. Sebab dipikir, dirinya
tak sepadan denganku!" katanya sambil merapikan rambutnya.
Matanya mengerling. Menjadi danau luas. Danau tempat dia
pernah mencium tunangannya. Danau yang di pusarnya ada
sumur yang berundak. Tempat orang ingin hilang.
"Tapi, meski ditampik, aku tak mau hilang!" tambahnya.
Memang, dia seperti tak bisa hilang. Dua kakinya kokoh. Dua
tangannya cekatan. Sedang badannya pun liat. Mengkilat.
Seperti baja yang berlapis-lapis. Baja yang akan membalik tanah.
Juga nasib pemiliknya.
"Segalanya mesti disederhanakan. Mesti!" Dan dia pun menulis
pesan di pohon dengan pisau. Artinya tak jelas. Cuma yang aku
lihat: gambar-hati, tanda-silang dan sebuah wajah-segi-tiga.
Dan di sebelahnya lagi, ada sebuah bendera bergambar rangka:
"Hidup memang cuma tulang!"
Dan ketika lebih masuk ke pulau, aku melihat dia melepas
pakaiannya. Di punggungnya ada tato. Tato binatang. Binatang
apa? Aku tak pernah melihatnya. Cuma mulut binatang itu terbuka.
Seperti sedotan sebuah kapal. Kapal ganjil yang angker. Yang
kaptennya putih. Berbau pesing.
"Kamu tahu, kapten itulah yang mengajari aku bersiul." Dan
bersiullah dia. Bersiul memanggil yang bisa dipanggil. Agar
keluar dari kerimbunan. Keluar dari gua-gua seperti orang
yang bingung menerjang cahaya. Orang yang bingung yang selalu
membakar dengan setiap apa yang bisa dibakar.
"Kamu tahu juga, tunanganku menampik karena orang yang bingung
itu!" Dan akh, dia pun memeluki yang disiuli itu. Lalu, seperti
kotbah yang mendadak, dia pun berkotbah di tengah-tengahnya.
Kotbah miring. Dan kedengarannya, seperti bahasa yang tersedak
oleh muntahannya sendiri.
Aku pun rindu pada jalan balik. Jalan ke sumur di pusar danau tadi....

(Gresik, 2007)

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com