Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2009

Mendulang Cerita dari Amsal dan Umpama

Judul : Parang Tak Berulu
Penulis : Raudal Tanjung Banua
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : Pertama, Mei 2005
Tebal : 182 halaman
Peresensi: Damhuri Muhammad
http://www.ruangbaca.com/

Teks cerpen terkadang dapat diandaikan sebagai ‘khabar’ tertulis yang disampaikan oleh seorang ‘juru khabar’. Bila hipotesis di atas dapat diandalkan, maka pergulatan seorang cerpenis (juru khabar) agaknya bukan pada substansi khabar (baik atau buruk), tetapi bagaimana cara ia menggarap dan menyiarkan khabar itu. Khabar petaka, jika penyampaiannya dikemas dengan bahasa yang teduh, sejuk dan memukau boleh jadi tetap (seolah-olah) terdengar seperti ‘khabar baik’. Sebaliknya, khabar gembira jika medium pengabarannya cacat dan tak memadai bisa saja tersiar seperti ‘khabar buruk’.

Di sinilah ‘martabat’ dan jati diri teks sastra dipertaruhkan. Bahwa, pencapaian estetik tidak diukur pada seberapa banyak anasir pesan dapat tersuguhkan, melainkan ditentukan oleh seberapa kokoh, dan seberapa kuat konstruk…

Merayakan Pembacaan

Eka Kurniawan
http://www2.kompas.com/

”Aku menemukanmu dalam pelarian,” tulis Intan Paramaditha dalam pembukaan cerita pendek Mak Ipah dan Bunga-Bunga, (Sihir Perempuan, Kata Kita, 2005). Perhatikan dengan saksama kalimat pembuka itu. Siapa yang sedang dalam pelarian? Aku atau kamu, atau keduanya? Kalimat yang tak memberi kepastian apa pun seperti itu dengan mudah kita temukan dalam hampir setiap buku kumpulan cerpen atau novel yang datang dari para penulis generasi paling mutakhir.

Perhatikan pula satu cuplikan kalimat dari cerpen Cakra Punarbhawa Wayan Sunarta (Cakra Punarbhawa, Gramedia Pustaka Utama, 2005) ini: ”Suka bercengkerama dengan ikan, ombak, rasi biduk dan perahu.” Siapa yang suka bercengkerama dengan ikan, ombak, rasi biduk dan perahu? Guru bahasa kita yang baik di sekolah pasti akan mencoret kalimat seperti itu, sebagaimana mungkin akan dilakukan oleh editor-editor terbaik kita. Kalimat tanpa subyek dianggap bukan kalimat yang baik. Tapi, benarkah kalimat-kalimat tak lengk…

Persoalan Cerpen Persoalan Bahasa

Indra Tjahyadi
http://www.lampungpost.com/

Persoalan cerpen, sebagaimana ragam jenis prosa lainnya seperti novel ataupun novelet, adalah persoalan bahasa. Dalam artian, bagaiamanakah sebuah kejadian atau peristiwa mampu diwujudkan dalam satu kontruksi bahasa naratif.

Ia jelas berbeda dengan puisi yang lebih menekankan diri pada kata. Menyoal hal ini, Wiratmo Soekito, pemikiran sastra Indonesia, pernah mengilustrasikannya dengan cerdas bahwa persoalan seorang prosawan adalah persoalan bahasa sebab ia berada dalam bahasa.

Menurut Wiratmo Soekito, hal ini jelas berbeda dengan penyair yang berada dalam kata. Pada mulanya, ia memaparkan, kata yang mengandung arti diciptakan oleh seorang penyair: kata yang diciptakan itu merupakan mitos, yang setelah "dipotret" oleh seorang prosawan dalam bentuk cerita diteruskan kepada masyarakat yang membutuhkannya. Inilah, lanjutnya, sebabnya mengapa seorang prosawan (dalam kasus ini adalah seorang cerpenis) berada di dalam bahasa di luar kata.

Teta…

Mendekonstruksi Sentralisasi Sastra

Yusri Fajar
http://jiwasusastra.wordpress.com

Prolog

Eka Budianta, pengajar Fakultas Sastra Universitas Indonesia yang juga dikenal sebagai penyair, menuturkan bahwa ketika umur 15 tahun, dia telah berkenalan dengan komunitas sastra di Kampus Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang (IKIP, sekarang Universitas Negeri Malang). Sebulan sekali di Perguruan Tinggi tersebut diadakan pembacaan puisi, pentas teater dan diskusi sastra dalam acara malam purnama. Saat itu dia berkenalan dengan para sastrawan Malang yang punya nama nasional seperti alm. Hasjim Amir, Jasso Winarto, dan Henri Suprianto yang mengajaknya berlatih membaca puisi dan pentas. Menurut Eka, sejak dulu kala, kota Malang sudah punya sanggar seni lukis, seni tari dan kelompok-kelompok baca puisi.

Awal tahun 2001 di Universitas Muhammadiyah Malang, saya pernah menghadiri acara bedah puisi yang didahului dengan pembacaan puisi oleh beberapa peserta yang hadir. Pembicaraan tidak hanya terpusat pada apresiasi teks puisi baik dar…

Sajak-Sajak Acep Zamzam Noor

http://cetak.kompas.com/
Bagian dari Kegembiraan

1
Jalan di belakang stadion itu sudah lama tidak kulewati
Mungkin madrasah yang dibangun persis depan kamarmu
Sekarang sudah rampung. Aku teringat pohon beringin
Yang berdiri anggun dekat taman kanak-kanak dan pos ronda
Setiap pulang mengantarmu aku sering kencing di sulur-sulurnya
Yang rimbun. Sepi terasa menyayat jika kebetulan lewat:
Ingin sekali minum jamu kuat, tapi kios yang biasa kita kunjungi
Sudah tidak nampak di sana

2
Volkswagen yang bentuknya mirip roti tawar itu masih kusimpan
Di garasi. Aku belum berniat menjualnya meski dengan harga tinggi
Di badannya yang mulai karatan masih tersimpan ratusan senja
Yang pernah kita lewati bersama. Di joknya yang mulai rombeng
Masih melekat ribuan pelukan dan ciuman. Catnya belum kuganti
Aku masih ingat bagaimana dulu kau ngotot memilih hijau lumut
“Biar mirip seragam tentara,” ujarmu. Tapi mobil yang usianya
Delapan tahun lebih tua darimu atau tiga belas tahun di bawahku itu
Akhirnya kulabur dengan hitam. K…

DIALOG ANAK LAUT

Catatan Kecil tentang Puisi Mardi Luhung

Imamuddin SA
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Siapa yang tidak kenal dengan Mardi Luhung! Penyair yang kerap dipanggil Hendry ini adalah seorang guru sebuah lembaga pendidikan di Gersik. Selain ia tekun dalam dunia pendidikan, yang tidak kalah lagi adalah ketekunannya dalam dunia kesusastraan. Ia dapat dikatakan sebagai motor kesusastraan di Gersik. Perjuangan sastranya di kota tersebut sungguh luar biasa. Hal itu terbukti dari eksistensinya sebagai gerilyawan sastra. Ia mencoba memasyarakatkan sastra mulai dari lingkungan bawah sampai atas. Dari sekolah sampai jalanan.

Mardi dalam karya-karyanya, khususnya puisi kerap menyuarakan realitas sosial kemasyarakatan kotanya. Ia kerap menyuarakan kultur sosial masyarakat kota Gersik yang notabenenya adalah kota pantai atau pelabuhan. Itu tecermin dari logat bahasa dalam puisinya. Yaitu keras tanpa dihalus-haluskan, ujaran atau kosa kata nelayan, suasana pelabuhan dan pantai, narasi keseharian m…

Sekeranjang Sastra tanpa Sayembara

Nurdin Kalim, Rofiqi Hasan
http://majalah.tempointeraktif.com/

Meski lahir tanpa lewat sayembara, karya para pengarang perempuan menjadi fenomena yang memperkaya dunia ini.

Suatu hari pada tahun 1983, Ida Ayu Oka Rusmini hijrah ke Bali dengan hati gundah. Di tanah leluhurnya itu, Oka berhadapan dengan sekeping realitas: perempuan Bali masih berada di persimpangan. Mereka berhadapan dengan hal-hal baru, sementara pakem-pakem adat istiadat tertanam kuat dalam struktur masyarakat Pulau Dewata itu. Tak ada pilihan, bila ingin maju, mereka harus siap menghadapi benturan sosial.

Bertolak dari kenyataan kultural itulah Oka mulai menggoreskan karyanya. "Saya ingin terus menjadi saksi Bali dan perempuannya yang sedang berubah, kemudian menuangkannya menjadi tulisan sastra yang menarik," ungkap perempuan kelahiran Jakarta, 11 Juli 1967, ini.

Oka mengawali karier kepengarangannya sebagai penulis puisi. Dari situ ia terbang ke cerpen dan akhirnya berujung di novel. Tiga novelnya—Sagra, Tari…

MADURA

Beni Setia
http://www.surabayapost.co.id/

INI adalah tenung. Ini adalah sihir yang membuat aku membatalkan naik ferry Ujung-Kamal paling pagi, dan memilih singgah di HI, Hotel Islamiah -- yang berupa musala di dermaga penyeberangan. Menyapa penjaganya, yang sejak kanak aku kenal di Batang-batang, dan bahkan diajari huruf hijayiah, bacaan surah-surah pendek dan cara benar bersembahyang di mesjid kecil di Batang-batang. ”Kiai sakit?” katanya -- santun meraih tangan dan mengecupnya. Aku menggeleng. Menguap. Idzin tidur dan dengan patuh ia berjaga seperti menjaga mayat yang belum ditakziahi keluarganya.

Ini adalah tenung. Ini adalah sihir yang mungkin menyerang setelah sepanjang malam berdiskusi dengan Poe, tidur sesaat, ambil tahajud, zikir yang mendaging dan jadi kebiasaan yang tak tertawarkan, lantas shubuh. Dan sebelum memutuskan kekal di pembaringan Poe mengajak aku dan sopir menghabiskan sarapan yang dipesan -- dua porsi. Aku sejak awal minta tak dikembalikan ke hotel meski hak menemp…

Sajak-Sajak Nur Wahida Idris

http://www.korantempo.com/
Rumah

kelak bila aku rindu rumah
kelak bila aku rindu rumah mungkin hanya bisa kucium segenggam tanah dari benih pohon pacar yang dikirim ayah

apalah artinya ari-ariku yang ditanam di pekarangan bahkan air mata ibu yang meresap di lantai tanah apalagi urat darahku tak berhak memintal ikatan batin

setelah lepas tali pusar masa remaja gambar inai di tangan pun memudar lepas pula tali cambuk masa kanak yang terikat di tiang rumah kini siap melukai apa saja yang kuanggap jadi masa depan

bila aku rindu rumah harus siap selembar KTP di pelabuhan bahkan kini harus kusiapkan berlembar-lembar sejarahku untuk dilego dan dimusnahkan

tapi ayah tak kalah cerdik ia kirimkan segenggam tanah benih pohon pacar untuk bekal ingatan agar kutulis sejarah baru di tanganku sendiri! bila nanti rindu dan ingatan hanya segores pena yang habis tinta tak ada yang perlu kuakhiri keculi puisi yang meninggalkan

yogya, maret 2005



Menyingkir : pelukis abu bakar

di tepi jurang bekas jalan lahar kukena…

Gincu Merah Sastra Pesantren

Binhad Nurrohmat
http://www.suarakarya-online.com/

Banyak pihak yang "ringan kata" menyebut istilah "Sastra Pesantren" tanpa menjelaskannya - seperti menyebut istilah baku. Bahkan ada yang cerewet mengabarkan adanya genre sastra pesantren, kanon sastra pesantren, ledakan sastra pesantren, maupun industri sastra pesantren seakan-akan sastra pesantren sudah menjadi tradisi yang kukuh dan dahsyat kiprahnya. Padahal istilah sastra pesantren pun belum pernah jelas pengertiannya secara kesusastraan, tapi kadung dirayakan sebagai istilah eksotis yang seolah sudah beres secara terminologis.

Munculnya istilah sastra pesantren masih sebatas mempropagandakan "identitas kesastrawanan" mereka yang dianggap sebagai pengarang sastra pesantren. Propaganda itu tak menyuguhkan hasil kajian yang becus membuktikan adanya unsur "kualitas sastra" ataupun adanya kecenderungan "bentuk sastra" dari apa yang disebut sebagai sastra pesantren itu. Sehingga, isti…

Perjuangan Seorang Perempuan

Mustafa Ismail
http://www.korantempo.com/

Cerita menjadi eksotik karena berlangsung di dunia pesantren.

Ini persoalan perempuan. Perempuan Berkalung Sorban bercerita tentang Annisa (Revalina S. Temat) yang berjuang untuk keluar dari "ketertutupan" pesantren, tempat ia dilahirkan. Annisa adalah anak Kiai Hanan (Joshua Pandelaky), pimpinan Pesantren Salafiah putri Al Huda, Jawa Timur, yang konservatif.

Kiai Hanan berprinsip: perempuan tidak berhak menjadi pemimpin. Maka, ketika Annisa kecil terpilih sebagai ketua kelas di pesantren itu, pengajarnya lebih memilih menunjuk anak laki-laki yang mendapat perolehan suara di urutan kedua. Begitu pula ketika Annisa ingin melanjutkan kuliah di Yogyakarta, sang ayah juga melarang.

Bahkan, lebih jauh, Annisa mesti menuruti kehendak sang ayah untuk menikah dengan Samsudin (Reza Rahadian), seorang anak kiai di Pesantren Salaf, pesanteren terbesar di provinsi itu. Kenyataannya, sampai di sini, Annisa tidak dapat menolak. Ia justru makin terpuruk…

Sajak-Sajak Satmoko Budi Santoso

http://www2.kompas.com/
Berlayar ke Tepi Krui
(Variasi atas Hikayat Bujang Tan Domang* )

bagai si domang yang suatu hari singgah
terantuk di tanggul sialang kawan, dusun betung,
sungai bunut, tanjung sialang, dan tanjung perusa
aku berlayar. limbung terbantun dari tepian selat sunda
menumpang sampan dayung bercadik
“lupakanlah si raja lalim, si panjang hidung," ebokku merengek
menghela galah galau, melontar sepah dendam
sumpah seranah atas kampung halaman
(berlayar, berlayarlah aku ke seberang, krui yang merindu
atas nama basah angin, kelepak camar dan mega-mega)
seperti terkisah dalam nujuman
teluk, bandar, dan semenanjung telah kulayari
kucari kampung hunian, tempat istirah dan berserah
tanah dusun yang kuharap tertundukkan, memperpanjang usia
memasrahkannya pada buah pauh, rambai, durian, cempedak, maupun macang
kukunyah buah-buah itu, seperti mengunyah kenangan yang kekal dalam almanak
serat hari, kelupasan kalender. lenggang waktu bagaikan langgam
dendang pantun dan gurindam. di pinggiran panta…

Puisi-Puisi Dorothea Rosa Herliany

http://sastrakarta.multiply.com/
NYANYIAN BUNGKAM

di dalam peti tak terdengar lagi
suara mengaduhmu
hanya tinggal ranjang

tanpa tepi
jendela tanpa rupa hari-hri
namun di luar tidur, perjalanan hamper
usai
mengekalkan sunyi
lalu dalam terjaga
ada dinding menyekat
mimpi kita
--pandanganmu betapa jauh
memisahkan rindu
dari kesendirian dunia

1987



MATAHARI YANG MENGALIR

rupanya dema yang tadi kuterima, cuma gerit pintu
terbuka. usia yang kembali terpenggal, dan terlepas
abad-abad terluka, mengental di lantai, cuma gerit
pintu yang terbuka; dan bayangan-bayangan terlepas
dari bingkainya. rupanya gema yang tadi kuterima,
sesudah terbuka liang bagimu, cuma desis – pidato
pemberangkatan -- dan getar tetes air mata
rupanya bayangan daun telah rebah ke tanah yang fana,
lantas kubuka kembali daun jendela, kukemasi abad-abad
dalam kalender, pada dinding (kesaksian yang membatu)
dan rumah-rumah yang nestapa

1988



KOTA BAWAH TANAH

tubuh siapakah melukis gelap.
melubangi cahaya dalam terowongan,
menuju petabuta.

para pejalan menanti s…

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com