Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Ramon Damora

http://www.riaupos.com/
Pada Soneta Tidurmu

dengkurmu adalah tabiat puisi
memejam di luar bergemuruh di dalam
izinkan kusingkirkan dahan hujan pagi
yang jatuh ke rumput mimpi bibirmu diam

geletar jemarimu: kerling nakal alenia
lima baris dara menggoda empat bait soneta
bolehkah kukarang selarik lili paris di kelingkingmu
dan berdoa agar pada setiap kertap kita bertemu
angin datang dari sela pepohonan kaf
menggoyang-goyang benang nadimu
yang memintal lagi sehelai paragraf
tak pernah akan kucukupkan kecupanku untukmu
bahkan meski kaugubah juga akhirnya sebuah epitaf
maaf, di mulutmu yang terbuka telah kutulis mulutku

batam, 2007



Renjana, Tun Teja
: marhalim zaini

aku pedih menyesah cendawan bulan
di mataku yang selalu berembun
mengasah batu-batu balan
pada sungai kenangan tak lagi rimbun
andam karam cintaku, setiap malam kabut kalbu
aku menyusun manikam dengan bara di tangan,
riung jantung, kaldu empedu, halwasangka
sekutu kalung perkawinan dusta
setubuh pengantin, dosa manekin
hang tuah, akan ke manakah aku dibawa angin?
hari mengerahkan prahara tanpa sanggerah
jemariku bertaut darah, selaput dara
mengapa harus kuelus mimesis seorang lelaki
(juga suami?) yang menghafal desis ular
semata agar aku percaya bahwa apel
di ranjang itu bukan sebutir khuldi, pun sekikir janji
siapa kebun berpagarkan duri
tanda mengenal kasa dan cindai
tuah, akan ke manakah aku kaubawa pergi?
sungguhkah telah kau buang tetemas, fitnah ganas
benarkah kulo-kulo kerdil menebar tajam kerikil
mencam engkau sebagai laknat jung kecil
yang memberiku bertih putih, langkah pelamin emas?
aku bukan kelendara segala andang anganmu
hingga hangus kulit perahu dipangku nelayan rawai kayu
bukan pula tanjung terkatung dihalau pulau
bersisik sehabis hendam hujan hitam
sampai pantai merangkum tengkorak ikan
yang menyebut nama, purnama
(menghasut hang jebat, meski noda keris sakatimuna)
kasihku selumbar buluh hanya titah sultan
walau lilin telah meluruh dipanggang retak impian
rindu, sembilu yang masih jauh, bergeming
begitu luka kau mendekatiku sepedih ingin
belahan alisku o saujana begitu duka
aku melukaimu, dipeluk renjana
(siapa menepis serai tangis, sepi pipiku betina
kulubangi airmata, tersebab baginya retina)
duhai, bedebah jantan berdada lembing
senja kan habis, enyahlah sebentar dari kelambu
telah kalian persunting ababil dengan mahar setuba batu
di rusukmu aku terkutuk, tak bisa berpaling!
hang tuah, siapakah di antara kita yang benar maling?

batam, 2007

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com