Seto Menulis Peri, Pelangi, dan Para Putri

A.S. Laksana
http://www.jawapos.com/

Pada suatu hari, ketika segala hal menjadi terang, dan begitu pun matamu, kau bisa mendapati seorang mayor bertingkah mencurigakan di rumahnya sendiri. Di rumah mayor itu Seto pernah datang sebagai juru selamat; ia membebaskan seorang berandal tanggung, anak si Mayor, dari keroyokan para bajingan depan losmen gara-gara urusan perempuan. ''Tinggallah di sini,'' kata Pak Mayor ketika Seto mengantar pulang si anak yang lebam.

Seto sudah minggat tiga bulan dari rumah ayahnya waktu itu dan ia tak punya tempat tinggal dan ia menjawab, ''Terima kasih.'' Maka, tidurlah si kribo itu di kamar belakang yang kosong, bersebelahan dengan kamar pembantu. Lima bulan menetap di sana, ia menabur kesan baik dan buruk, dan menanam beberapa ingatan yang akan merepotkan si Mayor ketika mereka kelak berhadapan sebagai seteru. Kau tahu, beberapa tahun nanti, pada hari pemberantasan gali di tahun 1984, Pak Mayor memang harus menumpas si juru selamat itu.

Di rumah yang ia tumpangi, Seto berjumpa lagi dengan urusan yang membuatnya ribut dengan ayahnya. Pak Mayor, kau tahu, sama seperti ayah Seto: ia suka berlari pagi dan ia juga meminta Seto menemaninya. Untungnya orang ini tidak terlalu gila; ia tidak berlari setiap hari dan tidak memaksa Seto menjadi tentara atau petinju --itu dua hal yang membuat Seto minggat dari rumah. Pak Mayor hanya berlari setiap Minggu pagi dan Seto, demi kesopanan, membuntutinya seperti anjing kampung. Ia tak mungkin berlari di depan si Mayor.

Selain menjadi anjing kampung seminggu sekali, ia mencuci mobil Pak Mayor setiap pagi dan mengawal si berandal setiap malam. Yang terakhir itu bukan tugas yang diberikan oleh si Mayor, Pramono sendirilah yang selalu mengajak Seto ke mana-mana. Tak sampai sebulan menemani si berandal, Seto tahu persis bahwa anak kedua Pak Mayor ini memang doyan kelayapan ke tempat pelacuran dan selalu mengatakan kepada ayahnya bahwa ia belajar di rumah teman. Anak pertama si Mayor kuliah di Bandung, tak ada urusan untuk disinggung-singgung di sini. Anak ketiga seorang perempuan kelas satu SMA, Tari namanya, suka mendekam di kamar, dan belum waktunya disinggung di sini. Lagi pula ini cerita tentang bagaimana cara si berandal menjadi anak emas Pak Mayor.

''Kau tak bisa menipu ayahmu terus-menerus,'' kata Seto. ''Lama-lama ia tak percaya padamu.''

''Ia selalu percaya padaku,'' kata Pramono.

''Kau tak bisa menipunya jika suatu hari kau kena penyakit,'' kata Seto.

Si berandal mengatakan bahwa ia sudah pernah terkena sipilis, tetapi ayahnya tetap percaya padanya. Ketika menyampaikan itu, Pramono mengatakannya dalam kombinasi rasa percaya diri yang berlebih dan senyum yang tampak licik. Seto menduga bahwa si Mayor punya rahasia dan anak ini tahu. Dan dugaannya benar.

Dan itu rahasia yang kau mudah menebaknya. Pak Mayor pernah menyisipkan sekuntum bunga ke telinga perempuan yang bukan istrinya. Itu upaya pertamanya berselingkuh. Perasaannya ruwet dan gerak-geriknya tersendat dan tenggorokannya mengering. Tentara setengah tua itu beberapa kali mendengar ucapan temannya bahwa seorang lelaki, jika tidak menjadi raja di rumah sendiri, niscaya akan menjadi setan di jalanan. Itu kalimat yang kupikir patut pula kaucamkan demi kebaikanmu sendiri. Bukankah nasihat yang baik tetaplah baik sekalipun keluar dari mulut seekor beruk?

Dan beruk itu, teman si Mayor, adalah orang yang menjadi raja di rumahnya sendiri. Ia beristri perempuan kantoran --perempuan yang cantik (ini relatif), bergaji baik (ini relatif), dan sangat menghormatinya (tak ada relativitas di sini, seorang tentara harus dihormati). Tetapi, lelaki itu, dengan singgasana kerajaan di rumah, memang pada dasarnya adalah seekor beruk yang bisa dengan enteng menyangkal kalimatnya sendiri: ia tetap menjadi setan di jalanan dan selalu berusaha memikat istri siapa pun yang berwajah muram. ''Istri-istri yang muram wajahnya,'' katanya, ''mudah jatuh ke pangkuan setan.''

Satu hal menjadi jelas dengan sendirinya, yakni bahwa beruk itu seratus persen tak bisa dipercaya. Dan sebenarnya Pak Mayor tidak terlalu peduli apakah orang itu bisa dipercaya atau tidak. Ia hanya memerlukan ucapannya untuk dijadikan sandaran. Ia memerlukan dalih yang bisa membebaskannya dari rasa bersalah, pada perselingkuhan pertama dan seterusnya.

Perempuan yang ia kencani, barangkali karena merasa tidak nyaman menyandang bunga dari lelaki yang --ia tahu-- sudah beristri, segera menanggalkan bunga itu dan menaruhnya begitu saja di meja. Dengan sedotan plastik ia sesap jus jeruk pesanannya demi mengendurkan kulit muka. Ia merasakan kulit mukanya sedikit mengencang tadi pada saat si Mayor menyisipkan bunga.

''Kau tidak suka?'' tanya si Mayor; ia merasa agak sia-sia.

Berjam-jam sebelum pertemuan Sabtu sore itu, ia berpikir keras untuk menciptakan adegan paling mesra yang bisa ia bayangkan. Dan ia memutuskan untuk menyelipkan bunga ke telinga perempuan itu. Sekuntum anggrek ungu, tepat dengan bentuk wajah perempuan itu, dan kekuatan metafisiknya akan mewujudkan keabadian cinta. Namun bunga itu terpasang hanya sebentar, tak sampai satu menit, sebab perempuan itu tersipu. Si Mayor tetap berharap cinta mereka abadi sekalipun bunga itu tak bertahan lama di telinga.

''Tak enak dilihat orang,'' kata perempuan itu.

''Kurasa tak ada yang mengenali kita di sini,'' kata si Mayor.

''Aku merasa tak enak.''

Pertemuan itu terjadi di Bandungan, sebuah pebukitan kurang lebih tiga puluh kilometer di selatan Semarang. Si Mayor, dan juga perempuan itu, tidak mengenali satu orang pun yang lalu lalang di rumah makan tempat mereka bertemu.

Namun itu keliru.

Dari tempat yang tak mereka ketahui, ada sepasang mata berandal tanggung yang terus menguntit. Ketika mereka pulang dengan mobil masing-masing, Pramono mengikuti perempuan itu sampai ke pagar rumahnya di Kaligarang. Peristiwa itu terjadi dua tahun sebelum Seto tinggal di rumah Pak Mayor. Saat itu si berandal baru beberapa bulan masuk SMA dan sudah suka kelayapan.

***

Sesungguhnya si Mayor tidak berniat menyakiti perasaan istrinya, namun Suhartini sering memiliki gairah untuk menyakiti perasaannya sendiri dengan detail yang tak tertebak. ''Kau bernyanyi terus sepanjang hari,'' katanya. ''Pasti ada perempuan lain yang membuatmu jatuh cinta.''

Itu serbuan tak terduga di hari Minggu malam, sehari setelah kencan pertama. Si Mayor mengatakan sesuatu tetapi tak jelas dan ia seperti buru-buru menelan kembali setiap kata yang ia keluarkan.

''Kau ngomong apa?'' tanya Suhartini.

''Aku memang suka bernyanyi, kau tahu itu,'' jawab si Mayor.

''Aku tidak tahu itu.''

''Jadi kau mencurigaiku?''

''Tingkahmu mencurigakan.''

Dari sini kau bisa tahu kenapa para pemburu gosip mudah sekali mendapatkan mangsa. Sebab cinta memang cenderung memamerkan dirinya sendiri, kadang di depan orang yang tidak tepat. Dan, si Mayor melupakan itu. Ia pikir tidak ada yang ganjil pada tingkah lakunya. Ia hanya merasa sedikit lebih riang dan ia menyanyi atau bersiul-siul begitu saja; sama sekali tidak terpikir olehnya bahwa itu karena jatuh cinta.

''Aku melakukan apa yang biasa dilakukan orang,'' katanya.

''Kau pasti sedang jatuh cinta,'' istrinya terus melabrak.

''Kau juga pernah bernyanyi-nyanyi dan aku tidak menuduhmu sedang jatuh cinta,'' gumam si Mayor.

Tanpa menggubris keberatan suaminya, Suhartini bergegas ke gudang penyimpanan barang-barang, membongkar tumpukan koran, dan kemudian kembali lagi dengan sebuah majalah lama yang ia buka pada halaman 43. Kepada suaminya ia sodorkan artikel itu: ''Sepuluh Gejala Pasangan Anda Berselingkuh.''

''Baca nomor enam!'' perintah Suhartini.

Si Mayor menatap artikel itu, matanya terbimbing ke nomor enam, dan ia merasa putus asa.

''Kau mempercayainya?'' tanyanya.

''Baca sendiri nomor enam!''

''Aku akan membaca dan tak perlu meyakini kebenarannya,'' kata si Mayor. ''Ini bukan sepuluh perintah Tuhan.''

Poin keenam mengingatkan agar kau waspada jika pasanganmu tiba-tiba suka bernyanyi. Hal itu, demikian poin keenam, merupakan gejala umum yang terjadi pada orang-orang yang sedang jatuh cinta. Si Mayor membacanya dengan mata lelah, dengan separuh hasrat untuk menyangkal dan separuhnya lagi tak berdaya.

Pramono tahu keributan itu dan ia mencari jalan untuk mendekati ayahnya dan ia mendapatkannya pada Rabu pagi ketika si Mayor sedang di teras menggosok-gosok tanda pangkatnya. Ia menarik kursi, dekat dengan ayahnya tetapi mempertahankan jarak tertentu di luar jangkauan.

''Semalam aku dari rumah temanku di Kaligarang gang lima, Yah,'' berandal itu berkata pelan.

Pak Mayor terus menggosok.

''Dan ada kabar baik. Tante itu menyampaikan salam buatmu.''

Pak Mayor berhenti menggosok.

''Apa maksudmu?'' hardiknya.

''Kalau kau teriak-teriak begini, nanti Ibu malah kemari.''

''Mandi sana! Atau kau mau membolos lagi hari ini?''

''Cantik dia,'' Pramono seperti bergumam untuk dirinya sendiri. ''Dan baik. Ia menawariku ikut kalau kalian pergi lagi ke Bandungan.''

Rahang Pak Mayor menegang. Ia ingin menampar kutu busuk ini, tetapi tangannya tak bergerak. Pramono meninggalkan ayahnya, berjalan pelan-pelan seperti memberi kesempatan kepada tentara setengah tua itu untuk menghentikannya. Tetapi Pak Mayor tak bersuara. ''Aku tidak bilang apa-apa pada ibu,'' kata berandal itu di mulut pintu.

Begitulah, pagi itu, sebelum para pemalas turun dari tempat tidur, sebuah persekongkolan telah terbangun, dan itulah jalan bagi si berandal untuk menjadi anak emas Pak Mayor. Ia tidak pernah keliru di mata ayahnya sejak itu, atau ayahnya tidak berani membuat perkara dengan si anak berandal. Dan Pramono benar-benar menunjukkan diri bahwa ia memiliki naluri seorang pemeras, mungkin itu bakat alami, dan ia mampu menggunakan rahasia yang tersimpan di ujung lidah untuk menarik keuntungan.

Pada saat-saat tertentu ia sengaja memperlihatkan kepada ayahnya betapa dekat ia dengan ibunya, menggelendot-gelendot manja, menyerempet-nyerempet bahaya. Si Mayor merasa seperti keledai tua yang ditunggangi pencoleng kecil, tetapi ia tidak bisa apa-apa.

Empat atau lima minggu setelah mereka ribut soal nyanyian, suasana berangsur-angsur pulih. Sore itu ia dan istrinya duduk-duduk di ruang tamu. Mayor menikmati rokok dan kopi yang diseduh oleh pembantu; istrinya menekuni pelbagai bentuk sanggul pada sebuah majalah. Pramono datang dari luar dan mengatakan, ''Kayak pengantin baru, nih,'' lalu terus masuk ke ruang dalam dan keluar lagi dengan segelas air putih. Ia duduk di sebelah ibunya.

''Sudah lama tidak kudengar ayah bernyanyi-nyanyi lagi,'' katanya. ''Ibu terlalu berlebihan, sih.''

O, bajingan anak ini! Pak Mayor merasa seperti ada cecak pada cangkir kopi yang diseruputnya. Suhartini seperti disulut dan tiba-tiba suhu tengkuknya naik dan ia merasakan lagi dorongan untuk mengamuk.

''Kau tahu apa soal itu?'' hardik Suhartini.

''Tentu saja aku tak tahu apa-apa,'' kata Pramono. ''Begitu kan, Yah? Aku tak tahu sama sekali, kan?''

''Apa yang kaukatakan ini?'' tanya Suhartini.

''Bukankah Ibu menanyakan aku tahu apa dan aku bilang aku tak tahu apa-apa. Dan aku memang tak tahu apa-apa.''

''Kalian pasti sudah bersekongkol.''

Pak Mayor duduk tegak dan waswas dan melipat tangan, seperti murid sekolah menyembunyikan ujung kuku hitamnya di hari Senin ketika guru berkeliling dengan penggaris besar. Ia geram, tapi bisa apa? Berandal itu tahu persis tentang perempuan yang dikencaninya dan ia pernah menyebut-nyebut Bandungan. Mungkin ia melihat gerak tangannya yang gemetar dan bahkan mendengar degup jantungnya yang tak terkendalikan. Di mana ular kecil ini waktu itu?

Merasa cukup dengan mereka, Pramono meninggalkan ruang tamu; meninggalkan ibunya yang mengingat lagi poin keenam; meninggalkan ayahnya yang menyimpan geram. Pak Mayor tetap duduk di situ sekalipun tidak betah; ia tak mungkin meninggalkan istrinya kendati pikirannya sangat runyam. Kau tahu, situasi mereka akan seperti itu sampai lama, namun tetap baik-baik saja.

Pada hari Seto datang ke rumah itu sebagai juru selamat, keadaan mereka masih begitu --runyam dan baik-baik saja-- tetapi dengan sedikit perubahan dan beberapa variasi. Pak Mayor menjadi gemetar menghadapi istri sendiri namun semakin terampil menyelipkan bunga atau telapak tangan pada perempuan yang bukan istrinya. Pramono tetap menjadi anak emas; ia kelayapan tiap malam dan selalu mengaku belajar di rumah teman. Ia kena sipilis dua kali dan Pak Mayor tidak pernah mempertanyakan apa yang dipelajarinya di rumah teman sehingga bisa dua kali kena sipilis.

Seto di sana lima bulan. Ia menjadi anjing kampung seminggu sekali dan melakukan apa yang harus dilakukan dan menjadi anak emas istri Pak Mayor sejak pertengahan bulan kedua. Pernah juga ia bernyanyi-nyanyi seharian dan Suhartini mengingatkannya jangan bernyanyi-nyanyi. Ia lalu menulis puisi-puisi, kebanyakan tentang peri dan pelangi dan para putri, di buku catatan yang ia lupa bawa pada saat meninggalkan rumah itu. Aku tidak tahu apakah Tari atau Suhartini yang menyimpannya. Anak bungsu Pak Mayor tak bisa diajak bicara dan Suhartini sebenarnya baru 78 tahun saat ini, tetapi ia sudah lupa banyak kejadian.***

Komentar