Langsung ke konten utama

Tragika Sebuah Pergumulan Identitas

Judul: Putri Cina
Penulis: Sindhunata
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU), Jakarta
Cetakan: Pertama, September 2007
Tebal: 304 Halaman
Peresensi: Nur Faizah
http://entertainmen.suaramerdeka.com/

SEBUAH karya sastra seperti adikarya seni lain selalu membuat kita lupa pada dunia, untuk kemudian menemukannya kembali dengan cahaya yang baru.

Tiap kali kita membaca lagi, sastra bergerak menghamparkan diri dengan sejumlah kilau manikam baru, yang sempat tersembunyi dalam lipatan-lipatannya. Di dalam sastra, baik yang berpijak pada sejarah atau semata imajinasi fiktif, mencakup kompleksitas ideologi, dunia nilai, norma hidup, etika, pandangan dunia, tradisi, dan variasi-variasi tingkah laku manusia. Dengan kata lain, sastra berbicara tentang tingkah laku manusia dan kebudayaannya.

Di dalam sastra, seperti terlihat dalam novel ini, manusia disorot sebagai makhluk sosial dan sekaligus budaya Tak mengherankan sastra disebut cermin masyarakat, dan cermin zaman, yang secara antropologis merepresentasikan usaha manusia guna menjawab tantangan hidup dalam suatu masa, dalam suatu konteks sejarah.

Membaca lembar demi lembar novel ini, kita senantiasa akan menghela napas, mengambang, hampir di tiap bagian yang hadir dalam novel ini. Bagai untaian batu mulia seni rupa yang memukau, novel ini membentangkan tumpukan lapis panorama yang kompleks, dan kisah kasih lanskap bersudut problem rasial manusia kekinian, khususnya penindasan perempuan Tionghoa. Pembaca tak diajak untuk melenyapkan diri menyatu dengan cerita, tetapi justru menarik cerita menyatu dalam diri.

Pengorbanan

Karena itu, cerita dalam novel ini, tak lebih sebagai sekadar alur besar, yang menjadi sampiran bagi bercabang-cabang kisah lain, yang jauh lebih penting. Misalnya, bahwa kisah mengenai perempuan sudah tentu disertai pembicaraan mengenai penderitaan dan pengorbanan. Apalagi kalau subjek kisah itu adalah perempuan Tionghoa, yang sudah diketahui sejak berabad-abad lamanya telah banyak dikorbankan dan dikambinghitamkan.

Setidaknya, ada dua Putri China dalam novel ini. Pertama yang diceraikan Prabu Brawijaya, ibu dari Raden Patah, penguasa baru Tanah Jawa yang kelak menggulingkan sang ayah. Dia membawa Tanah Jawa menapaki zaman baru, dan oleh para wali diminta menjadi jembatan antara Jawa Lama menuju Jawa Baru, antara agama lama menuju agama baru. Putri lainnya adalah Giok Tien, pemain ketoprak Sekar Kastubo.

Hampir setengah bagian terakhir novel ini mengeksplorasi kisah Giok Tien, termasuk kisah cintanya dengan pemuda Jawa bernama Setyoko, suami, yang kelak menjadi Senapati Gurdo Paksi di Kerajaan Pedang Kemulan Baru. Sesungguhnya, kisah mereka tidak berhenti sampai di situ. Ketika Giok Tien dan Gurdo Paksi mati di depan kuburan Giok Hong dan Giok Hwa, berubahlah mereka berdua menjadi sepasang kupu-kupu, yang terbang dengan riang ke angkasa, menuju ke utara. Tak kelihatan lagi, mana yang Tionghoa mana yang Jawa. Kupu-kupu itu bukan kupu-kupu Tionghoa atau kupu-kupu Jawa. Kupu-kupu itu adalah kupu-kupu cinta yang mempersatukan mereka berdua.

''Cinta memang tak mengenal perpisahan. Kemiskinan dan kekayaan tak pernah bisa memisahkan Sam Pek dan Eng Tay. Cinta Giok Tien dan Gurdo Paksi pun tak pernah bisa dipisahkan, kendati mereka adalah China dan Jawa. Karena itu sampai mati pun mereka tetap berdua, terbang menjadi sepasang kupu-kupu,'' kata Putri China mengagumi daya ilahi cinta (halaman 169).

Pengkhianatan

Dalam novel ini mitos dan sejarah bergulat menjadi kenyataan hidup. Peran Eng Tay yang dilakonkan Giok Tien dalam ketoprak Sam Pek-Eng Tay adalah lakon hidupnya sendiri. Cinta yang mengikat, cinta pula yang memisahkan. Seperti kesia-siaan. Akan tetapi, adakah kesia-siaan ketika kita menyaksikan kupu-kupu cinta tak lagi memisahkan Jawa dan China, kupu-kupu kuning yang mati di utara, memanggil hujan yang menyegarkan dan menyuburkan tanah; kupu-kupu Putri China yang mengubah bunga-bunga kematian menjadi kehidupan dan menaburkan permata berupa buah-buah doa ke seluruh dunia?

Secara umum, novel ini menggambarkan peralihan kekuasaan di tanah Jawa yang selalu berlumur darah dan pengkhianatan. Ketika raja tak mampu menghadapi beragam persoalan, akan selalu diperlukan kambing hitam. Identitas menjadi permainan politik. Di situ, memakukan identitas tunggal tak hanya berbahaya, tetapi juga kejam. Manusia terus mengulang sejarah itu dalam konteks politik yang berbeda-beda. Pemerkosaan terhadap perempuan etnis Tionghoa juga terjadi waktu itu dan sejarah kontemporer mencatat pengambinghitaman etnis Tionghoa sejak tahun 1740.

Sindhunata menyitir sebuah sajak dari T'ao Ch'ien yang ditulis pada abad keempat Masehi; Manusia ini tak punya akar/ Dia diterbangkan ke mana-mana/ seperti debu yang berhambur-an di jalanan/ Ke segala arah, bertumbukan dengan angin/ ia jatuh terguling-guling/ Memang hidup kita ini sangatlah pendek/ Kita datang ke dunia ini sebagai saudara/ Tapi mengapa kita mesti diikat pada daging dan darah, yang ternyata hanya memisahkan kita?

Sajak yang sangat tua ini selalu diingat oleh Putri China. Ia tahu, sajak itu pasti tidak dibuat untuk dia. Namun ternyata, sajak itu menjadi ramalan yang membentangkan nasibnya (halaman 10).

Tragik

Sindhunata berhasil menerjuni tragika itu dalam pelbagai lika-likunya.
Novel yang pernah dicetak terbatas oleh penerbit Gramedia bekerja sama dengan Bentara Budaya dengan judul Babad Putri China (2006) ini adalah sebuah sastra tragedi yang indah dan kaya akan permenungan hidup. Dengan cara bertuturnya yang khas, novel ini akan membawa pembacanya ke dalam sebuah alam yang memungkinkan mitos dan kenyataan historis sedemikian bersinggungan tanpa pernah terpisahkan. Di sini sejarah seakan hanyalah panggung, tempat tragika mitos mementaskan dirinya. Dengan amat menyentuh, novel ini berhasil melukiskan, bagaimana di panggung sejarah yang tragis itu cinta sepasang kekasih yang tak ingin terpisahkan oleh daging dan darah pun akhirnya hanya menjadi tragedi yang mengharukan hati.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com