PROBLEM UNIKUM DAN UNIVERSALITAS

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Cerpen Indonesia, kini, makin menunjukkan jati dirinya sebagai bagian dari kultur keindonesiaan. Ia tidak hanya datang dari berbagai wilayah yang selama beberapa dekade seolah-olah belum terpetakan, melainkan mengada lantaran di belakangnya ada kegelisahan kultural. Kegelisahan, bahkan kepedihan dan sekaligus juga kemarahan yang datang dari berbagai macam komunitas itu, memang selama ini senantiasa ditenggelamkan oleh kejahatan sentralitas. Hiruk-pikuk yang terjadi di sana seperti dianggap senyap, padahal ia justru mewakili ungkapan hati nurani dan harapan sosio-budayanya. Ada luka budaya di belakangnya, dan di depannya, ada keinginan, hasrat, harapan untuk memberi dan menyumbangkan sesuatu bagi Indonesia.

Kejahatan sentralitas telah membunuh begitu banyak kekayaan, potensi, dan keberagaman sosio-kultural. Maka, ketika cerpen Indonesia memperlihatlkan sebuah panorama kultural yang kaya dengan berbagai keberagamannya, kita seperti diberi penyadaran tentang jalan yang benar dalam memahami keindonesiaan. Dari panorama itu, misalnya, kita dapat menangkap sebuah ceruk dari salah satu gugusan kepulauan kita. Seketika dan tiba-tiba saja kita laksana dihadapkan pada sebuah unikum yang problem dan semangatnya dapat kita kenali, tetapi kenyataannya tokh itu tidak ada dalam wilayah kultur kita.

Sederet pertanyaan dapat kita sampaikan: Bagaimana kita dapat memahami unikum itu, jika kita sama sekali belum menyentuhnya? Tak kenal, maka tak sayang. Maka, kenalilah Indonesia itu dari kekayaan kulturnya yang beragam dan melimpah. Bukankah pemahaman atas sebuah kebudayaan dapat juga dilakukan melalui karya sastra? Bukankah karya sastra sesungguhnya merupakan representasi dari ruh kebudayaan masyarakat yang mengelilingnya: melahirkan dan membesarkannya? Baca dan pahami kesusastraannya, maka kita akan sampai pada ruh kebudayaannya. Bukankah pemahaman karya sastra hanya mungkin dapat dilakukan selengkapnya, jika kita tidak melepaskannya dari problem sosio-budaya komunitas yang bersangkutan? Maka, cantelkanlah ekspresi estetik itu dengan kegelisahan kultural.

Di situlah cerpen Indonesia menjadi sebuah wacana lain tentang sejarah, budaya, masyarakat, kawasan, etnik, dan entah apa lagi. Cerpen Indonesia seperti hendak mengembalikan pemahaman kita tentang Indonesia dan keindonesiaannya yang selama ini dijejalkan secara ahistori.
***

Buku antologi cerpen ini adalah salah satu contoh kasus. Ia merepresentasikan keberagaman, meski semangatnya masih mungkin dapat digeneralisasikan. Sejumlah cerpen yang dimuat dalam antologi ini datang dari berbagai belahan kota di Indonesia. Dengan demikian, ia sesungguhnya potensial menawarkan potret keindonesiaan, jika pemilihan atas sejumlah cerpennya dilakukan dengan semangat itu. Tetapi, apa pun hasilnya, itu soal lain lagi. Semangat menghimpun sejumlah karya dari sejumlah latar kepengarangan yang beragam, sungguh merupakan sebuah kerja yang mustahak. Maka, dalam konteks itulah, sepatutnya kita memberi apresiasi terhadapnya.

Secara estetik sebagian cerpen dalam antologi ini seperti hendak menunjukkan semangat pencarian. Dalam kerangka itu, yang cukup menonjol dari semangat pencarian itu adalah kesibukan pengarangnya mengeksploitasi bahasa. Terkesan, bahasa menjadi unsur sangat penting. Seolah-olah, diksi –pilihan kata—dan rangkaian bahasa, sengaja dieksploitasi untuk membangun narasi puitik. Padahal, narasi hanya salah satu unsur belaka. Masih ada unsur lain yang juga perlu perhatian. Akibatnya, latar, tema dan unsur intrinsik lain, seperti terlalaikan.

Meski pengarang mempunyai kebebasan memilih style atau apa pun, pilihan itu tentu saja membawa konsekuensinya sendiri. Ketika seseorang cenderung sibuk memainkan bahasa –narasi—menjadi sesuatu yang wajar jika hal lain kurang tergarap secara berimbang. Maka, yang tampak kemudian adalah sebuah lukisan dengan garis warna-warni dengan goresan yang matang, gagap, selintasan, agak ragu, atau sekadar menggambar, dan tidak berniat membuat sebuah lukisan. Ekspresi yang digoreskan melalui sejumlah warna seperti digayuti semangat menemukan warna baru yang berbeda dengan sejumlah warna yang konvensional. Pada gilirannya, tidak sedikit di antaranya yang membangun sebuah gambar menarik, tetapi tidak sampai membentuk lukisan. Mungkin ia lebih pas sebagai sketsa, boleh jadi juga sekadar garis-garis warna. Ada semangat membuat lukisan abstrak, tetapi kualitasnya sekadar nyeleneh, aneh, dan asal beda. Jadi, antologi ini, dalam beberapa hal, sudah berhasil membuat gambar yang memukau, tetapi di sana hanya beberapa yang masuk kategori lukisan. Bukankah gambar dan lukisan memperlihatkan kualitas estetika yang berbeda?

Tentu saja pandangan itu masih dapat kita perdebatkan. Setidak-tidaknya, dalam beberapa cerpen yang lain, saya menemukan lukisan. Tidak indah memang, tetapi itulah lukisan yang berbeda dengan gambar. Estetika tidak selalu mengangkat segala yang indah. Yang buruk dan menjijikkan, jika itu digoreskan melalui warna-warna dengan komposisi yang pas, niscaya akan menyeruakkan estetikanya sendiri.
***

Antologi cerpen ini memuat 15 cerpen, dua di antaranya karya maestro cerpen Indonesia: Ahmad Tohari (“Mata yang Enak Dipandang”) dan Hamsad Rangkuti (“Muntah Emas”). Dari-ke-15 cerpen itu, saya menemukan sedikitnya tujuh cerpen yang memokuskan diri pada usaha mengeksploitasi bahasa, dan satu cerpen dengan problem yang agak lain. Periksalah cerpen-cerpen “Perempuan Porselen” (Dewi Alfianti), “Wanita yang Melukai Tubuhmu dengan Pisau” (Harie Insani Putra), “Patrem sudah Kugenggam” (Hermawan Aksan), “Darah di Kamar Sebuah Hotel” (Iis Wiati), “Janji itu telah Diucapkan di Masa Lalu. Ingat?” (Nenden Lilis Aisyah), “Khilafah Cinta” (Sainul Hermawan), “Kematian yang Terlalu Pagi” (Sandi Firly), dan “Perahu” (Shanti Ned).

Meski di sana-sini ke-7 cerpen ini memperlihatkan kelebihan dan problemnya sendiri, kita (: pembaca) seperti dihadapkan pada gagasan-gagasan abstrak tentang cinta, kerinduan, dan dendam melalui narasi yang sengaja dikemas agar terkesan lebih puitik. Dengan cara itu, maka segala unsur intrinsik yang ada di sana, sesungguhnya menjadi sangat umum. Usaha membangun ciri universalitas itu –apalagi dengan kemasan bahasa puitik—memang menjadikan cerpen-cerpen itu enak dibaca, terkesan seolah-olah indah, tetapi bukankah cerpen tidak sekadar enak dibaca?

Sekadar contoh, periksalah cerpen “Perempuan Porselen” yang hendak mengkontraskan dua jenis cinta: cinta pada sesama yang berakibat pada kefanaan dan cinta pada Sang Khalik yang membuahkan keabadian. Bukankah siapa pun di dunia ini bisa mengalami cinta yang seperti itu. Putus cinta pada sesama yang berakhir dengan bunuh diri dan cinta pada Sang Khalik justru menumbuhkan cinta pada alam semesta. Problemnya kemudian: di manakah unikum? Tidak kita jumpai, lantaran desakan membangun universalitas terlalu dominan. Pada gilirannya, universalitas itu justru jatuh pada keumuman.

Hal yang sama juga terjadi pada cerpen “Wanita yang Melukai Tubuhmu dengan Pisau”, “Janji itu telah Diucapkan di Masa Lalu. Ingat?”, “Khilafah Cinta”, “Kematian yang Terlalu Pagi”, dan “Perahu”. Siapakah si aku, sang ibu, anak, suami atau tokoh-tokoh yang menghadirkan segala peristiwa di sana? Bisa siapa pun. Ia tidak terikat oleh wilayah etnik atau suku bangsa. Ia manusia pada umumnya. Universal. Di sini, gagasan dimanfaatkan sebagai saklar yang menghidupkan cerita mengalir entah ke mana. Ia seperti ingin melepaskan diri dari konvensi dan coba mengembalikan cerita (narasi) sebagai cerita. Maka, daya tarik cerpen dengan style semacam ini adalah kekuatan menghadirkan metafora dan simbolisme.

Cermati cerpen “Janji itu telah Diucapkan di Masa Lalu. Ingat?” (Nenden Lilis Aisyah). Unikum diabaikan lantaran ia hendak mengeksploitasi gagasan tentang cinta, rindu, dan entah apa lagi. Maka, rangkaian peristiwa seperti mengalir begitu saja dan berhenti entah kapan dan entah di mana. Sebuah style yang mengingatkan saya pada novel-novel Iwan Simatupang atau Putu Wijaya. Siapakah aku, dia dan tokoh lain yang ada di sana? Segalanya sangat mungkin sekadar gagasan yang kemudian coba diterjemahkan melalui lakuan dan pikiran tokoh-tokohnya. Ia memang mengasyikkan. Tetapi selepas itu, apa yang dapat kita tangkap? Ya, gagasan itu.

Problemnya lain lagi dengan cerpen “Perahu” karya Shanti Ned. Ia berada dalam garis demarkasi antara cerita yang digagaskan dan cerita yang digambarkan. Dendam si istri adalah potret buram problem domestik yang kerap terjadi dalam kehidupan rumah tangga di belahan dunia ini. Ia merepresentasikan kemarahan dan bentuk perlawanan kaum perempuan atas dominasi laki-laki. Ia bisa terjadi di sembarang tempat di mana pun juga. Ia terlepas dari sekat kultur dan etnisitas. Maka, tokoh aku (ibu), anak, dan suami sekadar status sosial yang nemplok dalam kawasan domestik. Mereka adalah simbol yang melekat dalam kehidupan rumah tangga. Ia universal, meski juga –dalam cerpen itu— cenderung jatuh pada keumuman.

Di manakah unikum? Kembali, kita tidak menjumpainya.
Satu cerpen lagi yang berada pada garis demarkasi itu adalah “Patrem sudah Kugenggam” karya Hermawan Aksan. Pengarang dengan baik memulai kisahannya lewat sebuah patrem –senjata tradisional yang hendak digunakan membunuh kekasih selingkuhannya. Tetapi rupanya, senjata itu sekadar pintu masuk untuk mengungkap kegelisahan si tokoh aku atas skadal perselingkuhannya itu. Ia ingin mengakhirinya. Dan patrem itulah, senjata pamungkasnya.

Patrem yang khas yang berkaitan dengan kultur etnik, tiba-tiba saja tergelincir menjadi benda biasa. Ia tak hadir sebagai salah satu ikon kultur etnis. Di sana, kita tak menjumpai makna kultural. Ia sekadar sebuah senjata yang fungsinya sama seperti belati, pisau lipat, atau silet. Lalu, apa maknanya patrem, jika fungsinya sama saja dengan benda lain yang tidak punya nilai mitis? Persoalannya akan lain jika senjata itu telah menghabisi ratusan manusia, punya aura gaib, dan mereka yang menghunus tak dapat melepaskan diri dari keinginan menumpahkan darah. Ia benar-benar jadi senjata pusaka yang haus darah. Di akhir cerita, rencana pembunuhan itu pun batal, lantaran perselingkuhan itu memang indah. Sebuah cara mengakhiri cerita yang mengecoh, meskipun pola itu kini sudah mulai klise.

Problem yang dihadapi cerpen “Darah di Kamar Sebuah Hotel” (Iis Wiati) agak berbeda dengan beberapa cerpen yang sudah dibincangkan tadi. Sama halnya seperti cerpen Hermawan Aksan yang menggunakan patrem sebagai pintu masuk, Iis mengawalinya dengan kalimat: “Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari pertama serangan AS ke Irak, sebuah takdir mempertemukanku dengan seorang perempuan istimewa di sebuah mal.” Sebuah awal yang menarik. Tetapi kemudian menjadi persoalan ketika saya tidak menemukan hubungan antara serangan AS ke Irak dengan rangkaian peristiwa berikutnya. Jika begitu, apa maknanya serangan AS ke Irak dalam kalimat itu? Rupanya kalimat itu sekadar pintu masuk yang penekanannya justru pada anak kalimat: “sebuah takdir mempertemukanku dengan seorang perempuan istimewa di sebuah mal.” Dari sana, cerita terus berkelindan –mirip cerita detektif—hingga sampai pada kesimpulan: terbongkarnya kasus pembunuhan.

Iis Wiati agaknya hendak menghukum lelaki yang penasaran –atau yang terlalu mengagungkan—ihwal virginitas –keperawanan. Dengan jalinan cerita yang agak berliku itu, pengarang seperti hendak membawa pembaca pada perangkap tegangan (suspense), sebuah pola yang menjadi kekuatan cerita-cerita detektif. Jika saja pengarang tidak melakukan penghukuman dan membiarkan akhirnya ceritanya tetap terbuka (open ending), sangat mungkin cerpen ini akan memancarkan daya greget yang jauh lebih asyik.
***

Di luar kedelapan cerpen yang dibicarakan tadi, saya menjumpai cukup banyak unikum. Di sini, yang tampak adalah sebuah peristiwa yang tak dibayangkan, tetapi yang justru menjadi kegelisahan selepas ia jadi pengalaman batin. Pengalaman itulah yang menciptakan kegelisahan. Pengalaman itu pula yang coba disajikan dari sudut pandang yang khas, yang berbeda dengan pandangan khalayak. Ia tidak jatuh pada persepsi dan pemaknaan massal. Ia jadi pengalaman individual yang khas yang pemaknaannya bergantung dari sudut makna subjek menerjemahkannya. Itulah unikum. Tetapi, apakah dengan demikian ia menafikan universalitas? Di sinilah karya sastra yang baik kerap memancarkan aura unikum dan sekaligus universalitas. Peristiwanya unik, khas, tetapi ketika ia ditarik sebagai problem kemanusiaan, ia universal. Ia menjadi masalah manusia dan kemanusiaan yang berlaku sepanjang zaman yang bisa menimpa siapa pun dan terjadi di mana pun.

Cerpen “Mata yang Enak Dipandang” karya Ahmad Tohari tampak begitu sederhana dengan tokoh-tokoh yang juga sederhana: pengemis picek! Peristiwa ini adalah pemandangan yang umum kita jumpai di berbagai stasiun di negeri ini. Para pengemis yang menadahkan tangan kepada para penumpang kereta. Peristiwa yang sangat biasa. Tetapi, lihatlah perilaku tokoh Tarsa yang melakukan eksploitasi atas kepicekan pengemis itu. Ada penindasan atas sesama: exploitation de l’homme par l’homme. Bukankah penindasan manusia atas manusia sudah terjadi beriringan dengan perjalanan sejarah manusia.

Lihat pula orang-orang kaya yang menjadi penumpang kereta api eksekutif. Orang-orang yang matanya tak enak dipandang. Mereka tak punya rasa belas kasihan, tidak peduli pada kemiskinan yang berada di sekelilingnya. Bukankah orang-orang macam itu bertaburan di belahan bumi ini? Itulah universalitas. Di mana pula unikumnya? Ya, pada diri tokoh-tokoh itu, pada latar stasiun itu, pada problem yang diangkat pengarangnya itu. Bukankah semua itu khas kehidupan pengemis yang mencari nafkah di stasiun-stasiun. Potret itu tidak mungkin terjadi di Kuala Lumpur, Singapura, Tokyo, atau New York.

Cerpen Erwan Juhara, “Parno Loewak”, meski masih terkesan seperti keseleo, setidak-tidaknya ia merupakan potret diri kehidupan para penulis di negeri ini. Ia juga tak berlaku di Malaysia, Singapura, Jepang, atau di negeri-negeri yang masyarakatnya menghargai kreativitas dan karya intelektual. Di sini, Erwan Juhara seperti sengaja tak memasuki hakikat masalahnya. Ia sekadar membuat sketsa yang terasa begitu ironis.

Cerpen “Muntah Emas” karya Hamsad Rangkuti adalah contoh ketajaman naluri sastrawan. Ia menempatkan muntah –yang menjijikkan itu—dari sudut pandang yang tak lazim, khas, dan sangat subjektif. Kisahnya sendiri begitu sederhana dan tidak istimewa. Bukankah kita sudah sangat biasa melihat orang muntah? Di sinilah subjek pengarang memainkan peranan penting dalam melihat sesuatu yang sangat biasa menjadi sesuatu yang luar biasa. Itulah sastra!

Agak berbeda dengan cerpen “Muntah” yang terkumpul dalam antologi Lukisan Perkawinan, cerpen “Muntah Emas” dalam antologi ini seperti hendak memperolok-olok kita yang sering terperangkap oleh stigma. Jika dalam cerpen “Muntah” Hamsad Rangkuti hendak menekankan keagungan cinta kekasih, tetapi kemudian berubah setelah menjadi suami—istri, dalam “Muntah Emas” pengarang coba menggugat banyak hal tentang stigma yang sebenarnya diciptakan sendiri. Muntah dipandang sebagai sesuatu yang menjijikkan, padahal ia diproduksi oleh tubuh kita sendiri. Lalu, mengapa pula harus diperlakukan sebagai barang jahanam yang harus dijauhkan dari diri kita. Begitulah, pandangan buruk tentang muntah pada akhirnya seperti mengucilkan orang yang memproduksinya. Padahal, tentu saja pada dasarnya orang tidak mau muntah di sembarang tempat. Di situlah kecerdasan pengarang dalam mengolah sesuatu yang biasa itu menjadi luar biasa. Maka, harus dihadirkan tokoh yang nyeleneh, tokoh yang cara berpikirnya berbeda dengan pandangan masyarakat.

Dengan pola yang sama seperti pada umumnya cerpen-cerpen Hamsad Rangkuti, kejutan –setelah pembaca digiring ke suatu tempat sesuai dengan kehendak sang tokoh—muncul di akhir cerita. Saya membayangkan, cerpen Hamsad Rangkuti ini seperti gambaran tentang seorang pemain sepakbola yang piawai. Ia membawa, menggiring, menggoreng bola melewati sejumlah pemain lawan. Penonton terpesona pada kepiawaiannya. Decak kagum dan tepuk tangan pun bergemuruh. Dan ketika kekaguman penonton memuncak dan si pemain bola itu sudah berhadapan dengan penjaga gawang, bahkan kini berada persis di depan gawang yang kosong, si pemain bola itu, justru tidak memasukkannya ke gawang lawan. Ia malah menendangnya ke luar lapangan. Itulah cara mengecoh yang cerdas, meski membuat pembaca tidak dapat menyembunyikan kejengkelannya.

Cerpen “Malaikat Datang tidak Bersayap” (Jamal T. Suryanata) mengawali kisahannya dengan peristiwa yang agak surealis. Dari sana, peristiwa bergulir hingga sampai pada gerakan buruh dan penculikan tokoh ibu –yang aktivis—oleh aparat keamanan. Sebuah kisah yang mengingatkan kita pada nasib Marsinah. Yang menarik dari cerpen ini adalah kekalahan kaum perempuan. Mula-mula ibu menggantikan posisi dan peran ayah, tetapi akhirnya si ibu kalah oleh tangan raksasa kekuasaan. Posisi nenek yang berada dalam bayang-bayang tokoh aku, juga diposisikan sebagai pembohong. Dalam konteks psikologi, Jamal T. Suryanata seperti menafikan konsep Oedipus Complex atau Electra Complex. Keduanya tidak berlaku, tetapi di sana ada problem psikologis yang mengeram dalam diri si tokoh ketika ia memandang posisi ayah—ibu.

Cerpen Ratna Indraswari Ibrahim, “Ke Negeri yang Jauh” –seperti juga cerpen-cerpennya yang lain, menyajikan sebuah kisahan yang lancar, mengalir, dan agak berkelak-kelok. Ujungnya adalah sebuah pesan ideologis yang dalam cerpen itu tersirat menyodorkan semangat rekonsiliasi atas konflik agama di Ambon. Ratna seperti sengaja bertindak dengan sangat hati-hati. Maka, pesan ideologis itu terasa begitu tersembunyi.

Agak menarik cerpen “Tahi Lalat di Punggung Istriku” karya Ratih Kumala, terutama menyangkut persoalan lesbianisme dan pemanfaatan bentuk penceritaan. Di bagian awal dikisahkan, betapa sang suami begitu hanyut oleh keindahan tahi lalat yang berada di punggung istrinya. Tahi lalat itulah yang memberi nilai lebih dalam hubungan suami—istri. Sementara itu, pandangan istri lain lagi. Sang Suami lebih mencintai tahi lalat itu daripada dirinya. Maka, operasi plastik untuk membuang tahi lalat itu, dilakukan si Istri. Tetapi apa yang terjadi? Kegairahan suaminya berkurang. Pada saat itulah, Ratri, tukang pijit langganan si istri, menggantikan peranan suami.

Secara tematik, cerpen ini seperti nyeleneh sendiri dibandingkan dengan tema-tema cerpen yang lainnya. Ratih Kumala hendak menggugat dominasi suami dalam kehidupan rumah tangga. Bukankah hubungan sesama jenis yang dilakukan si istri dengan Ratri, penyebab utamanya justru lantaran ulah suami sendiri? Lalu, salahkah si istri –yang diabaikan suami itu—melakukan hubungan dengan sesama jenis?

Cerpen “ Kelambu” karya Zulfaisal Putera, boleh jadi akan menggelindingkan tokoh istri melakukan hubungan sejenis jika sudut pandangnya dari kacamata Ratih Kumala. Tampak di sini, dunia laki-laki berada dalam posisi dominan. Suami –yang guru agama—tiba-tiba tidak mau tidur dalam kelambu yang selama bertahun-tahun telah menjadi bagian dari malam-malam bersama istrinya. Bagi si istri, tentu saja tidur tanpa kelambu merupakan penyiksaan: diserbu nyamuk! Bukankah nyamuk bagian yang tidak terpisahkan dari rumah yang berada di pinggir sungai.

Yang menarik dari cerpen ini adalah sejumlah informasi tentang banyak hal. Kelambu digunakan sebagai saklar untuk menarik kisahannya bersinggungan dengan kultur, sejarah, dan kehidupan sosial. Jadi, kelambu sebagai pusat cerita, sekaligus juga pusat masalah. Tetapi di sekelilingnya, Zulfaisal Putera menyentuh banyak hal lain yang justru memperkuat keberadaan kelambu itu.

Meski begitu, di akhir cerita, pengarang seperti kelelahan sendiri. Maka, meski perlakuan suami kepada si istri tidak berubah –meski tidur tanpa kelambu— Zulfaisal menutup kisahannya begitu saja. Apa alasan suami ingin tidur tanpa kelambu? Itulah misterinya. Tetapi misteri itu pula yang menumbuhkan greget yang justru tak sejalan dengan horison harapan pembaca.
***

Secara keseluruhan, ke-15 cerpen yang terhimpun dalam antologi ini sungguh menyodorkan keberagaman tema dan style. Jadi, kita seperti memasuki sebuah restoran yang di sana telah tersaji begitu banyak hidangan. Nah, hidangan mana yang hendak kita santap lebih dahulu, terserah pengunjung restoran. Yang pasti, ke-15 cerpen dalam antologi ini, bolehlah ditempatkan dalam konteks keindonesiaan. Bukankah keberagaman itu hakikat Indonesia? Antologi cerpen ini adalah salah satu dari representasi keberagaman itu. Nah!

Bojonggede, 11 April 2006

Komentar