Langsung ke konten utama

Sastra Feminis ala Leila

M. Arman A.Z*
http://www.jawapos.co.id/

JAUH sebelum booming sastra feminis pada 2000-an, yang bersumber dari pemahaman sastra terhadap inferioritas perempuan, Leila S. Chudori termasuk salah seorang sastrawan wanita yang lebih dulu memulainya. Itu bisa ditelisik dalam kumpulan cerpen (kumcer) terbarunya, Malam Terakhir, yang merupakan cetak ulang (revisi) setelah 1989 diterbitkan Pustaka Utama Grafiti. Penerbitan kumcer itu juga berbarengan dengan penerbitan novel 9 dari Nadira.

Malam Terakhir versi anyar berisi sembilan cerpen yang diseleksi sendiri oleh Leila. Tema-temanya masih kontekstual. Menggugah pemikiran dan kesadaran pembaca (sastra) terhadap wacana kesetaraan gender, feminisme, dan relasinya dengan norma dan kehidupan sosial, lokal, maupun global. Dalam buku itu, sebagian besar tokoh perempuan membongkar, memperjuangkan, dan menggugat hak, kedudukan, dan cara pandang terhadap perempuan.

Cerpen pembuka Paris, Juni 1988 bercerita tentang wanita Indonesia yang baru datang di Paris. Sebelah kamarnya dihuni Marc, lelaki aneh yang tampaknya mengidap sakit psikologis. Si gadis kerap terganggu suara desah, erang, dan jeritan seorang wanita dari kamar sebelah yang dihuni Marc. Si gadis yang terusik akhirnya tahu bahwa suara itu adalah rekaman yang sengaja disimpan Marc. Obsesi Marc terhadap sosok wanita bernama Janou. Si gadis, dalam satu kesempatan berbincang dengan Marc, menjelaskan padanya makna memiliki dan menguasai.

Ada dua kecerdikan cerpen itu: identitas tokoh perempuan yang dibiarkan tak bernama, juga sepasang tikus yang salah satunya dilepas untuk memberikan kemerdekaan, namun ternyata tak bisa hidup dalam kebebasan.

Cerpen kedua, Adila, bercerita tentang Dila, gadis remaja yang teralienasi dari lingkungan sosialnya. Ibu menjadi sosok yang mengekang kehidupan Dila, sedangkan bapaknya justru memberikan kebebasan pada Dila. Dia membelikannya novel-novel. Tokoh-tokoh dalam novel yang dibacanya itu kerap muncul menemani kesepian Dila. Ending cerpen itu ironi sekaligus kocak. Dila mati bunuh diri karena minum obat nyamuk cair -setelah minum bersama tiga tokoh imajinernya- namun ibunya malah sibuk meratapi kutang, sepatu, dan alat rias yang dikenakan Dila.

Kehadiran tokoh imajiner ditemukan lagi dalam cerpen Keats. Dengan setting di pesawat terbang, dalam perjalanan pulang ke Indonesia, tokoh Tami gelisah membayangkan situasi yang bakal dihadapinya di tanah air. Tami membayangkan teror macam apa yang bakal dihadapinya dari keluarga dan sanak saudara. Respons mereka atas pilihannya untuk menikah dengan lelaki asing dengan segala risiko (perbedaan agama, kultur, dan lainnya).

Senapas dengan cerpen di atas adalah cerpen Air Suci Sita yang membongkar makna kesetiaan antara lelaki dan wanita. Wanita yang memutuskan punya anak kandung tanpa suami, masih jadi hal tabu di Indonesia, didedahkan penulis dalam cerpen Ilona. Ona, yang punya cara pandang sendiri terhadap kehidupan, pulang dari luar negeri membawa anaknya untuk menemui kakeknya. Kemerdekaan berpikir dan mengambil sikap dengan tidak mempercayai lembaga pernikahan. Bukan karena trauma atau sakit hati, tapi murni karena pilihan. Sebuah sikap mungkin akan dianggap aneh, gila, dan tabu di negeri ini.

Cerpen Sehelai Pakaian Hitam berkisah tentang Salikha yang tak gentar mengkritisi Hamdani, lelaki yang lambat laun menyadari bahwa dia terkenal karena konstruksi pandangan masyarakat hingga lupa dirinya sendiri. Tema itu hampir senada dengan cerpen Untuk Bapak. Sementara itu, cerpen Sepasang Mata Menatap Rain mengangkat topik sosial; anak-anak zaman sekarang yang cenderung kritis dan, kadangkala, pemikirannya justru merepotkan orang tua.

Cerpen penutup Malam Terakhir, dua fragmen yang tampak berdiri sendiri namun sebenarnya berkaitan. Fragmen pertama bercerita tentang aktivis wanita dan tiga aktivis pria yang lebih dulu diciduk. Mereka akan dihukum gantung. Penyiksaan yang sangat tidak manusiawi terhadap aktivis wanita, melebihi penyiksaan aktivis pria. Fragmen kedua menampilkan keluarga yang tampak bahagia. Orang tua terus mencekoki putrinya dengan konsep klise terhadap kehidupan. Putri mereka yang berusia 22 tahun mengkritisi berita penangkapan para aktivis itu. Cerita bermuara ketika sang bapak mengajak nonton pertunjukan, yang meski tak terungkap, namun pembaca dapat menyimpulkan ”pertunjukan kesenian” itu adalah penggantungan para aktivis.

Tak hanya wanita yang bisa memberikan perlawanan terhadap sistem dan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Secara tak langsung, beberapa tokoh pria dalam cerpen itu menunjukkan bahwa feminis pun tak mesti berasal dari kaum perempuan (cerpen Ilona atau Adila). Secara keseluruhan, selain dipenuhi kompleksitas cerita yang menarik, Malam Terakhir memiliki benang merah terhadap isu-isu feminisme dan kesetaraan gender. Tentu bobotnya pun berbeda karena tak secara gamblang mengidentikkan diri dengan seks semata. (*)

Judul buku: Malam Terakhir
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit: KPG, Jakarta
Cetakan: November 2009
Tebal: xviii + 117 halaman
*) Cerpenis Lampung. Kumpulan cerpen dan novelnya telah diterbitkan dalam 19 buku.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com