estetika “tanah api”

MENGGAGAS TOKOH IDE, MEMBEBASKAN DARI TRAGEDI DIRI

S. Jai
http://ahmad-sujai.blogspot.com/

“Jadilah tokoh di situ digagas menyerupai tokoh ide, sepasukan pekerja yang memikul beban gagasan di pundak masing-masing. Bahkan tidak jarang tokoh-tokoh itu diperlakukan tidak sebagai layaknya manusia. Memang dia bukan manusia, melainkan cuma sepenggal korban. Tampak sekali pemahamannya perlu bergeser menjadi” bahwa ide lebih penting ketimbang tokoh.”

TULISAN ini tanpa mengurangi rasa hormat kawan-kawan, penikmat, pembaca, pendengar yang turut merayakan karya sastra. Sengaja penulis menggunakan idiom “merayakan” karena yakin sama-sama punya harapan besar dengan bersastra, semoga sanggup mewarnai khazanah negeri yang sering disebut dunia ketiga ini, demi menjadi warga sastra dunia.

Harapan ini bukan omong kosong, bukan impian dan bukan pula tanpa alasan. Apalagi bila dengan penuh kesadaran telah siap gagasan estetis maupun artistik pada setiap karya para pengarang, meskipun menyadari hal ini berarti harus menghadapi sejumlah masalah, lantaran bukan rahasia lagi bagi pengetahuan sejarah, sosial, filsafat maupun budaya sastra kita berada pada posisi kebimbangan konsep estetik.

Sastra kita dianggap kehilangan spirit untuk hidup dan menghidupi wilayah pengetahuan yang memang sangat terbuka diperdebatkan dan bahkan membuka diri untuk diperalat, didzolimi serta dijadikan bulan-bulanan ini. Sudah bisa diduga siapa pelakunya, tak lain adalah manusia.

Beruntung sekali (dan tentu saja curiga) kita mendapat istilah kebimbangan estetis itu di era tahun 1990-an dari seorang professor sejarah Asia Tenggara yang berdiam di Prancis—Profesor Dennys Lombard. Beruntung karena sebagai ilmuwan tentu saja dia jujur dan kita menyetujui pernyataannya. Sementara curiga dan menyisakan banyak sekali pertanyaan karena boleh jadi kita menangkap ada semacam standar ganda dalam pernyataannya, sebagaimana setiap teori barat yang secara ekstrem diyakini Al Ghazali tidak banyak berguna itu.

Sisa pertanyaan dari pernyataan Lombard adalah: bukankah Lombard juga penganut mondernitas yang banyak menelantarkan pelbagai hal (termasuk sastra) dan kemudian memasuki gerbang postmodernisme yang juga perlu diwaspadai itu?

Terus terang, banyak yang disetujui dan perlu angkat topi dengan kemampuan konseptual Lombard ketika menjelaskan isme kesenian termasuk sastra yang hidup di negeri seperti Indonesia, ideologi kesenian di Prancis merujuk karya, aliran yang punya tempat dan ruang tertentu dan waktu dengan posisi yang jelas masing-masing dalam kisi-kisi sejarahnya, mulai dari impresionisme, realisme sosialis, surealis dan sebagainya. Namun di sini sudah tersedia serempak. Ini pukulan hebat kepada seniman-sastrawan kita yang dengan bahasa lain sama artinya dengan “asal pasang urusan selesai” atau “daripada susah-susah pakai yang ada saja.”

Pramudya, Mochtar Lubis dituding sebagai pembawa modernitas. Putu Wijaya, Iwan Simatupang dan juga Budi Darma penganut wajah lain dari itu. Sementara karya-karya Danarto agak perkecualian karena Danarto sanggup meracik sufisme (Islam) Jawa ke dalam pandangan dunianya meski kelemahan di sana-sini, semisal logika mistis itu sendiri kadang-kadang masih dimaknai sebagaimana cara pandang logika modernitas.

Bukankah mitos itu memiliki logikanya sendiri, dan pandangan dunia Islam Danarto memunculkan banyak pertanyaaan universalisme sastra sebagai seni dan bukan agama?

Kiranya, orang yang tak kalah besarnya harus bertanggungjawab adalah Sutan Takdir Alisyahbana dan kawan-kawan sezamannya yang membawa suara baru arah susastra menuju penciptaan memasuki ruang pribadi yang dibuka sejak Hikayat Abdullah, cikal bakal malapetaka pelbagai ranah ilmu pengetahuan, sejarah, teknologi, sosial, filsafat yang mengasingkan manusia dari keberadaan semestanya.

Siapa yang salah? Karena manusia menjadi pusat semesta, manusia pula yang kemudian menjadi korbannya. Sebagaimana ilmu lainnya sastra yang tanpa dosa akhirnya menjadi tidak bermakna.

Maaf kalau terpaksa mengajak pembaca untuk bersikap romantis dan berjalan pada masa silam yang harus diakui sempat mengalami puncak-puncak estetis sebelum akhirnya jatuh tidak pernah tuntas, hilang lenyap karena didera masa depan yang agresif dan niscaya itu.

Sebagai orang Jawa, banyak yang telah tahu benar sebelum Lombard mendedahkan bagaimana Jawa mengenal keterkaitan hakiki jagad makrokosmos dan mikrokosmos. Bahwa ungkapan kesenian adalah sarana ungkapan keselarasan, penyeimbang, setiap kali tampak terancam. Manusia tak bisa dikeluarkan dari persekutuan masyarakatnya dan tak terpisahkan dari alam.

Rupanya perlu dicetak tebal kata “terancam” dan tugas pujangga tidak hanya melihat tetapi memaknai. Tanpa berusaha membebani makna berlebihan, hal itu terungkap sejak sastra anonim, mantra, puisi lama, dongeng, sastra suluk, pelbagai tembang Jawa dan puncaknya adalah wayang. Bahwa spirit untuk menjaga keutuhan kosmos dan harmoni jagad cilik jagad gedhe jadi lelaku hidup orang Jawa.

Sekali lagi maaf karena memang harus dibeberkan hal ini. Karena harus dilukiskan dengan sisa ingatan yang ada sembari mewaspadai ketakutan apa yang pernah dilontarkan komponis Slamet Abdul Sjukur bahwa kalau tidak hati-hati kita bisa belajar gamelan kepada barat. Kata gamelan bisa diganti dengan musik, teater, senirupa dan tentu saja sastra.

Seni rupa abad 8 – 10 Hindu Jawa menghasilkan pahatan realis pada Borobudur, Prambanan. Ketika bergeser ke Jawa Timur terutama abad 14 cenderung surrealis gaya wayang. Artinya, puncak-puncak pencapaian estetis sudah terlampaui yang di tangan konseptor barat stereotif maupun arketipnya menjadi demikian rumit ketika kita pelajari lagi. Dan terpenting, belum pernah ada upaya untuk melepaskan manusia dari keselarasan kosmos.

Boleh dikata kelemahan kita terletak pada kemampuan untuk merumuskan gagasan-gagasan yang kemudian celah itu diambil oleh barat. Kukira bukan kebetulan jika kemudian rumusan-rumusan itu lantas diputarbalikkan dan sanggup melumpuhkan akar dan spirit budaya asali. Fatalnya, selama berpuluh-puluh tahun kita dibuat terperangah olehnya. Politik kekuasaan dan industri media mempercepat usaha untuk menghapus serta melepas manusia Indonesia dari kejayaan masa silam serta keharmonisan masa depan.

Lantas kenapa sastra? Novel, misalnya? Sastra kita sastra dunia ketiga, memang terus tumbuh, lahir dan perkembangannya sangat mencurigakan. Semula kita cukup dibuat percaya bahwa subtansi novel adalah tokoh. Namun dari uraian di atas kepercayaan terhadap pelaku-pelaku jadi sumbang. Tokoh bukan segala-galanya. Karena itu tokoh dalam novel sah bila hanyalah pembuka jalan demi sejumlah penokohan lainnya. Tokoh tidak ambil pusing dengan sesuatu kenyataan fakta real peristiwa maupun imajiner.

Jadilah tokoh di situ digagas menyerupai tokoh ide, sepasukan pekerja yang memikul beban gagasan di pundak masing-masing. Bahkan tidak jarang tokoh-tokoh itu diperlakukan tidak sebagai layaknya manusia. Memang dia bukan manusia, melainkan cuma sepenggal korban. Tampak sekali pemahamannya perlu bergeser menjadi” bahwa ide lebih penting ketimbang tokoh. Bukankah sebuah novel bisa pula tanpa tokoh?

Dalam dunia ide, kita sangat percaya bahwa punya hak untuk memperlakukan secara bersama-sama keseluruhan teks, realitas, imajiner, fantasi (realis-surrealis-realisme magis?). Bukankah dari uraian di atas sebelumnya kita sama-sama memiliki akar sehingga kejadian apakah realitas atau imajiner haruslah mengandung arti pentingnya sendiri?

Sampai di sini cukup dimengerti pernyataan Milan Kundera, novel adalah prosa sintetis yang panjang yang didasarkan pada permainan dengan tokoh-tokoh yang diciptakan. Sintetis adalah keinginan novelis untuk memaknai subjeknya dari segala sisi dan dalam kelengkapannya yang paling penuh—esai, narasi, penggalan otobiografis, dan aliran, fantasi. Kekuatan sintetis novel sanggup mengkombinasikan segala hal ke dalam satu kesatuan tanggal. Tidak harus plot tapi tema.

Hanya saja, lagi-lagi yang meragukan ucapannya adalah ketika Kundera mengungkapkan novel tidak memaksakan apapun. Bahwa novel mencari dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Bahwa dia tidak tahu mana tokohnya yang benar. Bahwa cerita dalam novelnya hanya ini berisi konfrontasi tokoh-tokoh karena dengan cara itu dia bisa mengajukan pertanyaan. Katanya, kebijakan novel berasal dari dimilikinya pertanyaan untuk segala hal.
***

KECURIGAAN sebagai pembaca lebih sebagai seorang ilmuwan yang harus menyikapi apriori setiap ilmu pengetahuan dan senantiasa menggugat, menyoal dan mendesak untuk membuktikannya. Namun demikian pembaca akan lebih menerima pernyataan dan pertanyaan Kundera itu sebagai upaya karena ketidakpahaman antara kenyataan dan fiksi atau kesulitan membedakan keduanya akibat terlalu kabur. Kenyataan menjadi fiksi atau fiksi menjadi kenyataan seperti terjadi di negeri ini semisal bagaimana kebutuhan berdusta terjadi dimana-mana. Karena itulah sah mengajukan pertanyaan-pertanyaan (lebih tepatnya gugatan) dengan metafora.

Di sini, lantas sah bila ada yang mempersoalkan realitas di luar teks dengan menyusun teks baru sastra. Boleh jadi “pertanyaan” menjadi sesuatu yang sama sekali baru artinya. Katakanlah ada spirit baru di situ—perjuangan untuk menjaga ingatan masa silam sembari memaknai kekinian demi menatap hari depan. Ada yang menemukan jalan menuju ke sana tidak dalam rupa-rupa persoalan pribadi, melainkan dalam bentuk persoalan ilmu pengetahuan, yakni dengan bahasa lain serupa ingatan kolektif. Meski kematian ide, kelupaan adalah masalah terbesar pribadi manusia, hilangnya masa silam sebagai bangsa, negeri, adalah kematian bersama yang hadir dalam kehidupan. Jadi dengan bahasa mistik: yang membuat kita takut pada kematian bukanlah masa depan tapi masa lalu.

Perihal ini F Budi Hardiman,filusuf dari STF Driyarkara melontarkan pernyataan bahwa sastra yang baik itu yang otonom dan memihak. Otonom dalam arti memiliki demensi rasionalitasnya sendiri yang akan mandul kalau diintervensi system administrasi politis dan manipulasi komersial. Otentitas itu menyangkut kemampuan reflektif karya seni terhadap hubungan pengalaman seniman dan standar nilai yang berlaku.

Dengan kata lain seni otonom itu memikhak para korban patologi modernitas. Sebetulnya Nirwan Dewanto tahun 1991 pernah menyusun konseptual pandangan kebudayaan dengan gemilang, yang sesungguhnya lebih mirip dari gabungan teori ideology John B Thomson dan Sosiologi Pengetahuan dari Peter L Berger yang dikembangkan sebelumnya di sini oleh sastrawan dan budayawan Kuntowijoyo.

Entah mengapa kemudian Nirwan Dewanto justru menjadi juru bicara paling agung dari gerakan postmodernisme di negeri ini yang sudah barang tentu di mataku harus dihadapi dengan kehati-hatian (ingat bila bangsa ini tak jadi lebih bersahaja dengan kebudayaannya, anda juga harus bertanggungjawab, Bung!) Bahkan tahun 2000, masa yang membuka pintu masuk abad 21, dalam sebuah pidato kebudayaannya, sastrawan Cina Gao Xingjian karena meraih hadiah Nobel, menyatakan dengan bahasa yang sangat bias menyebut sastra dingin—sastra yang tak punya kewajiban apa-apa terhadap rakyat jelata dan komunikasi antara penulis dan pembaca adalah komunikasi spiritual—adalah sastra yang akan melarikan diri untuk bertahan hidup, inilah sastra yang menolak untuk dicekik oleh masyarakat dalam pencariannya dalam keselamatan spiritual. Bias yang saya maksudkan karena di satu sisi tak punya kewajiban apa-apa namun di pihak lain menyediakan dirinya jadi sumur gagasan spiritual yang tak lain adalah ajaran Tao-nya.

Ada ruang kosong yang bisa jadi amat berbahaya di antara keduanya. Pertanyaannya: apakah Gao serta merta berubah wajah dirinya seperti Nietzsche yang sulit memahami manusia dari spesies hewan lantaran dorongan kodratnya untuk senantiasa ingin berkuasa? Di situ ada perbedaan mendasar antara kodrat dan fitrah. Bahwa manusia hidup dan hadir di bumi sebagai wakil dari pencipta, menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri dan tidak untuk yang lain, apalagi untuk terus menjadi korban. Bahwa kebudayaan adalah spirit untuk hidup serta menghidupi semesta. Di sini jelas mana yang menghidupi dan mana yang merusak tatanan kosmos. Dalam untaian kata sucinya, Tuhan tidak marah bila umatnya mengumpat sekalipun ke angkasa, itu bagi yang teraniaya.

Demikianlah, sebagai pribadi, sebagai pengarang dan sebagai ilmuwan, novel lahir karena dorongan kuat dan serangan hebat dalam bagian hidup untuk menyusun ke dalam jalinan kisah. Pendek kata, pengarang tidak mau mati ide. Pengarang harus berani mengakui sebagai manusia lahir cacat oleh pendahulu-pendahulunya. Boleh jadi apa yang dikerjakan sekarang ini telah lebih dulu dilahirkan sastrawan sebelumnya. Sehebat apapun karya sastranya mungkin bukan sesuatu yang benar-benar baru, karena orisinalitas di tengah hiruk pikuk zaman juga kian sulit ditemui dan dicari.

Boleh jadi, karya sastra yang dilahirkan pengarang, jauh lebih hebat dari karya sastrawan terdahulu, Steinback, Jose Rizal, Gorky, Tolstoy, Pasternak, Pramudya, Milan Kundera, apalagi Tahar Ben Jelloun, Naguib Mahfudz, Mishima, Marquez, Borges, Sindhunata, Centini, Mahabarata, Seribu Satu Malam. Dapat dikata karyanya terbarunya adalah sampah. Namun demikian tekad untuk sadar bahwa cukup karyanya sajalah yang cacat dan bukan diri pengarang atau setidaknya ia bisa mengurangi cacat dalam diri yang terbawa sejak lahir. Bayangkan betapa sebuah tragedi besar bakal terjadi bila pengarang tak lahirkan suatu karya. Sudah barangtentu dia cacat sebagai makhluk hidup karena mati ide.

Karena itulah dalam diri pengarang mengalir semacam pemahaman bahwa pengarang tidak percaya dengan karya terbaik. Baginya sebuah karya yang terbaik hanyalah karya yang belum lahir dan masih ada di dalam otak. Artinya, semua sastra itu misterius, tidak mustahil menyimpan niatan buruk, pembodohan, kebohongan, kejujuran di situ sulit dipertanggungjawabkan. Pengarang lebih cepat percaya pada karya sastra itu dibebani setumpuk obsesi, keserakahan, kemabukan, aksi tipu-tipu, target, cita-cita, dendam, gejolak dan sebagainya, keinginan popularitas terselubung penulis.

Tak cuma kepada penulis atau sastrawan lain, bahkan kepada karya sastranya sendiri pun pengarang juga harus menghadapinya dengan sikap apriori. Jadi satu-satunya amanah penulis itu terletak pada kemuliaannya dan kewajibannya untuk saling mengingatkan. Bahwa harus diaakui setelah karya terbarunya, masih ada sekian banyak obsesinya yang belum terwujud. []

*) Penulis adalah pengarang. Sutradara dan pimpinan Komunitas Teater Keluarga (Kelompok Intelektual Asal Lingkungan Jalan Airlangga) Surabaya.

Komentar