Gigitan Kritis “Penulis Nyamuk”

Bandung Mawardi
http://suaramerdeka.com/

Soe Hok Gie adalah “penulis nyamuk“. Arief Budiman menginformasikan bahwa Hok Gie memiliki kebiasaan tengah malam mengetik di ruang belakang rumah dalam gairah pemikiran dan renungan. Proses menulis itu ditemani atau direcoki oleh nyamuk dan lampu temaram. Keadaan ruang dan antusiasme menulis menjadi bukti heorik Hok Gie.

Nyamuk tidak bisa jadi alasan untuk tidak berpikir dan menulis. Nyamuk untuk orang lain adalah gangguan menyakitkan dan memancing emosi karena dengung dan gigitan. Hok Gie mungkin mengartikan nyamuk sebagai pirit dan kekuatan untuk menghasilkan ulisan menggigit dan menganggu pihak-pihak tertentu karena jadi sasaran kritik pedas dan lugas.

Tulisan-tulisan merek nyamuk dari Hok Gie bisa disimak melalui publikasi buku Catatan Seorang Demonstran, Di Bawah Lentera Merah, Zaman Peralihan, atau Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan. Tulisan-tulisan nyamuk justru mengena saat terpublikasikan melalui media Kompas, Sinar Harapan, Indonesia Raya, dan Mahasiswa Indonesia pada 1960-an.

Artikel atau reportase garapan Hok Gie kerap memikat pembaca dari kelas bawah sampai elite politik. Kekuatan nyamuk juga sanggup membuat para pejabat marah atau kalangan intelektual sengit menimpali dengan polemik.

Hok Gie memang legenda gairah keintelektualan dalam masa politik panas. Sikap kritis dan idealisme menjadi patokan untuk melakukan perlawanan, penyadaran, dan pencerahan dengan risiko kecaman, penjara, atau kematian. Hok Gie tidak melempem kendati represi politik telah memakan korban sekian kalangan intelektual, jurnalis, dan aktivis. Demonstrasi, artikel, diskusi, pendakian gunung, dan menonton film adalah realisasi memukau dari ambisi keintelektualan seorang pemuda dalam pelbagai dilema. Kesibukan itu mesti ditebus dengan keterasingan, kegagalan cinta, permusuhan, dan mencapai titik akhir pada kematian saat pendakian di Gunung Semeru.

Peristiwa kematian Hok Gie pada 16 Desember 1969 menjadi landasan untuk mengenangkan dan memetik hikmah biografis. Teman-teman Hok Gie memberi kesaksian dari ingatan-ingatan hampir punah.

Penelusuran jauh memang merepotkan tapi proses penulisan terus dilakukan agar ada pengekalan dan pewarisan catatan untuk siapa saja.
Penulisan pelbagai fragmen kehidupan Hok Gie dilakukan oleh pelbagai kalangan dengan niat memberi penghormatan dan memicu pembelajaran atas sosok-sosok fenomenal dalam impian menjadi Indonesia. Hok Gie adalah contoh dari persemaian spirit intelektual tanpa henti.

Antusiasme

Penerbitan buku ini mengesankan antusiasme membuka ruang ingatan atas peran intelektual dalam perbedaan latar zaman. Para penulis menulis dengan kesadaran atas tautan politik, ekonomi, pendidikan, sejarah, seni, keluarga, sastra, cinta, dan ekologi. Testimoni dari saksi hidup memang mencengangkan karena menjadi jalan mengenali sosok Hok Gie secara manusiawi dan penghindaran dari pengkultusan. Tulisan memukau disajikan oleh Kartini Sjahrir dengan titel “Surat Terbuka Ker Buat Gie.“ Tulisan dalam format surat ini menghadirkan sisi Gie dalam ambisi cinta dan pemikiran.

Kartini Sjahrir mengisahkan dengan intim, terbuka, dan mengejutkan terkait intimitas diri dengan Hok Gie ketika masa kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Kenangan dan ingatan atas pelbagai pengharapan.

A Dahana sebagai karib memberi pujian: “So Hok Gie adalah seorang Indonesia sejati yang sudah melupakan identitasnya sebagai seorang keturunan Tionghoa.“ Pujian ini muncul karena keterbukaan Hok Gie untuk ikut memberi arti pada proses pembentukan Indonesia tanpa rasa minder atas persepsi minoritas. Proyek menjadi Indonesia seperti jadi impian suci bagi Gie. Aktivitas keintelektualan adalah jalan untuk mencapai impian.

Pembacaan atas Indonesia dilakukan dengan kritis dan keberanian melancarkan gugatan atas kebijakan rezim Orde Lama dan Orde Baru ketika menghinakan rakyat. Perlawanan adalah keniscayaan.

Takdir Hok Gie itu pun memberi gairah besar pada Riri Reza dan Mira Lesmana untuk mengabadikan dalam tafsir film. Dua orang ini ikut menyumbang tulisan sebagai apresiasi atas ketokohan Hok Gie untuk menyemaikan proyek Indonesia bagi kalangan muda. Nicholas Saputra sebagai pemeran Gie dalam film itu juga memberi tulisan bertajuk “Catatan Seorang Aktor“. Tulisan ini adalah representasi dari hikmah Hok Gie untuk menjadi spirit kalangan muda merawat dan menggerakan Indonesia menuju terang.

Kontribusi film Gie memang memberi pengaruh signifikan untuk melengkapi kesuntukan pembaca tulisan-tulisan Gie.

Mozaik

Buku ini merupakan mozaik Gie karena menghadirkan tulisan-tulisan dari pelbagai kalangan dalam perspektif pluralistik. Pembaca diajak menikmati pelbagai tulisan dengan bumbu, aroma, dan kelezatan berbeda dari para kontributor: Rudy Badil, Jakob Oetama, Der Soz Gumilar Rusliwa Somantri, John Maxwell, Jimmy Harianto, Herman O Lantang, Cut Dewi Septisari, Luki Sutrisno Bekti, Ben Anderson, Hilmar Farid, Stanley Adi Prasetyo, dan lain-lain. Tulisan-tulisan Hok-gie di pelbagai koran juga turut dimuat dalam bagian akhir untuk mengantarkan pembaca pada afirmasi spirit keintelektualan secara kritis dan reflektif.

Hok-gie memang telah mati. Warisan tulisan dan pemikiran tentu memberi pada proyek menjadi Indonesia. Kematian Gie pada usia menjelang 27 tahun telah membuka sekian jalan untuk pembelajaran publik mengenai pelbagai hal terkait dengan eksistensi manusia, keindonesiaan, kekuatan nalar, nasionalisme, humanisme, dan lain-lain. Gie seperti memenuhi hikmah dari seorang filsuf Yunani: “Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.“ Silakan mengenang Gie.

Komentar