Henri de Régnier (1864-1936)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=406


BULAN KUNING
Henri de Régnier

Siang panjang itu berakhir dengan satu bulan kuning
Yang pelahan bangkit di antara pepohonan,
Sementara di udara menyerbak dan berkembang:
Bau air yang antara pimping basah bertiduran,

Insyafkah kita, bila, dua-dua, di bawah Surya memanggang
Kita siksa tanah merah dan tunggal jerami yang memberkah,
Takukah kita, bila kaki menginjak pasir gersang
Ia tinggalkan bekas langkah bagai langkahnya darah,

Takukah kita, bila kasih menjulangkan nyalanya
Di hati kita yang renyai dengan siksa putus asa,
Takukah kita, bila padam api yang membakar kita,
Bahwa nanti baranya mesra berasa di senja kita,

Dan bahwa hari getir dekat silamnya, diserbak rangsang,
Bau air yang termenung di antara pimping basah,
Nanti pelahan berakhir dengan itu bulan kuning
Yang di antara pohonan meningkat jadi purnama?

Henri François Joseph de Régnier (28 December 1864 – 23 Mei 1936) penyair Perancis lahir di Honfleur. Mulanya anggota golongan Parnasse (aliran anti romantik meluap-luap, menghendaki jiwa yang tenang, serta teratur sewaktu mencipta, juga menggunakan teknik tepat) bersama Paul Verlaine. Kemudian menjadi pengikut Mallarmé, menganut aliran simbolik, demi tidak kentara kembali pada serba klasik. Régnier dipandang ahli menggunakan sajak bebas. Tahun 1911 diangkat sebagai anggota Akademi Prancis. Kumpulan sajaknya terpenting Les jeux rustiques et divins, 1897, Les Médailles d’argile (1900), dan La cité des eaux (1902). {dari buku Puisi Dunia, jilid I, disusun M. Taslim Ali, Balai Pustaka, 1952}
***

Musim kemarau panjang, dahaga di tenggorokan, kerongkongan bau kayu arang, bersimpan segala kenangan; haus kerontang menjelma tuntunan di kemudian.

Kala surya menyapa, dengan warna paling gemilang, satu bulan kuning menggantung nganggur serupa ocehan tidak juntrung, berpusar-pusar mencari ruang.

Aku lihat terbelit-belit kemabukan bayangan, yang sontak pelahan bangkit, antara pepohon pemikiran.

Sementara udara, berselimut misteri bau air tiduran, atau kapan menujah tubuh binal kepastian.

Régnier dengan kebebasan, telah diperhitungkan di tubuh kesakitan; hawa yang panjang menelusup membelukar.

Puisinya menjadi tantangan mewarnai keberanian, kekontrasan serupa lukisan mengangkat kemungkinan, yang tersimpan di balik pengalaman.

Menyegrak hidung berbau kepincangan, namun begitu purna saat keyakinan melampaui kantuk sembarang siang.

Semacam ruh dilambungkan ke angkasa, dan mata-mata menanti kejatuhannya.

Ada gema menggetarkan tubuh memperinding bulu, kala benda-benda angkasa jauh didekatkan, tepat di depan mata sasaran; degup jantung kata-kata sangkala.

Seperti terpanggang ketakutan dosa api neraka, penyiksaan bathin menggila dari sekadar ribuan gelisah.

Ada kuku-kuku tajam mencabik kalbu memburai usus empedu niat busuk, ada sesalan tak lekas mampus, terus menggoyang iman melantakkan jerami kering yang lemah.

Entah memberkah, atau masih dihantam ketakutan dalam kubur mulut terkunci. Yang setiap langkah meninggalkan diri, membekasi darah siksa.

Menyerukan keinsyafan dengan tubuh goyah, tidak tahan pilu namun merindu. Seakan mencampakkan bungkusan hitam kental padat cairan.

Atau jangan-jangan, darah menghitam oleh pukulan nafsu, serta iman yang berbenturan tiada perlawanan.

Di ambang percobaan siksa bathin keyakinan, di samping madu menguntit senyuman goda percumbuan, yang berujung maut tiada tentu memastikan.

Tapi sangatlah nyata, dan mampu menggerogoti mental pencarian.

Régnier bertanya-tanya, taukah kita? Hati terpaut-pagut disertai uraian rambut memanjang ke senjakala, atas tangisan pesisir pantai selatan memerah.

Durjanakah putus asa? Jiwanya menggelinjak berpusaran, menggelinding menyerupai bola api, lantas lenyap dalam gelap keraguan, atau ketakutan enyah.

Adakah gemuruh ruh bathiniah menyala-nyala? Hati yang terbakar, bagai lempengan besi siap ditempa kepastian, sedang jiwa manis mereka telah lenyap, sebelum matahari jaman menggumuli perasaan semesta.

Régnier melanjutkan tanya dalam batu padamnya api debu-debu peperangan, puing-puing berserakan meragukan muksa.

Kemesraan yang mana? Jikalau belum tuntaskan malam-malam genap, sebelum perpisahan takdir menyerap lenyap.

Atau hantu macam apa? Kesetiaan pulang pergi mencari kejayaan di hutan rimba.

Hendak tuntaskan sesuatu, tetapi pertanyaannya berbalik memukul, sekuat yang selama ini diyakini, merongrong ke dasar hati mengaduk-aduk kemunafikan diri.

Lantas diriku menjajal pertanyaan, Régnier, benarkah ada kemesraan bara di senjakala?

Jawabnya, “hari getir dekat silamnya” dan diriku seperti “bau air yang termenung.”

Ya, mari kita rangsang hingga tandas segala pemahaman, dengan berakhirnya bulan kemuning di telaga.

Antara pepohonan meningkatkan deru angin, yang pucuk-pucuknya membekasi tapakan di jendela.

Dan mereka melihat kita beterbangan purnama, puisi-puisi lebur dalam satuan tarikan cakrawala, berdentut-denyut di setiap kepala hati manusia.

Inilah akhir pertanyaanmu, jawaban sungguh dari nafasan pelita kalbu; kita teguk harum kembang bau dupa, begitu pula gemintang hadir di siang harinya.

Komentar