Langsung ke konten utama

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk rumahnya, ya, kebunnya, bahkan juga setiap langkah gerak penduduk dan bahasa mereka. Baru kemudian, ketika seorang muda kira-kira belum 30 tahun memperkenalkan diri, terasa bahwa desa ini menyimpan kekhasannya sendiri. “Tepangaken, kulo jeneng lanang pengaran Sampan. ”

Sampan, itulah namanya. Orang Jawa umumnya pasti akan langsung menyebut nama bila memperkenalkan diri, tanpa usah menyebut “jeneng lanang” (artinya, nama laki-laki) dan “pengaran” (sebutan). Tapi demikianlah lazimnya warga Jepang (awas, ini bukan Jepang yang beribu kota Tokyo), Desa Margomulyo, Ngraho, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, ini memperkenalkan diri.
* * *

Jepang di Kabupaten Bojonegoro memang berbeda dengan pedukuhan lain. Bukan karena tanahnya yang kering keputih-putihan. Bukan pula karena penduduknya yang - relatif - miskin. Bukan pula karena dusun ini terletak di tengah hutan jati. Namun, di dusun terpencil - 4 km dari ruas jalan Ngawi-Cepu, di ujung barat Provinsi Jawa Timur yang dihuni 120 keluarga itulah hidup keluarga-keluarga yang oleh orang luar disebut orang Samin. Dan itu bukan sekadar sebutan.

“Orang Samin” punya konotasi khusus bagi orang di luar lingkungan ini. Mereka dianggap berlagak bodoh, malas, dan berpikiran sempit. Sejumlah lelucon bak kisah Si Kabayan dari Tanah Sunda, atau Nasruddin Hoja dari Timur Tengah, seputar orang-orang Samin pun tumbuh berkembang. Tersebutlah misalnya, seorang pergi ke pasar, dan ditanya temannya: “Dari mana?” “Dari belakang.” “Mau ke mana?” “Mau ke depan,” jawabnya pula.

Atau, seorang bapak menyuruh anaknya pergi ke sawah, katanya, “Tunggui padimu.” Si anak tanpa banyak cakap langsung pergi ke sawah dan duduk di dangau. Puluhan burung pipit, yang menyerbu malai padi yang mulai bernas, dibiarkannya saja. Melihat itu, seorang yang lewat lalu menegur, “Mengapa burung yang makan padimu itu tak kauusir?” Dengan tenang, tanpa rasa salah, anak tadi menjawab, “Saya hanya disuruh untuk menunggu padi, bukan mengusir burung.”

Cerita-cerita lucu macam itu sudah pasti lebih berkembang di lingkungan dunia olok-olok, daripada dalam kenyataan sehari-hari. Walaupun sesekali orang Samin bisa juga berlagak bodoh, atau bersilat lidah dengan logika khas mereka, untuk mempertahankan sikap yang mereka yakini benarnya - terutama di masa-masa silam.

Puluhan ilmuwan dan penulis yang telah melakukan studi tentang masyarakat Samin umumnya membantah keras anggapan bahwa masyarakat Samin bodoh, malas, polos, dan lucu. Para peneliti malah menghubungkan sikap orang Samin dengan nilai kepahlawanan, yakni dalam upaya menentang penjajahan Belanda.

Kendati begitu, anggapan umum terhadap orang-orang Samin belum banyak berubah. Bahkan sikap atau tingkah laku konyol orang-orang yang bukan Samin sering disebut sebagai nyamin, seperti orang Samin. Meski masyarakat Samin sudah semakin berubah dari nilai dan warna asli warisan yang mereka terima hampir seabad lampau, di sela-sela hutan jati.
* * *

Bukan untuk dijadikan bahan tertawaan, bila sekelompok masyarakat mengambil sikap tertentu, dan yang kemudian, kebetulan, kelompok itu disebut orang Samin. Kiai Samin Surosentiko - sang pembuat sejarah dan pemulanya - sendiri pun pasti tidak membayangkan demikian.

Sewaktu dulu ia dengan tidak bosan-bosannya mengajarkan keyakinan hidupnya kepada para kerabat dan handai tolan yang sudi mendengarkannya - di rumahnya di Plosokediren, Randublatung, Blora, Jawa Tengah Surosentiko tidak main-main. Dan orang - tak cuma anggota masyarakat Samin - tetap mengingat siapa dia.

Arsip Belanda menyebut Samin Surosentiko lahir pada tahun 1859. Menurut Hardjo Kardi - pemuka masyarakat Samin di Dusun Jepang - nama asli Samin Surosentiko adalah Raden Kohar, anak Raden Surowijoyo. Gelar Raden di depan nama memastikan Samin adalah keturunan ningrat. “Tapi kami belum tahu asal-usulnya lebih lanjut,” kata Hardjo, dalam bahasa Jawa halus.

Ada yang menyebut, Raden Kohar keturunan Pangeran Kusumaningayu, konon, salah seorang bupati Sumoroto dulu. Persoalan mengapa keluarga bangsawan itu lantas memencilkan diri dari lingkungan lazimnya, dan bergabung di tengah kemiskinan masyarakat umum di seputar hutan jati, hingga kini belum bisa diungkapkan.

Pada usia 30 tahun, Samin Surosentiko mulai menyebarkan ajaran saminismenya. Konon, ia melakukan itu setelah berulang kali bertapa di berbagai gua dan menemukan kitab Kalimosodo. Nama “Kalimosodo” memang dikeramatkan oleh banyak orang Jawa, dan dalam kisah pewayangan itulah nama ajian milik Pandawa. Sementara itu, ada yang menafsirkan dari sudut Islam, “Kalimosodo” berasal dari kata kalimat syahadat.

Dari Randublatung, ajaran Samin berkembang ke berbagai daerah. Di desa-desa Bapangan, Mendenrejo–Medan, Klopoduwur–Banjarrejo, Tanduran Kedung Tuban, Jejeruk-Blora dan banyak desa lain penganut saminisme tumbuh berkembang.

Ketertarikan orang-orang untuk mendengarkan fatwa Samin Surosentiko, semula tak menimbulkan kesulitan bagi pemerintah kolonial. Gerakan tersebut memang tampak tak berbeda dengan berkembangnya ajaran kebatinan lainnya. Tapi, pada 1905 keadaan berubah. “Para pengikut Samin mulai menarik diri dari kehidupan umum desanya, menolak memberikan sumbangan kepada lumbung desa,” tulis P. Widiyanto, yang pernah melakukan riset, dan menuliskannya di majalah Prisma, Agustus 1983.

Status pajak, bagi orang Samin, lalu berubah bentuk dari kewajiban menjadi sukarela. Sedang Samin Surosentiko malah berhenti membayar pajak sama sekali. Konflik orang Samin dengan Belanda mulai pecah. Samin Surosentiko ditangkap, pada 1907. Ia dituduh hendak memberontak,. “Mbah Surosentiko diselong,” kata Hardjo Kardi. Maksudnya, dibuang keluar Jawa (selongberasal dari kata Sailan, salah satu tempat pembuangan di masa Hindia Belanda).

Tujuh tahun kemudian, Samin Surosentiko meninggal di Sawahlunto. Upaya mengucilkan Surosentiko, ternyata, tak menyebabkan saminisme susut. Justru, sebaliknya, saminisme malah berkobar, di Kabupaten Pati, Rembang, Bojonegoro, Ngawi, dan terutama di Kabupaten Blora. Ini menjadikan masyarakat penganutnya kian eksklusif. Mereka membangkang terhadap aturan Belanda - suatu perlawanan tanpa senjata.

Ketidakmauan membayar pajak dan mengibarkan bendera, ditambah kebanggaan menonjolkan ciri kesaminan (berbaju hitam dengan kumis melintang), menyebar di berbagai kalangan orang Samin. Ketidakpatuhan pada aparat desa di masa lalu itu, oleh Hardjo Kardi, disebut sebagai upaya melawan Belanda. “Tapi kita ‘kan kalah kekuatan. Mereka memang geram kepada Belanda, kepada petugas kehutanan yang digaji Belanda untuk menguasai hutan-hutan jati, juga kepada londo ireng (Belanda Hitam). Yang tersebut belakangan itu adalah orang-orang pribumi yang menjadi aparat desa, jadi kaki tangan Belanda.

Menurut cerita orang-orang tua, kerja londo ireng hanya merampas harta penduduk: padi, sapi, kayu, bahkan rumah. Mengapa mereka tak mengadakan perlawanan? Orang Samin berpikir realistis: tidak mungkin. Sikap terbaik saat itu adalah diam. Namun, beberapa nama tidak bisa diam untuk tidak menyebarkan ajaran Samin yang memusuhi penguasa waktu itu. Nama-nama seperti Wongsorejo, Engkrek, Surokidin, atau Karsijah beserta para pengikut lainnya, adalah nama-nama langganan yang dicurigai Belanda. Beberapa di antaranya lantas di-selong pula.

Yang kemudian tak jelas adalah mengapa masyarakat Samin yang semula digambarkan banyak penulis berkesan heroik, gagah, dan membanggakan tersebut lantas berkonotasi lucu, mbodoni (bodoh atau berlagak bodoh), dan malas. Keeksklusifannya - mereka relatif terpencil dan terisolasi dari masyarakat lainnya - mungkin yang menyebabkannya.

Bentuk perlawanan tanpa senjata yang dilakukan orang Samin terkadang memang menggelikan, tapi tak jarang mengundang kekaguman dan rasa hormat. Misalnya ini: Alkisah, seorang Samin - petani, tentu - didatangi petugas desa untuk memungut pajak. Si Samin, sesuai dengan keyakinannya, merasa tidak perlu membayar pajak pada desa yang merupakan perpanjangan tangan Belanda.

Maka, ia pun bertanya, “Pajak apa yang harus saya bayar?” Pemungut pajak menjawab, “Pajak untuk sewa tanah yang kaugarap itu.” Tanpa banyak berkata lagi, petani tadi segera menggali tanah, lalu memasukkan uang ke lubang, dan menutupinya dengan tanah lagi. Ketika ditanya mengapa mengubur uang, ia menjawab bahwa dirinya baru membayar sewa tanah yang dipakainya. “Tanah ‘kan milik bumi, jadi saya harus membayar sewa tanah ini pada bumi,” ujarnya tenang.

Dengan cara itu - tanpa mengadakan perlawanan secara fisik dan pernyataan menentang - petani tersebut bisa memperlihatkan sikapnya bahwa ia memang tak mau membayar pajak. Cara lain yang lebih nyamin untuk menolak pajak ditunjukkan oleh Mbah Leles - yang umurnya “kalau tujuh puluh tahun saja, ya, lebih” - di Desa Jejeruk, Blora. “Wong, kok, dijaluki pajeg. Kowe rak nduwe jejeg, aku nduwe jejeg, lan kabeh wong yo nduwe jejeg dewe-dewe. Yo, ora oleh yen jejegku mbok jaluk. (Orang kok dimintai pajak. Kamu ‘kan punya tegak, aku punya tegak dan semua orang punya tegak. Ya, tidak boleh kalau tegakku kamu minta).

Retorika yang menyandarkan pada kesamaan bunyi kata, pajeg yang berarti pajak dengan kata jejegyang berarti tegak, mestinya disengaja, untuk memutarbalikkan logika, mencari alasan yang kedengarannya logis. Menghadapi kata-kata yang maknanya tak jelas benar, si pemungut pajak biasanya lalu pergi, daripada berdebat dengan bingung.
* * *

Keterpencilan, sikap hidup yang eksklusif, dan gesekan terus-menerus dengan pemerintah kolonial menjadikan saminisme - bila boleh dikatakan demikian - kian menggumpal dan mengeras. Mereka, masa itu, makin berbeda dengan masyarakat sekitarnya. Menjodohkan anak di masa lalu tak perlu dibawa ke hadapan naib atau dicatatkan pada pemerintah. Bila laki-laki dan perempuan telah sama-sama suka, mereka boleh mengadakan hubungan seks. Setelah itu, si lelaki baru mengatakan kepada orangtuanya bahwa ia siap kawin.

Cara mengawinkannya cukup hanya mengantarkan mempelai ke rumah tokoh panutan orang Samin setempat, atau ke kepala desa. Pihak laki-laki membawa pisang setangkep (dua sisir), pinang sirih, dan kelapa. Bila kepala desa marah lantaran melihat pengantin perempuan telah hamil, mereka tidak ambil peduli dengan kemarahan itu. Apa pun tanggapan lurah, atau tokoh masyarakat setempat, bila “upacara menghadap” ini sudah dijalankan, perkawinan dianggap sah. Dan itu berarti mereka bisa mengadakan pesta adang akeh (menanak nasi banyak-banyak), mengumpulkan sanak saudara.

Kebersamaan orang Samin pun bisa mengherankan masyarakat sekitarnya, karena sikap tersebut ditafsirkan begitu jauh. Di Desa Klopoduwur, misalnya, Bandelan Amaruddin - koresponden TEMPO di Kudus - memperoleh cerita lama tentang tradisi pinjam istri. Sebelum tahun 1950-an, adalah biasa seorang Samin “meminjam” istri sesama Samin.

Adat tak tertulis membolehkan orang lain mendatangi seorang istri, bila suaminya lagi pergi. Selama lelaki yang datang itu menancapkan sepotong anak bambu di depan rumah tempat kencannya, suami wanita tersebut akan membiarkan saja istrinya “dipinjam”. Hingga tahun 1960-an ciri-ciri kesaminan masih terasa kental. Susanto Pudjomartono (sekarang wartawan TEMPO) pada tahun-tahun itu pernah mengadakan survei di kalangan orang Samin di daerah Pati.

Ia menuturkan, kadar kebersamaan orang Samin masih tinggi. “Mereka bisa dikatakan tak mengenal pemilikan pribadi,” tuturnya. Bila salah seorang hendak pergi ke kota dan berbelanja di pasar padahal ia tak punya apa pun, tanpa ragu ia bisa pergi ke rumah tetangganya dan berkata, “Sedulur, aku melu nganggo klambimu (Saudara, aku ikut memakai bajumu)”, atau bahkan “Aku melu nganggo dluwang itunganmu (aku ikut memakai uangmu)”. Bila tetangganya memang mempunyai barang yang hendak dipakainya itu, tanpa keberatan sama sekali akan meluluskannya. Kalau, suatu waktu, ganti dia yang memerlukannya, ia tidak akan menagih kepada si pemakai yang dulu. Melainkan, dia akan melunganggo milik Samin yang lain.

Tak ada soal utang-piutang di sini: siapa berutang kepada siapa, siapa harus membayar utang kepada siapa. Sikap khas ini - masih cerita Susanto - sering dipakai untuk memlonco para hakim atau jaksa yang baru bertugas di daerah Pati. Bila orang Samin disidangkan di pengadilan - apalagi kalau bukan perkara pencurian kayu jati - hakim yang belum berpengalaman akan kerepotan menghadapi orang Samin. Ketika hakim bertanya, “sopo jenengmu? (siapa namamu?)”, mereka pasti menjawab, “lanang” - (laki-laki)”. Mereka baru akan mengatakan namanya bila ditanya “Sopo pengaranmu? - (sebutanmu)”.

Begitu vonis dijatuhkan, mereka pun akan protes keras bila dinyatakan bersalah mencuri kayu jati, dan dihukum tujuh hari, misalnya. Sebab, menurut mereka, hutan jati milik bersama, dan karenanya kayunya boleh dinikmati siapa pun yang memerlukan. Mengambil kayu jati yang dikuasai Perhutani bukan mencuri. Tetapi mereka akan dengan rela tinggal di penjara sepanjang waktu yang dinyatakan vonis, bila disebut bahwa dirinya di penjara itu diundang bergotong royong.

Di masa lalu, bahasa orang Samin pun khas. Tulisan disebut rengkong - merupakan akronim dari ireng bengkong (hitam bengkok). Menulis diistilahkan nggambar rengkong. Sedangkan nulis itu sendiri dalam bahasa Samin bisa berarti bersanggama. Untuk menyebut uang, mereka memakai istilah itung-itungan,. “Saya sudah tidak tahu lagi bahasa khas leluhur. Waktu Kakek masih hidup pun, sulit memahami ucapannya,” kata Setu, 45 tahun, sopir Colt asal Mendenrejo.
* * *

Sebutan Samin oleh orang luar besar kemungkinan diambil dari nama Samin Surosentiko (atau Surontiko), perumus ajaran itu. Mereka sendiri tak pernah menyebut diri dan kelompoknya sebagai orang Samin. “Yang membedakan ‘kan Anda sendiri,” kata Hardjo Kardi, setengah ketus, ketika seorang wartawan tanpa basa-basi bertanya ada berapa orang Samin di desanya.

Untuk menyatakan dirinya, mereka lebih senang menyebut sebagai orang sikep sebagian ahli mengartikan kata itu sebagai orang-orang yang bersikap, menurut yang lain sikep berarti sanggama. Toh, umumnya mereka tak menolak disebut sebagai orang Samin - memang, bagaimana mencegah orangorang menyebut mereka demikian? Dan entah karena sulit menolak itu, lalu muncul semacam pengrasionalisasian: “Samin ‘kan berarti sami-sami”, lalu adayang menambahkan, “sami-sami amin”. Rasa sami-sami, sama-sama atau kebersamaan, memang merupakan ajaran terpokok yang dianut orang Samin.

“Kabeh wong iku sedulur,” - (semua orang adalah saudara) - ujar Hardjo Kardi. Karena konsep bersaudara itulah lantas keterbukaan, tradisi saling pinjam dan saling memakai barang - yang di masa lalu, seperti sudah diceritakan, termasuk pinjam istri - berkembang. Rasa bersama ini pula mendorong kebiasaan gotong royong dan saling bantu yang jauh lebih kuat dibandingkan masyarakat desa sekitarnya. Malah, untuk pembicaraan antara mereka - dan di masa lalu juga terhadap orang luar - hanya dipergunakan bahasa Jawa ngoko, bahasa Jawa kasar, tanpa mau menggunakan kromo inggil, bahasa jawa halus, yang memang lebih sering dipakai oleh orang yang berstatus lebih rendah kepada yang lebih tinggi.

Misalnya antara anak muda dan orang tua, atau buruh dan majikannya. Mungkin karena hal itu pula, Samin Surosentiko tidak mau menggunakan gelar kebangsawanannya: Raden Kohar. Ia membuang gelarnya, bahkan mengganti namanya dengan nama yang lazim di masyarakat tersebut. Dan cara memanggil orang lain juga mencerminkan kebersamaan itu. Untuk orang yang usianya kira-kira sebaya, mereka lebih suka memanggil dengan sedulur (berarti saudara), daripada menyebut nama yang bersangkutan.

Rasa sederajat, rasa bersaudara, dan nilai-nilai saminisme lain agaknya, memang lebih berakar pada nilai yang diyakini Samin Surosentiko seorang, daripada hasil pemikiran bersama sejumlah masyarakat. Sejak malam Kamis Legi, 7 Februari 1889 - yang tercatat dan dituliskan kembali oleh R.P.A. Suryanto Sastroatmodjo pada majalah Optimis Agustus 1983 Samin Surontiko aktif berceramah di berbagai lapangan desa.

Pada 1901, misalnya, pada malam Senin Pahing 11 Juli, ia berdiri di tengah massa di lapangan penggembalaan Desa Kasiman diterangi nyala ratusan obor. Ia berbicara tentang ketenangan diri: perlunya mengendalikan diri, perlunya menjenguk batin, hingga perlunya ketenangan menghadapi setiap cobaan yang diterima makhluk dari Khaliknya.

Ki Samin pula yang menyebarkan nilai-nilai Jawa pada masyarakat pedesaan Blora. Yakni, pada nilai yang mengagungkan Pandawa dan malah menganggap mereka keturunan tokoh-tokoh wayang yang aslinya dari India itu. Ki Samin sangat mengagumi Puntadewa, si sulung Pandawa, yang dikenal paling jujur dalam dunia pewayangan, sebagai idolanya.

Ia pun membanggakan kebesaran Majapahit, dan pada nilai yang mendekati konsep wihdatul wujud - yang orang Jawa menyebutkannya dengan manunggalingkawulo-gusti (menyatunya di ri makhluk dengan Tuhan). Ini bisa dibilang sinkretisme antara ajaran Islam, Hindu, Budha, dan animisme. Itulah nilai yang diwariskan pada orang Samin sekarang.

Menurut Suryanto Sastroatmodjo, penulis itu, sebenarnya Ki Samin meninggalkan beberapa ajaran tertulis, meski dalam jumlah sangat sedikit. Namun, sebagian besar masyarakat Samin meyakini tak ada ajaran tertulis yang ditinggalkan Embah Surontiko. Hardjo Kardi, yang kini merasa sebagai satu-satunya pewaris utama nilai-nilai kesaminan, pun tidak tahu itu. Padahal, ia adalah anak Surokamidin, sesepuh masyarakat Samin di Dusun Jepang.

Konon, Surokamidin-lah pewaris dan satu-satunya orang yang paling lengkap menerima ajaran dari Surokidin, lantaran ia bertahun-tahun ikut keluarga Surokidin. Sedangkan Surokidin adalah murid, dan sekaligus menantu, Surosentiko. Kini, yang masih bisa digali dari Hardjo Kardi adalah nilai nilai universal, yang juga merupakan ajaran semua agama. Misalnya saja, agar setiap manusia selalu lung-tinulung, tolong-menolong, kapan pun, di mana pun, tanpa diminta, tanpa membedakan status sosial ataupun usia.

Dalam masyarakat juga harus tertanam rasa gilir-gumanti. Yakni, bila kali ini kita dibantu orang lain, maka ketika orang lain perlu, tanpa diharapkan oleh pihak yang bersangkutan pun kita wajib ganti membantu. Sesungguhnya, saminisme - di luar keanehan dan kelucuannya - tak beda dengan nilai-nilai Jawa pada umumnya. “Ojo drengki, srei, dahwen, kemeren, riyo marang sapodo-podo dan kudu roso tunggal.” Hendaklah tanpa hati dengki - begitu artinya jangan pula iri. Namun, harus membangun kebersamaan antar manusia.

Selain ini, Hardjo Kardi - yang selalu tegak bila duduk dan menatap lawan bicaranya - masih lancarmemberiberbagai fatwa lain. “Kalau kita baik, akan banyak kawan, dan kalau kita nakal, akan banyak musuh.” Yang sangat prinsip dari ajaran saminisme adalah menjaga bicara. “Rembuge sing ngati-ati (berhati-hatilah bila bicara).” Ketidakhati-hatian menjaga ucapan disebutnya bisa membawa ke permusuhan. Hendaklah berkata terus terang, apa adanya dan jujur. Jangan hendaknya bicara dipakai untuk menyakiti hati orang. Ketidakmampuan menjaga ucapan bisa menyebabkan seseorang dianggap tidak mampu menjalankan ‘lelakone embah’.

Penempatan posisi bicara, atau lisan, yang tinggi dalam hidup orang Samin, menjadikan satu warna tersendiri. Mereka lalu tidak membutuhkan basa-basi. Sedangkan untuk menilai keinginan orang lain, tak seperti orang-orang Jawa pada umumnya, orang Samin lebih mendasarkan pada ucapan formal. Bukan pada apa-apa yang tersirat. Karena itulah maka seorang kawan bilang bila Mushashi si jawara Jepang itu memilih “jalan pedang” sebagai falsafah hidupnya, maka orang-orang Samin memilih “jalan mulut”.

Kebersamaan di masyarakat Samin tumbuh sangat kuat. Tidak boleh seseorang mengambil untung dari kerugian orang lain. Pantang mereka memperdaya diri sendiri dengan cara menindas orang lain. Mencuri, sudah pasti, tak akan pernah dilakukannya. Menemukan barang orang yang tak diketahui pemiliknya, mereka juga tidak akan menghakinya.

Mbah Djojo, yang selalu mengenakan ikat kepala, selalu ingat salah satu petuah Mbah Surokamidin almarhum. “Yen kulak barang seripis, dolen saksuku. Kalau membeli barang seharga serupiah, juallah setengah rupiah.” Untuk bisa menjalani ajaran samin - yang sebenarnya juga merupakan nilai universal itu - kata Hardjo Kardi, tak mudah.

Setiap orang baru bisa menjaga dirinya sendiri dari berbagai ketidakbenaran, bila mampu mengendalikan delapan unsur bersaudara yang ada dalam dirinya. Yakni empat unsur yang dilambangkan dengan warna. Merah mewakili nafsu putih lambang sifat dasar kuning adalah unsur pengatur kelakuan serta hitam yang mewakili sifat senang. Ditambah empat lainnya yang merupakan indria. Yakni paningal, panggondo, pangroso dan pangrungon, - penglihatan, penciuman, perasa, dan pendengaran.

Secara menyeluruh nilai-nilai Samin dinyatakan sebagai ajaran agama. Yakni Agomo Adam, yang memiliki berbagai macam arti yang simpang siur dan sulit dipahami degan logika yang lazim. Terkadang Agomo Adam diartikan sebagai sesuatu yang permulaan, kadang sebagai sikap lisan. Istilah Nabi Adam dan Wali Adam oleh orang-orang Samin dipisahkan pula, untuk menyebut perbedaan jenis kelamin.

Lalu tentang surga dan neraka? Mereka - yang masih mendekap erat paham kesaminan - akan cenderung menggeleng, tersenyum lalu berkata perlahan, “Kalau kau mengatakan surga itu ada,… ya benar surga itu ada. Di lisanmu itu. Kalau kau mengatakan tidak, ya tidak ada.” Karenanya, orang seperti Hardjo Kardi akan tegas berkata bahwa hidup akan berakhir pada saat mati. “Sudah bebas,” katanya, yakin.

Keharusan agar manusia berbuat baik di dunia ini, baginya, ya hanya untuk kebaikan manusia pada saat hidup. Bukan untuk akhirat. Namun, paham hidup akan berakhir pada saat mati ini pun tak disetujui oleh beberapa orang Samin lainnya. Mbah Leles, warga Desa Jejeruk, Blora, yang selalu riang dan memiara kumis panjang terpelintir, ternyata, meyakini adanya inkarnasi. Kalau hidup seseorang baik, maka nyawanya kelak akan berada pada jasad manusia yang lebih baik. Kalau buruk, bukan tidak mungkin akan menjadi babi atau anjing.
* * *

Tapi waktu berjalan, detik berlalu. Samin sudah berubah, dan akan terus berubah. Sudah tak ada lagi yang dengan gagahnya berpidato di tengah lapang pada malam hari macam Ki Surosentiko. Tak ada pula yang dengan ikhlas dan bangga menembus dingin malam berbekal obor, terdorong mendengarkan petuah-petuah kesaminan. Sudah tak ada lagi tokoh yang bisa mengajarkan saminisme. Bila ada, ajarannya pun tak lagi komplet. Bisa dibilang, masyarakat Samin sudah kepaten obor, - putus hubungan dengan nenek moyangnya - kecuali di Dusun Jepang dengan Hardjo Kardi-nya.

Dan semua ini tak mereka sesali. “Zaman sudah berubah, Belanda sudah pergi,” kata Hardjo Kardi. Masa sekarang adalah jalan yang oleh orang-orang Samin dulu memang diharapkan datangnya. Zaman yang dulu mereka sebut tinggi jowo tunggu rakyat. Masa negara berpemerintahan sendiri, zaman merdeka . Suatu masa pembangkangan membayar pajak dan ketidaksediaan mengibarkan bendera, menurut Hardjo Kardi, harus diakhiri. Beberapa pergeseran terjadi, bukan hanya menyangkut ada atau tiada reinkarnasi setelah mati.

Cara pengajaran nilai kesaminan pun berubah. Surosentiko dengan aktif mengumpulkan massa agar dia bisa berbicara, tapi Surokamidin hanya memberi petuah kepada orang yang datang kepadanya. Dan Hardjo Kardi baru berbicara tentang ajaran samin bila ditanya hal itu. Mengapa tak khusus mengumpulkan orang untuk bisa diceramahi? “Itu ‘kan sama saja membikin gerombolan,” ujar Hardjo Kardi.

Dulu orang-orang Samin berupaya agar nilai kesaminan bisa didengar sebanyak mungkin orang, tapi kini setelah merdeka - saminisme hanya untuk diketahui dan dijalankan oleh mereka yang mau dan suka saja. Pemahaman akan perlunya tirakat dan kesaktian pun telah berubah. Ki Surasentiko gemar bertapa berhari-hari, sedangkan orang-orang Samin di Dusun Jepang akan memilih untuk berkata, “Kami ini orang tani. Bila berpuasa, tentu kami tak kuat mencangkul.” Bila orang-orang Samin dulu banyak yang mengagungkan kedigdayaan, kesaktian, kini mereka pun merasa tak perlu.

Pak Bangrek di Klopoduwur, misalnya. Di masa belum merdeka, dia ditokohkan karena kesaktiannya, di antaranya ia bisa terbang. “Saya pernah diajak terbang di atas daerah Jepon dengan mata tertutup,” kata Reso, yang mengaku berumur 90 tahun. Bagi orang Samin di Dusun Jepang - terutama bagi Hardjo Kardi - kehebatan macam itu tidak perlu lagi.

Kesaktian, kedigdayaan, ketidakmempanan kulit oleh senjata dinilai hanya akan membuat diri sendiri cenderung takabur dan pamer pada orang lain. Pendapat ini tentu tidak disepakati oleh orang-orang Samin di daerah Blora, yang umumnya masih tertarik pada ilmu kanuragan, dan masih biasa menjalankan puasa mutih atau puasa Seloso Kliwon.

Terlepas dari perbedaan pendapat antara orang Samin itu, warna-warna setempat memang belum hilang. Setelah merdeka pun gesekan orang Samin dan dunia luarnya masih terjadi. Hingga tahun 1950-an masih banyak orang Samin yang menolak membayar pajak. Hal ini memaksa para aparat desa berpikir keras mengatasinya tanpa konflik.

Di Desa Baturejo, Sukolilo, Kabupaten Pati, misalnya. Menurut penelitian Masato Fukushima dari Departemen Antropologi Universitas Tokyo, pada tahun 1983-1985, di desa itu Lurah Patmolujeng berhasil menanamkan rasa jowo podo jowo sedulur untuk merangkul orang Samin setempat. Sedang untuk menarik pajak, mereka menggunakan istilah njaluk sokongan (minta sumbangan), yang ternyata bisa diterima oleh orang Samin.

Di Desa Jejeruk — Blora, cara yang sama juga ditempuh Lurah Salam. “Kalau kita mengatakan menagih pajak, mereka akan menolak. Tapi kalau kita mengatakan njaluk sokongan, mereka akan memberi,” tutur Salam. Walau, pemberian itu biasanya sedikit, dan orang Samin tersebut umumnya mengiringi pemberian itu dengan ucapan, “Karena kamu minta, ya saya beri, tapi jumlahnya ya seikhlas saya.”

Tentu, besar “sokongan” itu masih di bawah nilai pajak yang harus mereka bayar. Karena itu, Pak Salam dua-tiga hari berikutnya akan datang lagi njaluk sokongan lagi. Demikian berulang-ulang hingga jumlahnya terpenuhi. Di Dusun Jepang, Hardjo Kardi juga pernah menggunakan retorika gaya Samin untuk mempertahankan diri.

Dulu, ia dituduh mencuri kayu jati yang kemudian dipakainya untuk membangun rumah. Ketika petugas hendak menyita rumah itu, Hardjo Kardi mengatakan: boleh saja, asal petugas itu juga mau memberikan rumah itu kepada Hardjo Kardi. Sewaktu petugas mengatakan bahwa rumah itu harus dirobohkan, dan hal tersebut adalah tugas negara, dia pun menjawab, “Kalau memang ada tugas negara untuk merobohkan rumah, saya dan orang-orang sedesa akan membantunya. Tapi syaratnya, semua rumah harus roboh, termasuk rumah Presiden.” Maka, pulanglah petugas itu dengan sia-sia.

Surokamidin di tahun 1964 malah pernah melangkah lebih jauh. Ketika lima orang warga desanya ditahan polisi lantaran - lagi-lagi - soal kayu jati, ia dengan bersarung, berjas hitam, mengenakan ikat kepala dan membiarkan kumisnya memanjang terpilin datang ke kantor polisi. Dimintanya lima orang tadi - yang disebutnya tidak bersalah - untuk dibebaskan. Polisi menolak. Merasa diabaikan, Surokamidin lalu berangkat ke Jakarta menghadap Presiden Soekarno, sekadar untuk bertanya: salah atau benar lima orang tadi.

Bung Karno menerima Surokamidin selama seminggu dan, konon, menjawab dengan kata “benar”. Legalah Surokamidin, dan ia pun lalu pulang dengan membawa puluhan gambar Bung Karno (juga gambar banteng) yang kemudian disebarkannya di rumah-rumah penduduk Jepang. Sayangnya, ciri saminisme masih juga punya konotasi dengan keterbelakangan, dengan kemiskinan.

Penelitian Masato juga mengungkapkan itu. Misalnya yang menyangkut pandangan mereka tentang sekolah. Banyak di antara saudara kita Samin itu yang menolak menyekolahkan anaknya. Dan ini bukan karena mereka punya pandangan sendiri terhadap sekolah. Tapi, “Sekolahe wong sikep kuwi gebyah macul thok. ” Sekolah buat orang Samin itu, ya, hanya mencangkul.

Masih menurut Masato, orang-orang Samin yang dianggap telah berpikiran maju oleh masyarakat luar Samin oleh kerabatnya sendiri sering dituding sebagai penipu pintar. Alasannya, mereka berbicara sudah tidak sesuai dengan cara orang Samin, dan mau diperintah oleh aparat pemerintahan.

Beberapa ciri saminisme yang menurut penilaian umum positif juga masih terasa hidup di daerah perbatasan Jawa Timur-Jawa Tengah. Semangat gotong royong, kejujuran, dan keterusterangan, misalnya. Hingga kini untuk mengerjakan sawah, mereka masih memakai sistem sambatan. Hari ini mereka bergotong royong bekerja di sawah si Suro, besok di sawah Merto, dan berikutnya giliran sawah Kirjo. Si pemilik sawah tak perlu mengupah mereka. Cukup dengan menyediakan makan - tradisi yang makin sulit ditemui di pedesaan lain.

Di kalangan anak-anak Samin yang bersekolah, sikap polos dan berterus terang juga terwarisi. Bila ada kegiatan di rumah atau di sawah, mereka akan meninggalkan sekolah, seperti juga terjadi di banyak desa lainnya. Bedanya, anak-anak keluarga Samin tidak membolos atau minta izin. Mereka akan berterus terang kepada guru bahwa hari itu bukan giliran sekolah, tapi giliran ke sawah.

Adapun ihwal perubahan dalam masyarakat Samin, bisa diceritakan oleh Sugito, purnawirawan peltu di Purwosari, Kudus. Di sekitar tahun 1948, tutur Sugito, yang bukan warga Samin ini, satu peleton pasukan kebanyakan bekas anggota Laskar Hisbullah - diterjunkan di berbagai daerah orang Samin. “Untuk mengenal peradaban dan agama mereka,” tutur Sugito.

Peleton yang diberi nama PPP (Pasukan Pembina Pimpinan Samin) itu mendapat kuliah tentang budaya orang Samin di Purwokerto, selama tiga bulan. Lalu PPP diterjunkan untuk tinggal selama setahun di rumah-rumah tokoh Samin. Hasilnya memang terasa. Tradisi pinjam istri lantas hilang. Klopoduwur, yang semula dianggap sebagai pusat kesaminan dan tampak terbelakang, makin tak berbeda dengan desa-desa sekitarnya.

Kalau ditanya di mana ada orang Samin, kini mereka akan menggeleng. Sedang bila ditanyakan di mana tempat bekas orang Samin, mereka pasti hanya menunjuk Dukuh Karangpace yang relatif miskin dan berada di sebalik hutan jati. Karena upaya itu pula, Agama Adam makin menipis pengikutnya. Kini, hampir seluruhnya - terutama setelah tahun 1965 - mereka meyakini Islam atau Budha sebagai agamanya.

Anak-anak mengaji di masjid, sudah bukan pemandangan yang asing. Di Jepang, pedukuhan yang kini paling kental nilai saminismenya, sebuah langgar telah berdiri. Dan seorang warga desa setempat melanjutkan studinya di Pesantren Pabelan. Dialah warga setempat yang berpendidikan tertinggi. Semangat bersekolah - walaupun di sana-sini masih terhambat oleh sikap mereka yang tua telah berkembang pula.

Di Dusun Jepang, pada 1970 sebuah SD didirikan, kendati hingga kini belum ada satu pun lulusannya yang melanjutkan ke sekolah menengah. Dari Desa Klopoduwur, setidaknya sudah dilahirkan 11 sarjana muda dan 48 lulusan SMA. Sebagian di antaranya dari keluarga Samin. Rumah-rumah makin jarang yang beratapkan ilalang atau ijuk. Sepeda dan sepeda motor, juga satu-dua mobil Colt atau truk, bukan cuma lewat desa Samin - tapi beberapa di antaranya sudah milik keluarga setempat.

Dan anak-cucu Surontiko ini pun ternyata mempan pula oleh acara radio dan televisi yang mulai banyak pada 1980-an. Mereka berubah: bila malam tiba, di pedukuhan Jepang umpamanya, anak-anak dan orang tua akan berkumpul di depan pesawat TV di serambi rumah Hardjo. Kebiasaan dan tradisi pun bergeser. Memanjangkan kumis dan memilinnya, serta bersarung, tidak lagi merupakan sikap yang harus dipertahankan.

Sewaktu muda, Hardjo Kardi pernah mencoba mendobrak tradisi tersebut. Bila ia hendak pergi ke kota, dari rumah ia bersarung. Setiba di hutan yang membatasi desanya dengan jalan raya, ia lalu mengganti sarung itu dengan celana. Nanti, bila pulang ia akan bersarung lagi. Suatu perbuatan yang pasti tak akan dilakukan oleh orang Samin generasi sebelumnya.

Tapi setelah ayahnya, Surokamidin, meninggal tahun lalu, ia justru mengenakan sarung bila menghadiri acara resmi atau harus pergi ke luar desa. Mengapa? “Saya bersarung karena harus bergaul dengan orang-orang tani dan desa. Agar mereka tidak merasa asing dengan kehadiran saya,” katanya jelas. Kebiasaan untuk berlagak bodoh, melucu ala Samin, kian jarang terdengar. Bahkan di kalangan warga Samin sendiri sudah banyak yang mengkritik kebiasaan yang disebut nyamin sangkak, yang mereka anggap memperburuk citra Samin.

“Hal seperti itu sebenarnya tidak sesuai dengan ajaran embah,” kata orang-orang di Jepang sekarang. Pola kerja sama antara mereka sudah kemasukan “hitung dagang”. Apalagi bila menyangkut soal uang, yang di masa lalu boleh dipakai siapa pun yang memerlukan tanpa ada kewajiban membayar kembali.

Di Menden misalnya. Mbah Mono, 95 tahun, berinisiatif mengaliri tanah-tanah kering di desanya dijadikan sawah . Ia beli pompa air untuk mengangkat air dari Bengawan Solo. Dan mereka yang kebagian air harus menyerahkan seperempat hasil sawahnya kepada si Embah, sebagai pengganti biaya operasi pompa. Tak apa memang, lantaran ini adalah kesepakatan.

Dulu, sulit dibayangkan hal “balas jasa” seperti ini. Di Jepang terjadi pula hal serupa. Hardjo Kardi membeli mesin diesel, dengan harapan rumah-rumah di Dusun Jepang berlistrik. Setelah terbeli, ia memasang jaringan kabel dari rumah ke rumah, dan memberi satu bohlam di setiap rumah warganya. Tidak gratis, tentu saja ia memungut Rp 1.000 dari setiap keluarga setiap bulan. “Untuk iuran membeli solar,” ujarnya. Namun, tak lama kemudian, usaha itu dihentikannya. “Tak ada yang mau membayar, saya tekor.” Nah, Anda mendengar sendiri, bukan, di sana kini pun ada tekor?

Entah karena sisa-sisa ajaran kebersamaan masih belum lenyap benar, koperasi dalam masyarakat Samin tumbuh dengan baik. “Koperasi itu baik, karena untungnya juga milik bersama.” Adanya perubahan juga memudahkan para aparat pemerintah. H. Noerhadi Karyodihardjo, Kepala Desa Klopoduwur, menyebut bahwa kepatuhan orang-orang “bekas Samin” (istilah yang dipakainya) pada pemerintah sangat baik. “Bahkan lebih baik daripada kepatuhan masyarakat umum.”

Emmy, petugas KB di Kecamatan Ngraho yang sudah sejak 1977 membina masyarakat Samin, juga berpendapat begitu. Walaupun sebelumnya ia sempat merasakan keruwetan-keruwetan lantaran sikap nyamin. Umpamanya, beberapa hari setelah ia membagikan pil KB dan menjelaskan cara penggunaannya, ia datang lagi ke rumah-rumah orang Samin.

Ditanyakannya kepada mereka apakah pil KB yang dibagikannya dulu sudah diminum secara teratur. Tanpa menjawab, yang ditanya ganti bertanya, “Sebentar, Bu, apakah sudah sah dan ikhlas waktu Ibu memberi pil, dulu?” Dijawab Emmy “ikhlas”. Mereka lalu berkata, “Kalau memberinya sudah ikhlas, ya sudah, tidak usah ditanya-tanyakan lagi pil itu.”

Lalu beberapa tahun kemudian, mereka tergolong mematuhi KB denan polos. Soal kepatuhan yang polos pun terasa dalam pemilu yang baru lewat. Para pemilih di Dukuh Jepang semuanya memilih Golkar - beberapa kertas suara kosong, diduga lantaran yang harus bersuara tak mengerti caranya - tanpa menyisakan suara buat PPP atau PDI .

Mengapa Golkar? “Sekarang zamannya Golkar, jadi baiknya kita memilih Golkar. Kalau dulu kata Bapak-bapak, yang baik gambar banteng. Dulu kita memilih banteng,” jawab beberapa di antara mereka. Tentang keadaan Indonesia saat ini, orang-orang Samin yang telah tua mempunyai pendapat tersendiri. Wejangan embah dulu, kata mereka, menyebut bahwa suatu saat kelak akan tiba zaman adil makmur. Pada masa ini, “Makmurnya sudah datang, tinggal adilya yang belum.”

Kelak, masa adil akan ditandai dengan kerataan di berbagai bidang. “Orang yang baik akan menerima nikmatnya, orang yang jahat pun akan menerima nikmat pula. Namun, bentuk nikmatnya berbeda.” Orang-orang Samin semakin banyak yang malu menyebut kesaminannya. Ciri kesaminan semakin pudar.

Seperti juga pada banyak pergeseran tata nilai dan budaya masyarakat lainnya, mengaburnya wajah Samin boleh jadi telah mengundang silang pendapat. Akan selalu ada orang yang tidak rela bila nilai dan budaya suatu masyarakat tertentu pudar, dan menganggap pengaruh luar adalah racun yang ganas. Tetapi selalu hadir pula orang yang tidak tega melihat sekelompok masyarakat dibiarkan menjadi museum hidup, dikaji dan ditonton bagaikan di akuarium.

Apa pun silang pendapat masyarakat luar, orang Samin telah membiarkan diri mengalami proses wajar. Berubah. Mereka - seperti banyak kelompok eksklusif umumnya - dalam proses berbaur dan bermuara pada budaya yang lebih besar. Dalam hal ini Jawa. Sebelum kemudian, bersama-sama bergabung membentuk budaya Indonesia.

Ketika anak-anak yang lahir pada periode 1980-an menjadi dewasa, pupuslah sudah jerih payah Ki Samin Surosentiko di malam-malam gelap di lapangan-lapangan Bapangan, Kasiman, dan beberapa desa lainnya. Kecuali, mungkin, sumbangannya dalam menentang penjajahan yang tercatat sebagai sejarah.

Dan mudah-mudahan, nilai-nilai universal yang ikut ditegakkannya, seperti keterusterangan, kejujuran, solidaritas, dan kemerdekaan diri, tak menjadi luntur dengan berlalunya waktu. Hanya saja, kalau kita bertanya kepada anak-anak di abad depan tentang masyarakat Samin, barangkali mereka akan berkata begini, “O …. itu orang-orang yang lebih lucu dibandingkan cerita Asterix atau Lucky Luke.”

23 Mei 1987

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.