Langsung ke konten utama

Mario Vargas Llosa Karya Seni Realitas Dunia

Surya Lesmana
http://www.suarapembaruan.com/

Dia adalah novelis asal Peru, yang juga dramawan, esais, dan kritikus sastra penerima penghargaan Nobel untuk Sastra pada 2010 ini. Dia adalah Mario Vargas Llosa, salah satu dari sejumlah penulis di dunia Hispanik. Ia mendapatkan hadiah Nobel untuk karyanya mengenai kartografi dari struktur kekuasaan dalam melawan tekanan, perlawanan, pemberontakan, serta kekalahan individu.

Novel-novel karyanya kebanyakan dibuat di Peru. Teknik penulisan Vargas Llosa banyak dipengaruhi gaya avant-garde, di mana ia menciptakan sebuah karya seni mengenai realitas dunia. Sikapnya tegas dalam menuliskan novel meski fiksi, dan isinya juga bukanlah propaganda ideologi. Ia mengikuti tradisi dari para penulis di Amerika Latin pada masanya, sebagai pengkritik sosial dengan tema tulisan mengenai korupsi politik, machismo (kejantanan), perlakuan rasial, dan kekerasan.

Vargas Llosa lahir di Arequipa (Peru) pada 1936. Pada usia setahun, ia sudah pindah ke Bolivia setelah perpisahan kedua orangtuanya. Namun, di usia delapan tahun, kedua orangtuanya kembali rujuk, dan ia menetap di ibu kota Peru, Lima. Ketika masih menimba ilmu pada 1950, Vargas Llosa bekerja sebagai jurnalis untuk La Industria, di mana jabatannya adalah asisten redaktur jurnal sastra. Ia juga bekerja sebagai jurnalis untuk Radio Panamericana dan La Cronica. Di sana, ia mulai menulis karya-karyanya yang dimuat dalaam cerita bersambung. “Tulisan saya memang dipengaruhi William Faulkner (penulis AS peraih Nobel Sastra 1949). Namun, saya lebih meniru Ernest Hemingway (peraih Nobel Sastra pada 1954),” ungkapnya.

Pada 1955, Vargas Llosa menikah dengan Julia Urquidi. Mereka hidup bersama selama sembilan tahun sebelum akhirnya bercerai pada 1964. Semasa pernikahan itulah, ia meraih gelar kesarjanaan di Universitas San Marcos pada jurusan Kesusastraan dan hukum. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Universitas Madrid, Spanyol, tempat ia meraih gelar PhD. Disertasi Doktoral Vargas Llosa mengenai Garcia Marquez, seorang novelis, jurnalis, dan aktivis politik Kolombia
Marquez dikenal dengan karya besarnya Relato de un náufrago sebuah kisah nyata tentang kapal karam dengan menuliskan kehadiran barang-barang gelap di sebuah kapal Angkatan Laut Kolombia, yang membuat kapal itu kelebihan muatan dan karam. Karya ini menjadi kontroversi publik Kolombia, karena cerita itu membantah laporan resmi pemerintah mengenai kejadian sekitar kecelakaan itu, yang mempersalahkan badai dan mengagungkan pelaut yang selamat.

Akibatnya, García Márquez menjadi tokoh yang tak disukai pemerintah pimpinan Jenderal Gustavo Rojas Pinilla. Bersama dengan Marquez, Carlos Fuentes, dan Julio Cortazar, Vargas Llosa termasuk penulis terkenal yang mampu merevitalisasi novel Amerika Latin.

Obsesi Bawah Sadar

Di usia muda, Vargas Llosa menimba ilmu di Akademi Militer Leoncio Prado. Di akademi militer tersebut, Vargas Llosa terinspirasi untuk membuat novel La Ciudad Y Los Perros (The Time of Hero) pada 1962. Buku ini mendapatkan pengakuan internasional, karena dianggap dibuat melalui proses penulisan obsesi bawah sadar yang diubah menjadi tema oleh sang novelis.

Karyanya yang lain adalah La Tia Julia Y El Escribidor (Bibi Julia dan Naskah) pada 1977 yang ditulisnya dengan gaya humor yang liar, mengenai seorang novelis bernama Marito Varguitas yang ingin ditembak sang ayah, karena pada usia 18 tahun hendak menikahi seorang wanita yang lebih tua Julia yang digambarkan cantik dan seksi.

Kemudian, ada Guerra La Del Fin del Mundo (Perang Akhir Dunia) pada 1981 cerita tentang pemberontakan melawan Pemerintah Brasil di akhir abad 19.

Selain tulisan fiksi, Vargas Llosa juga membuat tulisan mengenai reportasenya sebagai seorang jurnalis yang dimuat di The New York Times, Le Monde, The Times Literary, El País, dan surat kabar berpengaruh lainnya. Salah satu artikelnya mengenai perang di Irak dikumpulkan menjadi sebuah buku Diario de irak (2003). Kemudian, bersama putranya, Morgana, Vargas Llosa pergi ke Israel dan Palestina pada tahun 2005, dan mencatat apa yang terjadi di sana ke dalam sebuah buku Guerra Paz O Santa (2006). “Israel telah menjadi sebuah negara kuat dan arogan, dan itu disebabkan peran dan kebijakan dari sekutunya,” ungkap Vargas Llosa.

Pada 1975 dan 2006, Vargas Llosa membuat buku kritik sastra mengenai novel hebat karya Gustave Flaubert Madame Bovary. Dalam bukunya, Travesuras De La Nina Mala (2006) Vargas Llosa menggambarkan karakter Emma Bovary seorang istri dokter yang terlibat dalam perselingkuhan.

Vargas llosa juga pernah menjadi juri untuk Festival Film Internasional Canes 1976, yang memenangi film karya Martin Scorsese, Taxi Driver. Kepedulian pada politik di negaranya membuat Vargas Llosa mencalonkan diri menjadi kandidat Presiden Peru pada 1990 dari Partai Fredemo yang beraliran demokratik. Ini jelas merupakan perubahan sikap karena sebelumnya ia dikenal mendukung Revolusi Kuba, namun berubah menjadi liberal yang kekanan-kananan. Banyak kritik mengarah pada perubahan pandangannya tersebut, namun Vargas Llosa menjawab “Politik itu adalah salah satu ‘setan’ yang paling gigih yang memprovokasi kreativitas saya,” ujarnya [Berbagai sumber]

Mario Vargas Llosa
Tempat/Tanggal Lahir:
Arequipa, Peru, 28 Maret 1936
Pendidikan:
- Universitas Nasional San Marcos
- University of Madrid, Spanyol
Penghargaan:
Nobel untuk Sastra 2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.