Langsung ke konten utama

tuhan Yang Membunuhku!

M.D. Atmaja
http://sastra-indonesia.com/

Sekejap dalam pandangan, menyadari diri berada di tepian punggung tebing. Pandanganku jauh, menembus cakrawala. Pengharapan dan mimpiku tersangkut di sana. Mengambang dan ketika aku mendekati, justru seolah menjauh. Jauh lagi, seperti aku tidak bergerak ke mana pun. Jarak terentang dari kaki berpijak dan langit gantungan mimpi.

Udara mengaliri pipi, mengusap wajah berbedu. Wajahku sendiri. Ada seseorang, terlihat seperti bayangan sedang memainkan tangan dan matanya. Meraih dan mendorong, merengkuh dan membenam sampai aku tidak bisa bernapas.

“Tidak dilanjutkan langkah kita?” tanya seseorang itu, mengalun senada anggur, manisnya memabukkan.

Aku ini seorang pejalan. Sendiri, menyusuri sunyi menggapai setumpuk mimpi. Keyakinan dalam dada juga hampir tak terpatahkan, sampai ku temukan setan yang kuyakini jadi tuhan.

“Setapaknya, pasti terlampaui.” Ucapku menghempaskan pandangan, di sana kusampahi diri sendiri saat memutuskan menurut kaki melaju di jalan-jalan mimpi yang sunyi.

“Ayo, selagi masih ada cahaya.” Ucapnya menggandengku.

Ada keraguan. Dia pun tahu itu. Sampai berkali, dalam seduhan anggur jahaman itu dia menantangku.

“Benarkah tidak ada penyesalan?” tanya sosok itu, begitu dekat membius sedang aku sadar kini tengah berdiri di tepian tebing. “Pimpinlah aku, seperti bagaimana diri-Nya menyebutmu sebagai khalifah dunia. Sebagai imam bagi setiap perjalanan.”

Ah, inikah nasib yang harus aku tanggung? Menjadi imam dan khalifah yang begitu mengenaskan untuk berdiri di ujung runcingnya sepisau takdir?

“Aku yang akan menurutimu.” Ucapku pelan berusaha menyelamatkan diri dari ketersesatan.

“Kamu khalifahnya. Dia menunjukmu menjadi pemimpin semesta atasmu!” ucapnya lagi mendorongku untuk membuat keputusan.

“Aku yang akan mengikutimu, seperti yang aku janjikan selama ini.” Sahutku menyelamatkan diri.

Dia menggelengkan kepala. Bermain tangan lembut, bermain kerlingan mata dan akhirnya kini bermain dengan tubuhnya.

“Sudah aku baktikan hidupku padamu. Seperti diri-Nya yang telah menunjukmu. Aku tidak mau menyalahi takdir dan menjadi durhaka. Jangan buat aku menjadi durhaka!”

“Lalu bagaimana?”

“Sudah sejauh ini. Melangkahlah dan aku akan mengikuti!” ucapnya penuh madu, begitu banyak sampai aku mabuk. Terlalu mabuk untuk tersadar kembali.

Seberkas mimpi dipenuhi cahaya menggantung. Membuyarkan pandangan, membuyarkan mata hati yang selama ini, aku kira berhasil menjaganya dari kebutaan. Akhirnya aku jatuh juga dalam kegelapan diri. Setan dalam diri sendiri yang berperangkap lima rasa gairah dunia.

“Baik. Kamu akan mengikuti.”

“Seperti yang engkau kehendaki.” Ucapnya pelan bertambah bumbu aroma candu.

Yah, melangkahlah kaki menyongsong cakrawala. Dari punggung tebing itu, penuh keyakinan dan tiang janji yang aku jalani. Sampai akhirnya, aku hanya menginjak udara. Ternyata tubuh ini terlalu memberati, bersama rasa bergejolak dari lima gerbang dunia. Aku terjatuh, menghujam tajam bebatuan. Amis darah dibawa udara menghempas ke langit sambil teriak histeris: Seorang Pelacak Jejak telah mati, dibunuh tuhannya sendiri.

Keras memekik di angkasa, membuatku terkesiap. Aku terbuka saat sosok yang lain begitu anggun datang. Dua sisi yang saling berganti berjalan mendekat. Sesaat begitu tampan, sesaat juga sangat menyeramkan. Datang dalam santun, tapi aku tahu di balik punggungnya ada sebilah pedang panjang.

“Kalau ada waktu untukmu dalam hitungan detik, apa yang akan kamu lakukan?” tanya sosok itu tanpa ekspresi.

“Untuk apa?”

“Jeda diantara mimpi dan sadarmu!” ia mengungkapkan dalam datar. “Apa yang akan kau lakukan?”

Kurentang busur pandangan, melihat sosok yang selama ini menemaniku. Dia tersenyum lucu melihatku terjatuh. Ku lihat wajahnya, mulus namun ternyata hanya dengan satu mata. Seketika itu aku pun menangis, jalan hidup itu menyesak sekarang ini.

“Apa yang akan kamu lakukan?” tanya sosok lainnya.

“Aku akan berjalan memburu tuhan yang telah membunuhku.”

“Kamu tahu dia dimana?”

“Di tempat aku berpijak!”

Sosok itu menganggukkan kepala. Lalu, dia berjalan menjauh. Ku lihat pedang panjangnya. Ku lihat tapak kakinya menuju perbatasan waktu. Kemudian di atas tebing, tuhan yang telah membunuhku, tersenyum mengambil jalan lain dan meninggalkanku. Ah, aku akan memburumu. Aku akan membunuhmu. Meski, selama ini dapat sunyi senyap aku puja dalam kesendirian. Nantikanlah aku untuk membunuhmu!

Studio SDS – masih dalam Perjalan Pulang, perjalanan ziarah 2011

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com