Langsung ke konten utama

Cerpen, Modernitas dan Kematian

Marwanto
http://www.kr.co.id/

BAGAIMANA masyarakat modern-kota memandang kehadiran sebuah cerpen? Sudah barang tentu jawabannya beragam. Sebuah cerpen di suratkabar mungkin dipandang sebagai hiburan semata. Pemuatannya di sebuah koran harian yang pas hari Minggu, sangat cocok untuk mengisi waktu santai. Cerpen di sini lalu hanya semacam intermezo. Selingan dari kebisingan berita yang “itu-itu saja”: kekerasan, kriminal, kesibukan di lantai bursa serta acara seremoni politisi.

Tapi bisa juga cerpen dipandang sebagai rubrik koran yang serius. Yang perlu mengernyitkan dahi untuk menyimaknya. Perlu pencermatan dalam mengikuti jalan ceritanya. Alhasil, di sini cerpen mampu menghadirkan sebuah penghayatan bagi pembacanya. Penghayatan yang menuntun mereka untuk merenungi kehidupan.

Pandangan kedua tersebut didukung oleh fakta bahwa tidak sedikit cerpen yang dimuat di koran mampu menyuguhkan, istilahnya Jane K Marshal (seorang guru di Institut Keguruan Yale-New Haven, Amerika), a slice of live. Cerpen adalah “sepotong atau secuil kehidupan”. Lewat cerpen, sepotong kehidupan tadi mampu dimaknai, dan karena itu cerpen juga membersitkan sebuah pesan. Pesan itu bisa berupa anjuran moral, toleransi atas keberagaman, kepedulian akan keadilan dan sebagainya.

Namun pesan yang paing “efektif didengar” oleh manusia modern-kota saat ini kiranya adalah datangnya ajal, kematian. Mengapa? Pertama, kematian adalah sesuatu yang pasti terjadi. Kedua, kematian juga mampu menyadarkan bahwa di hadapan Sang Penentu Ajal, manusia itu lemah, tak berdaya. Dalam konteks demikian, pesan kematian yang disampaikan pada masyarakat modern-kota menemukan relevansinya. Sebab, salah satu ciri masyarakat modern adalah merasa berkuasa dan bisa menguasai segalanya (atas dunia). Jadi, dengan kematian, seakan mereka disadarkan: bahwa mereka hanya makhluk yang lemah. Ia hanya setitik debu.

Menyimak buku Waktu Nayla, Cerpen Pilihan Kompas 2003 (Penerbit Buku Kompas, 2003) tak ubahnya menyimak pesan-pesan kematian. Sebab mayoritas cerpen di sini memang menyuguhkan tema dan setting kematian, maut dan ajal.

Cerpen pembuka dalam buku ini, yang oleh dewan juri Kompas dianggap yang terbaik, juga menyuguhkan tema kematian: seorang wanita yang dikejar-kejar waktu akan datangnya ajal akibat kanker ovarium yang dideritanya. Cerpen karya Djenar Mahesa Ayu ini dibuka dengan paragraf yang mengandung ide cerdas: manakah penunjuk waktu yang benar, jam/arloji atau gejala alam? Ide ini mengingatkan kita pada bait sebuah puisi yang pernah dimuat sebuah harian di Yogya: “apakah waktu/seperti yang kita angankan pada jarum jam”. Sebagai cerpen terbaik, sebetulnya tak ada yang istimewa dari “Waktu Nayla”. Mungkin karena keberhasilan Djenar bertutur dengan diksi yang rancak disertai ekspresi yang kuat membuat cerpen ini “beda” dari yang lain.

Cerpen lain yang kental tema ajal atau maut adalah “Saya Tidak Sedang Menunggu Tuan!”(Hamsad Rangkuti) dan “Rumah Baru” (Pamusuk Eneste). Harus diakui, kedua cerpenis senior ini masih memiliki elan vital untuk menyuguhkan cerpen yang apik. Baik Hamsad mapun Pamusuk mampu menghadirkan tema tentang maut yang patut kita renungkan. Bedanya, kalau Hamsad membuka cerpennya dalam suasana duka lalu bergerak ke kebangkitan untuk hidup, maka Pamusuk mengawali cerpennya dari suasana gembira (kesuksesan seorang bos setelah purna tugas) lalu mengarah ke ujung kematian. Dua cerpen inilah yang paling kuat mewakili tema tentang kematian.

Sementara cerpen lain meski tak mengangkat tema tentang maut, namun setting yang disuguhkan tak jauh dari ajal, kematian dan mayat. Cerpen tersebut adalah “Rumah Makam” (Putu Fajar Arcana), “Para Ta’ziah” (Ratna Indraswari Ibrahim), “Panikov” (Laban Abraham), “Malaikat Kecil” (Indra Tranggono), “Kacapiring” (Danarto) dan “Perempuan Semua Orang” (Teguh Winarsho AS).

Dari cerpen-cerpen tersebut setting dalam “Kacapiring” begitu kuat menghadirkan aroma kematian: “Rumah sakit ini rasanya menebar arus kematian. Terasa pada tengkuk dan telapak tangan yang dingin. Lorong-lorong yang lengang menghantarkan kereta jenazah yang bergulir sendirian…..” Cerpen ini sebenarnya berkisah tentang seorang suami yang selingkuh sehingga menyebabkan keluarganya tak bahagia. Danarto kembali dengan gaya “sufistik” dengan menampilkan tokoh istri yang ditinggal selingkuh menjadi “maya”.

Sementara dari empat cerpen yang bertema sosial (“Ode untuk Sebuah KTP” karya Martin Aleida, “Legenda Wongasu” karya Seno Gumira Ajidarma, “Batas” karya Helen Yahya dan “Jl Kembang Setaman, Jl Kembang Boreh, Jl Kembang Desa, Jl Kembang Api” karya Kuntowijoyo) kiranya cerpen Seno-lah yang mampu mengangkat realitas sosial secara gamblang, verbal dan satire. Cerpen ini menggambarkan dampak krisis di Indonesia yang berkepanjangan sehingga untuk bertahan hidup seseorang harus berburu asu (anjing). Karena pekerjaannya itulah maka tokoh dalam cerpen itu (mungkin juga maksudnya seluruh rakyat Indonesia) mempunyai tingkah polah mirip anjing.

Cerpen “Asmoro” (Djenar Mahesa Ayu) dan “Kembalinya Pangeran Kelelawar” (Bre Redana) sama-sama mengangkat tema seorang yang terobsesi pada pujaan hatinya. Namun sementara tokoh dalam cerpen Bre Redana mampu keluar dari cengkraman lawan jenisnya (“sesekali bayangan Pangeran Kelelawar berkelebat, tapi ia sudah tak takut lagi”), cerpen karya Djenar memperlihatkan si tokoh tetap terus terobsesi (“abadi di tumpukan kertasnya”).

Dua cerpen lainnya, “Sinar Mata Ibu” (Haris Effendi Tahar) dan “Gus Jakfar” (Musthofa Bisri) secara tematis punya kedudukan sendiri dalam buku ini. Cerpen “Sinar Mata Ibu” berkisah tentang kesabaran seorang menantu dalam merawat ibu mertuanya yang telah pikun. Cerita ini enak dibaca terutama karena bahasa ungkap yang sederhana dan ending cerita yang sepele dan menggelikan. Sedang cerpen “Gus Jakfar” dari Gus Mus dapatlah diposisikan sebagai cerita yang berguna bagi pencerahan rohani.

Secara keseluruhan ke-18 cerpen dalam buku ini memang menyuguhkan tema beragam. Karena, sudah barang pasti, kriteria juri untuk memilih 18 cerpen tersebut tak berdasar atas tema. Namun tetap saja aroma kematian begitu menonjol mewarnai cerpen dalam buku ini. Hal ini jelas bukan tanpa maksud. Sebab, bagi masyarakat modern-kota (segmen terbesar pembaca koran di mana cerpen-cerpen ini dimuat) yang terlalu sibuk oleh rutinitas sehari-hari, kematian hanya dipandang sebagai titik akhir berhentinya aktivitas. Padahal, seperti orang bijak katakan: kematian bukanlah titik, kematian adalah titik dua.
Barangkali buku ini ingin mengajak pembaca sekalian untuk memaknai dan mengisi titik dua tersebut.

(Marwanto, pecinta dan pembaca sastra tinggal di Kulonprogo)

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com