Langsung ke konten utama

Dunia Nyeri ‘Bidadari Bersayap Belati’

Binhad Nurrohmat
http://www.kr.co.id/

HIDUP bergelora gairah, bergelimang pesona imajinasi, entah kenapa, condong lebih gampang dicari di dua titik dunia saling berseberangan ekstrem: dunia kejahatan dan dunia kebaikan. Dunia kontras tajam. Hitam-putih. Dunia antonim. Bentangan hidup di antara dua titik dunia itu terasa lazim, rutin, hidup orang kebanyakan, tanpa percik sentuhan mendalam, tanpa denyar sentakan segar mendobrak dinding konvensi.

Memang, imajinasi hebat kerap lahir bukan dari hidup normal, hidup yang jauh dari jebakan klangenan pembikin bosan, hidup yang tak merangsang dan tak mengguncang mental serta pikiran untuk merenung dalam-dalam atau menggulati sesuatu di luar kebiasaan.

Ah, saya kian percaya sastra yang bagus tak ingin linier mengamini atau mencomot kenyataan hidup keseharian. Sastra yang bagus ingin membalikkan, selalu dikejar-kejar risau, ingin meledakkan, memberi tafsir lain, sebuah usaha subversi, memecah kebuntuan efek rutinitas hidup serba terjadwal-mekanis peradaban manusia modern; kondisi faktual manusia yang sehari-hari “harus” hidup di pabrik, toko, bank, sekolah, pasar, terminal, maupun lokalisasi demi eksis secara biologis maupun sosial.

Apa boleh buat. Sastra bukan dunia biasa. Octavio Paz menamainya the other voice, sebuah dunia dari suara yang lain. Paz, penyair Meksiko itu, tak sepenuhnya salah. Setidaknya, karya-karya sastra besar dunia kukuh mengusung dan intens bergumul dengan dunia sebagaimana dinyatakan penyair peraih nobel sastra 1990 itu.

Hemingway, Chairil Anwar, Sutardji Calzoum Bachri, Afrizal Malna, Joni Ariadinata, Agus Noor, dan sastrawan lain sadar betul wilayah pergulatan kreatifnya dan bahkan tak pernah menyerah di hadapan segala penolakan maupun pemberangusan negara dan masyarakat sebagai akibat atau risiko dari kegigihan pilihan ide dan kreativitas.

Sastra bukan dunia semua orang, penghuni pojokan kecil kehidupan besar ini. Tak ditatap banyak mata, tanpa tepuk tangan. Dunia kreatif itu ekstrem, selalu menempuh jalan di luar mainstream.

Dua titik ekstrem itu, dunia hitam-putih itu, menjadi wilayah pergulatan kreatif sastra, tak habis-habis digali, tak rampung-rampung dieksplorasi para sastrawan besar dunia. Sang Nabi Gibran (Lebanon) dan Tukang Kebun Tagore (India) memeras kekuatan sastrawi susuri nilai-nilai kehidupan baik dan indah, memburu kebijaksanaan abadi dan menerakan secara estetis ke lembar-lembar kertas di kesunyian kamar.

Di titik lain, Notes from Underground Dostoyevski (Rusia) dan Justine de Sade (Prancis) meliarkan imajinasi dan segala daya kepengarangan mengeruk kehidupan sakit, keras, teror, jorok, realitas dunia miring. Dunia jahat. Dua pengarang besar ini kokoh mengembangkan “filsafat kejahatan” dalam karya-karyanya.

Ideologi Teks

TEGUH WINARSHO AS, cerpenis yang merilis buku kumpulan cerpen perdana BIdadari Bersayap Belati (2002), sadar betul menjatuhkan pilihan ‘ideologis’ dan konsisten ditempuh untuk membangun (dan menyiasati) narasi-narasi fisiknya: menyusur dunia negatif, dunia hitam, dunia sumpah serapah, dunia tak bahagia, nyeri, melecehkan nilai moral, kejam dan keji. Sebuah dunia tanpa pencerahan nilai dan kebijakan hidup, terjerumus ke lembah hina, menghancurkan diri sendiri. Sebuah bentangan realitas absurd yang melakukan subversi atas konvensi.

Ideologi ini bukan cuma diimplementasi pada dataran tema cerita. Bahasa cerita pun kuat menyokong lewat ungkapan bengis, nuansa ucap melabrak ‘moral bahasa’. Kekuatan konsep dan teknik tampak dikuasai cerpenis produktif ini. Kenapa ideologi seolah jadi penting di sini? Tanpa ideologi, narasi fiksi kehilangan gaung identifikasi, anonim, tak berpribadi.

Ideologi itu strategi terkonsep kuat, bukan sekadar tren atau mode sesaat, angin-anginan. Ruh karya diperkuat konsistensi ideologis penulis. Ini cermin kesetiaan pada ide naratif, obsesif, pikiran yang mengendap di bawah dunia sadar penulis. Ideologi bukan hanya penguasaan wacana (intelektual), lebih penting lagi pengendapan dan penghayatan (psikologis), sehingga memberi darah dan nyawa pada cerita, menjadi basah, tajam, dan menyentak-nyentak syaraf tafsir serta persepsi pembaca(an).

Tokoh dan peristiwa dalam buku Bidadari Bersayap Belati bergerak dalam latar ruang dan waktu seputar lingkungan rumah tangga: hubungan lelaki-perempuan, orangtua-anak, lelaki-perempuan, suami-istri yang dibingkai dalam hubungan-hubungan yang ganjil: asmara yang sakit (Peluru Terakhir, Ibu: hantu Sepanjang Hari), psikopat (Televisi, Zombi), kanibal (Laki-laki dan Anjing), juga supernatural (Telepon, Ular Betina). Sebuah latar konvensional. Jika hubungan-hubungan antar tokoh dan peristiwa dalam buku ini tak diciptakan tanpa daya eksplorasi tinggi dan usaha menegasi konvensi untuk mencari kemungkinan hubungan yang ganjil, cerita dalam buku ini akan terjatuh dalam keranjang klise dan kehilangan pesona imajinatif.

Surealisasi dan bahkan absurdisasi kerap menjadi sesuatu yang sedap dalam buku ini. Dua gaya penulisan ini menuntut kreasi imajinasi kelas tinggi dan dimiliki penulis berpengalaman. Bukan berarti gaya realis lebih mudah ketimbang surealis maupun absurd itu. Tapi, paling tidak, pada kedua gaya ini lebih dibutuhkan keliaran dan keberanian imajinasi.

Teknik dan gaya penulisan Teguh dalam buku ini tampak lebih mengandalkan plot, alur cerita. Sebuah cara umum untuk memancing, bermain-main, dan bahkan mengecoh pembaca dengan kejutan cerita tak terduga yang biasanya nongol pada akhir cerita.

Tokoh dan peristiwa dalam cerita Teguh hidup dan bergerak sepanjang dan seluas 4 sampai 6 halaman kuarto spasi rangkap. Sebuah ruang dan waktu cerita yang “dibatasi”. Sempit. Inilah realitas sekaligus tantangan teknis penulis yang menyosialisasi karya di media jurnalisme sastra (koran). Ini juga semacam siasat tawar menawar dengan sifat umum media massa dan persepsi naratif publik pembaca. Cerpen Indonesia mutakhir bisa dikata menjalankan hal serupa: tekanan kuat pada plot dan keinginan besar membangun alinea atau kalimat akhir cerita yang mengejutkan. Terkesan tergesa. Ingin ringkas. Prematur.

Cerpen Indonesia belum mengedepankan detil, sugesti, dan polifoni. Yaitu narasi yang rinci, berbias, dan multi tafsir. Semacam narasi yang ketika menggambarkan pembunuhan bisa memberi rasa debar, dengus kebengisan, dan amis darah korban ke indera pembaca.

Bidadari Bersayap Belati adalah sampel atau representasi cerita pendek mutakhir yang hidup dan bahkan terinspirasi media jurnalisme sastra (koran). Tapi cerpen dalam buku ini terbilang punya cuatan khusus sehingga lebih tampak menonjol dan istimewa ditandai oleh keberanian eksplorasi menyusur wilayah negatif itu, semacam upaya penolakan estetik terhadap formalitas dan eufimisme sosial maupun politik yang dirayakan dan diledakkan di wilayah narasi.

* Binhad Nurrohmat, penyair, kurator Indonesia Literature Watch.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com