Langsung ke konten utama

Sebuah Ihtiar Renjana-Reproduksi

Zaki Zubaidi
http://www.seputar-indonesia.com/

Menulis sastra membutuhkan kesetiaan. Untuk menjaga kesetiaan ini masing-masing individu (penulis sastra) memiliki kecenderungan yang berbeda.
Ada yang menjaga kesetiaan itu melalui sebuah kesendirian. Tapi ada juga penulis yang menjaga kesetiaan itu secara komunal.Hal ini memang sangat bergantung pada proses perkenalannya dengan sastra. Seseorang yang lahir dari hasil sharing komunitas maka karyakaryanya akan mempengaruhi sekaligus dipengaruhi anggota komunitas yang lain. Komunitas sastra mutlak dibutuhkan untuk menjaga iklim kesusastraan yang dinamis.

Sebuah lembaga pendidikan yang melabeli dirinya jurusan sastra pun tidak cukup mampu menyangoni mahasiswanya untuk menjadi kritikus maupun penulis sastra.Keluaran terbesar dari lembaga pendidikan itu tidak lain adalah guru, dosen, atau pengajar lainnya.Komunitas sastra pun lahir di tengah-tengah kegelisahan mahasiswa mencari orientasi masa depannya. Namun Surabaya adalah sebuah kota yang bergerak dengan cepat. Surabaya adalah lahan mencari uang.Surabaya tidak bersahabat dengan sastra maupun seni. Surabaya kota tanpa basa-basi.Tidak seperti Yogjakarta, Solo, Bandung, Lampung, maupun Denpasar yang begitu ramah dengan sastra dan kesenian lainnya.

Komunitas sastra kampus pun harus berhadapan dengan berbagai macam persoalan yang kompleks. Maka tak heran, hanya sedikit komunitas sastra kampus yang mampu bertahan. Yang banyak mereka hanya tinggal nama dan kenangan. Dalam sepuluh tahun terakhir komunitas sastra kampus yang masih terjaga eksistensinya hanyalah di Universitas Airlangga (Unair) dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Di dua kampus ini bercokol komunitas sastra yang sampai kini masih bertahan. Di Unesa misalnya, ada Komunitas Rabo Sore (KRS),di Unair ada Komunitas Gapus, dan terbaru ada juga Cak Die Rezim (CDR).“Di Unair dan Unesa itu sangat bagus.

Geliat komunitas di dua kampus itu sangat patut diperhitungkan,” kata Budi Palopo, pemerhati sastra yang kini menjabat sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian Gresik. “Komunitas di dua kampus itu sama-sama telah mampu mewarnai kesusastraan Indonesia. Telah banyak namanama yang muncul dengan karyanya yang luar biasa.Para penulis itu muncul ke permukaan juga karena gesekan yang ada dalam komunitas mereka,” kata Budi Palopo. Cukup disayangkan jika di kampus-kampus lain tidak ada komunitas semacam itu.Padahal dengan semakin banyak komunitas semakin sehat iklim kesusatraan Surabaya.

Budi Palopo sendiri cukup akrab dengan penulis Surabaya karena pernah menjadi redaktur sastra sebuah media cetak. Dia sendiri adalah pelaku sastra yang aktif menulis geguritan. Bagi Budi Palopo, banyak hal yang membuat sebuah komunitas sastra tidak bisa bertahan lama.Salah satunya karena politik sastra.“Plerok-plerokan nang sastra itu gak penting blas,” tandasnya.Jika sesama penulis sastra atau komunitas sudah saling jegal,saling sikut,saling menjatuhkan, maka tidak akan lama eksistensinya akan hilang.Penulis jika sudah terjebak dalam politik sastra itu sama saja dengan bunuh diri. Hal itu merupakan eksistensi diri sendiri.

“Sudah tidak punya karya, hanya mengurusi eker-ekeran,”lanjutnya. Apakah kondisi saling menjatuhkan antar-komunitas atau antar-sastrawan ini sudah terjadi di Surabaya? Budi Palopo mengaku kalaupun ada tidak perlu dibesar-besarkan. “Sejarah akan mencatat semuanya,” ucapnya. Ditambahkan, yang penting juga adalah anjangsana antar-komunitas untuk sharing pengetahuan. Komunitas yang bisa dijadikancontohsaatiniadalahGapus dan Rabo Sore.“Strategi eksistensi sudah dipegang komunitas tersebut,”ungkapnya.

Komunitas Gapus memang lebih dulu meramaikan belantika sastra. Di tahun 90an karya-karya anggota komunitas itu sudah bermunculan di media cetak yang merupakan salah satu parameter produktivitas dan kualitas seorang penulis.“Saya tahu semangat mereka.Dimuat gak dimuat yang penting menulis dan kirim ke media.Saat itu internet belum seperti sekarang.Belum ada cyber sastra dan sejenisnya,” terangnya Eksistansi sastrawan Unair ini pun masih bertahan sampai sekarang. Adalah hal yang menggembirakan ketika pada tahun 2003 di Unesa lahir Komunitas Rabo Sore.

Budi Palopo mengaku sangat gembira dengan perkembangannya.“Dan teman- teman Unesa ini juga sudah semakin eksis sekarang. Karya-karya mereka juga sudah menyerbu media-media nasional. Sekarang menurut saya kondisi kesusastraan Surabaya, Jatim pada umumnya sedang bagus,”pungkas Budi Palopo. Sementara itu, pendiri Komunitas Rabo Sore Alek Subairi mengaku pentingnya sebuah komunitas untuk proses kreatif penulisan sastra.“Komunitas atau perkumpulan mutlak dibutuhkan untuk memperjuangkan gagasan-gagasan kreatif menjadi tindakan agar daya jangkaunya lebih luas.

Begitu kira-kira pada mulanya kami berdebat,” kata cowok gondrong ini yang mendirikan Komunitas Rabo Sore bersama Didik Wahyudi dan A Muttaqin Senada dengan hal-hal tersebut, Indra Tjahyadi juga menyatakan tidak mudah untuk mempertahankan sebuah keutuhan komunitas sastra kampus. Komunitas Gapus yang lebih dulu ada pun mengalami gesekan hingga keretakan.Namun karena kesadaran yang sama tentang pentingnya sebuah komunitas,maka Gapus bisa bertahan.

Dalam perkembangannya, dari Gapus ini lahir Forum Studi Seni dan Sastra Luar Pagar (FS3LP).“Sebut saja komunitas itu Luar Pagar,” kata Ketua Divisi Penelitikan FS3LP ini.

19 September 2011

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com