Sajak Tersesat di Lebat Hutan

Sajak Gamang di Keramaian Orang
Binhad Nurrohmat*
http://www.sinarharapan.co.id/

(Satu)
Awal 1998 saya kebetulan terlibat dalam sebuah tim relawan lingkungan hidup di kawasan hutan Taman Nasional Way Kambas Lampung. Bagi saya pribadi keterlibatan itu lebih sebagai tamasya tak disangka-sangka, sumber kebahagian alami yang kian langka. Tapi kawan-kawan lain menganggap keterlibatan itu begitu serius dan tegang: proyek.
Dan saya dianggap kawan-kawan sebagai anggota yang menyeleweng dari garis fungsi utama sebagai anggota tim relawan itu hanya karena aku mengisi waktu istirahat untuk kelayapan ke dalam hutan atau asyik dengan gajah dan bukan memanfaatkannya untuk istirahat atau berkumpul dengan anggota tim lain untuk mendiskusikan hal-hal yang mungkin perlu didiskusikan.

Bagi saya, fungsi resmi dari keterlibatan itu justru jadi tak begitu penting lagi ketika saya sampai di lokasi tujuan ketimbang kesempatan limpahan peluang menikmati hutan yang begitu cantik dan liar. Mungkin sikapku ini menjadi subversif bila berhadapan dengan barisan poin di kertas kontrak kerja. Tapi saya tetap bertanggung jawab sebagai anggota tim dengan cara bekerja membereskan semua job description yang memang jatah saya.

Saya sering duduk-duduk murung, malas-malasan atau menatapi langit luas sambil tiduran di punggung seekor gajah betina usia puluhan tahun itu. Kulitnya kasar ditumbuhi bulu-bulu yang sangat jarang. Matanya begitu kecil bagi ukuran tubuhnya dan sikapnya terlampau ramah bagi postur tubuhnya yang raksasa.

Para pawang gajah di kawasan taman nasional itu menamai binatang-binatang betina itu dengan nama yang identik dengan nama (manusia) perempuan pada umumnya; bahkan ada yang mengingatkanku pada seorang artis sinetron ternama – tapi kini aku lupa siapa.

Saya suka gajah betina itu dan kayaknya demikian juga sebaliknya. Binatang itu begitu patuh sejak pertama kali aku diajari pawang untuk mengendalikannya. ”Anggap dia kawan baikmu,” kata si pawang. Saya patuh pada saran pawang itu. Gajah butuh elusan dan perhatian. Kayak pacarmu, katanya.

Apa gajah punya perasaan dan mengerti perasaan manusia? Mengerti atau tak, gajah tetap binatang. Selalu hati-hatilah, jawab si pawang. Dari cerita-cerita yang saya dengar selama berada di kawasan taman nasional itu, berkali-kali pernah terjadi insiden pawang dicelakai gajah asuhannya. Tapi saya selalu merasa nyaman dan aman ketika duduk di leher gajah betina yang kokoh dan besar dan terlindung daun telinga yang lebar dan teduh itu. Saya belum pernah merasakan ancaman bahaya apapun dari gajah di kawasan taman nasional itu.

Saya juga pernah mendengar cerita mengerikan dari seorang pawang gajah di taman nasional itu. Dalam sebuah latihan atraksi gajah ada seorang pawang gajah perutnya pecah sampai keluar ususnya dan tulang-tulang badannya remuk karena terinjak kaki kanan belakang seekor gajah. Menurut penuturan pawang gajah itu, kejadian mengenaskan itu sebuah kecelakaan. Gajah yang menginjak perut pawang itu sebelumnya dikenal sangat jinak dan belum punya cacatan berperilaku buruk selama berada di PLG (Pusat Latihan Gajah– semacam sekolah untuk para gajah di taman nasional itu).

Saya tiba-tiba terkenang masa kanak dulu sangat membenci dan mengutuk gajah karena binatang itu (menurut cerita guru mengajiku di surau) menjadi binatang tunggangan utama para penghancur bangunan ikon penting agama yang dianut sebagian besar penduduk kampung saya. Bahkan ada orangtua di kampung saya melarang anak-anaknya menonton televisi gara-gara menayangkan program acara sirkus binatang itu. Dan mungkin ini ironi: suatu ketika saya bercengkerama dengan binatang itu dan para orangtua di kampung saya banyak memakai kain sarung bermerek gambar binatang itu untuk salat atau tahlilan di surau. Malahan pada perhelatan MTQ (saya lupa untuk yang ke berapa) di ibukota provinsi menghadirkan atraksi pertandingan sepak bola antargajah.

Dalam rangsel alpina besar saya, di bagian paling bawah menumpuk buku-buku sajak pamflet penyair flamboyan dan juga tukang main sandiwara kawakan di negeriku. Buku-buku itu tertindih tumpukan apek kaos dagadu, celana alpina, kemeja flannel dan lembar-lembar cawat entah merek apa.

Saya sering membaca beberapa biji sajak penyair itu sambil menunggangi punggung gajah betina itu menjelajah kawasan hutan taman nasional itu. Saya merasakan sesuatu yang aneh, mungkin sejenis kontras, ironi atau entah apa namanya. Saya merasa membaca sajak pada sebuah ruang, waktu, dan suasana yang tak sesuai, tak semestinya.

Sajak-sajak itu seperti hanya melingkar-lingkar, berdengung-dengung di telinga kecil saya, menggumam-gumam di mulut saya yang masam, tak menemukan sasaran. Saya tahu banyak sajak penyair besar hendak membidik kesadaran orang sebanyak mungkin untuk merebut atau merangsang perhatian yang seluas-luasnya.

Saya selalu takjub setiap kali penyair flamboyan itu beraksi di panggung, banyak penonton (terutama perempuan muda) terkesima bahkan histeris sebelum penyair itu sempat membaca satu kata pun dari sajaknya. Bagi dia bukan lagi hanya penyair, tetapi sekaligus selebriti. Sungguh busyet! Saya kadang merinding campur malu bila teringat dan membandingkan sajak-sajak lama saya yang begitu sunyi yang kini entah ada di mana. Siapa yang pernah membaca, siapa pula yang sempat terkesima?

Kata seorang ahli tentang sajak di Jakarta, histeria pendengar sajak penyair flamboyan itu bukan didorong oleh getaran atau pesona estetika sajak pamflet si penyair itu tapi oleh gagah kepalan tangan, pendaran aura kharisma dan legenda, dan luapan protes sosial yang begitu lantang terucap lewat sajaknya yang seolah ingin mewakili pikiran dan kekecewaan orang banyak.

Konon si penyair pamflet itu kerap dicekal aparat keamanan karena alasan yang cenderung politis: mengganggu stabilitas. Sampai begitu berbahayakah makhluk bernama penyair itu? Saya jadi teringat sebuah justifikasi seorang penyair daerah yang sangat jumawa menulis di koran terkemuka di daerahnya, ”Pada akhirnya seorang seniman adalah politikus”. Wah, wah, wah!

Saya merasa bersalah membaca keras-keras sajak penyair flamboyan itu di atas punggung gajah yang terus merangsek ke dalam kawasan hutan itu. Selama menjelajah itu saya dan gajah yang saya tunggangi juga sempat memergoki dan bikin kaget beberapa pasang laki-perempuan sedang mesra-mesraan sepertinya tak ada tempat lain yang lebih pas untuk menyalurkan dorongan biologis yang asyik itu. Mungkinkah mereka mendengar sajak-sajak yang saya bacakan tadi?

Kemudian saya berpikir apakah sajak harus butuh publik (pendengar atau pembaca) –- tak seperti aktivis ”asmara semak belukar” itu yang sama sekali tak ingin orang lain tahu apapun yang mereka lakukan –- yang ketika usai ditulis harus ada yang membaca dan ketika dibacakan harus ada pula yang mendengar? Apakah anasir yang bernama publik bagian dari eksistensi sajak juga? Bisa ya dan tak muskil juga tak. Teramat relatif dan subjektif.

Lantas untuk apa dan siapa penyair menulis atau membaca sajak? Tak musykilkah kegiatan menulis bagai sembahyang yang ikhlas, tanpa pretensi psikologis (popularitas) maupun ekonomis (imbalan) tertentu?

Saya akhirnya tahu, pertanyaan-pertanyaan itu sudah menjadi klise dan memang sangat tak penting dipertanyakan. Apalagi sampai habis-habisan mengupayakan barisan jawaban spekulatif yang cenderung miring, sarat jelek sangka intelektualis segala. Saya ingin tertawa jadinya.

Untuk apa dan untuk siapa pun sajak ditulis, itu bukan perkara signifikan bagi eksistensi sajak. Setiap orang punya hak asasi menentukan untuk apa dia menulis atau untuk apa dia membaca sajak. Janganlah gegabah main pasang curiga-mencurigai atau main tuduh-menuduh hanya berdasarkan sejumlah anggapan atau hipotesis miring yang diintelektualisasikan.

Saya tiba-tiba terkenang Emily Dickinson, orang Amerika yang ketahuan tumpukan puisinya teronggok di laci meja kerjanya setelah dia mati dan menjadikan dia seorang penyair anumerta. Siapa yang tahu untuk apa dan siapa dia menulis sajak?

Juga Franz Kafka, lelaki sendu yang menyedihkan, pencipta tokoh Gregor Samsa yang menjelma kecoa ketika bangun dari tidurnya. Kafka konon sempat berpesan pada sahabat dekatnya agar seluruh tulisannya dihancurkan setelah dia mati. Siapa juga yang tahu untuk apa dan siapa dia menulis cerita? Apakah Dickinson dan Kafka tak pernah berpikir untuk apa dan untuk siapa mereka menulis? Mungkin rumput yang bergoyang pun tak bisa menjawabnya.

Saya ingin berhenti bertanya-tanya lagi. Tak ada guna. Saya ingin santai. Toh hidup pun sudah penuh jawaban-jawaban hebat. Lebih baik menyanyikan sebuah lagu pop lokal yang sedikit-sedikit masih kuingat syairnya. Kebetulan saya tak begitu doyan rokok atau bir sekadar untuk melepas ketegangan. Menyanyi lebih murah dan sehat.

Sialan! Saya terpaksa terkikik-kikik ketika teringat lagi sepasang laki-perempuan aktivis asmara semak belukar yang tergesa-gesa meng-cut keasyikannya karena kepergok dan buru-buru mengenakan pakaian mereka lalu kabur dengan wajah merah-malu.

Dalam perjalanan ke luar hutan saya masih sempat berpikir, mungkin sebuah sajak butuh ruang, waktu dan suasananya sendiri yang pas untuk kehadirannya. Sebuah sajak tak bisa dihadirkan sembarangan agar sajak tak tersesat di ruang, waktu dan suasana yang tak tepat. Sebuah sajak mungkin juga mempunyai semacam psikologi tertentu, yang eksklusif dan peka.

Lagi-lagi saya bertanya: kenapa dan apa memang harus demikian sebuah sajak? Mungkinkah setiap penyair punya rancangan bawah sadar atau justru sangat sadar mengarahkan sajaknya pada ruang, waktu dan suasana tertentu? Aduh, saya jadi malu, dalam tulisan ini aku lebih banyak bertanya ketimbang menemukan jawaban.

Barak-barak pawang PLG tampak di kejauhan di antara pohonan hutan. Matahari sudah melorot ke arah Barat. Saya berdiri sempoyongan di atas punggung gajah yang terus berjalan pelan. Saya membaca sajak ”Nyanyian Angsa”, sebuah narasi terkenal penyair flamboyan itu yang tokohnya seorang lonte, Maria Zaitun, yang katanya Badannya demam./ Sifilis membakar tubuhnya./Penuh borok di kelangkang/ di leher, di ketiak, dan di susunya./

Segala pohonan, binatang, belukar, juga gajah tunggangan itu saya jadikan para pendengar saya. Tapi tak ada satu pun tepuk tangan terdengar. Apalagi histeria. Aku tak kecewa —- bukan itu yang paling saya harapkan.

(Dua)
Kira-kira paruh kedua 2001 kebetulan saya menjadi ”pejuang kecil” dari sebuah kekuasaan yang dipimpin seorang demokrat tulen dan tokoh besar kaliber internasional yang nyaris (di)tumbang(kan). Sungguh ini pekerjaan amat berat, yang spontan, temporer, dan tak pernah kucita-citakan sebelumnya. Tak heran sering terasa tak begitu indah, kering, tegang, dan genting. Tapi tak apalah, namanya perjuangan…..

Di tengah kerumun massa, yel-yel heroik, bendera-bendera besar di semacam alun-alun di jantung Jakarta, tubuh saya yang tipis terhimpit dan kuyup peluh kecut. Saya merasa sukar bernapas dan nyaris tak bisa menggerakkan tubuh saya lagi sedikit pun. Seolah tubuh saya sudah menyatu dengan tubuh massa. Tapi entah kenapa perasaan saya masih dingin, beku, tak cair-hanyut dan tak terbakar emosi massa serta suasana eforia kolektif itu.

Mungkin saya bukan pekerja yang baik (di bidang itu). Dan saya ingin jujur dan tak ingin pura-pura sudah hebat dan mahir menggerakkan massa. Dan mungkin saya absurd: di saat lautan massa histeris memekikkan yel-yel, mulut saya justru bungkam, pikiran saya malah tenang terkenang sajak yang begitu nyaman, ”Di Beranda ini Angin Tak Kedengaran Lagi”. Ya, sebuah sajak bertitimangsa 1966 yang ditulis pemuda pemalu kelahiran Batang, sebuah distrik kecil di pantai utara Jawa. Pemuda itu di kemudian hari, sekian tahun setelah menulis sajak itu, menjadi legenda jurnalisme amat penting dan tenar justru lewat kolom kecil yang tampak sekedar sisa kolom dalam sebuah majalah yang diasuhnya puluhan tahun lamanya.

Lalu saya bayangkan tubuh saya lepas dari kerumun massa. Saya berjalan menyeruak tubuh-tubuh kecut dan menaiki panggung lalu berjalan menuju podium yang disediakan khusus untuk sang pemimpin yang nyaris (di)tumbang(kan) itu. Saya membaca sajak pemuda Batang yang kuhafal di luar kepala itu. Sajak yang begitu tenang dan menghanyutkan. Dalam pandangan mata saya, massa yang tadi gemuruh menjadi teduh, bendera-bendera besar diturunkan, yel-yel dihentikan seusai bait pertama sajak itu kubacakan.

Tapi massa juga tampak bingung, tak mengerti: kenapa justru ketenangan yang dihadirkan dalam suasana yang seharusnya dibutuhkan sebuah semangat berlimpah, heroisme meledak-ledak?

Mulut massa masih terngangga, melongo sampai baris terakhir sajak usai saya bacakan. Pohon-pohon pun berbagi dingin di luar jendela/ mengekalkan esok yang mungkin tak ada// . Lalu saya rasakan pandangan mata saya terasa kelabu berkunang-kunang. Samar-samar terdengar kegaduhan bergerak menyerbu panggung. Mungkin ini sungguh-sungguh sebuah insiden atau bunuh diri yang memalukan. Untung saja ini terjadi cuma dalam ilusi sehingga saya tak harus bertaruh ”kehilangan” pekerjaan berat yang sementara itu.

Meski itu cuma ilusi, mungkin tetap tak lucu. Sajak itu kelewat personal yang mungkin akan lebih menggetarkan ketika dibaca sendirian dan diam-diam dalam kamar pada tengah malam. Kemungkinan besar nasib sajak itu akan hambar di tengah lautan massa yang gemuruh, memekikkan yel-yel, menjadikan sajak itu sangsi, gamang pada dirinya sendiri.

Ah, sebuah sajak bagus yang kayaknya diciptakan dalam suasana gairah penuh kebebasan dan ekspresi estetik habis-habisan itu pun tak selalu bisa sepenuhnya memiliki ruang, waktu dan suasana yang selalu bebas bagi kehadirannya.

*) Penulis adalah penyair.

Komentar